Home > Belajar Reksa Dana, Riset Reksa Dana > Mengenal Laporan Keuangan Reksa Dana

Mengenal Laporan Keuangan Reksa Dana

Selama ini, untuk instrumen investasi seperti Saham dan Obligasi, Investor bisa mendapatkan informasi kinerja perusahaam melalui publikasi laporan keuangan di media massa. Tahukah anda, bahwa reksa dana juga memiliki Laporan Keuangan. Dimanakah investor bisa menemukan Laporan Keuangan Reksa Dana dan bagaimana cara membaca laporan keuangan reksa dana?

Reksa Dana adalah suatu wadah tempat berkumpulnya dana investor yang kemudian dikelola oleh Manajer Investasi melalui mekanisme kontrak investasi kolektif dengan bank kustodian. Pada saat pembentukan reksa dana pertama kali, detail mengenai Kontrak Investasi Kolektif antara Manajer Investasi dan Bank Kustodian seperti Nama dan Jenis reksa dana, kebijakan investasi, jumlah unit penyertaan yang ditawarkan, informasi mengenai Manajer Investasi, informasi mengenai Bank Kustodian, aturan perpajakan dan pengenaan biaya reksa dana serta mekanisme subscription dan redemption reksa dana akan diinformasikan dalam suatu dokumen yang disebut dengan Prospektus.

Prospektus tersebut dicetak atas biaya yang ditanggung oleh Manajer Investasi dan kemudian didistribusikan kepada investor melalui Agen Penjual. Belakangan ini, demi alasan efisiensi dan kepraktisan, versi hardcopy daripada prospektus sudah semakin jarang dijumpai. Kalaupun ada bentuknya lebih kecil dan ringkas. Malahan banyak Manajer Investasi dan Bank Agen Penjual mencantumkan softcopy daripada prospektus pada website mereka agar setiap saat bisa diakses oleh investor. Sesuai dengan aturan, Investor wajib membaca dan memahami dokumen ini sebelum berinvestasi pada suatu reksa dana.

Setelah pengelolaan reksa dana berjalan, maka reksa dana wajib mengumumkan informasi perkembangan kinerja harian berupa NAB/Up, Return 30 Hari Terakhir, Return 1 Tahun dan Return 1 Tahun Riil setiap hari kerja pada media massa. Selanjutnya setiap akhir bulan, Manajer Investasi juga wajib mempublikasikan suatu dokumen yang disebut Fund Fact Sheet.

Beberapa poin penting yang bisa diperoleh dalam dokumen Fund Fact Sheet tersebut adalah perbandingan kinerja reksa dana dengan benchmark (pembanding), informasi Jumlah dana kelolaan dan Jumlah Unit Penyertaan, 5 atau 10 besar isi portofolio dan outlook Manajer Investasi mengenai kondisi pasar dan apa tindakan yang akan diambil di masa mendatang.

Bagi anda yang sudah atau pernah mendatangi agen penjual reksa dana, tentu tidak asing dengan kedua dokumen tersebut. Namun, Fund Fact Sheet Tidak sama dengan Laporan Keuangan Reksa Dana dan dokumen tersebut juga tidak dapat kita temukan dalam prospektus.

Tempat dimana kita bisa menemukan laporan keuangan adalah pada Prospektus Pembaharuan. Yang dimaksud dengan prospektus pembaharuan reksa dana adalah informasi pembaharuan prospektus yang Wajib dibuat setiap tahun dan umumnya diterbitkan sekitar bulan Maret atau April, namun biaya percetakan dan pembuatan dokumen ini tidak lagi ditanggung oleh Manajer Investasi melainkan ditanggung oleh investor reksa dana. Investor tidak membayar langsung, namun biaya tersebut dibebankan dengan mengurangi Nilai Aktiva Bersih reksa dana.

Satu-satunya perbedaan utama antara Prospektus dengan Prospektus Pembaharuan adalah pada prospektus pembaharuan wajib disertakan juga Laporan Keuangan Reksa Dana. Disinilah investor bisa menemukan informasi lengkap mengenai hasil audit akuntan terhadap pengelolaan reksa dana selama 1 tahun terakhir. Berbeda dengan emiten yang diaudit dan dipublikasikan setiap 3 bulan, publikasi terhadap hasil audit reksa dana dilakukan setiap 1 tahun.

Laporan Keuangan Reksa Dana terdiri dari:

  • Laporan Aset dan Kewajiban yang menginformasikan posisi aset, kewajiban, jumlah unit penyertaan dan Nilai Aktiva bersih per Unit Penyertaan perusahaan.
  • Laporan Laba Rugi Operasi yang mencatat pendapatan dan beban investasi yang ditanggung reksa dana
  • Laporan Perubahan Aset Bersih yang menunjukkan transaksi subscription dan redemption reksa dana.

Informasi mengenai laporan keuangan reksa dana amat berbeda dengan laporan keuangan emiten pada umumnya. Oleh karena itu, pada bagian penjelasan dibuat pula ikhtisar rasio keuangan yang dapat digunakan oleh investor ataupun Manajer Investasi untuk mempermudah interprestasi terhadap pengelolaan reksa dana.

Sebagai contoh, Ikhtisar Rasio Keuangan dari suatu reksa dana saham yang baru-baru ini mempublikasikan pada prospektus pembaharuannya adalah sebagai berikut:

Hasil Investasi dan Hasil Investasi Setelah Memperhitungkan Beban Pemasaran sama halnya seperti Return 1 tahun dan Return Riil 1 tahun yang dipublikasikan setiap hari di koran. Return diperoleh dari selisih NAB/up Awal dan Akhir, sementara yang dimaksud dengan Hasil Investasi Setelah Memperhitungkan Beban Pemasaran adalah tingkat return yang disesuaikan lagi dengan Biaya Subscription dan Biaya Redemption yang tercantum dalam prospektus. Sehubungan dengan pengenaan biaya yang bervariasi dalam praktek kesehariannya, investor cukup memperhatikan Hasil Investasi saja ketika ingin membandingkan reksa dana tersebut dengan reksa dana lain sejenis.

Beban Operasi (Expense Ratio) adalah perbandingan antara beban operasi dalam satu tahun dengan rata-rata nilai aset bersih dalam satu tahun. Bila jumlah bebasn menunjukkan masa kurang dari 1 tahun, maka beban tersebut harus dikalikan dua belas dan dibagi dengan jumlah bulan dalam periode tersebut. Expense ratio menunjukkan seberapa “mahal” Manajer Investasi dalam menjalankan suatu reksa dana. Jika misalnya Manajer Investasi melakukan strategi pengelolaan aktif sehingga menimbulkan biaya transaksi yang tinggi, pemilihan broker dengan biaya yang mahal, pengenaan biaya manajemen dan kustodian yang tinggi, dan atau biaya administrasi dan penggunaan konsultan yang tidak efisien, maka umumnya Expense ratio akan terlihat besar. Sebaliknya jika dijalankan dengan efisien maka rasio tersebut akan semakin kecil.

Perputaran Portofolio (portfolio turnover) adalah perbandingan antara nilai pembelian atau penjualan portofolio dalam satu periode mana yang lebih rendah dengan rata-rata nilai aset bersih dalam satu tahun. Angka 0,49 : 1 atau 49% secara sederhana dapat diartikan bahwa 49% dari total aset yang dikelola suatu reksa dana ditransaksikan dalam 1 tahun. Oleh karena itu, indikator ini merupakan indikator yang paling tepat dalam mengukur agresifitas pengelolaan reksa dana oleh Manajer Investasi. Semakin besar perputaran portofolio menandakan pengelolaan portofolio oleh Manajer Investasi semakin agresif dan sebaliknya.

Persentase Penghasilan Kena Pajak adalah perbandingan antara penghasilan selama satu periode yang mungkin dikenakan pajak dengan pendapatan operasional bersih. Saya tidak menemukan penjelasan lebih lanjut mengenai item ini. Namun mengingat pendapatan reksa dana oleh investor adalah Bukan Objek Pajak, maka sebetulnya saya tidak terlalu konsen terhadap item ini. JIka ada teman2 yang lebih mengerti tentang topik ini, dipersilakan untuk sharing disini.

Dari seluruh ikhtisar rasio di atas, selain tingkat return, faktor yang seharusnya menjadi perhatian investor adalah Expense Ratio dan Portfolio Turnover. Expense ratio mengukur seberapa efisien dalam mengelola reksa dana dan Portfolio Turnover mengukur seberapa agresif Manajer Investasi dalam mengelola portofolio investasinya. Logikanya, jika Expense Ratio dan Portfolio Turnover lebih tinggi dibandingkan reksa dana sejenis, maka seharusnya reksa dana tersebut juga diharapkan memberikan tingkat return yang lebih tinggi dan sebaliknya. Kami di Infovesta juga sedang mempertimbangkan untuk memasukkan kedua faktor ini dalam riset dan rating reksa dana.

Prospektus Pembaharuan dan Laporan Keuangan Reksa Dana merupakan salah satu bentuk Good Corporate Governance dan Compliance daripada Manajer Investasi dan Reksa Dana. Sebab selain diharuskan menghasilkan kinerja yang baik, tentu aspek transparansi juga harus diperhatikan. Toh, seluruh biaya tersebut ditanggung secara tidak langsung oleh investor reksa dana, sehingga jika ada Manajer Investasi yang tidak melakukan dan mempublikasikan informasi tersebut bisa dipertanyakan komitmennya.

Semoga informasi ini bermanfaat. Selamat berinvestasi.

  1. Ranti
    April 11th, 2011 at 10:50 | #1

    Salam Pak Rudi,
    Saya selalu mengikuti tulisan Bapak dan semoga Bapak tidak bosan menjawab pertanyaan saya. Setelah minggu kemarin bertanya tentang penempatan investasi untuk pensiun sekarang saya ingin bertanya untuk penempatan dana pendidikan anak saya.
    5 tahun lagi anak saya akan kuliah, saya sudah membeli reksadana syariah di Bank dengan pembayaran 1,5 juta/bulan dan membeli emas(Logam Mulia) kira-kira 1jutaan/bulan.
    Saya ingin meningkatkan investasi krn biaya pendidikan semakin mahal sebesar 1jt/bulan. Menurut Bapak uang 1jt tersebut sebaiknya utk top up reksadana atau emas lagi? Terima kasih atas perhatian Bapak.
    Salam, Ranti

  2. April 11th, 2011 at 11:44 | #2

    @Ranti
    Yth Ibu Ranti,

    Mengenai pertanyaan mengenai kuliah anak, apakah informasinya bisa lebih spesifik, seperti nilai uang masuk kuliah nanti. Berapa uang yang sudah terkumpul, dan investasinya pada jenis reksa dana apa. Kalau informasinya lebih lengkap, mudah2an saya bisa memberikan solusi yang lebih baik.

    Mengenai emas, banyak orang berpendapat bahwa emas itu baik, selalu naik dalam jangka panjang, tidak akan turun dll. Saya tidak menyangkal fakta tersebut, dan memang harga emas trus naik (kalau dilihat dari jangka panjang sekali, namun grafik saham juga demikian). Namun dibandingkan investasi pada paper aset, investasi anda pada emas yang anda lakukan itu memiliki beberapa kelemahan jika dana tidak terlalu besar.

    1. Pertama, jika anda membeli emas di bawah 50gr (termasuk), maka dikenakan biaya pengerjaan (istilah tukang emasnya Jasa Pembuatan Produk). Semakin kecil jumlah gram yang anda beli, maka semakin besar pula biaya pengerjaan tersebut. http://www.logammulia.com/news.php?id=9. Berdasarkan website di atas, harga emas yang per gramnya 420.000 itu bisa dijual 436.000 (kalau nilai investasinya 1 jutaan yang setara 2.5 gr). Rp 16.000 per gram itu kalau dipersentasekan sama dengan 3,8%. Apakah kalau anda beli reksa dana juga dikenakan biaya sebesar itu? Sangat mungkin tidak, karena biaya reksa dana paling maksimal 2%, itupun sangat jarang. Jadi kalau beli emas tidak bisa dalam jumlah besar, anda dikenakan biaya premium yang tinggi, ini harus jadi perhatian pertama.

    2. Kalau dilihat di website tersebut adalah harga jualnya (harga beli kembali dari ANTAM). Harga jual kembali itu adalah sebesar Rp 404.000. Jadi kalau beli emas sebesar 2.5gr, anda langsung rugi 7,3%. Harga beli kembali tersebut memang disesuaikan dengan perkembangan harga emas, tapi tidak berubah setiap hari. Yang berubah adalah harga jual ANTAM kepada publik. Jadi untuk investasi emas, perhatian kedua adalah anda harus bisa menemukan pembeli harga emas yang lebih tinggi dari harga beli ANTAM. Jika tidak, ketika harga emas naik 10% sekalipun, anda masih belum tentu balik modal.

    Untuk Poin 1 dan 2 menggunakan informasi harga Emas Antam per 11 April 2011, besar kemungkinan angka tersebut sudah berubah lagi jika diakses di hari ang akan datang.

    3. Untuk yang ketiga ini, menurut saya mungkin agak berbeda antara kondisi masing-masing orang. Saya sendiri berdomisili di Jakarta Barat. Kebetulan (saya juga memiliki sedikit emas), untuk penjualannya bisa dilakukan di toko emas yang berlokasi di mall central park dekat tempat tinggal saya. Karena kedekatan LOKASI dengan toko emas tersebut, untuk menguangkan emas itu relatif cepat dan menurut saya lebih aman karena saya tidak harus membawa2 emas untuk perjalanan yang jauh. Faktor ketiga ini kalau dari sudut pandang keuangan disebut Likuiditas. Nah, bagaimana dengan likuiditas anda, apakah untuk penyimpanan dan menguangkan emas tersebut juga aman dan nyaman bagi anda?

    Jadi, saya menunggu informasi lebih lanjut dari anda. Soal pertimbangan apakah emas atau reksa dana yang lebih baik, 3 pertimbangan di atas adalah pertimbangan dari sisi aspek non teknis. Mudah2an bisa menjadi pertimbangan bagi anda. Soal keuntungan, sebetulnya jika kita cermat dalam memilih, ada juga reksa dana yang kinerjanya tidak kalah kinclong dibandingkan emas.

    Oh ya, jika posisi anda ada di Jakarta dan Sabtu ini kebetulan ada waktu, anda bisa datang ke booth kami saat acara talkshow bersama Kontan http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/01/04/429/ nanti. Mudah2an dalam acara tersebut pertanyaan anda bisa terjawab dengan lebih baik.

    Atas perhatiannya saya mengucapkan banyak terima kasih.

  3. April 11th, 2011 at 23:08 | #3

    Yth Pak Rudiyanto.

    Terima Kasih atas penjelasannya. Saya tinggal di Sukabumi, Jawa Barat. Sementara saya tidak libur. Semoga tabloid kontan menulis isi dari talkshow tersebut supaya bisa saya baca. Kebetulan sabtu tgl 9 suami mengikuti seminar reksadana di Infovesta.

    Kalau melihat tren biaya masuk perguruan tinggi negeri rata-rata 60jt untuk jurusan teknik dan 200jt untuk kedokteran. Anak saya 5 tahun lagi masuk perguruan tinggi. Saat ini saya membeli reksadana saham di BNP Paribas Pesona Amanah, Manulife dan unit link di BNI Life yg di kelola Schroeder. Untuk uang yang tersedia baru ada 25 jt.
    Saya baru mempunyai 25 gr emas yg saya beli di pegadaian syariah dan belum tahu bagaimana cara menjualnya baru tahu cara menggadaikan yg tertera pada brosur pegadaian.
    Demikian Pak Rudi informasi mengenai kondisi keuangan saya, atas perhatian Bapak saya ucapkan banyak terima kasih. Salam, Ranti

  4. April 12th, 2011 at 03:31 | #4

    @Ranti
    Yth Ibu Ranti,

    Terima kasih atas kesediaan anda melakukan sharing informasi disini.

    Berdasarkan informasi dari anda, dengan menggunakan program Investment Planning and Monitoring Tools yang akan kami softlaunching 16 April nanti, perhitungannya adalah sebagai berikut:
    1. Asumsi yang digunakan:
    Pertumbuhan Reksa Dana Saham yang anda miliki saat ini 12%
    Pertumbuhan investasi dari Reksa Dana Saham yang anda akan lakukan 12%
    Inflasi Pendidikan 10%
    Acuan
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/04/02/apakah-investasi-saham-jangka-panjang-pasti-menguntungkan/

    2. Kebutuhan Dana
    Jika investasi dilakukan secara bulanan yang anda lakukan saat ini perbandingan perkiraan investasi yang dibutuhkan sebagai berikut:
    Investasi Bulanan untuk Masuk Jurusan Teknik –> Rp 650.000
    Investasi Bulanan untuk Masuk Jurusan Kedokteran –> Rp 3.400.000
    Kebutuhan dana di atas hanya mempertimbangkan Investasi anda pada Reksa Dana dan tidak termasuk emas.

    3. Pertimbangan Investasi Emas
    Rata-rata Return Pertumbuhan Emas berdasarkan perhitungan sederhana yang saya lakukan dengan menggunakan data dari 2001 – 2011 adalah sekitar 17.55%.
    Meski rata-rata return lebih tinggi, seperti pendapat saya sebelumnya, karena ada selisih harga beli dan harga jual, faktor likuiditas dan faktor biaya jasa pembuatan, saya tidak bisa memastikan apakah tingkat return 17.55% tersebut bisa dinikmati secara sepenuhnya oleh investor, maka secara subjektif saya mendiskon tingkat return tersebut menjadi 12% (sama dengan reksa dana saham). Dengan asumsi harga emas saat ini adalah Rp 400.000, maka kebutuhan dana anda akan menjadi sebagai berikut:
    Investasi Bulanan untuk Masuk Jurusan Teknik –> Rp 450.000
    Investasi Bulanan untuk Masuk Jurusan Kedokteran –> Rp 3.150.000

    Berdasarkan total investasi anda yang mencapai 3,5 juta (1,5 juta reksa dana syariah + 1 juta emas + 1 Juta tambahan), maka yang perlu anda lakukan adalah memastikan bahwa reksa dana yang anda pilih mampu mencapai konsistensi return di atas 12%.

    Semoga bisa menjawab pertanyaan anda. Terima kasih.

  5. April 12th, 2011 at 04:30 | #5

    Terima kasih banyak Pak dan selamat ber-talkshow. Semoga sukses selalu

  6. budi
    April 12th, 2011 at 06:42 | #6

    Pak Rudi,

    1.a. apakah reksa dana saham memasukkan deviden saham yang dibagikan dalam perhitungan nab/UP-nya?

    1.b. bila ya, bagaimana investor mengetahui dividen saham tersebut masuk ke unit nab/UP reksa dana?

    2. apa yang terjadi dengan reksa dana pendapatan tetap CIMB – Principal Bond di tahun ke tiga mencapai 1300%?

    3. apakah ada cara investasi reksa dana yang lebih baik dari pada dollar averaging method? Mohon dijelaskan caranya.

    Terima kasih banyak.

    Budi

  7. April 13th, 2011 at 01:39 | #7

    @budi
    Yth Pak Budi,

    Mencoba menjawab pertanyaan anda:
    1. A. Ya, reksa dana memasukkan pembagian dividen saham (jika ada) ke dalam NAB/Up
    B. Percaya ama yang namanya Bank Kustodian

    2. A. Itu ceritanya panjang, pada dasarnya itu semacam kelemahan teknis dari perhitungan NAB/up Reksa Dana. Secara singkat, hal ini sering terjadi pada reksa dana yang dananya ditarik sampai (hampir) habis oleh investor dan kemudian diisi lagi beberapa hari / bulan kemudian. Antara jeda waktu dana ditarik dan dana diterima oleh investor ada penghasilan bunga dari dana idle yang mengendap di Bank Kustodian sebelum sampai ke investor. Penghasilan bunga tersebut karena tidak bertuan dikembalikan ke reksa dana. Nah, unit reksa dana yang tersisa sedikit tersebut mendapat penghasilan bunga yang besar menyebabkan harganya melonjak tinggi.

    Jadi kesimpulannya return 1300% yang tinggi tersebut bukan merupakan hasil dari kinerja melainkan dari suatu kelemahan dalam teknis perhitungan NAB/Up reksa dana. Dalam hal ini tidak ada investor yang dirugikan. Manajer Investasi juga tidak diuntungkan karena dananya milik reksa dana. Investor yang beruntung adalah investor yang menarik paling belakangan. Namun tidak jarang di reksa dana tersebut sudah tidak ada investor. Berdasarkan peraturan BAPEPAM-Lk, jika dana tersebut mengendap hingga x tahun (saya lupa tepatnya) maka akan diberikan kepada BAPEPAM-LK untuk kepentingan pengembangan pasar modal.

    Penilaian rating di Infovesta sudah memasukkan unsur tersebut.

    3. Strategi investasi pada umumnya ada beberapa macam. Misalnya Cost Averaging yang anda sebutkan, Rebalancing, Lump Sum Investment. Ada juga yang membuat variasinya namun tidak jauh2 dari ketiga strategi secara umum di atas. Dalam pandangan Infovesta, apapun strategi yang dilakukan, strategi yang paling baik adalah strategi yang mampu mencapai tujuan investasi. Apakah itu dengan memilih reksa dana yang jagoan, berinvestasi secara rutin, kapan sebaiknya profit taking atau top up dilakukan.

    Untuk caranya kalau posisi anda di Jakarta dan bisa datang di acara Kontan 16 April nanti, akan bisa dijelaskan dengan lebih baik karena nanti akan ditunjukkan aplikasi strategi di atas dengan alat bantu sehingga prakteknya bisa terlihat lebih jelas. Sebab kalau hanya cuap2 soal teori saja tidak banyak kegunaannya.

    Semoga menjawab pertanyaan anda. Terima kasih.

  8. Henny
    April 14th, 2011 at 06:05 | #8

    Syaloom pak Rudy…

    Saya sudah lama membaca tulisan anda tentang “Reksadana Bebas Pajak” atau “Reksadana Bukan Objek Pajak”. dan saya sangat paham isi tulisan tsb.

    Pada bulan Maret 2011 saya menerima surat dari bank Commonwalth yang mengumumkan kepada nasabah sebagai berikut. “Mulai 1 April 2011, bagi anda nasabah yang berinvestasi pada reksadana :
    1. Setiap transaksi reksadana akan dikenakan Pajak Pertambahan nilai (PPN} sebesar 10% khusus untuk produk reksadana yang memiliki biaya Pembelian, Pengalihan atau Penjualan Kembali
    2. Dana untuk pembelian reksadana berkala (Autoinvest) harus tersedia di rekening satu hari sebelum tanggal pendebetan setiap bulannya.

    Pertanyaan saya adalah :

    2. Benarkah PPN reksadana dibebankan ke investor ? (saya membeli Shcroder 90 equiti found melalui bank Commenweath bulan oktober 2010)

    3. Saya juga berinvestasi di Reksadana yang lain ( Panin sekuritas ) dan rekasadana ini, sama persis dengan tulisan anda alias tidak membebankan pajak kepada investor karena manager investsi sdh membayarkan pajak tsb. Apakah saya yang salah menafsirkan tulisan anda atau ada hal lain yang saya belum mengerti?

    4. Apa langkah terbaik yang saya lalukan terhadap hal ini?

    Terimakasih atas pencerahan dari Pak Rudy.

  9. April 14th, 2011 at 06:54 | #9

    @Henny
    Yth Ibu Henny,

    Apakah benar PPN dikenakan atas biaya transaksi reksa dana yang ditransaksikan melalui bank, itu benar.

    Mengenai penafsiran anda, PPn dibayarkan oleh investor. Ilustrasi sebagai berikut, misalnya anda berinvestasi Rp 100 juta dan dikenakan biaya Rp 1 juta. Atas biaya Rp 1 juta tersebut sesuai peraturan harus dikenakan pajak PPN sebesar Rp 100.000.

    Ada pihak si A, yang baik hati. Karena ceritanya dia menerima Rp 1juta dari anda sebagai biaya, sebesar Rp 900.000 dianggapnya sebagai penghasilan dan sisanya sebesar Rp 100.000 sebagai PPN. Total uang yang dikeluarkan oleh investor adalah Rp 1juta.

    Ada pihak si B, yang agak kurang baik hati. Ceritanya karena mau tetap incomenya Rp 1juta, maka itu dia meminta lagi Rp 100.000 kepada si investor agar uang tsb bisa disetorkan kepada kantor pajak sebagai PPN. Pada si B ini, total uang yang dikeluarkan adalah Rp 1,1 juta.

    Dalam kedua kasus di atas, pajak tetap dibayarkan oleh Investor, bukan Manajer Investasi bukan pula Bank Agen Penjualnya. Namun, karena ada yang baik hati dan ada yang kurang, maka berpengaruh kepada besarnya biaya yang dikeluarkan oleh investor.

    Jadi jika dikatakan ada pihak yang “menanggung” pajak anda itu kurang tepat. Pajak tersebut tetap dibayarkan oleh investor. Kalau masih kurang jelas bisa ditanyakan kembali.

    Mengenai langkah terbaik, apakah bisa dijelaskan lagi apa masalah yang sedang anda hadapi saat ini terkait pertanyaan anda?

  10. Robert
    April 14th, 2011 at 08:41 | #10

    Selamat siang Pak Rudi..

    Setiap minggu saya tidak lupa membaca kolom pak Rudi tentang reksa dana agar saya semakin paham tentang produk yang menawan ini. :D

    Saya hanya mau tanya 1 hal ini pak. Darimana saya bisa mendapatkan “Prospektus Pembaharuan Reksadana” ya pak? Jujur saja, sejak 2007 berinvestasi di saham & reksadana, saya baru dengar prospektus tersebut dari pak Rudi. Bahkan manajer investasi seperti Schroder pun sepertinya tidak merilis prospektus dimaksud di websitenya. Padahal saya melihat Schroder merupakan satu-satunya MI yang secara transparan menyediakan pergerakan NAB semua produk reksadananya di website mereka.

    Terima kasih atas penjelasannya.

    Salam sejahtera.

  11. April 14th, 2011 at 10:06 | #11

    @Robert
    Selamat siang Pak Robert,

    Terima kasih banyak atas dukungannya.

    Prospektus pembaharuan itu ada di tombol prospektus. Soalnya nama prospektus dan prospektus pembaharuan itu dianggap jadi satu. di website schroders http://www.schroders.com/indonesia/public-funds/fund-literature anda cukup klik tombol prospektus untuk mendownload.

    Ciri-ciri Prospektus pembaharuan adalah
    1. Ada kata “PEMBAHARUAN”
    2. Tanggal cetak prospektus beda ama tanggal efektif reksa dana.
    Contohnya bisa disini http://www.schroders.com/staticfiles/Schroders/Funds/Indonesia%20-%20Public%20Funds/Dana%20Prestasi%20Plus/Bahasa/Schroder-Dana-Prestasi-Plus-SP-IDBA.pdf

    Menurut pemantauan saya sejauh ini, website schroders adalah salah satu yang lengkap dan bagus GCGnya (good corporate governance) dibandingkan website manajer investasi sejenis. Untuk soal update data fund fact sheet, termasuk yang cepat. Beberapa Manajer Investasi harus menunggu hingga 5-10 hari kerja, beberapa bahkan belum memiliki website.

    Nah, untuk kasus laporan keuangan reksa dana, saya lihat ada beberapa variasi.
    1. Lengkap dan dicetak jadi satu bersama prospektus pembaharuan
    2. Terpisah sama sekali tapi bisa di download seperti halnya Schroders di atas (anda bisa lihat di tombol Annual Reportnya).

    Semoga bermanfaat pak

  12. Tiara
    April 18th, 2011 at 09:38 | #12

    Pak rudy yang baik…

    Trimakasih atas pencerahannya, sekarang saya mengerti…
    langkah saya selanjutnya adalah saya akan putuskan hubungan mesra selama ini dengan orang2 yang tidak baik itu, hehehe….

    GBU pak rudy n sucses selalu….Amin.

  13. henny
    April 18th, 2011 at 09:42 | #13

    Pak rudy yang baik…

    Trimakasih atas pencerahannya, sekarang saya mengerti…
    langkah saya selanjutnya adalah saya akan putuskan hubungan mesra selama ini dengan orang2 yang tidak baik itu, hehehe….

    GBU pak rudy n sucses selalu….Amin.

  14. April 18th, 2011 at 10:02 | #14

    @henny
    Yth Ibu Henny dan Ibu Tarigan,

    Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas doanya.

    Mengenai langkah anda untuk memutuskan hubungan, saya sarankan baru anda lakukan jika anda bisa menemukan si baik hati yang menjual reksa dana yang anda inginkan dan mau menanggung PPN anda tersebut.

    Semoga sukses

  15. Robert
    April 18th, 2011 at 12:56 | #15

    @Rudiyanto
    Dear pak Rudi,

    Terima kasih banyak atas penjelasan yang sangat komprehensif. Saya ada pertanyaan lagi pak, tapi agak out of topic.

    Saya baru menemukan di bloomberg, website yang memberikan data return seluruh reksadana di Indonesia seperti yang disajikan oleh infovesta.com.

    Website tersebut dapat dilihat di sini (country of listing Indonesia):

    http://www.bloomberg.com/apps/data

    Yang ingin saya tanyakan adalah adanya perbedaan yang cukup signifikan antara data return (khususnya “3-years return”) yang ada di bloomberg dengan yang ada di infovesta.com. Saya sudah mencoba untuk mengkalikan return yang ada di bloomberg (x3), tapi angka returnnya masih berbeda dengan yang ada di infovesta.

    Mungkin pak Rudi bisa menjelaskan sedikit perihal perbedaan tersebut.

    Sekali lagi terima kasih banyak..

  16. April 18th, 2011 at 13:34 | #16

    @Robert
    Yth Pak Robert,

    Berkaitan dengan pertanyaan anda, saya sudah cek. Belakangan ini sudah banyak website yang menyediakan data informasi reksa dana dan return seperti infovesta.com. Tidak hanya bloomberg, di Kontan juga ada. Hal ini memang merupakan hal yang positif karena menandakan bahwa data sudah bukan barang yang sulit untuk diperoleh lagi dan harapannya investor akan lebih memiliki informasi yang jelas sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada instrumen reksa dana tertentu.

    Perbedaan di atas sebetulnya cukup sederhana, di Bloomberg menggunakan Annualized Return (Return disetahunkan)–> return yang mempertimbangkan faktor bunga berbunga. Sementara Infovesta menggunakan Total Return, alias hanya melihat return dari satu titik ke titik lain. Untuk mengubah Annualized Return menjadi Total Return yang digunakan Infovesta memang tidak bisa dikalikan tiga akan tetapi menggunakan rumusan Time Value of Money khususnya Future Value.

    Di luar negeri, penggunaan Annualized Return lebih umum dibandingkan total return karena disebabkan bahwa orang selalu membandingkan sesuatu dengan instrumen Risk Free (Deposito) yang selalu dinyatakan dalam tahunan. Sementara di Indonesia, karena tingkat pengetahuan investasi tidak setinggi orang di luar negeri, maka angka Total Return lebih familiar dan lebih mudah dijelaskan ke Investor. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk menggunakan total return di infovesta.com.

    Angka Annualized Return banyak digunakan oleh kalangan financial planner. Aplikasi Myplan di https://myplan.infovesta.com/myplan/ yang merupakan
    (website yang baru dengan sertifikasi dari digicert) kami softlaunching tanggal 16 April lalu juga menggunakan Annualized Return dalam menentukan jenis reksa dana yang cocok untuk investor.

    Semoga bisa menjawab pertanyaan anda. Terima kasih

  17. Robert
    April 19th, 2011 at 15:20 | #17

    @Rudiyanto

    Terima kasih banyak atas pencerahannya Pak Rudi. Revisi sedikit, link bloomberg yang benar adalah:

    http://www.bloomberg.com/apps/data?pid=fundscreener

    Mungkin ada sahabat-sahabat investor lainnya yang membutuhkan.

    Terima kasih..

  18. April 19th, 2011 at 16:07 | #18

    @Robert
    Sebagai tambahan link ini juga menyediakan data NAB/up reksa dana yang datanya bisa diakses secara gratis
    http://pusatdata.kontan.co.id/v2/reksadana
    Datanya lebih lengkap dibandingkan bloomberg, tapi tinggal anda senang memakai yang mana.

    Semoga bermanfaat

  19. Henvi
    July 23rd, 2011 at 20:55 | #19

    Yth Pak Rudiyanto,

    Saya agak bingung dan ingin bertanya apakah semua beban pemasaran + beban operasi = expense ratio ? Jadi total persentase hasil investasi dikurangin expense ratio = persentase net return kita? Atau total persentase hasil investasi – expense ratio – beban pemasaran = persentase net return kita?

  20. July 24th, 2011 at 18:18 | #20

    Yth Henvi,

    Beban pemasaran dan beban operasional adalah 2 kategori biaya yang berbeda. Expense ratio hanya mencakup biaya operasional yaitu biaya untuk menjalankan reksa dana. Sementara biaya pemasaran ditanggung oleh Manajer Investasi atau Bank Agen Penjual. Jika dimungkinkan, saya akan membuat artikel tentang biaya reksa dana di posting yang akan datang.

    Besar kecilnya expense ratio, TIDAK ada kaitannya dengan return yang kita terima. Besar kecilnya return yang kita terima pernah saya bahas disini. http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2010/12/27/return-1-tahun-dan-return-1-tahun-riil-bedanya-apa-sih/

    Semoga bermanfaat

  21. Henvi
    July 24th, 2011 at 22:25 | #21

    Terima kasih Pak, atas penjelasannya.. karena saya pernah membaca artikel investasi yang mengatakan bahwa “if you invest in a fund that earns a 10% annual return on the securities it holds but has a 2% expense ratio, your investment will grow at a rate of only 8% per year. , berarti semakin besar expense rationya, semakin besar dana yang akan dipotong dalam dana kelolahan reksadana untuk biaya2 tertentu dan menurunkan tingkat pengembaliannya.. jadi bukankah expense ratio juga akan mempengaruhi hasil return investasi kita? Dari artikel Bapak tentang return1tahun dan return1tahun riil, menurut saya adalah faktor externalnya dan expense ratio adalah faktor internal. Bagaimana pendapat Bapak? Semoga artikel Bapak yang akan datang bisa membahas lebih detail tentang biaya reksa dana. Terima kasih.

  22. July 25th, 2011 at 01:45 | #22

    @Henvi
    Yth Henvi,

    Artikel tentang expense ratio telah umum dibahas di negara barat, terutama negara yang maju industri investasinya. Meski demikian, kita harus bisa membedakan antara return historis dengan return yang akan datang. Return dan Return Riil yang saya bahas adalah return historis, dan karena expense ratio mengukur biaya yang ‘telah’ terjadi, maka return tersebut sebetulnya sudah mencakup expense ratio.

    Sementara artikel yang bapak baca lebih membahas tentang return yang ‘akan’ terjadi di masa mendatang. Pernyataan tersebut memang tidak salah, namun siapa yang bisa menebak secara pasti return reksa dana di masa datang? Selain itu, pernyataan di atas juga (menurut saya) mengasumsikan bahwa reksa dana dikelola secara pasif dan isinya obligasi yang memberikan tingkat return yang pasti. artinya investasi hanya buy and hold, padahal kebanyakan reksa dana yang dimiliki orang dikelola secara aktif dan isinya kebanyakan di saham.

    Jadi saya memiliki sudut pandang yang mungkin ‘agak’ berbeda tentang biaya reksa dana dengan cara pandang bapak dan ulasan dari artikel investasi yang bapak baca. Mudah2an bisa saya share nanti dalam posting yang berhubungan.

  23. Henvi
    July 25th, 2011 at 21:57 | #23

    Terima kasih banyak atas pencerahannya Pak… dan sukses selalu…

  24. Toto wijayanto
    September 19th, 2011 at 16:36 | #24

    Salam kenal Pak Rudi,

    Saya merasa tercerahkan dgn info Bapak mengenai berinvestasi RD. Saya pensiunan punya uang pesangon sekitar rp.300 juta. Sy harus berinvestasi di RD jenis apa ya yg bisa memberi return rata2 Rp. 7 juta per-bulan. Kalau returnnya baru menguntungkan setelah 1 tahun diredeem juga tidak apa2, mungkin utk cashflow bulanan saya saya akan pinjam dulu dari istri baru hasil redeem setahun tsb sy kembalikan. Jenis RDnya berisiko sedikit tidak apa asalkan terproteksi pokoknya. Mohon saran & pengarahannya.

    Terimakasih & sukses buat Pak Rudi

  25. September 19th, 2011 at 23:33 | #25

    @Toto wijayanto
    Yth Bapak Toto,

    Jika dilihat dari profil bapak sepertinya bapak baru pensiun sehingga saya berasumsi usia bapak saat ini sekitar 55-56an. Tingkat keuntungan investasi yang anda harapkan adalah Rp 7 juta per bulan atau Rp 94 juta per tahun. Jika dibandingkan dengan modal anda sebesar Rp 300 juta, berarti keuntungan yang anda harapkan adalah 2.3% per bulan atau 31% per tahun.

    Keuntungan sebesar itu adalah hampir tidak mungkin didapatkan jika tidak diinvestasikan pada jenis reksa dana yang bisa menyebabkan kehilangan pokok. Jadi saya mohon maaf, menurut saya, rencana bapak agak kurang realistis.

    Saran saya, coba bapak cari deposito yang bisa memberikan bunga net hingga 6% atau gross 7.5% per tahun. Dengan dana yang bapak miliki sekarang seharusnya tidak terlalu sulit. Bapak juga bisa mencoba mencari di beberapa Bank BPD atau bank asing yang sepengetahuan saya menawarkan suku bunga yang lebih kompetitif dibandingkan Bank BUMN.

    Seterusnya adalah mencoba mengatur kehidupan pensiun bapak. Dari perhitungan yang saya lakukan, jika:
    A. Bapak melakukan penarikan sebesar Rp 2,5 juta per bulan, maka dana tersebut akan cukup selama 15 tahun
    B. Bapak melakukan penarikan sebesar Rp3,3 juta per bulan, maka dana tersebut akan cukup selama 10 tahun.

    Jika bapak berhasil menemukan deposito tersebut dan mau menjalankan saran saya, maka minta tolong kepada petugas bank untuk melakukan penarikan otomatis setiap bulan sesuai dengan jumlah yang dikemukan di atas.

    Jumlah di atas mungkin tidak bisa untuk hidup enak di kota besar, namun saya percaya bisa memberikan penghidupan yang layak bagi bapak untuk menjalani masa pensiun anda tanpa harus tergantung kepada orang lain. Sangat penting bagi bapak untuk bisa bersama istri bapak mengontrol pengeluaran setelah pensiun. Saya pernah melihat beberapa contoh kasus dimana setelah pensiun pengeluaran menjadi tidak terkontrol, akibatnya pensiunan tersebut harus kembali bekerja, yang tentunya semakin sulit karena pilihan pekerjaan terbatas. Saya tidak berharap hal ini terjadi pada anda.

    Akhir kata saya mendoakan bapak semoga sehat selalu dan bisa menjalani masa pensiun anda dengan bahagia. Semoga saran saya bermanfaat.

  26. October 13th, 2011 at 03:47 | #26

    selamat pagi+
    saya baru membaca artikelnya bapak; saya mau tanya mengenai alokasi aset reksaana yang dicantumkan dalam laporan keuangan reksadana. sy mau tau apakah reksadana yang sya beli mempunyai konsistensi dalam proporsi alokasi asetnya dengan kebijakan yang telah diterapkannya; maka untuk melihatnya dapat ditemukan dimana atau pada bagian mana pak??
    terimakasih

  27. October 13th, 2011 at 08:21 | #27

    @hendra
    Pagi Pak Hendra,

    Informasi tersebut bisa anda lihat dalam fund fact sheet yang diterbitkan setiap bulannya. Manajer Investasi yang bagus, salah satu ciri-cirinya adalah mempublikasikan informasi tersebut secara tepat waktu dan mencakup seluruh produk reksa dananya.

    Informasi fund fact sheet bisa anda lihat di website manajer investasi ataupun memintanya dari agen penjual.

    Semoga bermanfaat

  28. fera
    April 17th, 2012 at 09:17 | #28

    @fera
    saya butuh data yang seperti bapak buat di atas, beban operasi dan perputaran portofolio..kalau boleh tau, bagaimana cara bapak menghitungnya?dan dapat dari mana datanya?

    mohon sekali bantuan bapak…terima kasih banyak pak..

  29. Rudiyanto
    April 17th, 2012 at 18:47 | #29

    @fera
    Yth Fera,

    Beban operasi dan perputaran portofolio umumnya dihitung oleh auditor dengan menggunakan laporan keuangan dan data transaksi yang diberikan oleh Manajer Investasi.

    Dalam membuat tulisan di atas, saya hanya menggunakan data yang sudah jadi. Daripada menghitung rasio tersebut, anda bisa coba mempelajari efek dari beban operasi dan perputaran portofolio terhadap kinerja reksa dana.

    Semoga bermanfaat.

  30. Rony
    October 15th, 2012 at 00:20 | #30

    Pak Rudi,
    sebelumnya saya berterima kasih atas artikel2 anda yang sangat lugas dan menurut saya obyektif di bidang reksadana. Saya selama ini hanya merupakan silent rider dari artikel2 bapak :-)
    Saya mau menanyakan mengenai expence ratio. Dalam beberapa prospektus RD (biasanya juga dicantumkan laporan audit keungan) yang saya baca, sepertinya saya tidak mendapatkan info mengenai biaya ini (cmiiw). Caranya melihat expence ratio suatu reksadana gimana ya pak?
    Persentase expence ratio itu dihitung dari apa? apakah total dana kelolaan?
    Berapa range wajar persentase expence ratio?
    Terima kasih

  31. Rudiyanto
    October 18th, 2012 at 02:59 | #31

    @Rony
    Salam pak Rony,

    Sebelumnya, boleh saya diinformasi bagaimana anda memuat foto dalam komentar blog ini? Saya sudah coba2 tapi ga berhasil.

    Kalau auditnya benar, seharusnya Expense Ratio itu ada dalam setiap audit laporan keuangan reksa dana. Jadi kemungkinan yang bapak baca itu auditnya tidak benar atau sudah benar namun informasi tersebut tidak dilampirkan. Rumus untuk Expense ratio sudah ada di artikel di atas, silakan dibaca. Ketentuan range yang wajar saya tidak tahu karena belum melakukan penelitian secara mendalam pada topik ini. Yang jelas semakin tinggi expense ratio, berarti semakin mahal pula biaya yang dikeluarkan suatu reksa dana untuk menjalankan operasional suatu reksa dana. Sehingga bisa dikatakan tidak efisien. Untuk mengetahui berapa itu wajar, saran saya anda bisa membandingkan expense ratio beberapa reksa dana sekaligus dari tahun ke tahun untuk mendapatkan informasi tersebut. Terima kasih.

  32. Rony
    October 18th, 2012 at 22:45 | #32

    Salam Pak Rudy,

    Terima kasih untuk pencerahannya. Saya coba membaca ulang artikel akhirnya mayan mudeng juga :) tapi saya kesulitan untuk menemukan variabel ‘nilai asset bersih’ karena istilah ini tidak familier buat saya. Apakah yang dimaksud nilai aset bersih adalah total aset yang dikelola pak? Karena info yang berhubungan dengan ‘asset’ biasanya adalah dana kelolaan. Boleh diinfo pak mengenai ini?
    Saya penasaran soal ini karena ada RD (tidak perlu saya sebutkan namanya karena sepertinya kurang etis, tapi RD ini bisa dibilang tertinggi returnnya per 1th ini) menginformasikan mengenai expense rasio-nya diatas 25%, sementara dari yang lain (yang ada info expense rasio) di kisaran 5%. Apakah kasus seperti ini juga dikategorikan tidak efektif ketika expense ratio besar tapi return juga besar pak? Mohon pendapatnya.

    Mengenai avatar saya, silahkan dicoba dengan mendaftarkan account ‘global avatar’ bapak di gravatar plus unggah foto bapak untuk dipakai sebagai avatar di gravatar.com. Hintnya adalah email bapak, jadi apabila email bapak sudah terdaftar disana, ketika bapak nulis comment di blog lain juga akan dikenali (muncul image avatar) asal alamat email yang bapak ketika submit comment sama dengan email terdaftar. Kebetulan saya pengguna wordpress. Di wordpress juga sudah ada plugin gravatar yang siap pakai. Linknya di wp-admin -> User -> My public profile
    Jadi bapak juga bisa menggunakan fasilitas tersebut di blog ini karena sepertinya blog kontan juga menggunakan wordpress.
    Selamat mencoba dan sebelumnya terima kasih sekali lagi untuk ilmunya :)

  33. Rudiyanto
    October 19th, 2012 at 00:02 | #33

    @Rony
    Yth Pak Rony,

    Saya tidak begitu tahu dengan produk mana yang anda maksud, namun saya pikir mungkin ada kesalahan jika expense ratio mencapai 25%.

    Expense Ratio pada dasarnya adalah biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan suatu reksa dana. Bayangkan reksa dana adalah suatu perusahaan, maka expense ratio adalah biaya yang dibayarkan untuk menjalankan perusahaan tersebut. Dimana didalamnya ada gaji manajer investasi (management fee), gaji buat si administrasi (custodian fee), biaya buat si broker (biaya transaksi saham), pajak, bayar konsultan audit dll.

    Komponen fee yang paling besar umumnya ada di gaji manajer investasi sebagai CEO. Jika manajer investasi mentransaksikan saham secara agresif, otomatis komponen biaya transaksi saham juga akan mengelembung. Apakah angkanya bisa lebih besar dari gaji Manajer Investasi, bisa saja, namun mungkin kejadian ini tidak terlalu umum. Jika terjadi demikian, berarti si MI sangat aktif dalam mentransaksikan portofolionya.

    Berdasarkan asumsi saya di atas, seharusnya expense ratio yang wajar adalah minimal sebesar fee manajer investasi + fee custodian + beberapa persen untuk operasional. Jika sudah puluhan persen berarti sudah sangat tidak efisien, kemungkinan ada kesalahan cetak atau kesalahan informasi karena hampir tidak mungkin jika mencapai 25% kecuali dana kelolaan reksa dana tersebut masih sangat kecil.

    Yang dimaksud dengan Nilai Aset Bersih itu sama dengan Nilai Aktiva Bersih sama dengan Jumlah Dana Kelolaan. Anda bisa membaca lebih lanjut di link ini http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/10/01/back-to-basic-memahami-proses-terbentuknya-reksa-dana/

    Semoga bisa menjawab pertanyaan anda, dan terima kasih juga untuk tip memasang fotonya. Semoga sehat dan sukses selalu.

  34. Feiky
    May 31st, 2013 at 14:51 | #34

    Dear pak rudi

    Sebelumnya mohon maaf yang ingin saya tanyakan agak keluar topik. Dimana saya bisa mengunduh laporan keuangan tahunan dan portofolio reksadana panin? Karena di web http://www.panin-am.co.id/ViewForms.aspx?id=prospectus saya hanya menemukan prospektus tanpa ada laporan keuangannya..

    Terima kasih

  35. Rudiyanto
    May 31st, 2013 at 14:53 | #35

    @Feiky
    Yth Feiky,

    Anda harus log in dulu menggunakan user nasabah. Kemudian masuk lagi ke halaman yang sama. Laporan Keuangan hanya tersedia untuk nasabah.

    Semoga bermanfaat.

  36. Malik Rayhan
    July 20th, 2013 at 12:13 | #36

    Yth. Pak Rudianto

    Terima kasih atas ulasannya mengenai laporan keuangan reksa dana. Pengetahuan yang Bapak berikan sangat membantu saya.

    Pak Rudy, beberapa bulan terakhir ini saya sudah menjadi nasabah Panin AM. Saat ini saya sedang melakukan penelitian mengenai efisiensi kinerja reksa dana saham sebagai syarat kelulusan sarjana.

    Saya ingin bertanya mengenai Rasio Subscription Cost yang mana itu merupakan Subscription Cost/Total Asset. Bagaimana cara saya menghitung rasio tersebut dengan benar sesuai dengan data dari laporan keuangan tahunan reksa dananya Pak?

    Terima kasih.

  37. misa
    November 19th, 2013 at 23:21 | #37

    selamat malam pak,
    saya mau tanya tentang expense ratio,
    seperti yang bapak jelaskan di atas kan expense ratio itu adalah perbandingan beban operasi dalam 1 thn dengan rata2 nilai aset 1 thn.
    nah rata2 nilai aset 1 thn itu gmn cara mencarinya ya pak?
    mungkin bapak bisa memberi contohnya
    terima kasih

  38. Rudiyanto
    November 21st, 2013 at 13:22 | #38

    @Malik Rayhan
    Salam Malik Rayhan,

    Rasio Subscription Cost itu teori dari buku apa ya? Setahu saya tidak pernah ada dalam laporan keuangan reksa dana. Yang ada adalah Expense Ratio.

    Subscription cost sudah diberikan dalam bentuk persentase dan dikalikan nominal investasi bukan total aset.

    Semoga bermanfaat.

  39. Rudiyanto
    November 21st, 2013 at 13:25 | #39

    @misa
    Salam Misa,

    Tentang Expense Ratio itu adalah perhitungan dari hasil audit laporan keuangan. Rata-rata nilai aset itu ya, nilai dari total aset dalam satu tahun dirata-ratakan. Misalkan tanggal 1 tambah tanggal 2, 3 dan seterusnya kemudian dibagi jumlah data.

    Pada prakteknya saya tidak tahu apakah digunakan data per akhir bulan atau data awal dan akhir tahun saja. Dan yang tahu detail perhitungannya itu adalah auditor / akuntan yang mengaudit laporan keuangan tersebut.

    Jadi menurut saya fokusnya adalah menganalisa expense ratio tersebut daripada mencari tahu dengan detail cara perhitungannya.

    Semoga bermanfaat.

  40. November 30th, 2013 at 10:31 | #40

    saya punya anak usia 2 tahun saat ini saya berencana untuk mengkuliahkan anak, saya bermaksud ikut reksadana agar bisa menyekolahkan jadi dokter. kira2 RD diapa ya dan mungkin ada rekomendasi. trims

  41. Rudiyanto
    December 1st, 2013 at 23:56 | #41

    @budi
    Salam Budi,

    Saran saya silakan ikuti proses ini http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/05/07/seni-menyusun-tujuan-investasi-dengan-prinsip-smart/
    Untuk pilihan reksa dana, anda bisa lihat daftarnya di http://www.infovesta.com. Dalam website tersebut terdapat semua reksa dana yang ada di Indonesia berikut kinerjanya.

    Saat ini saya bekerja di Panin Asset Management yang juga menyediakan reksa dana, jika anda tertarik anda bisa ke http://www.panin-am.co.id

    Semoga bermanfaat

  42. ria
    December 18th, 2013 at 18:19 | #42

    selamat sore pak…
    mau tanya, kalau melihat laporan keuangan reksa dana, apakah dapat dicari nilai ROA (return on asset)?
    Rumus ROA itu : Laba setelah pajak/total aktiva
    jika dari data pada laporan keuangan reksa dana itu, kita asumsikan bahwa ‘kenaikan aset bersih yang dapat diatribusi kepada pemegang unit penyertaan’ sebagai laba setelah pajak itu bisa atau tidak?
    Saya tidak begitu paham, karena ROA itu biasa dipakai oleh perusahaan-perusahaan pada umumnya, misalnya perusahaan manufaktur, namun apakah dalam reksa dana itu dapat dihitung juga ROA nya dengan menggunakan asumsi itu?
    mohon sarannya pak…

    Terima kasih…

  43. Rudiyanto
    December 19th, 2013 at 09:21 | #43

    @ria
    Salam Ria,

    Boleh tahu untuk apa kamu menghitung ROA ? bukankah keuntungan dari pemegang unit bisa dihitung dari perubahan NAB/Up ?

  44. ria
    December 19th, 2013 at 09:57 | #44

    Sekarang saya sedang menyusun skripsi mengenai reksa dana. Dosen saya menyarankan saya untuk menghitung ROA untuk mengetahui kinerja reksa dana jika dilihat dari sudut pandang akuntansi. Menurut dosen saya pengukuran kinerja reksa dana dengan menggunakan ketiga metode (sharpe, treynor, jensen) itu merupakan kinerja yang dilihat dari sudut pandang pasar karena data-data yang digunakan adalah data pasar. Setelah melihat laporan keuangan reksa dana itu, dosen saya menganggap bahwa ‘kenaikan aset bersih yang dapat diatribusi kepada pemegang unit penyertaan’ itu sebagai laba setelah pajak.
    Namun saya masih ragu dengan perhitungan ROA, apakah bisa diterapkan dalam kasus reksa dana…
    Jika memang tidak bisa, saya akan saya konsultasikan lagi dengan dosen saya…
    Mohon bantuannya pak…

    Terima kasih…

  45. Rudiyanto
    December 19th, 2013 at 13:16 | #45

    @ria
    Apakah saat ini kamu sudah memiliki contoh laporan keuangan reksa dana? Kemudian jika sudah ada, apakah sudah pernah kamu hitung apakah hasilnya sama atau berbeda dengan return reksa dana dari sisi NAB/Up ?

  46. ria
    December 19th, 2013 at 14:58 | #46

    Sudah pak…
    Tadi sudah saya coba hitung, hasil return reksa dana dari sisi NAB/Up berbeda dengan hasil perhitungan ROA yang datanya diambil dari laporan keuangan…
    Kalau hasilnya berbeda/sama itu artinya bagaimana pak ?

    Terima kasih…

  47. Rudiyanto
    December 19th, 2013 at 15:57 | #47

    @ria
    Apakah kamu juga sudah membandingkan ROA versi hitungan kamu dengan rasio keuangan yang dicantumkan dalam laporan keuangan yang judulnya “Hasil Investasi” dan “Hasil Investasi setelah mempertimbangkan beban pemasaran” ?

  48. ria
    December 19th, 2013 at 19:16 | #48

    Setelah saya bandingkan, hanya sedikit berbeda…
    ROA versi saya nilainya 7,41% (caranya dengan membagi kenaikan aset bersih dengan jumlah aset), sedangkan dalam laporan keuangan nilainya 7,66%…
    Itu artinya bagaimana ?

    Terima kasih…

  49. Rudiyanto
    December 20th, 2013 at 11:11 | #49

    @ria
    Well, terus terang saya juga tidak terlalu mengerti mengapa ada perbedaan. Seharusnya Hasil Investasi yang ada di Ikhtisar Laporan Keuangan sama dengan versi yang dihitung berdasarkan selisih NAB/Up.

    Kemudian terkait versi yang dihitung dari ROA menurut saya tidak relevan karena jumlah aset reksa dana berfluktuasi setiap waktu. Sehingga hanya menggunakan jumlah aset di satu titik tidak bisa menggambarkan kinerja reksa dana dengan akurat. Kalaupun sama atau mendekati, mungkin itu hanya kebetulan.

    Demikian semoga bermanfaat.

  50. ria
    January 8th, 2014 at 12:50 | #50

    Baik pak, makasih atas masukannya…

    Saya mau tanya, kalau saya meneliti mengenai kebijakan alokasi aset yang dilakukan oleh manajer investasi tahun 2011 dan 2012, yang digunakan itu prospektus yang diterbitkan ditahun 2011 dan 2012?

    Terima kasih…

  51. Rudiyanto
    January 8th, 2014 at 13:53 | #51

    @ria
    Salam Ria,

    Apakah kamu sudah membaca prospektus di kedua tahun tersebut dan apakah ada perbedaan didalamnya?

  52. ria
    January 9th, 2014 at 09:57 | #52

    Untuk proporsi alokasi asetnya, sama pak….

  53. setia
    February 7th, 2014 at 21:46 | #53

    Pak Rudiyanto Ysh.
    Di mana saya dapat memperoleh fund fact sheet seluruh perusahaan reksadana untuk kepentingan penelitian?

  54. Rudiyanto
    February 8th, 2014 at 01:01 | #54

    @setia
    Salam Setia, sudah mencoba ke website masing2 Manajer Investasi?

  55. putri
    February 22nd, 2014 at 19:51 | #55

    halo pak rudi, saya mau bertanya apa yang dimaksud dengan beban investasi? apa saja yang termasuk dengan beban investasi? kemudian, apakah setiap reksadana memiliki beban prospektus pembaharuan atau tergantung dengan portofolio efek yg diperjual belikan dan jenis reksadananya? terima kasih

  56. Rudiyanto
    February 23rd, 2014 at 23:15 | #56

    @putri
    Salam Putri,

    Istilah Beban Investasi kamu dapat darimana ya?
    Mengenai Beban Prospektus Pembaharuan silakan baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/08/01/seluk-beluk-biaya-reksa-dana/

    Semoga bermanfaat.

  57. satriawan
    March 2nd, 2014 at 15:13 | #57

    halo pak rudi, untuk semua reksadana yang aktif ini sekarang ini infonya bisa dilihat dimana?

  58. Rudiyanto
    March 4th, 2014 at 02:23 | #58

    @satriawan
    Salam Satriawan,

    Untuk sumber yang resmi adalah OJK dan website BAPEPAM-LK (versi OJK yang lama tapi websitenya masih tetap ada). Kalau bingung tinggal telp ke call center OJK di (Kode Area) 500-655.

    Semoga bermanfaat.

  59. ria
    March 7th, 2014 at 09:09 | #59

    Selamat pagi Pak Rudi…
    Mau tanya, dalam prospektus, kebijakan investasi alokasi aset diungkapkan dalam bentuk kisaran, misalnya 10%-90% untuk efek bersifat utang…
    Jika ingin meneliti mengenai kebijakan alokasi aset, bagaimana cara menentukan berapa persen target yang kira-kira ingin dicapai oleh manajer investasi, misalnya dari kisaran diatas, target yang ingin dicapai sebesar 80% ?
    Apakah bisa dihitung sendiri atau target itu memang ditentukan oleh manajer investasi ?

    Terima kasih…

  60. Rudiyanto
    March 8th, 2014 at 13:42 | #60

    @ria
    Selamat siang Ria,

    Manajer Investasi umumnya tidak menentukan target, tapi menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang berlaku. Sehingga seringnya belum tentu sama dari waktu ke waktu kecuali disebutkan secara spesifik.

    Semoga bermanfaat.

  61. putri
    April 3rd, 2014 at 09:55 | #61

    @Rudiyanto
    jadi saya pernah melihat laporan audit reksadana nah disana terdapat pengelompokan beban dengan istilah beban investasi pak.. contohnya: beban kustodian dan beban manajer investasi pak disana

    • Rudiyanto
      April 3rd, 2014 at 18:36 | #62

      Selamat malam Putri,
      Kalau itu yg anda maksud pada dasarnya jika reksa dana diibaratkan perusahaaan, maka beban manajer investasi adalah gaji utk CEO, beban kustodian adalah gaji utk sekretaris, di luar itu juga ada biaya operasional seperti fee broker utk transaksi, pengiriman surat konfirmasi dan biaya lainnya. Semoga informasi ini bermanfaat

  62. putri
    April 10th, 2014 at 11:54 | #63

    @Rudiyanto
    oo okedeh pak terima kasih sekali atas infonya pak :)

  63. rosa
    May 21st, 2014 at 20:15 | #64

    Selamat Malam Pa @Rudiyanto saya ingin bertanya, apakah reksa dana memiliki nilai buku? dimana data nilai buku itu dapat saya temukan ya pak? hal ini untuk keperluan skripsi saya mencari book to market ratio dari reksa dana.

    Terima kasih

    • Rudiyanto
      May 21st, 2014 at 20:18 | #65

      Selamat malam juga Rosa,

      Boleh tahu apa yg dimaksud dgn nilai bukunreksa dana dan seperti apa kegunaanya?

  64. ria
    June 3rd, 2014 at 12:32 | #66

    Selamat siang pak Rudi…
    Mau tanya, kalau untuk jenis reksa dana pendapatan tetap itu, penghasilan yang diperoleh investor itu berasal dari kupon obligasi yang besarnya relatif stabil itu atau bukan pak?

    Terima kasih…

    • Rudiyanto
      June 4th, 2014 at 09:22 | #67

      Pagi Ria,

      Pendapatan reksa dana pendapatan tetap bisa berasal dari kupon dan kenaikan harga obligasi. Kupon itu tetap, tp harganya bisa naik turun.

      Semoga bermanfaat

  65. ria
    June 7th, 2014 at 10:06 | #68

    Selamat pagi pak Rudi…
    Terima kasih atas penjelasannya…

    Oiya pak mau kalau boleh mau tanya lagi…
    Maksud dari statement ini apa ya pak : “jika kebijakan alokasi aset semakin tinggi maka kinerja akan semakin baik”

    Saya bingung dengan kata ‘semakin tinggi’ itu maksudnya bagaimana…
    Mohon bantuannya pak…

    Terima kasih sebelumnya…

  66. Rudiyanto
    June 10th, 2014 at 14:12 | #69

    @ria
    Salam Ria,

    Boleh tahu statement itu ada di artikel atau komen mana ya? Saya cari kok ga ketemu ya? Thanks

  67. ria
    June 27th, 2014 at 20:20 | #70

    Selamat malam pak Rudi…
    Statement itu saya baca disalah satu skripsi pak, maksudnya bagaimana ya?

    Mau tanya jg pak, perbedaan antara penghasilan yang diperoleh dari kupon obligasi dalam reksa dana pendapatan tetap dengan return RDPT yang diperoleh dari penghitungan Nilai Aktiva Bersih itu apa pak?

    Mohon bantuannya….
    Terima Kasih sebelumnya…

  68. Rudiyanto
    June 27th, 2014 at 21:52 | #71

    @ria
    Malam Ria,

    Kalau begitu bisa ditanyakan sama yang membuat skripsi itu. Atau dosen pembimbing yang menggapprove nya.

    Kalau penghasilan dari kupon mengacu pada penghasilan reksa dananya. Sementara kalau dari selisih nab/up itu penghasilan buat investornya. Silakan cari di arsip artikel yang judulnya back to basic. Kamu perlu memahami proses terbetuknya suatu reksa dana.

    Semoga bermanfaat

  69. ria
    July 6th, 2014 at 13:20 | #72

    Selamat siang pak Rudi…
    Terima kasih atas penjelasan sebelumnya….

    Kalau untuk kebijakan investasi yg tercantum dalam prospektus, untuk persentase alokasi asetnya apakah jarang mengalami perubahan persentase atau berubah sesuai dengan kondisi ekonomi yg sedang terjadi?
    Kalau saya amati, persentase alokasi aset yg ada dlm prospektus dari tahun ke tahun relatif sama pak…itu bagaimana?

    Mohon bantuannya pak…
    Terima kasih sebelumnya…

  70. Rudiyanto
    July 7th, 2014 at 12:00 | #73

    @ria
    Siang Ria,

    Kebijakan alokasi itu mengikuti peraturan. Kecuali ada perubahan yang sifatnya sangat mendasar seperti dari saham menjadi campuran atau sebaliknya, maka kebijakan itu tidak berubah.

    Semoga menjawab pertanyaan anda, Terima kasih.

  71. joko
    November 7th, 2014 at 22:36 | #74

    pak, bagaimana saya bisa mendapatkan data laporan keuangan reksadana? saya ingin melihat rasio-rasio keuangannya pak.

  72. Rudiyanto
    November 10th, 2014 at 17:52 | #75

    @joko
    Salam Pak Joko,

    Silakan baca artikel di atas untuk mendapatkan informasinya.

  73. batham
    January 25th, 2015 at 07:49 | #76

    Selamat pagi pak.
    Mohon pencerahan, dari artikel pak Rudi ada lap. Keuangan, Prospektus, FFS dan Prospektus Pembaharuan.
    kalau disimpulkan :
    Lap. Keuangan dikeluarkan tiap tahun
    Prospektus dikeluarkan di awal pembukaan suatu reksa dana dan isinya tetap/sama.
    Prospektus Pembaharuan dikeluarkan tiap tahun dilengkapi dengan laporan keuangan.
    FFS dikeluarkan tiap bulan.

    Begitu ya pak?
    CMIIW

  74. Rudiyanto
    January 27th, 2015 at 14:55 | #77

    @batham
    100 untuk anda!!!

  75. fadhli
    February 19th, 2015 at 07:08 | #78

    Selamat pagi Pak.

    Mohon pencerahannya, saya ingin memilihi reksadana campuran pak. Ada 3 yang saya pertimbangkan dengan sudut pandang dari sisi fee dan expenses, yaitu : (data from bloomberg)

    1. Sam Syariah Berimbang
    FEES & EXPENSES FOR SAMSYBE
    Front Load 1.00
    Back Load 0.00
    Current Mgmt Fee 2.50
    Redemption Fee 0.00
    12b1 Fee -
    Expense Ratio 12.73
    TOP FUND HOLDINGS FOR SAMSYBE

    2. Nikko BUMN Plus
    FEES & EXPENSES FOR NIKBUPL
    Front Load 0.50
    Back Load 0.50
    Current Mgmt Fee 1.00
    Redemption Fee 0.50
    12b1 Fee -
    Expense Ratio 1.42
    TOP FUND HOLDINGS FOR NIKBUPL

    3. Trim Kombinasi 2
    FEES & EXPENSES FOR TRIKOM2
    Front Load 0.00
    Back Load 2.00
    Current Mgmt Fee 5.00
    Redemption Fee 2.00
    12b1 Fee -
    Expense Ratio 6.10
    TOP FUND HOLDINGS FOR TRIKOM2

    Apakah dari ketiga reksadana tersebut yang paling baik dan efisien dari sisi expenses ratio adalah nikko bumn plus ? saya masih kurang memahami cara membaca detail fee and expenses dari bloomberg ini terkait dengan artikel yang bapak post. Mohon penjelasannya pak

    Terima Kasih

  76. Rudiyanto
    February 24th, 2015 at 00:19 | #79

    @fadhli
    Selamat Pagi Pak Fadhli,

    Sebagai sesama pelaku industri, rasanya tidak etis saya menyebut apakah suatu produk lebih baik dibandingkan produk lainnya. Apalagi, produk tersebut adalah milik kompetitor.

    Dengan mengibaratkan reksa dana adalah perusahaan yang terdiri dari CEO (Manajer Investasi), Komisaris (Bank Kustodian) beserta seluruh kegiatan operasinya (biaya transaksi jual beli saham, cetak prospektus pembaharuan, pengiriman surat konfirmasi ke investor, dll), maka Expense Ratio itu ibarat persentase dari seluruh biaya dibagi rata-rata aset. Logikanya memang semakin kecil semakin baik, tapi harus dilihat juga output yang dihasilkan yaitu Risk and Returnnya.

    Semoga bermanfaat.

  77. Zevany
    March 12th, 2015 at 11:58 | #80

    Pak Rudi, saya mau tanya apakah bank Panin sendiri saat ini ada melakukan pembelian portofolio luar negeri seperti Dow Jones, Han Seng, dll ? Tolong dibantu jawabannya Pak. :) Thanks.

  78. Rudiyanto
    March 16th, 2015 at 15:05 | #81

    @Zevany
    Salam Zevany,

    Bank Panin adalah induk usaha dari Panin Sekuritas yang kegiatannya simpan pinjam.
    Panin Sekuritas adalah induk usaha dari Panin Asset Management yang kegiatannya jasa transaksi saham dan agen penjual reksa dana
    Panin Asset Management adalah cucu dari Bank Panin dan anak dari Panin Sekuritas yang usahanya pengelolaan reksa dana.

    Panin mana yang kamu maksud?

    Kalau terkait reksa dana, semua reksa dana, dalam peraturan OJK diperbolehkan untuk berinvestasi maksimal 15% dari Nilai Aktiva Bersihnya di luar negeri. Namun hingga saat ini, belum ada reksa dana Panin AM yang melakukan hal tersebut.

    Semoga bermanfaat.

  79. Putra
    March 16th, 2015 at 22:53 | #82

    Manajer Investasi mana yang bagus ya min. MI Panin Sekuritas atau Sinarmas Asset Management?

  80. Rudiyanto
    March 16th, 2015 at 23:33 | #83

    @Putra
    Salam Pak Putram

    Dua-duanya bagus karena sudah terdaftar sebagai Manajer Investasi yang mendapat izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

  81. Gunawan
    March 31st, 2015 at 14:32 | #84

    Dear Pak Rudy,

    saya mau bertanya, kenapa kok laporan bulanan reksadana saya kok baru sekali saya terima dan dibulan berikutnya kok belum saya terima kembali, padahal di prospektus laporan bulanan akan dikirim oleh bank kustodian ke pemegang unit penyertaan tiap tanggal T+12 MAKSIMUMNYA?mohon pencerahannya, terima kasih.

  82. Rudiyanto
    April 4th, 2015 at 17:58 | #85

    @Gunawan
    Salam Pak Gunawan,

    Pengiriman surat konfirmasi dan surat bulanan merupakan tanggung jawab dari Bank Kustodian. Meski demikian, bank kustodian tidak berhubungan dengan nasabah langsung, mereka hanya mau berhubungan dengan Manajer Investasi dan Agen Penjual. Jadi saran saya, keluhan tersebut bisa disampaikan ke tempat anda membeli reksa dana, baru mereka akan berkomunikasi dengan bank kustodian.

    Alternatifnya, anda bisa menggunakan fasilitas online yang sudah dimiliki oleh banyak manajer investasi dan agen penjual. Jadi pengecekannya bisa dilakukan via fasilitas tersebut.

    Semoga bermanfaat.

  83. sheila shafiera
    June 18th, 2015 at 14:11 | #86

    dear pak rudy,
    saya mau bertanya hubungan antara expense ratio, dengan turnover ratio. apakah bisa dijelaskan?
    apakah jika turnover yang tinggi bisa menyebabkan expense ratio tinggi karena tingginya biaya transaksi?
    manakah yang lebih baik ? turnover yang tinggi dengan expense ratio yang besar atau expense ratio yang efisien namun turnover tidak terlalu tinggi??

    terimakasih pak.

  84. Rudiyanto
    June 21st, 2015 at 23:34 | #87

    @sheila shafiera
    Selamat Malam Ibu Sheila,

    Pertanyaan yang bagus, tapi ada yang kurang. Expense Ratio dan Portfolio Turnover secara sederhana adalah “biaya” yang dikeluarkan dan “usaha” yang dilakukan oleh Manajer Investasi untuk memperoleh return / kinerja. Kalau biaya rendah dan usaha minim (dalam artian tidak banyak transaksi) tapi hasilnya besar tentu bagus. Akan tetapi jika biaya tinggi dan usaha banyak, tapi hasilnya lebih tinggi, hal ini juga bukan sesuatu yang jelek bukan?

    Semoga menjawab pertanyaan anda.

  85. sheila shafiera
    June 23rd, 2015 at 13:57 | #88

    terimakasih pak atas jawabannya,
    namun saya masih bertanya-tanya , pada reksa dana di indonesia apakah biaya transaksi (trading) masuk dalam perhitungan expense ratio? sehingga saya bisa melihat patokan bahwa jika expense ratio tinggi bisa ada kemungkinan itu di sebabkan oleh perputaran portofolio yang tinggi atau dengan kata lain reksa dana tersebut aktif melakukan transaksi.. apkah pemikiran saya benar?

    terimakasih pak.

  86. Rudiyanto
    June 25th, 2015 at 11:55 | #89

    @sheila shafiera
    Selamat Siang,

    Belum tentu juga karena komponen biaya dalam menjalankan reksa dana ada banyak. Ada biaya operasi, biaya manajer investasi, biaya kustodian, dan salah satunya biaya transaksi. Jadi biaya transaksi bukan satu-satunya komponen biaya dalam expense ratio.

    Semoga bermanfaat.

  87. afi
    July 21st, 2015 at 22:30 | #90

    selamat malam pak rudiyanto,

    saya mau bertanya pak tentang, bagaimana kita mengehitung NAB dalam suatu laopran keungan perusahaan manufaktur yah pak?dan pak begini saya sedang dalam proses penelitian skripsi tentang peneribitan reksadana syariah di ISSI, lah setelah saya telusuri kok kebanyakan dari saham yang terdaftar tidak ada satupun yg menyinggu penerbitan reksadana syariah? sedikit saya baca di artikel” bahwa reksadana syarih merupakan wadah dari investais yang nantinya disalurkan kembali ke investasi yang bisa berupa saham,obligasi maupun deposito. tapi saya tetep aja g paham sama sekali tentang reksadana syariah ini?dan bagaimana menghitung NABnya?

    Mohon bapak dapat menjelaskanya dengan saya pak???
    terima kasih….

  88. Rudiyanto
    July 22nd, 2015 at 12:53 | #91

    @afi
    Selamat Siang Pak Afi,

    Menurut saya langkah pertama yang harus anda lakukan adalah mencari tahu perbedaan antara reksa dana dengan saham. Apabila anda tidak berhasil menemukan hal tersebut, saran saya anda segera ganti judul skripsi dengan topik lain yang bisa anda pahami.

    Mengenai cara perhitungan NAB bisa anda temukan dengan melihat daftar artikel di link ini http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/arsip-artikel/

    Semoga bermanfaat.

  89. sheila shafiera
    August 6th, 2015 at 16:16 | #92

    dear pak rudy,
    saya mau bertanya lagi tentang turnover ratio saya mendapati di produk reksa dana x memiliki turnover ratio 1.67:1 nah berarti dana yang ditransaksikan lebih dari total aset yang dikelola. Bagaimana bisa seperti itu ? apakah hal itu menunjukan sesuatu yang baik ? terimakasih

  90. April 26th, 2016 at 06:46 | #93

    @Rudiyanto
    Pak, kalo laporan keuangan reksadana yang ada ratio expense dan total aset apakah hanya untuk nasabah securities masing2 yaa?
    Klo misalkan yang bukan nasabah seperti saya, bisa mendapatkan data itu dimana ya pak?
    Karena saya seorang mahasiswa yang membutuhkan data ttg itu

    Mohon pencerahannya pak.

  91. Rudiyanto
    April 27th, 2016 at 15:26 | #94

    @Asyhar
    Salam Pak Ashyar,

    Informasi tersebut ada yang oleh Manajer Investasi diletakkan dalam prospektus pembaharuan, ada juga yang diletakkan dalam website yang dikhususkan bagi nasabah.

    Untuk mencari datanya silakan ke website masing-masing manajer investasi atau agen penjual. Semoga bermanfaat

  92. Dji Min
    September 25th, 2016 at 20:00 | #95

    Tanya dong Pak Rudy, dalam hitung turnover ratio selalu menggunakan buy/sell mana yang lebih rendah, kira2 filosofinya apa yah? terima kasih

  93. Rudiyanto
    September 27th, 2016 at 21:47 | #96

    @Dji Min
    Salam Pak Dji Min,

    Terus terang itu rumus dari “sononya” saya juga kurang tahu mengapa.
    Anda bisa mencari tahu dari mbah google.

    Terima kasih

  94. riama
    February 1st, 2017 at 17:35 | #97

    Pak saya mw nanya. Apakah ada hubunvanhubungan akuntansi terhadap evaluasi kinerja reksa dana?

  95. Rudiyanto
    February 3rd, 2017 at 01:19 | #98

    @riama
    Salam bu Riana,

    Saya tidak mengerti pertanyaan anda.

    Terima kasih

  1. July 30th, 2011 at 13:28 | #1
  2. December 19th, 2011 at 02:28 | #2

 


%d bloggers like this: