Home > Belajar Reksa Dana, Riset Reksa Dana > Mengenal Laporan Keuangan Reksa Dana

Mengenal Laporan Keuangan Reksa Dana

Selama ini, untuk instrumen investasi seperti Saham dan Obligasi, Investor bisa mendapatkan informasi kinerja perusahaam melalui publikasi laporan keuangan di media massa. Tahukah anda, bahwa reksa dana juga memiliki Laporan Keuangan. Dimanakah investor bisa menemukan Laporan Keuangan Reksa Dana dan bagaimana cara membaca laporan keuangan reksa dana?

Reksa Dana adalah suatu wadah tempat berkumpulnya dana investor yang kemudian dikelola oleh Manajer Investasi melalui mekanisme kontrak investasi kolektif dengan bank kustodian. Pada saat pembentukan reksa dana pertama kali, detail mengenai Kontrak Investasi Kolektif antara Manajer Investasi dan Bank Kustodian seperti Nama dan Jenis reksa dana, kebijakan investasi, jumlah unit penyertaan yang ditawarkan, informasi mengenai Manajer Investasi, informasi mengenai Bank Kustodian, aturan perpajakan dan pengenaan biaya reksa dana serta mekanisme subscription dan redemption reksa dana akan diinformasikan dalam suatu dokumen yang disebut dengan Prospektus.

Prospektus tersebut dicetak atas biaya yang ditanggung oleh Manajer Investasi dan kemudian didistribusikan kepada investor melalui Agen Penjual. Belakangan ini, demi alasan efisiensi dan kepraktisan, versi hardcopy daripada prospektus sudah semakin jarang dijumpai. Kalaupun ada bentuknya lebih kecil dan ringkas. Malahan banyak Manajer Investasi dan Bank Agen Penjual mencantumkan softcopy daripada prospektus pada website mereka agar setiap saat bisa diakses oleh investor. Sesuai dengan aturan, Investor wajib membaca dan memahami dokumen ini sebelum berinvestasi pada suatu reksa dana.

Setelah pengelolaan reksa dana berjalan, maka reksa dana wajib mengumumkan informasi perkembangan kinerja harian berupa NAB/Up, Return 30 Hari Terakhir, Return 1 Tahun dan Return 1 Tahun Riil setiap hari kerja pada media massa. Selanjutnya setiap akhir bulan, Manajer Investasi juga wajib mempublikasikan suatu dokumen yang disebut Fund Fact Sheet.

Beberapa poin penting yang bisa diperoleh dalam dokumen Fund Fact Sheet tersebut adalah perbandingan kinerja reksa dana dengan benchmark (pembanding), informasi Jumlah dana kelolaan dan Jumlah Unit Penyertaan, 5 atau 10 besar isi portofolio dan outlook Manajer Investasi mengenai kondisi pasar dan apa tindakan yang akan diambil di masa mendatang.

Bagi anda yang sudah atau pernah mendatangi agen penjual reksa dana, tentu tidak asing dengan kedua dokumen tersebut. Namun, Fund Fact Sheet Tidak sama dengan Laporan Keuangan Reksa Dana dan dokumen tersebut juga tidak dapat kita temukan dalam prospektus.

Tempat dimana kita bisa menemukan laporan keuangan adalah pada Prospektus Pembaharuan. Yang dimaksud dengan prospektus pembaharuan reksa dana adalah informasi pembaharuan prospektus yang Wajib dibuat setiap tahun dan umumnya diterbitkan sekitar bulan Maret atau April, namun biaya percetakan dan pembuatan dokumen ini tidak lagi ditanggung oleh Manajer Investasi melainkan ditanggung oleh investor reksa dana. Investor tidak membayar langsung, namun biaya tersebut dibebankan dengan mengurangi Nilai Aktiva Bersih reksa dana.

Satu-satunya perbedaan utama antara Prospektus dengan Prospektus Pembaharuan adalah pada prospektus pembaharuan wajib disertakan juga Laporan Keuangan Reksa Dana. Disinilah investor bisa menemukan informasi lengkap mengenai hasil audit akuntan terhadap pengelolaan reksa dana selama 1 tahun terakhir. Berbeda dengan emiten yang diaudit dan dipublikasikan setiap 3 bulan, publikasi terhadap hasil audit reksa dana dilakukan setiap 1 tahun.

Laporan Keuangan Reksa Dana terdiri dari:

  • Laporan Aset dan Kewajiban yang menginformasikan posisi aset, kewajiban, jumlah unit penyertaan dan Nilai Aktiva bersih per Unit Penyertaan perusahaan.
  • Laporan Laba Rugi Operasi yang mencatat pendapatan dan beban investasi yang ditanggung reksa dana
  • Laporan Perubahan Aset Bersih yang menunjukkan transaksi subscription dan redemption reksa dana.

Informasi mengenai laporan keuangan reksa dana amat berbeda dengan laporan keuangan emiten pada umumnya. Oleh karena itu, pada bagian penjelasan dibuat pula ikhtisar rasio keuangan yang dapat digunakan oleh investor ataupun Manajer Investasi untuk mempermudah interprestasi terhadap pengelolaan reksa dana.

Sebagai contoh, Ikhtisar Rasio Keuangan dari suatu reksa dana saham yang baru-baru ini mempublikasikan pada prospektus pembaharuannya adalah sebagai berikut:

Hasil Investasi dan Hasil Investasi Setelah Memperhitungkan Beban Pemasaran sama halnya seperti Return 1 tahun dan Return Riil 1 tahun yang dipublikasikan setiap hari di koran. Return diperoleh dari selisih NAB/up Awal dan Akhir, sementara yang dimaksud dengan Hasil Investasi Setelah Memperhitungkan Beban Pemasaran adalah tingkat return yang disesuaikan lagi dengan Biaya Subscription dan Biaya Redemption yang tercantum dalam prospektus. Sehubungan dengan pengenaan biaya yang bervariasi dalam praktek kesehariannya, investor cukup memperhatikan Hasil Investasi saja ketika ingin membandingkan reksa dana tersebut dengan reksa dana lain sejenis.

Beban Operasi (Expense Ratio) adalah perbandingan antara beban operasi dalam satu tahun dengan rata-rata nilai aset bersih dalam satu tahun. Bila jumlah bebasn menunjukkan masa kurang dari 1 tahun, maka beban tersebut harus dikalikan dua belas dan dibagi dengan jumlah bulan dalam periode tersebut. Expense ratio menunjukkan seberapa “mahal” Manajer Investasi dalam menjalankan suatu reksa dana. Jika misalnya Manajer Investasi melakukan strategi pengelolaan aktif sehingga menimbulkan biaya transaksi yang tinggi, pemilihan broker dengan biaya yang mahal, pengenaan biaya manajemen dan kustodian yang tinggi, dan atau biaya administrasi dan penggunaan konsultan yang tidak efisien, maka umumnya Expense ratio akan terlihat besar. Sebaliknya jika dijalankan dengan efisien maka rasio tersebut akan semakin kecil.

Perputaran Portofolio (portfolio turnover) adalah perbandingan antara nilai pembelian atau penjualan portofolio dalam satu periode mana yang lebih rendah dengan rata-rata nilai aset bersih dalam satu tahun. Angka 0,49 : 1 atau 49% secara sederhana dapat diartikan bahwa 49% dari total aset yang dikelola suatu reksa dana ditransaksikan dalam 1 tahun. Oleh karena itu, indikator ini merupakan indikator yang paling tepat dalam mengukur agresifitas pengelolaan reksa dana oleh Manajer Investasi. Semakin besar perputaran portofolio menandakan pengelolaan portofolio oleh Manajer Investasi semakin agresif dan sebaliknya.

Persentase Penghasilan Kena Pajak adalah perbandingan antara penghasilan selama satu periode yang mungkin dikenakan pajak dengan pendapatan operasional bersih. Saya tidak menemukan penjelasan lebih lanjut mengenai item ini. Namun mengingat pendapatan reksa dana oleh investor adalah Bukan Objek Pajak, maka sebetulnya saya tidak terlalu konsen terhadap item ini. JIka ada teman2 yang lebih mengerti tentang topik ini, dipersilakan untuk sharing disini.

Dari seluruh ikhtisar rasio di atas, selain tingkat return, faktor yang seharusnya menjadi perhatian investor adalah Expense Ratio dan Portfolio Turnover. Expense ratio mengukur seberapa efisien dalam mengelola reksa dana dan Portfolio Turnover mengukur seberapa agresif Manajer Investasi dalam mengelola portofolio investasinya. Logikanya, jika Expense Ratio dan Portfolio Turnover lebih tinggi dibandingkan reksa dana sejenis, maka seharusnya reksa dana tersebut juga diharapkan memberikan tingkat return yang lebih tinggi dan sebaliknya. Kami di Infovesta juga sedang mempertimbangkan untuk memasukkan kedua faktor ini dalam riset dan rating reksa dana.

Prospektus Pembaharuan dan Laporan Keuangan Reksa Dana merupakan salah satu bentuk Good Corporate Governance dan Compliance daripada Manajer Investasi dan Reksa Dana. Sebab selain diharuskan menghasilkan kinerja yang baik, tentu aspek transparansi juga harus diperhatikan. Toh, seluruh biaya tersebut ditanggung secara tidak langsung oleh investor reksa dana, sehingga jika ada Manajer Investasi yang tidak melakukan dan mempublikasikan informasi tersebut bisa dipertanyakan komitmennya.

Semoga informasi ini bermanfaat. Selamat berinvestasi.

  1. Ranti
    April 11th, 2011 at 10:50 | #1

    Salam Pak Rudi,
    Saya selalu mengikuti tulisan Bapak dan semoga Bapak tidak bosan menjawab pertanyaan saya. Setelah minggu kemarin bertanya tentang penempatan investasi untuk pensiun sekarang saya ingin bertanya untuk penempatan dana pendidikan anak saya.
    5 tahun lagi anak saya akan kuliah, saya sudah membeli reksadana syariah di Bank dengan pembayaran 1,5 juta/bulan dan membeli emas(Logam Mulia) kira-kira 1jutaan/bulan.
    Saya ingin meningkatkan investasi krn biaya pendidikan semakin mahal sebesar 1jt/bulan. Menurut Bapak uang 1jt tersebut sebaiknya utk top up reksadana atau emas lagi? Terima kasih atas perhatian Bapak.
    Salam, Ranti

  2. April 11th, 2011 at 11:44 | #2

    @Ranti
    Yth Ibu Ranti,

    Mengenai pertanyaan mengenai kuliah anak, apakah informasinya bisa lebih spesifik, seperti nilai uang masuk kuliah nanti. Berapa uang yang sudah terkumpul, dan investasinya pada jenis reksa dana apa. Kalau informasinya lebih lengkap, mudah2an saya bisa memberikan solusi yang lebih baik.

    Mengenai emas, banyak orang berpendapat bahwa emas itu baik, selalu naik dalam jangka panjang, tidak akan turun dll. Saya tidak menyangkal fakta tersebut, dan memang harga emas trus naik (kalau dilihat dari jangka panjang sekali, namun grafik saham juga demikian). Namun dibandingkan investasi pada paper aset, investasi anda pada emas yang anda lakukan itu memiliki beberapa kelemahan jika dana tidak terlalu besar.

    1. Pertama, jika anda membeli emas di bawah 50gr (termasuk), maka dikenakan biaya pengerjaan (istilah tukang emasnya Jasa Pembuatan Produk). Semakin kecil jumlah gram yang anda beli, maka semakin besar pula biaya pengerjaan tersebut. http://www.logammulia.com/news.php?id=9. Berdasarkan website di atas, harga emas yang per gramnya 420.000 itu bisa dijual 436.000 (kalau nilai investasinya 1 jutaan yang setara 2.5 gr). Rp 16.000 per gram itu kalau dipersentasekan sama dengan 3,8%. Apakah kalau anda beli reksa dana juga dikenakan biaya sebesar itu? Sangat mungkin tidak, karena biaya reksa dana paling maksimal 2%, itupun sangat jarang. Jadi kalau beli emas tidak bisa dalam jumlah besar, anda dikenakan biaya premium yang tinggi, ini harus jadi perhatian pertama.

    2. Kalau dilihat di website tersebut adalah harga jualnya (harga beli kembali dari ANTAM). Harga jual kembali itu adalah sebesar Rp 404.000. Jadi kalau beli emas sebesar 2.5gr, anda langsung rugi 7,3%. Harga beli kembali tersebut memang disesuaikan dengan perkembangan harga emas, tapi tidak berubah setiap hari. Yang berubah adalah harga jual ANTAM kepada publik. Jadi untuk investasi emas, perhatian kedua adalah anda harus bisa menemukan pembeli harga emas yang lebih tinggi dari harga beli ANTAM. Jika tidak, ketika harga emas naik 10% sekalipun, anda masih belum tentu balik modal.

    Untuk Poin 1 dan 2 menggunakan informasi harga Emas Antam per 11 April 2011, besar kemungkinan angka tersebut sudah berubah lagi jika diakses di hari ang akan datang.

    3. Untuk yang ketiga ini, menurut saya mungkin agak berbeda antara kondisi masing-masing orang. Saya sendiri berdomisili di Jakarta Barat. Kebetulan (saya juga memiliki sedikit emas), untuk penjualannya bisa dilakukan di toko emas yang berlokasi di mall central park dekat tempat tinggal saya. Karena kedekatan LOKASI dengan toko emas tersebut, untuk menguangkan emas itu relatif cepat dan menurut saya lebih aman karena saya tidak harus membawa2 emas untuk perjalanan yang jauh. Faktor ketiga ini kalau dari sudut pandang keuangan disebut Likuiditas. Nah, bagaimana dengan likuiditas anda, apakah untuk penyimpanan dan menguangkan emas tersebut juga aman dan nyaman bagi anda?

    Jadi, saya menunggu informasi lebih lanjut dari anda. Soal pertimbangan apakah emas atau reksa dana yang lebih baik, 3 pertimbangan di atas adalah pertimbangan dari sisi aspek non teknis. Mudah2an bisa menjadi pertimbangan bagi anda. Soal keuntungan, sebetulnya jika kita cermat dalam memilih, ada juga reksa dana yang kinerjanya tidak kalah kinclong dibandingkan emas.

    Oh ya, jika posisi anda ada di Jakarta dan Sabtu ini kebetulan ada waktu, anda bisa datang ke booth kami saat acara talkshow bersama Kontan http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/01/04/429/ nanti. Mudah2an dalam acara tersebut pertanyaan anda bisa terjawab dengan lebih baik.

    Atas perhatiannya saya mengucapkan banyak terima kasih.

  3. April 11th, 2011 at 23:08 | #3

    Yth Pak Rudiyanto.

    Terima Kasih atas penjelasannya. Saya tinggal di Sukabumi, Jawa Barat. Sementara saya tidak libur. Semoga tabloid kontan menulis isi dari talkshow tersebut supaya bisa saya baca. Kebetulan sabtu tgl 9 suami mengikuti seminar reksadana di Infovesta.

    Kalau melihat tren biaya masuk perguruan tinggi negeri rata-rata 60jt untuk jurusan teknik dan 200jt untuk kedokteran. Anak saya 5 tahun lagi masuk perguruan tinggi. Saat ini saya membeli reksadana saham di BNP Paribas Pesona Amanah, Manulife dan unit link di BNI Life yg di kelola Schroeder. Untuk uang yang tersedia baru ada 25 jt.
    Saya baru mempunyai 25 gr emas yg saya beli di pegadaian syariah dan belum tahu bagaimana cara menjualnya baru tahu cara menggadaikan yg tertera pada brosur pegadaian.
    Demikian Pak Rudi informasi mengenai kondisi keuangan saya, atas perhatian Bapak saya ucapkan banyak terima kasih. Salam, Ranti

  4. April 12th, 2011 at 03:31 | #4

    @Ranti
    Yth Ibu Ranti,

    Terima kasih atas kesediaan anda melakukan sharing informasi disini.

    Berdasarkan informasi dari anda, dengan menggunakan program Investment Planning and Monitoring Tools yang akan kami softlaunching 16 April nanti, perhitungannya adalah sebagai berikut:
    1. Asumsi yang digunakan:
    Pertumbuhan Reksa Dana Saham yang anda miliki saat ini 12%
    Pertumbuhan investasi dari Reksa Dana Saham yang anda akan lakukan 12%
    Inflasi Pendidikan 10%
    Acuan
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/04/02/apakah-investasi-saham-jangka-panjang-pasti-menguntungkan/

    2. Kebutuhan Dana
    Jika investasi dilakukan secara bulanan yang anda lakukan saat ini perbandingan perkiraan investasi yang dibutuhkan sebagai berikut:
    Investasi Bulanan untuk Masuk Jurusan Teknik –> Rp 650.000
    Investasi Bulanan untuk Masuk Jurusan Kedokteran –> Rp 3.400.000
    Kebutuhan dana di atas hanya mempertimbangkan Investasi anda pada Reksa Dana dan tidak termasuk emas.

    3. Pertimbangan Investasi Emas
    Rata-rata Return Pertumbuhan Emas berdasarkan perhitungan sederhana yang saya lakukan dengan menggunakan data dari 2001 – 2011 adalah sekitar 17.55%.
    Meski rata-rata return lebih tinggi, seperti pendapat saya sebelumnya, karena ada selisih harga beli dan harga jual, faktor likuiditas dan faktor biaya jasa pembuatan, saya tidak bisa memastikan apakah tingkat return 17.55% tersebut bisa dinikmati secara sepenuhnya oleh investor, maka secara subjektif saya mendiskon tingkat return tersebut menjadi 12% (sama dengan reksa dana saham). Dengan asumsi harga emas saat ini adalah Rp 400.000, maka kebutuhan dana anda akan menjadi sebagai berikut:
    Investasi Bulanan untuk Masuk Jurusan Teknik –> Rp 450.000
    Investasi Bulanan untuk Masuk Jurusan Kedokteran –> Rp 3.150.000

    Berdasarkan total investasi anda yang mencapai 3,5 juta (1,5 juta reksa dana syariah + 1 juta emas + 1 Juta tambahan), maka yang perlu anda lakukan adalah memastikan bahwa reksa dana yang anda pilih mampu mencapai konsistensi return di atas 12%.

    Semoga bisa menjawab pertanyaan anda. Terima kasih.

  5. April 12th, 2011 at 04:30 | #5

    Terima kasih banyak Pak dan selamat ber-talkshow. Semoga sukses selalu

  6. budi
    April 12th, 2011 at 06:42 | #6

    Pak Rudi,

    1.a. apakah reksa dana saham memasukkan deviden saham yang dibagikan dalam perhitungan nab/UP-nya?

    1.b. bila ya, bagaimana investor mengetahui dividen saham tersebut masuk ke unit nab/UP reksa dana?

    2. apa yang terjadi dengan reksa dana pendapatan tetap CIMB – Principal Bond di tahun ke tiga mencapai 1300%?

    3. apakah ada cara investasi reksa dana yang lebih baik dari pada dollar averaging method? Mohon dijelaskan caranya.

    Terima kasih banyak.

    Budi

  7. April 13th, 2011 at 01:39 | #7

    @budi
    Yth Pak Budi,

    Mencoba menjawab pertanyaan anda:
    1. A. Ya, reksa dana memasukkan pembagian dividen saham (jika ada) ke dalam NAB/Up
    B. Percaya ama yang namanya Bank Kustodian

    2. A. Itu ceritanya panjang, pada dasarnya itu semacam kelemahan teknis dari perhitungan NAB/up Reksa Dana. Secara singkat, hal ini sering terjadi pada reksa dana yang dananya ditarik sampai (hampir) habis oleh investor dan kemudian diisi lagi beberapa hari / bulan kemudian. Antara jeda waktu dana ditarik dan dana diterima oleh investor ada penghasilan bunga dari dana idle yang mengendap di Bank Kustodian sebelum sampai ke investor. Penghasilan bunga tersebut karena tidak bertuan dikembalikan ke reksa dana. Nah, unit reksa dana yang tersisa sedikit tersebut mendapat penghasilan bunga yang besar menyebabkan harganya melonjak tinggi.

    Jadi kesimpulannya return 1300% yang tinggi tersebut bukan merupakan hasil dari kinerja melainkan dari suatu kelemahan dalam teknis perhitungan NAB/Up reksa dana. Dalam hal ini tidak ada investor yang dirugikan. Manajer Investasi juga tidak diuntungkan karena dananya milik reksa dana. Investor yang beruntung adalah investor yang menarik paling belakangan. Namun tidak jarang di reksa dana tersebut sudah tidak ada investor. Berdasarkan peraturan BAPEPAM-Lk, jika dana tersebut mengendap hingga x tahun (saya lupa tepatnya) maka akan diberikan kepada BAPEPAM-LK untuk kepentingan pengembangan pasar modal.

    Penilaian rating di Infovesta sudah memasukkan unsur tersebut.

    3. Strategi investasi pada umumnya ada beberapa macam. Misalnya Cost Averaging yang anda sebutkan, Rebalancing, Lump Sum Investment. Ada juga yang membuat variasinya namun tidak jauh2 dari ketiga strategi secara umum di atas. Dalam pandangan Infovesta, apapun strategi yang dilakukan, strategi yang paling baik adalah strategi yang mampu mencapai tujuan investasi. Apakah itu dengan memilih reksa dana yang jagoan, berinvestasi secara rutin, kapan sebaiknya profit taking atau top up dilakukan.

    Untuk caranya kalau posisi anda di Jakarta dan bisa datang di acara Kontan 16 April nanti, akan bisa dijelaskan dengan lebih baik karena nanti akan ditunjukkan aplikasi strategi di atas dengan alat bantu sehingga prakteknya bisa terlihat lebih jelas. Sebab kalau hanya cuap2 soal teori saja tidak banyak kegunaannya.

    Semoga menjawab pertanyaan anda. Terima kasih.

  8. Henny
    April 14th, 2011 at 06:05 | #8

    Syaloom pak Rudy…

    Saya sudah lama membaca tulisan anda tentang “Reksadana Bebas Pajak” atau “Reksadana Bukan Objek Pajak”. dan saya sangat paham isi tulisan tsb.

    Pada bulan Maret 2011 saya menerima surat dari bank Commonwalth yang mengumumkan kepada nasabah sebagai berikut. “Mulai 1 April 2011, bagi anda nasabah yang berinvestasi pada reksadana :
    1. Setiap transaksi reksadana akan dikenakan Pajak Pertambahan nilai (PPN} sebesar 10% khusus untuk produk reksadana yang memiliki biaya Pembelian, Pengalihan atau Penjualan Kembali
    2. Dana untuk pembelian reksadana berkala (Autoinvest) harus tersedia di rekening satu hari sebelum tanggal pendebetan setiap bulannya.

    Pertanyaan saya adalah :

    2. Benarkah PPN reksadana dibebankan ke investor ? (saya membeli Shcroder 90 equiti found melalui bank Commenweath bulan oktober 2010)

    3. Saya juga berinvestasi di Reksadana yang lain ( Panin sekuritas ) dan rekasadana ini, sama persis dengan tulisan anda alias tidak membebankan pajak kepada investor karena manager investsi sdh membayarkan pajak tsb. Apakah saya yang salah menafsirkan tulisan anda atau ada hal lain yang saya belum mengerti?

    4. Apa langkah terbaik yang saya lalukan terhadap hal ini?

    Terimakasih atas pencerahan dari Pak Rudy.

  9. April 14th, 2011 at 06:54 | #9

    @Henny
    Yth Ibu Henny,

    Apakah benar PPN dikenakan atas biaya transaksi reksa dana yang ditransaksikan melalui bank, itu benar.

    Mengenai penafsiran anda, PPn dibayarkan oleh investor. Ilustrasi sebagai berikut, misalnya anda berinvestasi Rp 100 juta dan dikenakan biaya Rp 1 juta. Atas biaya Rp 1 juta tersebut sesuai peraturan harus dikenakan pajak PPN sebesar Rp 100.000.

    Ada pihak si A, yang baik hati. Karena ceritanya dia menerima Rp 1juta dari anda sebagai biaya, sebesar Rp 900.000 dianggapnya sebagai penghasilan dan sisanya sebesar Rp 100.000 sebagai PPN. Total uang yang dikeluarkan oleh investor adalah Rp 1juta.

    Ada pihak si B, yang agak kurang baik hati. Ceritanya karena mau tetap incomenya Rp 1juta, maka itu dia meminta lagi Rp 100.000 kepada si investor agar uang tsb bisa disetorkan kepada kantor pajak sebagai PPN. Pada si B ini, total uang yang dikeluarkan adalah Rp 1,1 juta.

    Dalam kedua kasus di atas, pajak tetap dibayarkan oleh Investor, bukan Manajer Investasi bukan pula Bank Agen Penjualnya. Namun, karena ada yang baik hati dan ada yang kurang, maka berpengaruh kepada besarnya biaya yang dikeluarkan oleh investor.

    Jadi jika dikatakan ada pihak yang “menanggung” pajak anda itu kurang tepat. Pajak tersebut tetap dibayarkan oleh investor. Kalau masih kurang jelas bisa ditanyakan kembali.

    Mengenai langkah terbaik, apakah bisa dijelaskan lagi apa masalah yang sedang anda hadapi saat ini terkait pertanyaan anda?

  10. Robert
    April 14th, 2011 at 08:41 | #10

    Selamat siang Pak Rudi..

    Setiap minggu saya tidak lupa membaca kolom pak Rudi tentang reksa dana agar saya semakin paham tentang produk yang menawan ini. :D

    Saya hanya mau tanya 1 hal ini pak. Darimana saya bisa mendapatkan “Prospektus Pembaharuan Reksadana” ya pak? Jujur saja, sejak 2007 berinvestasi di saham & reksadana, saya baru dengar prospektus tersebut dari pak Rudi. Bahkan manajer investasi seperti Schroder pun sepertinya tidak merilis prospektus dimaksud di websitenya. Padahal saya melihat Schroder merupakan satu-satunya MI yang secara transparan menyediakan pergerakan NAB semua produk reksadananya di website mereka.

    Terima kasih atas penjelasannya.

    Salam sejahtera.

  11. April 14th, 2011 at 10:06 | #11

    @Robert
    Selamat siang Pak Robert,

    Terima kasih banyak atas dukungannya.

    Prospektus pembaharuan itu ada di tombol prospektus. Soalnya nama prospektus dan prospektus pembaharuan itu dianggap jadi satu. di website schroders http://www.schroders.com/indonesia/public-funds/fund-literature anda cukup klik tombol prospektus untuk mendownload.

    Ciri-ciri Prospektus pembaharuan adalah
    1. Ada kata “PEMBAHARUAN”
    2. Tanggal cetak prospektus beda ama tanggal efektif reksa dana.
    Contohnya bisa disini http://www.schroders.com/staticfiles/Schroders/Funds/Indonesia%20-%20Public%20Funds/Dana%20Prestasi%20Plus/Bahasa/Schroder-Dana-Prestasi-Plus-SP-IDBA.pdf

    Menurut pemantauan saya sejauh ini, website schroders adalah salah satu yang lengkap dan bagus GCGnya (good corporate governance) dibandingkan website manajer investasi sejenis. Untuk soal update data fund fact sheet, termasuk yang cepat. Beberapa Manajer Investasi harus menunggu hingga 5-10 hari kerja, beberapa bahkan belum memiliki website.

    Nah, untuk kasus laporan keuangan reksa dana, saya lihat ada beberapa variasi.
    1. Lengkap dan dicetak jadi satu bersama prospektus pembaharuan
    2. Terpisah sama sekali tapi bisa di download seperti halnya Schroders di atas (anda bisa lihat di tombol Annual Reportnya).

    Semoga bermanfaat pak

  12. Tiara
    April 18th, 2011 at 09:38 | #12

    Pak rudy yang baik…

    Trimakasih atas pencerahannya, sekarang saya mengerti…
    langkah saya selanjutnya adalah saya akan putuskan hubungan mesra selama ini dengan orang2 yang tidak baik itu, hehehe….

    GBU pak rudy n sucses selalu….Amin.

  13. henny
    April 18th, 2011 at 09:42 | #13

    Pak rudy yang baik…

    Trimakasih atas pencerahannya, sekarang saya mengerti…
    langkah saya selanjutnya adalah saya akan putuskan hubungan mesra selama ini dengan orang2 yang tidak baik itu, hehehe….

    GBU pak rudy n sucses selalu….Amin.

  14. April 18th, 2011 at 10:02 | #14

    @henny
    Yth Ibu Henny dan Ibu Tarigan,

    Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas doanya.

    Mengenai langkah anda untuk memutuskan hubungan, saya sarankan baru anda lakukan jika anda bisa menemukan si baik hati yang menjual reksa dana yang anda inginkan dan mau menanggung PPN anda tersebut.

    Semoga sukses

  15. Robert
    April 18th, 2011 at 12:56 | #15

    @Rudiyanto
    Dear pak Rudi,

    Terima kasih banyak atas penjelasan yang sangat komprehensif. Saya ada pertanyaan lagi pak, tapi agak out of topic.

    Saya baru menemukan di bloomberg, website yang memberikan data return seluruh reksadana di Indonesia seperti yang disajikan oleh infovesta.com.

    Website tersebut dapat dilihat di sini (country of listing Indonesia):

    http://www.bloomberg.com/apps/data

    Yang ingin saya tanyakan adalah adanya perbedaan yang cukup signifikan antara data return (khususnya “3-years return”) yang ada di bloomberg dengan yang ada di infovesta.com. Saya sudah mencoba untuk mengkalikan return yang ada di bloomberg (x3), tapi angka returnnya masih berbeda dengan yang ada di infovesta.

    Mungkin pak Rudi bisa menjelaskan sedikit perihal perbedaan tersebut.

    Sekali lagi terima kasih banyak..

  16. April 18th, 2011 at 13:34 | #16

    @Robert
    Yth Pak Robert,

    Berkaitan dengan pertanyaan anda, saya sudah cek. Belakangan ini sudah banyak website yang menyediakan data informasi reksa dana dan return seperti infovesta.com. Tidak hanya bloomberg, di Kontan juga ada. Hal ini memang merupakan hal yang positif karena menandakan bahwa data sudah bukan barang yang sulit untuk diperoleh lagi dan harapannya investor akan lebih memiliki informasi yang jelas sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada instrumen reksa dana tertentu.

    Perbedaan di atas sebetulnya cukup sederhana, di Bloomberg menggunakan Annualized Return (Return disetahunkan)–> return yang mempertimbangkan faktor bunga berbunga. Sementara Infovesta menggunakan Total Return, alias hanya melihat return dari satu titik ke titik lain. Untuk mengubah Annualized Return menjadi Total Return yang digunakan Infovesta memang tidak bisa dikalikan tiga akan tetapi menggunakan rumusan Time Value of Money khususnya Future Value.

    Di luar negeri, penggunaan Annualized Return lebih umum dibandingkan total return karena disebabkan bahwa orang selalu membandingkan sesuatu dengan instrumen Risk Free (Deposito) yang selalu dinyatakan dalam tahunan. Sementara di Indonesia, karena tingkat pengetahuan investasi tidak setinggi orang di luar negeri, maka angka Total Return lebih familiar dan lebih mudah dijelaskan ke Investor. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk menggunakan total return di infovesta.com.

    Angka Annualized Return banyak digunakan oleh kalangan financial planner. Aplikasi Myplan di https://myplan.infovesta.com/myplan/ yang merupakan
    (website yang baru dengan sertifikasi dari digicert) kami softlaunching tanggal 16 April lalu juga menggunakan Annualized Return dalam menentukan jenis reksa dana yang cocok untuk investor.

    Semoga bisa menjawab pertanyaan anda. Terima kasih

  17. Robert
    April 19th, 2011 at 15:20 | #17

    @Rudiyanto

    Terima kasih banyak atas pencerahannya Pak Rudi. Revisi sedikit, link bloomberg yang benar adalah:

    http://www.bloomberg.com/apps/data?pid=fundscreener

    Mungkin ada sahabat-sahabat investor lainnya yang membutuhkan.

    Terima kasih..

  18. April 19th, 2011 at 16:07 | #18

    @Robert
    Sebagai tambahan link ini juga menyediakan data NAB/up reksa dana yang datanya bisa diakses secara gratis
    http://pusatdata.kontan.co.id/v2/reksadana
    Datanya lebih lengkap dibandingkan bloomberg, tapi tinggal anda senang memakai yang mana.

    Semoga bermanfaat

  19. Henvi
    July 23rd, 2011 at 20:55 | #19

    Yth Pak Rudiyanto,

    Saya agak bingung dan ingin bertanya apakah semua beban pemasaran + beban operasi = expense ratio ? Jadi total persentase hasil investasi dikurangin expense ratio = persentase net return kita? Atau total persentase hasil investasi – expense ratio – beban pemasaran = persentase net return kita?

  20. July 24th, 2011 at 18:18 | #20

    Yth Henvi,

    Beban pemasaran dan beban operasional adalah 2 kategori biaya yang berbeda. Expense ratio hanya mencakup biaya operasional yaitu biaya untuk menjalankan reksa dana. Sementara biaya pemasaran ditanggung oleh Manajer Investasi atau Bank Agen Penjual. Jika dimungkinkan, saya akan membuat artikel tentang biaya reksa dana di posting yang akan datang.

    Besar kecilnya expense ratio, TIDAK ada kaitannya dengan return yang kita terima. Besar kecilnya return yang kita terima pernah saya bahas disini. http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2010/12/27/return-1-tahun-dan-return-1-tahun-riil-bedanya-apa-sih/

    Semoga bermanfaat

Comment pages
1 2 3 6 437
  1. July 30th, 2011 at 13:28 | #1
  2. December 19th, 2011 at 02:28 | #2


%d bloggers like this: