Home > Belajar Reksa Dana, Riset Reksa Dana > Mengenal Laporan Keuangan Reksa Dana

Mengenal Laporan Keuangan Reksa Dana

Selama ini, untuk instrumen investasi seperti Saham dan Obligasi, Investor bisa mendapatkan informasi kinerja perusahaam melalui publikasi laporan keuangan di media massa. Tahukah anda, bahwa reksa dana juga memiliki Laporan Keuangan. Dimanakah investor bisa menemukan Laporan Keuangan Reksa Dana dan bagaimana cara membaca laporan keuangan reksa dana?

Reksa Dana adalah suatu wadah tempat berkumpulnya dana investor yang kemudian dikelola oleh Manajer Investasi melalui mekanisme kontrak investasi kolektif dengan bank kustodian. Pada saat pembentukan reksa dana pertama kali, detail mengenai Kontrak Investasi Kolektif antara Manajer Investasi dan Bank Kustodian seperti Nama dan Jenis reksa dana, kebijakan investasi, jumlah unit penyertaan yang ditawarkan, informasi mengenai Manajer Investasi, informasi mengenai Bank Kustodian, aturan perpajakan dan pengenaan biaya reksa dana serta mekanisme subscription dan redemption reksa dana akan diinformasikan dalam suatu dokumen yang disebut dengan Prospektus.

Prospektus tersebut dicetak atas biaya yang ditanggung oleh Manajer Investasi dan kemudian didistribusikan kepada investor melalui Agen Penjual. Belakangan ini, demi alasan efisiensi dan kepraktisan, versi hardcopy daripada prospektus sudah semakin jarang dijumpai. Kalaupun ada bentuknya lebih kecil dan ringkas. Malahan banyak Manajer Investasi dan Bank Agen Penjual mencantumkan softcopy daripada prospektus pada website mereka agar setiap saat bisa diakses oleh investor. Sesuai dengan aturan, Investor wajib membaca dan memahami dokumen ini sebelum berinvestasi pada suatu reksa dana.

Setelah pengelolaan reksa dana berjalan, maka reksa dana wajib mengumumkan informasi perkembangan kinerja harian berupa NAB/Up, Return 30 Hari Terakhir, Return 1 Tahun dan Return 1 Tahun Riil setiap hari kerja pada media massa. Selanjutnya setiap akhir bulan, Manajer Investasi juga wajib mempublikasikan suatu dokumen yang disebut Fund Fact Sheet.

Beberapa poin penting yang bisa diperoleh dalam dokumen Fund Fact Sheet tersebut adalah perbandingan kinerja reksa dana dengan benchmark (pembanding), informasi Jumlah dana kelolaan dan Jumlah Unit Penyertaan, 5 atau 10 besar isi portofolio dan outlook Manajer Investasi mengenai kondisi pasar dan apa tindakan yang akan diambil di masa mendatang.

Bagi anda yang sudah atau pernah mendatangi agen penjual reksa dana, tentu tidak asing dengan kedua dokumen tersebut. Namun, Fund Fact Sheet Tidak sama dengan Laporan Keuangan Reksa Dana dan dokumen tersebut juga tidak dapat kita temukan dalam prospektus.

Tempat dimana kita bisa menemukan laporan keuangan adalah pada Prospektus Pembaharuan. Yang dimaksud dengan prospektus pembaharuan reksa dana adalah informasi pembaharuan prospektus yang Wajib dibuat setiap tahun dan umumnya diterbitkan sekitar bulan Maret atau April, namun biaya percetakan dan pembuatan dokumen ini tidak lagi ditanggung oleh Manajer Investasi melainkan ditanggung oleh investor reksa dana. Investor tidak membayar langsung, namun biaya tersebut dibebankan dengan mengurangi Nilai Aktiva Bersih reksa dana.

Satu-satunya perbedaan utama antara Prospektus dengan Prospektus Pembaharuan adalah pada prospektus pembaharuan wajib disertakan juga Laporan Keuangan Reksa Dana. Disinilah investor bisa menemukan informasi lengkap mengenai hasil audit akuntan terhadap pengelolaan reksa dana selama 1 tahun terakhir. Berbeda dengan emiten yang diaudit dan dipublikasikan setiap 3 bulan, publikasi terhadap hasil audit reksa dana dilakukan setiap 1 tahun.

Laporan Keuangan Reksa Dana terdiri dari:

  • Laporan Aset dan Kewajiban yang menginformasikan posisi aset, kewajiban, jumlah unit penyertaan dan Nilai Aktiva bersih per Unit Penyertaan perusahaan.
  • Laporan Laba Rugi Operasi yang mencatat pendapatan dan beban investasi yang ditanggung reksa dana
  • Laporan Perubahan Aset Bersih yang menunjukkan transaksi subscription dan redemption reksa dana.

Informasi mengenai laporan keuangan reksa dana amat berbeda dengan laporan keuangan emiten pada umumnya. Oleh karena itu, pada bagian penjelasan dibuat pula ikhtisar rasio keuangan yang dapat digunakan oleh investor ataupun Manajer Investasi untuk mempermudah interprestasi terhadap pengelolaan reksa dana.

Sebagai contoh, Ikhtisar Rasio Keuangan dari suatu reksa dana saham yang baru-baru ini mempublikasikan pada prospektus pembaharuannya adalah sebagai berikut:

Hasil Investasi dan Hasil Investasi Setelah Memperhitungkan Beban Pemasaran sama halnya seperti Return 1 tahun dan Return Riil 1 tahun yang dipublikasikan setiap hari di koran. Return diperoleh dari selisih NAB/up Awal dan Akhir, sementara yang dimaksud dengan Hasil Investasi Setelah Memperhitungkan Beban Pemasaran adalah tingkat return yang disesuaikan lagi dengan Biaya Subscription dan Biaya Redemption yang tercantum dalam prospektus. Sehubungan dengan pengenaan biaya yang bervariasi dalam praktek kesehariannya, investor cukup memperhatikan Hasil Investasi saja ketika ingin membandingkan reksa dana tersebut dengan reksa dana lain sejenis.

Beban Operasi (Expense Ratio) adalah perbandingan antara beban operasi dalam satu tahun dengan rata-rata nilai aset bersih dalam satu tahun. Bila jumlah bebasn menunjukkan masa kurang dari 1 tahun, maka beban tersebut harus dikalikan dua belas dan dibagi dengan jumlah bulan dalam periode tersebut. Expense ratio menunjukkan seberapa “mahal” Manajer Investasi dalam menjalankan suatu reksa dana. Jika misalnya Manajer Investasi melakukan strategi pengelolaan aktif sehingga menimbulkan biaya transaksi yang tinggi, pemilihan broker dengan biaya yang mahal, pengenaan biaya manajemen dan kustodian yang tinggi, dan atau biaya administrasi dan penggunaan konsultan yang tidak efisien, maka umumnya Expense ratio akan terlihat besar. Sebaliknya jika dijalankan dengan efisien maka rasio tersebut akan semakin kecil.

Perputaran Portofolio (portfolio turnover) adalah perbandingan antara nilai pembelian atau penjualan portofolio dalam satu periode mana yang lebih rendah dengan rata-rata nilai aset bersih dalam satu tahun. Angka 0,49 : 1 atau 49% secara sederhana dapat diartikan bahwa 49% dari total aset yang dikelola suatu reksa dana ditransaksikan dalam 1 tahun. Oleh karena itu, indikator ini merupakan indikator yang paling tepat dalam mengukur agresifitas pengelolaan reksa dana oleh Manajer Investasi. Semakin besar perputaran portofolio menandakan pengelolaan portofolio oleh Manajer Investasi semakin agresif dan sebaliknya.

Persentase Penghasilan Kena Pajak adalah perbandingan antara penghasilan selama satu periode yang mungkin dikenakan pajak dengan pendapatan operasional bersih. Saya tidak menemukan penjelasan lebih lanjut mengenai item ini. Namun mengingat pendapatan reksa dana oleh investor adalah Bukan Objek Pajak, maka sebetulnya saya tidak terlalu konsen terhadap item ini. JIka ada teman2 yang lebih mengerti tentang topik ini, dipersilakan untuk sharing disini.

Dari seluruh ikhtisar rasio di atas, selain tingkat return, faktor yang seharusnya menjadi perhatian investor adalah Expense Ratio dan Portfolio Turnover. Expense ratio mengukur seberapa efisien dalam mengelola reksa dana dan Portfolio Turnover mengukur seberapa agresif Manajer Investasi dalam mengelola portofolio investasinya. Logikanya, jika Expense Ratio dan Portfolio Turnover lebih tinggi dibandingkan reksa dana sejenis, maka seharusnya reksa dana tersebut juga diharapkan memberikan tingkat return yang lebih tinggi dan sebaliknya. Kami di Infovesta juga sedang mempertimbangkan untuk memasukkan kedua faktor ini dalam riset dan rating reksa dana.

Prospektus Pembaharuan dan Laporan Keuangan Reksa Dana merupakan salah satu bentuk Good Corporate Governance dan Compliance daripada Manajer Investasi dan Reksa Dana. Sebab selain diharuskan menghasilkan kinerja yang baik, tentu aspek transparansi juga harus diperhatikan. Toh, seluruh biaya tersebut ditanggung secara tidak langsung oleh investor reksa dana, sehingga jika ada Manajer Investasi yang tidak melakukan dan mempublikasikan informasi tersebut bisa dipertanyakan komitmennya.

Semoga informasi ini bermanfaat. Selamat berinvestasi.

  1. Yusuf
    August 15th, 2018 at 15:26 | #1

    @Rudiyanto
    Terima kasih pak Rudy atas jawabannya. Saya mau bertanya lagi, jadi gini pak apabila reksadana X berinvestasi dgn membeli saham PT. A & PT. B, nah setelah beberapa lama harga saham PT. A & B atau salah satunya mengalami penurunan harga, itu ada pengaruhnya tidak trhdp reksa dana itu sendiri? Terima kasih pak.

  2. Rudiyanto
    August 23rd, 2018 at 17:30 | #2

    @Yusuf
    Selamat sore pak Yusuf,

    Kinerja reksa dana tergantung pada portofolio investasi yang dimilikinya. Jika harga saham A dan B yang menjadi portofolio reksa dana X turun, tentu Nilai Aktiva Bersih per Unit atau NAB per UP reksa dana tersebut akan mengalami penurunan.

    Semoga bermanfaat

  3. Yusuf
    September 18th, 2018 at 19:31 | #3

    Selamat sore pak Rudi,

    Saya mau tanya apakah NAB angkanya bisa minus? Jika bisa, barangkali penyebabnya apa?
    Terima kasih sebelumnya.

  4. Rudiyanto
    September 19th, 2018 at 15:48 | #4

    @Yusuf
    Sore pak Yusuf,

    NAB bisa naik turun, tapi kalau negatif saya belum pernah temui.
    Yang paling mungkin, semua aset yang dimiliknya ternyata gagal bayar sehingga angkanya jatuh ke 0,

    Terima kasih

  5. aditya wicaksono
    December 13th, 2018 at 16:16 | #5

    hallo Bapak Rudi,
    terima kasih informasinya soal laporan reksa dana,
    saya mau bertanya,
    untuk kita mengaudit perusahaan reksa dana,
    yang diperlukan apa saja laporan yang di audit?
    terima kasih

Comment pages
1 4 5 6 437
  1. July 30th, 2011 at 13:28 | #1
  2. December 19th, 2011 at 02:28 | #2


%d bloggers like this: