Home > Riset Reksa Dana > Apakah Investasi (Saham) Jangka Panjang Pasti Menguntungkan?

Apakah Investasi (Saham) Jangka Panjang Pasti Menguntungkan?

Dalam pemasaran produk reksa dana, biasanya disebutkan bahwa produk reksa dana cocok untuk investor yang memiliki tujuan investasi dalam 3 atau 5 tahun ke depan. Ada juga yang menyebutkan 3 tahun terlalu pendek dan mengkategorikan reksa dana saham hanya cocok bagi investor yang memiliki tujuan investasi untuk 5 tahun mendatang atau lebih. Dari proses tersebut, secara tidak langsung terbentuk persepsi bahwa investasi di reksa dana saham dikhususkan bagi investor yang memiliki tujuan investasi di atas 5 tahun.

Meski demikian, ternyata periode 5 tahun belum tentu merupakan periode waktu investasi dimana investor pasti akan untung. Investor saham yang berinvestasi sebesar Rp 100 juta pada akhir 2002 dan menjual seluruhnya pada akhir 2007 akan mendapati bahwa dananya sudah berkembang menjadi Rp 646 juta. Sebaliknya dana Rp 100 juta yang diinvestasi pada akhir tahun 1993 dan dijual seluruhnya pada akhir 1998 hanya akan tersisa Rp 68 juta. Dengan fakta di atas, maka Probabilitas (kemungkinan) bahwa Investor akan mengalami kerugian setelah investasi 5 tahun tetap ada.

Karena investasi reksa dana saham mengacu pada perkembangan harga saham yang terdapat dalam IHSG, perbandingan angka di atas dapat menunjukkan bahwa investasi di reksa dana saham dengan kurun waktu 5 tahun juga belum menjadi jaminan bahwa investor pasti akan memperoleh keuntungan. Malahan jika pilihan reksa dananya ternyata tidak sebaik kinerja IHSG, kerugian yang dialami bisa lebih besar.

Untuk menentukan berapa “lama” suatu investasi baru dikatakan panjang dan pasti akan menguntungkan, serta berapa persen tingkat return yang dikatakan wajar untuk investasi reksa dana saham dalam jangka waktu panjang, kami melakukan penelitian dengan menggunakan data kinerja IHSG selama 27 tahun terakhir dari Januari 1984 hingga Maret 2011.

Pertama-tama kami melakukan pembagian periode pengukuran return yaitu 3 tahun, 5 tahun, 7 tahun, 10 tahun dan 15 tahun. Selanjutnya dihitung return selama periode tersebut secara bulanan. Misalnya untuk return 5 tahun, maka dihitung dari akhir Januari 1984 ke Januari 1989, Akhir Februari 1984 ke Februari 1989 dan seterusnya hingga Februari 2011. Setelah besaran return tersebut diperoleh, kemudian return tersebut diolah probabilitas (kemungkinan) untung ruginya untuk masing-masing periode. Misalnya untuk periode investasi 5 tahun, jika dalam 100 kali periode investasi, terdapat 20 periode di antaranya hasil investasi negatif, maka probabilitas rugi adalah 20%.

Probabilitas Investasi Jangka Panjang pada Indeks Harga Saham Gabungan Periode Data 1984 – 2011

Statistik di atas menunjukkan ternyata investasi di saham (IHSG) selama 5 tahun bukan jaminan investor pasti untung. Ada 18,8% kemungkinan investor akan mengalami kerugian jika mengacu pada data aktual IHSG selama 27 tahun tersebut. Untuk 3 tahun bahkan lebih tinggi yaitu 26,21%. Semakin lama jangka waktunya, maka semakin menurun dari 12,81% untuk 7 tahun, 5,34% untuk 10 tahun dan 0% untuk 15 tahun. Jadi Definisi Jangka Panjang berdasarkan data di atas adalah 15 tahun. Dengan investasi selama 15 tahun itulah, bisa disebut adalah investasi yang jangka panjang dan kemungkinan ruginya tidak ada.

Setelah selesai dengan probabilitas, maka selanjutnya dilakukan riset terhadap besaran returnnya. Besaran return ini penting terutama dalam penggunaan asumsi perencanaan keuangan, data return jangka panjang sering dipergunakan sebagai alat untuk menentukan besarnya investasi atau cicilan bulanan yang harus dikeluarkan oleh investor untuk mencapai tujuan keuangannya.

 

Return Investasi Jangka Panjang IHSG Periode 1984 – 2011

Perhitungan return di atas menggunakan rata-rata return disetahunkan atau disebut juga dengan annualized return. Annualized Return adalah rata-rata return efektif atau return yang memperhitungkan faktor bunga berbunga. Penggunaan return disetahunkan sangat penting bagi investor yang berorientasi jangka panjang mengingat return 100% dalam 5 tahun tidak sama dengan rata-rata return 20% per tahun. Angka yang benar adalah 14.87% per tahun setelah memperhitungkan faktor bunga berbunga.

 

Ilustrasi lain misalnya, seorang investor yang berinvestasi sebesar Rp 100 juta mendapatkan dananya menjadi Rp 120 juta dalam 2 tahun. Keuntungan sebesar Rp 20 juta atau 20% itu dalam perhitungan awam sama dengan 10% per tahun. Padahal jika mau dihitung dengan benar, apabila seseorang mendapatkan keuntungan 10% per tahun selama 2 tahun maka dana yang diperoleh adalah Rp 121 juta. Angka ini diperoleh dari:

  • Bunga Tahun Pertama Rp 100 juta x 10% = Rp 10 juta untuk tahun pertama.
  • Bunga Tahun Kedua Rp 110 juta (dari akumulasi tahun pertama) x 10% = Rp 11 juta
  • Total kekayaan investor = Rp 10 juta + Rp 11 juta + Rp 100 juta = Rp 121 juta.

Dengan demikian, rata-rata return per tahun untuk investasi dari Rp 100 juta menjadi Rp 120 juta adalah di bawah 10% per tahun, atau lebih tepatnya 9.5445%.

Tabel Rata-rata, Max dan Min menunjukkan kinerja return / kerugian historis yang pernah terjadi. Asumsi yang digunakan investor seharusnya menggunakan rata-rata. Namun angka Maks dan Min memberikan gambaran bahwa jika investor sedang sangat beruntung atau sangat sial karena masa berakhirnya investasi dia kebetulan jatuh pada tahun2 dengan kinerja yang ekstrem (naik tinggi seperti 2006-2007 atau 2010, atau turun dalam seperti 1998 dan 2008).

Berdasarkan informasi di atas, maka dalam mengasumsikan return investasi jangka panjang, maka penggunaan masa 15 tahun adalah yang paling tepat karena probabilitas kerugiannya sama dengan 0. Sementara besaran return yang dipergunakan adalah antara 11% – 16%. Jika anda menemukan ada financial planner atau model perhitungan yang menggunakan angka lebih dari itu, juga tidak salah, namun sebagai gantinya mereka harus bisa menemukan reksa dana yang kinerjanya secara konsisten berada di atas IHSG.

Salah satu poin penting yang ingin kami sampaikan di atas adalah bahwa Investasi Jangka Panjang tidak Menjamin Investor Pasti Untung dan juga Tidak Menjamin bahwa Anda Pasti bisa mencapai tujuan Keuangan. Pemilihan reksa dana yang kurang bagus atau waktu investasi yang kurang tepat semakin memperkuat potensi terjadinya hal tersebut. Oleh karena itu, investor juga dituntut untuk sedikit lebih aktif dalam investasi. Memang tidak ada salahnya kita mempercayakan kepada Manajer Investasi yang sudah profesional, namun perlu diingat, mereka hanyalah media. Adalah tetap kita sendiri juga yang harus menjaga tercapai atau tidaknya tujuan keuangan kita.

Meminjam Istilah Bill Gates:

“ If you’re born poor, it’s not your mistake. But if you die poor, it’s your mistake”

Selamat berinvestasi.

PS: Infovesta bekerja sama dengan Kontan mengadakan Talkshow Memilih Reksa Dana Jagoan. Bagi teman2 yang tertarik bisa mendapatkan informasi pendaftaran di koran Kontan atau di homepage www.infovesta.com.

Categories: Riset Reksa Dana Tags:
  1. imam m
    April 4th, 2011 at 01:05 | #1

    Selamat pagi pak Rudi,sangat setuju dgn ulasan anda bahwa investasi reksa dana saham jangka panjang memang tidak menjamin keuntungan yang maksimal……!
    Jika investasi dilaksanakan tidak pakai ilmu.Menurut saya investor reksa dana saham harus cerdas ,jeli dan sabar.,,,,,
    1.Cerdas = harus tahu ilmunya (mengerti dikit technical analisis pergerakan IHSG) , kapan saatnya beli reksa dana agar kita dapat mendapatkan keuntungan yg terbaik dimasa yg akan datang sehingga investasi kita effektif……. Belilah pada saat harga reksa dana yang sedang terpuruk/IHSG lagi jeblok blok….Pilih manajer investasi yg punya reputasi baik (bisa dilihat di banyak media)……
    2.Jeli = Luangkan waktu sedikit untuk monitor pergerakan IHSG setiap hari dan dicatat (lebih baik)………>Misal di : Yahoo, BEI, Kontan, Investor Daily,Infovesta masih banyak lagi……. Banyak baca media tentang hal2 yg berdampak negatif / positif terhadap kinerja IHSG, misal isu politik dalam / luar negeri, ekonomi regional/global, bencana alam….. Kapan melakukan redemtion yg tepat agar untung maksimal.
    3.Sabar = dpt menendalikan emosi dlm hal mengambil keputusan.misalnya :sabar menunggu waktu yg tepat melakukan investasi / top up.Jangan asal beli reksa dana,contohnya IHSG lagi bagus beli reksa dananya digenjot karena tidak sabar (tangan sudah gatal aja ingin nambah investasi.)
    Disini saya akan sedikit sharing pengalaman sendiri sebagai pemula :
    IHSG awal 2011 pada range 3727 – 3780 sehingga NAB semua reksa dana pada umumnya tinggi.Dgn berljalannya waktu ternyata IHSG turun, akhir Jan 2011 ( 21,24 Jan 201) IHSG – 3346, 3379—-> NAB yg berbasis IHSG pasti pada posisi paling rendah.Dimana IHSG turun sampai > 300 poin. Jika kita melakukan investasi pada saat IHSG tgl 21 atau 24 Jan 2011 maka nilai NAB investasi reksa dana jenis saham yg kita lakukan saat ini awal April 2011 (1 April 2011, IHSG 3707) mempunyai NAB yg pasti bagus dan jika reksa dana kita jual pasti sudah membawa keuntungan yg maksimum untuk jangka 2 bulan…… Nah kalau kita ingin mendapatkan keuntungan dalam jangka panjang kuncinya ” sabar ” ,jangan buru buru dijual reksa dananya.Jadi diakhir tahun 2011 kemungkinan besar membawa keuntungan yg baik. Mudah-mudahan pendapat saya ini bermanfaat bagi teman2 investor pemula seperti saya.
    Catatan : Saya sebelum praktek jadi investor kecil2an di tahun 2011, belajar dari tulisan pak Rudiyanto,pak Satrio Utomo,pak Nico Omer di Kontan Online sejak Oktober 2010,se telah memasuki masa pensiun.Terima kasih pak Rudi,pak Satrio dan pak Nico atas ilmunya

    Salam,

    imam m

  2. Hermawan
    April 4th, 2011 at 03:36 | #3

    Dear Pak Rudi,

    Terima kasih sudah berbagi ilmu kepada kami, sungguh luar biasa bisa membaca dari blog Pak Rudi lagi, saya selalu menyempatkan diri 1 minggu sekali mengecek blog Pak Rudi.

    Pak Rudi, bagaimana kita bisa menghitung apakah probabilitas suatu MI / produk reksadana akan kolaps di masa krisis? Karena tempo hari dikabarkan sebuah sekuritas berbentuk MI, meminta bail out dari sebuah bank nasional, karena tak mampu membeli saham perdana suatu perusahaan.

    Pertanyaan saya, kalau di saham kita bisa membaca ratio aset / hutang, angka EBIT, serta angka growth faktor, untuk melihat saham-saham berfundamental bagus yang diperkirakan tetap akan bertahan di masa krisis, bagaimanakah hal itu dilakukan dalam menyeleksi MI reksadana yang akan tetap mampu bertahan di masa krisis?

    Dengan kata lain, bagaimana menyeleksi MI ber-fundamental bagus yang diperkirakan takkan kolaps di masa krisis? Apakah kapitalisasi di atas 100 M serta track record diatas 5 tahun, sudah bisa menjadi jaminan MI tersebut ber-fundamental bagus?

    Wassalam,

    Hermawan.

  3. April 4th, 2011 at 07:04 | #4

    @Hermawan
    Selamat Siang Pak Hermawan,

    Saya mengucapkan terima kasih atas dukungannya. Pada dasarnya kita sama-sama belajar disini. Saya hanya sharing hal-hal yang saya ketahui saja. Jika ada yang salah atau kurang tepat mohon dikoreksi biar bisa sama2 belajar. Sebelumnya mohon maaf apabila ada beberapa kali update blog terlambat karena ada beberapa pekerjaan kantor yang menumpuk.

    Mengenai pertanyaan anda, sebetulnya perlu kita ketahui yang namanya sekuritas memiliki 3 izin usaha. Ketiga izin usaha tersebut yaitu:
    Sebagai Broker (Transaksi jual beli saham dan Obligasi)
    Sebagai Underwritter (Penjamin emisi atau mengIPOkan saham dan obligasi)
    Sebagai Manajer Investasi (Pengelola Reksa Dana dan KPD)

    Mulai tahun ini banyak yang mulai memisahkan izin usahanya, misalnya dulu PT. Panin Sekuritas memiliki 3 izin, tapi tahun ini dibentuk lagi entitas baru PT. Panin Asset Managemen. Ada juga yang sudah sejak lama sudah terpisah seperti PT. Danareksa yang memiliki divisi sekuritas (PT. Danareksa Sekuritas) dan Divisi reksa dana dengan nama PT. Danareksa Investment Management. Meski satu induk, sebetulnya mereka adalah entitas dengan profit loss tersendiri. Ada lagi yang hanya memiliki satu izin saja seperti PT. BNP Paribas Investment Partners, PT. Manulife dan kebanyakan MI asing yaitu hanya Manajer Investasi saja.

    Nah, pertanyaan untuk bapak di atas, Sekuritas yang tidak mampu membeli saham perdana tersebut biasanya adalah divisi Sekuritas dan Divisi Underwriter (biasanya masih jadi satu) yang terpisah dengan divisi Manajer Investasi selaku pengelola reksa dana dan KPD. Jadi dampak langsung terhadap divisi Manajer Investasi langsung tersebut menurut saya tidak terlalu signifikan.

    Jikalau anda memang konsen, sebaiknya yang anda lihat adalah kinerja daripada reksa dana yang dikelola oleh Manajer Investasi yang bersangkutan, apakah paska IPO tersebut jauh tertinggal dibandingkan reksa dana sejenis lainnya. Jika tidak, maka asumsi saya bahwa dampaknya kecil itu bisa dibuktikan.

    Untuk pertanyaan anda tentang bagaimana cara Menilai Manajer Investasi memang banyak ditanyakan juga oleh investor institusi lainnya. Pada dasarnya, untuk mengukur Manajer Investasi relatif lebih sulit karena :
    1. Manajer Investasi tidak seluruhnya merupakan perusahaan publik sehingga tidak perlu dipublikasikan laporan keuangannya.
    2. Kalaupun Laporan Keuangan tersebut diberikan karena adanya permintaan dari Investor yang menempatkan dana dalam jumlah besar, biasanya data tersebut bersifat confidential dan hanya dikonsumsi oleh Investor yang bersangkutan saja, bukan untuk umum.
    3. Besarnya Modal dan Jumlah Dana Kelolaan Manajer Investasi itu tidak berbanding lurus. Sebab persyaratan permodalan BAPEPAM adalah Rp 25 M per akhir 2012 untuk berapapun dana kelolaannya, artinya Manajer Investasi tidak perlu memiliki modal yang terlalu besar untuk dana kelolaannya yang mencapai triliunan. http://www.bapepam.go.id/pasar_modal/publikasi_pm/siaran_pers_pm/2010/pdf/Press_Release_PMK-153_PMK.010_2010.pdf
    4. Track Record bisa menjebak, PT. Optima Kharya Kapital, PT. Sarijaya sekuritas juga perusahaan yang memiliki track record. Yang namanya moralitas itu sulit diukur. Tapi memang bisa menjadi salah satu patokan.
    5. Manajer Investasi dengan modal besar juga tidak menjadi jaminan kinerjanya yang paling bagus. Sebab yang kita beli adalah reksa dana bukan perusahaannya.

    Sebetulnya pengukuran terhadap kinerja MI juga dilakukan di luar negeri oleh lembaga riset reksa dana seperti infovesta. Beberapa kriteria yang saya ketahui misalnya:
    1. Lama kerja dan pengalaman Manajer Investasi
    2. Perputaran Karyawan (maksudnya sering keluar masuk)
    3. Berapa persen dari insentif Manajer Investasi berbentuk reksa dana yang dikelolaanya
    4. Seberapa banyak Manajer Investasi memiliki reksa dana yang dikelola dia sendiri
    5. Perbandingan kinerja reksa dana dengan reksa dana lain sejenis.

    Informasi 1 bisa diperoleh dari prospektus, informasi 2 -4 bahkan sepengetahuan saya harus dilaporkan kepada regulator dan dipublikasikan. Disini memang belum sampai sebegitunya.

    Kesimpulannya, pertimbangan-pertimbangan di atas bisa anda jadikan sebagai faktor yang memperkuat rasa percaya dan kenyamanan anda (yang menurut saya sangat penting dalam investasi reksa dana) namun tidak dapat dijadikan sebagai satu-satunya patokan utama karena keterbatasan data dan faktor moralitas. Oleh karena itu, saya menyarankan anda untuk juga memperhatikan pada kinerja. Jika kinerja reksa dana sudah mulai tidak bagus (tidak hanya karena kondisi jelek, tidak mencapai target yang diharapkan dan memang lebih buruk jika dibandingkan reksa dana sejenis), maka sudah bisa dipertimbangkan utk mengganti Manajer Investasi.

    Semoga bisa menjawab pertanyaan anda. terima kasih

  4. Hermawan
    April 4th, 2011 at 08:38 | #5

    Terima kasih banyak Pak Rudi.

    Memang di Indonesia sepertinya regulasinya belum seketat luar negeri, sehingga investor kadang2 merasa benar2 \buta\, dalam artian tak ada informasi yang banyak bisa diperoleh sebelum berinvestasi. Seperti kata Pak Rudi, saya sering membaca prospektus suatu RD dan melihat berapa % pembagian kepada MI.

    Sebagai asumsi, jika dana kelolaannya besar dan % pembagian laba kepada MI cukup besar, mestinya tidak tergoda untuk korupsi lagi, sebagaimana dewan direksi yang bergaji ratusan juta per bulan, mestinya tidak lagi bergairah korupsi yang berisiko dipenjara. Tetapi sekali lagi seperti kata Pak Rudi, semua itu hanya asumsi karena yang namanya moralitas manusia, susah diukur. Keserakahan manusia siapa yang tahu, karena Gayus yang sudah berhasil korupsi milyaran pun, masih terus korupsi lagi hingga mencapai 25 M kalau tak salah.

    Membaca blog Pak Rudi, membuat saya sadar bahwa memang sukar mengurus konsistensi suatu MI, sebagaimana Sarijaya sekuritas yang dulu konon perusahaan broker swasta terbesar ke-2 di Indonesia pun bermasalah pada akhirnya. Jadi saya hanya bisa mencari MI dengan reputasi yang sudah besar, seperti Panin yang sudah 10 tahun serta Schroders yang namanya sudah terkenal di kalangan asuransi, atau Manulife yang konon ratingnya BBB ke atas.

    Meskipun begitu, saya pun menyebar dana ke banyak MI dan banyak bank kustodian, sebagai pengaman kalau2 MI yang bernama besar pun mengalami problem moralitas. Semoga saja dengan adanya penyebaran dana ke banyak MI yang masing-masing memiliki reputasi bagus, bisa meminimalkan resiko loss akibat resiko moralitas tersebut.

    Terima kasih sekali pencerahannya Pak Rudi. Saya sudah membaca tulisan Bapak sejak 2007, dan kiranya hanya Tuhan yang bisa membalas kebaikan Bapak yang sudah banyak berbagi ilmu.

  5. April 5th, 2011 at 01:14 | #6

    @Hermawan
    Terima kasih pak, semoga sukses dan untung dengan investasinya.

  6. Ranti
    April 5th, 2011 at 15:06 | #7

    Salam kenal Pak Rudi,
    Saya ingin ikut talkshow tgl 16 April tapi tidak bisa krn ada pekerjaan tapi saya membaca tabloid kontan tentang reksadana jagoan dan saya membeli 3 reksadana saham yg masuk dalam kategori jagoan. Saya ingin investasi melalui properti yg di sewakan utk pensiun 18 tahun lagi, pertanyaan saya
    1. Investasi melalui reksadana selama15 thn lalu saya jual untuk membeli properti
    2. Saya mulai beli properti dari sekarang
    Terima kasih banyak atas pencerahannya selama ini

  7. April 6th, 2011 at 01:31 | #8

    @Ranti
    Yth Ibu Ranti,

    Menurut saya:
    Jika anda sudah memiliki uang untuk membeli properti sekarang, kenapa tidak dibeli dari sekarang saja dan disewakan? Toh, hasil sewa dari Properti adalah pasti sementara investasi di reksa dana bisa naik turun.

    Jika anda belum memiliki uang yang cukup, maka anda bisa membandingkan besarnya cicilan jika anda menyicil properti dan jumlah uang yang digunakan untuk investasi berkala agar bisa membeli properti 15 atau 18 tahun kemudian.

    Jika jumlah uang yang dibutuhkan tidak berbeda jauh, maka sebaiknya dilakukan cicilan untuk properti saja karena hasil akhirnya lebih pasti dibandingkan investasi reksa dana yang ada risiko naik turun. Jika jumlah uang yang dari investasi berkala di reksa dana jauh lebih kecil, maka anda bisa mempertimbangkan investasi di reksa dana, namun saran saya adalah mengingat kinerja reksa dana itu fluktuatif, maka ada baiknya anda melakukan pemantauan secara berkala untuk memastikan tujuan anda tercapai karena apapun bisa terjadi dalam kurun waktu 15 tahun ini.

    Semoga bisa menjawab pertanyaan anda. Terima kasih

  8. imam m
    April 6th, 2011 at 04:24 | #9

    Yth Pak Rudi ,
    Mohon ijin sumbang saran untuk ibu Ranti

    Ibu Ranti ;

    Apa yang disampaikan pak Rudi benar sekali dan saya sudah lakukan seperti yg disaran kan oleh pak Rudi. Alternatif lain (barang kali untuk beli property 15 thn yad),ada baiknya menabung emas(Logam Mulia) dari sekarang.Karena invest Logam Mulia pasti untung karena tidak termakan inflasi jumlah didunia terbatas.n banyak yang membutuhkan.
    Barangkali sumbang saran ini bermanfaat ibu Ranti.

    Salam,
    Imam M

  9. April 8th, 2011 at 06:56 | #10

    Selamat siang. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan. Saya seorang mahasiswa semester akhir, umur 21 tahun. Mohon saran, investasi apa yang cocok untuk seumuran saya? Kalau reksadana saham itu minimal modal berapa?

    • April 8th, 2011 at 08:54 | #11

      Yth Pak Danang,

      Mengingat informasinya tidak cukup dan usia anda relatif masih muda, maka saran saya :
      1. Miliki pekerjaan sehingga bisa mandiri dari keluarga. (Abaikan jika sudah)
      2. Miliki tabungan dalam bentuk cash, tabungan, atau deposito senilai 3 – 6 bulan penghasilan.

      Nah, baru setelah itu kita bicara tentang investasi dan reksa dana. Untuk selengkapnya bisa anda lihat disini http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2010/11/04/sehat-dulu-investasi-kemudian/

      Semoga bisa menjawab pertanyaan anda. Terima kasih.

  10. ecay
    April 13th, 2011 at 15:32 | #12

    Pak Rudi,

    Mohon nasehatnya pak, saya & suami punya beberapa pertanyaan nih pak….

    1. saat ini kami sudah mulai berinvestasi di reksadana saham untuk pendidikan anak saya yg saat ini masih dalam kandungan saya, dalam jumlah minimal yang diperbolehkan untuk pembelian reksadana karena rencana penggunaan investasi tersebut untuk masuk ke Perguruan Tinggi, apakah aman untuk investasi di reksadana saham? Apakah perlu untuk menambahkan jenis RD yg lain seperti pendapatan tetap atau investasi ke emas batangan?

    2. menyambung ibu ranti, kami saat ini sedang bingung pak, saat ini masih menyewa rumah, ada keinginan untuk membeli rumah, tp setelah dihitung2 bunga kpr yg dibayarkan ke bank it lebih mahal daripada kami menyewa rumah, belom lagi setelah dihitung rumah yg kami sanggup untuk membayar DP-nya itu berada dipinggiran kota, jauh dari tempat kerja suami & saya (rasanya kok jadi berat di ongkos ya pak….), apakah lebih baik kami mencicil rumah tsb dg kondisi seperti di atas atau kami investasi saja? Kalo investasi lebih baik ambil RD atau emas batangan? Kalo RD mengambil jenis RD apa? Oia kami berencana tidak menetap di kota yg sekarang ini, mungkin rencana kami tinggal disini hanya sampai 5-6 tahun lagi (suami sedang meneruskan pendidikannya & kemungkinan besar akan kembali ke kota dia bekerja sebelumnya).

    Terima kasih pak atas bantuannya…..

    • April 14th, 2011 at 06:43 | #13

      @ecay
      Yth Ibu Ecay,

      Sebelumnya saya mengucapkan selamat, semoga keluarga anda bahagia dan sejahtera. Mencoba menjawab pertanyaan anda:

      1. Pendapat saya tentang emas telah dikemukakan dalam balasan terhadap ibu Ranti. Pada dasarnya kalau pembelian dalam jumlah kecil itu lebih banyak kelemahan dibandingkan keunggulannya. Banyak orang tidak menyadari hal tersebut dan hanya melihat harga jual emas yang terus naik (tidak salah juga sih), cuma perlu dipertimbangkan lebih mendalam lagi. Soal pertanyaan aman, jika definisinya adalah apakah tujuan anda akan tercapai, maka perlu dihitung terlebih dahulu. Berapa jumlah dana yang anda akan butuhkan, berapa dana yang anda investasikan setiap bulan, dan berapa yang sudah ada saat ini. Tanpa informasi tersebut, saya agak kesulitan untuk menganalisa kondisi anda secara jelas.

      Untuk kasus dimana informasinya sudah jelas, misalnya anda setiap bulan harus menyetor Rp xxx ke jenis reksa dana tertentu, proses tersebut tidak selesai sampai disitu. Proses monitoring antara target dan pencapaian merupakan sesuatu yang tidak dapat anda abaikan. Apakah anda harus pindah ke jenis reksa dana atau investasi lain, kapan harus profit taking atau cutloss, salah satunya ditentukan dari situ.

      2. Untuk pertanyaan nomor 2, saya rasa hal tersebut juga menjadi masalah bagi jutaan orang yang berdomisili di Kota Besar di Indonesia. Memiliki rumah adalah kebutuhan dasar manusia. Sama pentingnya dengan kebutuhan dasar seperti harus makan, menyekolahkan anak, dan berpakaian yang layak. Jadi menurut saya, dibandingkan investasi, kebutuhan akan rumah lebih penting. Pertanyaan saya, apakah anda sudah mempertimbangkan untuk membeli rumah di kota yang menjadi tujuan anda nanti dan bukan di kota tempat anda sekarang. Soalnya kalau rumah cuma ditinggali 5-6 tahun lagi rasanya agak sayang.

      Kalau saya berada di posisi anda, saya akan tetap menyewa rumah tsb sampai saya memiliki uang dan penghasilan yang cukup untuk membayar DP rumah dan cicilan KPR. Untuk mempercepat proses tersebut, saya akan memperbesar pendapatan dengan cara seperti mengurangi pengeluaran yang tidak penting dan hanya bersifat lifestyle namun masih tetap layak, mencari pekerjaan sampingan (jika diizinkan kantor), bisnis kecil2an, menjadi pengusaha, melakukan investasi di pasar modal seperti reksa dana saham, obligasi, atau meningkatkan prestasi supaya ada peningkatan jenjang karir dan penghasilan di tempat kerja.

      Apabila saya sudah memiliki sejumlah uang untuk DP, maka selanjutnya fokus saya adalah pembayaran KPR dan kebutuhan lainnya. Kalau ada sisa maka baru saya investasikan atau disimpan untuk kebutuhan nanti.

      Jika salah satu media yang menjadi alat anda untuk mempercepat pencapaian tujuan adalah reksa dana, maka pemilihan reksa dana harus kemudian disimulasikan. Acara 16 April nanti pada saat talkshow akan ada softlaunching investment tools yang dapat menjawab pertanyaan anda. Hasil simulasi akan memberikan informasi seperti reksa dana jenis apa, berapa besar investasi yang dibutuhkan, nama reksa dana tersebut, dan pemantauan antara hasil investasi dengan target anda secara real time untuk membantu bahwa anda dapat mencapai tujuan keuangan anda. Jika anda tertarik, bisa datang ke booth kami untuk melihat2 alat tersebut.

      Namun perlu diingat, reksa dana hanya salah satu alat, masih ada opsi lainnya selain reksa dana yang tidak kalah efektifnya. Anda bisa mencoba yang benar2 sesuai dengan karakteristik keluarga anda.

  11. ecay
    April 15th, 2011 at 07:15 | #14

    Waah…terima kasih pak atas penjelasannya….lengkap kap kap…. Sayang pak sy 16 april tidak sedang di Jakarta pak. Kalo ada di kota2 besar lain saya tunggu pak…. Saya jg mengikuti infovesta.com hampir stiap hari.

    Mudah2an jadi pahala bapak sudah bantu banyak orang :)

  12. April 15th, 2011 at 08:04 | #15

    @ecay
    Sama-sama Ibu Ecay, semoga sukses dengan investasinya

  13. indrayana
    May 8th, 2011 at 01:36 | #16

    Rekan2 pemerhati Reksadana,
    Saya mulai investasi Reksadana sejak 2007, namun setahun kemudian (Okt 2008) …..IHSG turun secara luar biasa…..dari 2800 diawal tahun …. meluncur 1100 di Okt.
    Pembelajaran yg penting …….selanjutnya saya meyakini bahwa Reksadana harus dimonitor pergerakkannya , tidak begitu saja pasrah pada keadaan yg berubah amat cepat.
    Sejak kejadian itu, saya mulai mempelajari analisis teknikal Moving Average (MA) dari IHSG.
    Mengingat keterbatasan waktu untuk mengamati ….. apakah ada signal ideal untuk exit – entry dengan kombinasi MA …..? Sementara ini saya menggunakan kombinasi signal perpotongan MA 20 dan MA 50.
    Bagaimana menurut rekan2 ….???

  14. May 9th, 2011 at 11:27 | #17

    @indrayana
    Yth Bapak Pak Indrayana,

    Berkaitan dengan pertanyaan anda seputar tingkat keakurasian MA 20 dan 50, hasil pengujian tersebut telah kami lampirkan dalam halaman sebagai berikut
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/02/01/uji-akurasi-ihsg-dengan-moving-average/

    Anda bisa mengecek jawabannya. Atas perhatiannya, saya mengucapkan banyak terima kasih.

  15. indrayana
    May 10th, 2011 at 06:45 | #18

    Pak Rudi, banyak terima kasih atas responnya berupa chart dan tabel yg semakin membuka pikiran saya untuk menekuni lebih jauh Analisis Teknikal.
    Nampaknya sepanjang Th 2008 dg kombinasi MA20 Vs MA50, tetap akan menghasilkan return yg negatif ya……. , namun kerugian tidak separah \Buy & hold\.
    Terima kasih pak …

  16. indrayana
    May 10th, 2011 at 07:26 | #19

    Dan satu hal penting lagi yg coba saya tangkap adalah investor reksadana suka tidak suka dan mau tidak mau harus segera exit bilamana NAB meluncur turun atau dg kata lain harus segera stop loss dan menunggu waktu yg tepat untuk segera masuk lagi.
    Tinggal pada penurunan berapa % untuk exit, tentu tergantung kepada toleransi rugi masing-masing investor …….

  17. May 13th, 2011 at 14:21 | #20

    Pak Rudi, mohon saran. Saat ini saya masih bingung antara investasi properti atau saham. Sebenarnya mana yg lebih menguntungkan dalam jangka panjang (20 tahun)? Jika punya aset total hanya cash 200 juta dan bisa menyisihkan 3 juta perbulan, manakah yg lebih baik?
    1. 200jt masuk ke reksadana saham dan masukkan perbulan 3 juta per bulan.
    2. 150juta untuk properti, lalu 50 juta untuk DP properti lainnya dengan agunan properti yg 150 juta dan menggunakan 3 juta perbulan untuk cicilan.

    Thanks

    • May 14th, 2011 at 04:44 | #21

      Untuk pertanyaan mana yang lebih menguntungkan itu tergantung kepada:
      1. Pengetahuan produk investasi dan properti
      2. Pilhan produk investasi dan properti

      Ada saham yang selama 1 tahun terakhir juga tetap masih rugi, ada juga saham yang naik lebih dari 50% dalam kurun waktu 1 bulan terakhir. Sama juga, ada properti harganya double setiap tahun, ada juga properti yang harganya meski sudah bertahun-tahun tetap seperti itu juga.

      Kalau memang tujuan anda adalah membeli properti kenapa tidak fokus pada properti saja? Dengan jumlah cash dan bagian penghasilan yang bisa anda sisihkan per bulan, saya rasa anda sudah bisa mendapatkan rumah yang cukup bagus di Jakarta atau kota besar lainnya di Indonesia. Dan itu “Pasti”. Sementara dengan investasi saham, memang ada kemungkinan anda mendapatkan hasil lebih besar, namun ada pula risiko merugi. Jadi anda mengalami “ketidakpastian”.

      Jadi permasalahannya bukan pada mana yang lebih besar dan menguntungkan, tapi anda harus menjawab terlebih dahulu tujuan anda berinvestasi apa, selanjutnya risiko “pasti atau ketidakpastian” yang bersedia anda tanggung baru kemudian kita bahas potensi keuntungannya.

  18. June 21st, 2011 at 18:58 | #22

    numpang promosi yah,FREE MEMBERSHIP

    http://vibiznews.com/membership

    disini di infokan tentang Informasi investasi terlengkap (forex, index, komoditi, saham).
    ……dan fasilitas yang lain-lain.

  19. iwan
    June 13th, 2012 at 10:43 | #23

    Pak saya orang awam calon investor kelas bawah yg hanya bisa nyisihin uang 250rb/bulan untuk invest..
    saya ingin investasi dengan return yang tinggi dalam jangka waktu min 10 th krn untuk pendidikan anak saya yang usianya baru 1th.
    Udah 1bulan saya browsing tentang investasi & akhirnya menurut saya reksadana adl investasi yang paling tepat.
    Singkat cerita,setelah membanding2kan reksadana, reksadana saham adl produk yg cocok untuk invest jangka panjang.
    Dan dng melihat history kinerja, produk reksadana Pa***Dana Maksima salah satu produk yg baik.
    Pertanyaannya;
    1.apakah kesimpulan saya benar/salah?
    2.”menyiasati keuangan saya,saya akan invest di PDM 4bln sekali dng top up 1juta,(oya min top up di PDM 1juta kan?)”. Cara saya benar ga pak??
    3.dengan cara to up 4bulan sekali menguntungkan / merugikan saya ??

    Mohon pencerahannya pak..tolong kasih saran/solusi untuk calon investor awam kelas bawah ini yang ingin membahagiakan anak di masa depan…

  20. Rudiyanto
    June 13th, 2012 at 12:34 | #24

    @iwan
    Salam Pak Iwan,

    Anda sungguh merupakan orang tua yang mulia karena berpikir panjang untuk merencanakan masa depan pendidikan anak anda. Terkait pertanyaan anda,
    1. Semua produk reksa dana baik pak. Masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan sendiri. Tinggal anda cari yang paling cocok untuk anda.
    2. Cara bapak tidak salah, namun saya lebih menganjurkan kalau anda juga berpikir keras agar bagaimana pendapatan anda bisa meningkat dibandingkan kondisi sekarang (dengan cara yang baik pula tentunya). Yang namanya kebutuhan terkadang bisa lebih dari yang kita perkirakan. Selain pendidikan, masih banyak biaya2 lain yang mungkin terjadi di luar dugaan anda.
    3. Kalau top up 4 bulan sekali itu memang investasi sesuai kemampuan. Tapi apakah anda sudah punya dana darurat?

    Jadi secara keseluruhan, dari analisis awal saya, sebetulnya yang harus menjadi konsen anda adalah bagaimana meningkatkan penghasilan. Kalau ada uang lebih untuk diinvestasikan memang bagus, tapi akan jauh lebih baik kalau memiliki penghasilan yang meningkat sehingga bisa memenuhi kebutuhan.

    Demikian pak, semoga bermanfaat.

  21. iwan
    June 13th, 2012 at 22:59 | #25

    terimakasih pak atas pencerahannya…

    maaf pak kalo saya merepotkan bpk sekali lg dng beberapa pertanyaan lg,
    Untuk dana darurat & asuransi kesehatan saya sudah ada pak..
    “hanya biaya pendidikan yg saya pikirkan”,

    Pertanyaanya;
    1.apakah reksada saham merupakan invest yg tepat untuk biaya pendidikan 12th lg?? mengingat 12th lg anak saya masuk SMP & butuh biaya besar untuk masuk SMP faforit .(maaf biaya SD tdk terlalu saya pikirkan krn saya msh mampu)

    2.untuk invest >10th di reksadana saham dng top up 4bulan sekali rp 1juta beresiko/menguntungkan pak??

    mohon saran & pencerahannya pak……makasih

  22. Rudiyanto
    June 13th, 2012 at 23:16 | #26

    @iwan
    Salam Pak Iwan,

    Pertanyaan anda menurut saya agak membingungkan.
    Pertama, Apa Definisi Investasi yang tepat? Apakah tepat itu bisa mencapai tujuan keuangan? Tidak Rugi? Untung Besar? atau bagaimana? Jika jangka waktunya panjang, secara teori investasi yang tepat tentu adalah jenis reksa dana saham, tapi tentu harus dianalisis lagi dengan profil risiko anda.

    Kedua, soal berisiko / menguntungkan, yang namanya investasi tentu ada risikonya. Tidak ada jaminan kalau diinvestasikan sekarang di reksa dana saham 10 tahun kemudian pasti untung. Seperti yang dikemukan di atas, probabilitas (kemungkinan) anda mengalami kerugian adalah 5%, artinya dari 100 kali percobaan, bisa saja 5 kali di antaranya investor mengalami kerugian. Seperti yang sudah dijelaskan dalam artikel ini.

    Selain itu, apakah anda memiliki opsi lain tidak top up 4 bulan sekali? Maksud saya jika saya katakan berisiko, apakah anda mengubah cara top up anda? dan seperti apa?

    Anda bisa mendiskusikan kondisi keuangan anda dengan financial planner. Feeling saya, selain persiapan untuk pendidikan anak, ada hal lain dalam pengaturan keuangan yang perlu anda benahi lagi.

    Namun jika anda tetap berpendapat bahwa kebutuhan anda hanya pada pendidikan anak, sekali lagi anda bisa berdiskusi dengan perencana keuangan. Atau bisa juga mendatangi marketing / customer service Panin Asset Management. Baru-baru ini saya mengembangkan tools perencanaan keuangan yang barangkali bisa membantu kebutuhan anda soal perencanaan pendidikan ini.

    Selamat malam, semoga bermanfaat.

  23. iwan
    June 14th, 2012 at 13:06 | #27

    makasih sekali pak atas pencerahannya…,..saya jadi paham

  24. leideno
    September 1st, 2012 at 20:32 | #28

    salam sejahtera pak rudiyanto,

    saya beumu 23 tahun, pekerjaan tetap memiliki invetasi emas LM, deposito (tidak banyak), tabungan, untuk reksadana saya masih sangat awan tetapi tertarik untuk mempelajari hal tersebut. kira kira reksadana apa yang baik untuk saya dengan tingkat moderate sebagai uang untuk pensiun saya karena saya pernah baca buku bahwa saat tua itu tidak menjadi beban anak kita di kemudian hari.

    terima kasih bapak rudiyanto mohon pencerahannya, semoga sehat selalu
    salam hangat
    leideno

  25. Rudiyanto
    September 2nd, 2012 at 10:42 | #29

    @leideno
    Salam Sejahtera juga Leideno,

    Anda penulis komentar pertama di bulan September ini.

    Sebelumnya saya mengucapkan selamat, di usia yang relatif muda, anda sudah punya pekerjaan tetap, emas dan deposito. Seingat saya, di usia segitu, saya masih berusaha keras untuk sekadar bisa membayar sewa kost setiap bulannya.. he he…

    Untuk menyiapkan dana pensiun sebetulnya tidak harus selalu dengan reksa dana
    1. Jika perusahaan tempat anda sekarang bekerja sudah menyiapkan dana pensiun dan jamsostek, maka secara otomatis jika anda bekerja dari perusahaan tersebut hingga pensiun, sudah ada dana pensiun yang bisa anda ambil. Untuk itu, bisa ditanyakan dengan HRD tempat anda bekerja saat ini.
    2. Apabila tempat anda bekerja saat ini sudah merupakan tempat kerja idaman anda dan memberikan kesempatan untuk berkembang, maka yang harus anda investasikan sebetulnya adalah “Diri Anda Sendiri”. Jadi fokus pada pengembangan diri baik berupa softskill dan hardskill. Sebab seiring dengan perkembangan karir dan keahlian kamu, perusahaan yang bisa menghargai SDM akan memberikan fasilitas dan kompensasi yang bagus, saya rasa dengan menabung dari sebagian gaji kamu mungkin sudah cukup untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan anda.
    3. Apabila point no 2 masih belum anda ketahui atau tidak relavan bagi anda (uang anda benar2 ada yang mengganggur), maka anda bisa coba mendatangi cabang pemasaran PT. Panin Asset Management untuk mendapatkan informasi dan panduan lengkap melakukan perencanaan pensiun http://www.panin-am.co.id/Resources/Forms/Info%20Panin%20-%20Perencanaan%20Keuangan%20dan%20Program%20Investasi%20Berkala.pdf. Bisa juga anda mendatangi perencanaan keuangan atau jasa finansial lain yang menawarkan jasa serupa. Sebab utk melakukan perencanaan pensiun tidak cukup hanya dengan mengetahui profil risiko, perlu ada beberapa informasi lain yang wajib diketahui. Untuk detailnya bisa anda baca di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/category/perencanaan-investasi/

    Menurut saya usia anda masih terlalu muda untuk memikirkan investasi untuk persiapan pensiun. Sebaiknya yang perlu anda fokuskan adalah pengembangan diri (karir atau usaha). Jika ada uang lebih bisa disisihkan, namun jika di”Investasikan” pada pengembangan diri menurut saya juga tidak ada salahnya.

    Semoga sukses dengan perjalanan hidup anda ke depan. Salam hangat.

  26. Hermawan
    September 10th, 2012 at 12:27 | #30

    Selamat siang Pak Rudy,

    Sebagaimana yang sudah saya ketahui, bahwa untuk membeli reksadana pertama kali kita harus melalui/menghubungi MI, dan juga berkaitan dengan Bank Kustodian / Bank Agen, dan melengkapi semua peryaratan dan kemudian diserahkan ke kapadanya.

    1. Bagaimana caranya untuk membeli saham pertama kali bagi pemula, apakah sama dengan ketika membeli reksadana, atau gimana? Persyarataan lengkap apa saja yang harus dipenuhi, dan siapa yang pertama kali kita hubungi (untuk menyerahkan persyaratan-persyaratan yang sudah dipersiapkan, dll, tersebut)?

    2. Menurut kabar, bahwa dengan sistem CFD (Contract for Different), transaksi saham akan lebih murah bila dibandingkan dengan manual, dengan harga cuma 10% dari face valuenya dan yang biasanya harus 1 lot dengan minimal ratusan lembar, bahkan dengan system itu bisa juga dipergunakan untuk pembelian saham luar negeri. Sepengetahuan Pak Rudy, apakah system itu saat ini sudah ada (sudah berjalan) dan bagaimana caranya, apa kelebihan dan kekurangannya?

    Terimakasih Pak sebelumnya :)

  27. Rudiyanto
    September 10th, 2012 at 12:44 | #31

    @Hermawan
    Selamat siang juga,

    Untuk pertanyaan anda:
    1. Sebaiknya anda menghubungi sekuritas untuk informasi lebih lanjut. Rasa-rasanya tidak ada banyak yang berbeda reksa dana, kecuali kamu diminta membuka RDN (Rekening Dana Investor). Itupun prosesnya bisa dilakukan melalui sekuritas tersebut.
    2. Sebaiknya anda tanyakan langsung ke tempat dimana anda mendapat kabar tersebut. Transaksi CFD dan membeli saham itu sudah jauh berbeda. Transaksi CFD merupakan transaksi derivatif yang banyak mengandung unsur spekulasi, sementara transaksi saham melalui sekuritas masih bisa dijalankan dengan prinsip investasi.

    Dalam investasi, memahami tentang apa itu investasi memang sangat penting, namun terkadang untuk bisa memahami tersebut dibutuhkan praktek. Jika tidak takutnya kita menjadi orang yang kaya ilmu namun miskin aplikasi. Kalau untuk membuka rekening saham rasa-rasanya jika anda berdomisili di Jakarta atau kota besar di Indonesia itu sudah sangat mudah karena tersedia di banyak tempat. Modal untuk membuka rekening juga sedikit.

    Namun jika yang anda buka adalah rekening transaksi derivatif melalui bursa berjangka, saran saya anda harus siap secara mental dan finansial sebelum masuk lebih jauh ke bidang tersebut. Sebab unsur spekulasinya sangat besar dan jika investor tidak siap bisa kehilangan seluruh modal investasinya.

    Semoga menjawab pertanyaan anda, terima kasih.

  28. azwin
    July 20th, 2014 at 00:52 | #32

    selamat malam pak rudi..

    saya orang baru dan tertarik denga investasi reksa dana, sebelum saya memulai investasi pertama saya ada banyak pertanyaan dan ketidaktahuan saya tentang reksa dana ini. saya bekerja sebagai PNS dan betul gaji saya setiap tahun naik mengikuti inflasi, artinya gaji saya tidak naik atau turuh dan bisa dibilang stagnan.

    yang mau saya tanyakan, menurut pak rudi dari statistik yang mengatakan bahwa apabila investasi selama 15 tahun maka resiko kerugiannya adalah 0% apakah artinya jika saya menginvestasikan uang saya pada tahun ini sebesar 100jt maka uang saya pada 15 tahun kedepan minimal masih tetap 100jt atau minimal 100jt + kenaikan nilai uang katakan 10% per tahun..??

    pertanyaan berikutnya, apabila saya ingin membeli reksa dana senilai 100jt namun saya belum mempunyai dana sebanyak itu, apakah bisa saya membelinya dengan cara mencicil setiap bulan sampai seharga 100jt..??

    terakhir, apakah reksa dana bisa dijual kapan saja atau harus dengan jangka waktu tertentu..?? dalam hal ini saya ingin menginvestasikan uang saya selama 15 tahun namun apabila ada kebutuhan mendesak apakah bisa saya jual kembali sewaktu-waktu..??

    terima kasih pak rudi atas jawabannya..
    azwin – riau

  29. Rudiyanto
    July 20th, 2014 at 16:54 | #33

    @azwin
    Selamat Sore Azwin,

    Sepengetahuan saya, dengan akan disahkan peraturan tentang aparatur negara yang saya dengar dari pak Ahok, bukankah nanti PNS akan diberlakukan sistem reward dan punishment seperti halnya swasta? artinya dengan berkinerja baik, bisa jadi anda mendapat promosi lebih cepat dan kenaikan gaji lebih besar. Mudah2an peraturan itu cepat2 berlaku sehingga akan meningkatkan kinerja pelayanan kepada masyarakat dan memberikan kesempatan kepada PNS yang berkinerja baik seperti anda untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

    Sehubungan dengan pertanyaan anda tentang statistik 15 tahun, kalau mengacu kepada tabel di atas, setelah 15 tahun adalah 100 juta ditambah kenaikan minimal sebesar 3.13% per tahun selama 15 tahun. Meski demikian, riset tersebut telah saya perbaharui dengan asumsi data dan periode yang lebih update. Perbaharuan tersebut bisa anda baca di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/02/20/berapa-asumsi-return-investasi-saham-yang-wajar/

    Berdasarkan update terbaru, apabila uang anda Rp 100 juta, setelah 15 tahun di IHSG, berdasarkan statistik historis akan bernilai antara 570 juta hingga 1,56 M. Kalau rata-rata itu sekitar 1,04 M atau setara 17% per tahun.

    Mengenai target anda untuk berinvestasi senilai Rp 100 juta di reksa dana itu kurang tepat. Seharusnya dibalik, anda ingin memiliki nilai reksa dana senilai xx Rp xxx tahun lagi. Baru dari situ, dibuat simulasi berapa nilai investasi diyang butuhkan setiap bulannya. Sebagai contoh, katakanlah anda ingin memiliki uang sebesar Rp 1 M melalui investasi reksa dana dengan lama waktu 15 tahun secara bulanan.

    Masuk ke Kalkulator Finansial dan pilih kebutuhan investasi berkala http://www.panin-am.co.id/InvestmentCalculator.aspx. Masukkan Rp 1 M sebagai kebutuhan, 15 tahun sebagai periode dan 0% sebagai nilai inflasi. Penggunaan angka 0% karena target yang anda butuhkan Rp 1 M di tahun ke 15. Jika, anda membutuhkan uang yang “setara” dengan Rp 1 M saat ini, baru dimasukkan angka inflasi katakanlah 6%. Dengan asumsi inflasi 0%, kebutuhan investasi per bulan anda adalah Rp 1.050.000. Untuk detail mengenai perencanaan keuangan bisa membaca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/05/07/seni-menyusun-tujuan-investasi-dengan-prinsip-smart/

    Katakanlah anda sepakat dengan rencana di atas dan anda menandatangani perintah melakukan autodebet rekening selama 15 tahun. Prinsip dalam investasi reksa dana adalah bisa dicairkan kapan saja dengan lama waktu dari titik anda memberikan perintah pencairan hingga uang masuk ke rekening maksimal 7 hari kerja. Tidak masalah anda, autodebet anda baru berjalan 1 – 2 bulan. Hanya saja, untuk jenis reksa dana saham, apabila dilakukan pencairan untuk periode kepemilikan di bawah 1-2 tahun, biasanya dikenakan biaya penjualan yang besarannya sekitar 1%an.

    Selain pembelian secara autodebet, anda juga bisa memilih pembelian dengan cara top up. Artinya pembelian dilakukan kapan saja tanpa ada ketentuan waktu dan nominal. Kapan anda ada uang ya beli, kalau tidak ada ya sudah. Dengan cara ini, investasi bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan dana anda. Kelemahannya adalah agak repot karena harus mengisi formulir setiap kali transaksi dan tidak melatih kedisiplinan. Jika anda berinvestasi di Panin Asset Management, anda juga dikenakan biaya transaksi yang lebih tinggi jika anda melakukan pembelian dengan cara autodebet.

    Apabila anda khawatir dengan adanya kebutuhan darurat, menarik dana dari reksa dana untuk menutupi kebutuhan tersebut memang tidak salah. Namun yang lebih tepatnya adalah sebelum berinvestasi anda sudah menyiapkan sejumlah dana darurat sehingga jika terjadi situasi mendesak, yang dipakai adalah dana darurat tersebut. Bukan reksa dana yang disiapkan untuk tujuan lainnya. Untuk detailnya anda bisa baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2010/11/04/sehat-dulu-investasi-kemudian/

    Semoga bisa menjawab pertanyaan anda semoga sukses dengan karirnya.

    Terima kasih

  30. azwin
    July 21st, 2014 at 00:52 | #34

    Terimaksih banyak Pak Rudi atas jawabannya, Mudah-mudahan perkataan Pak Rudi menjadi Doa untuk saya, menjadi PNS yang berkinerja baik. Jawaban Bapak sangat-sangat membantu Pak..

    Maksudnya begini lho Pak Rudi, saya ingin membeli reksa dana sekali itu aja terus saya lupain gitu aja selama 10 atau 15 tahun, jujur aja dalam hal setor menyetor saya kurang suka soalnya seperti dikejar-kejar dosa, berbeda dengan menabung soalnya tidak ada tuntutan untuk harus menyisihkan uang, meskipun pada akhirnya saya selalu bisa menyisihkan uang (tapi saya bukan orang yg pelit lho pak, heheh… ), itu sebabnya selama saya jadi PNS hanya pernah sekali meminjam bank dan itu pun cuma senilai 5jt rupiah.

    Kalau misal begini Pak Rudi, saya membeli RD Panin Dana Ultima 10jt tahun ini, kira-kira uang saya 10 tahun kedepan menjadi berapa ya, Pak..??

    Maaf pak kalo saya banyak nanya, jujur aja saya kuatir dengan pendidikan anak saya di masa depan, dengan gaji PNS yang sekarang sepertinya mustahil saya bisa hidup berkecukupan dengan anak bersekolah di sekolah favorit kecuali kalo saya korupsi pak.

    Bisa minta sarannya nggak Pak Rudi, katakanlah saya bisa menyisihkan gaji saya sedikitnya 300rb/bulan (biar tidak terlalu seperti dikejar dosa) dan saya ingin membeli RD Panin Dana Ultima selama 10 atau 15 tahun. Kira-kira dengan saya membeli RD Panin Dana Ultima 10jt lalu saya diamkan selama 10 atau 15 tahun dengan saya mencicil tiap bulan 300rb hasilnya lebih optimal yang mana?? itu nominal di atas saya asal aja Pak, jelas 300rb tiap bulan selama 10 tahun akan lebih banyak daripada 10jt. maksud pertanyaan saya dengan membeli RD seharga sekian dengan cash/mencicil itu hasilnya lebih bagus mana..?? soalnya saya juga pernah membaca artikel lain kalo membeli RD itu baiknya Buy and Forget.

    Satu lagi pak, saya percaya betul sama Bapak, saya ingin membeli RD Panin Dana Ultima apakah bisa saya membelinya lewat Pak Rudi aja, tinggal saya transfer uangnya ke Pak Rudi, gimana pak? soalnya kalo mau beli sendiri ribet Pak.

    Terimakasih atas jawabannya pak, sekali lagi saya ucapkan terimakasih bapak rudi sudah berkenan menjawab, jawaban bapak sedikit banyak memberikan pengetahuan kepada saya tentang reksa dana.

    azwin – riau

  31. Rudiyanto
    July 21st, 2014 at 09:19 | #35

    @azwin
    Yth Pak Azwin,

    Untuk simulasi hasil investsi berdasarkan data historis IHSG bisa anda lihat di artikel http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/02/20/berapa-asumsi-return-investasi-saham-yang-wajar/ pada kolom 10 tahun. Simulasi pada kolom tersebut menggunakan asumsi investasi awal Rp 1 juta. Tinggal anda kalikan 10 saja untuk mendapatkan kisarannya.

    Mengenai beli reksa dana cicil atau sekaligus, selalu disesuaikan dengan tujuan investasi. Silakan baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/05/07/seni-menyusun-tujuan-investasi-dengan-prinsip-smart/

    Pembelian reksa dana tidak dimungkinkan dari atas nama orang lain, jadi sebaiknya anda sendiri yang melakukan transfer dan pembukaan rekening. Kalau anda berlokasi di Riau Daratan anda bisa datang ke kantor Panin Sekuritas di Pekanbaru. Kalau anda berlokasi di Riau Kepulauan anda bisa datang ke kantor Panin Sekuritas di Batam. Untuk alamat dan no telpnya bisa anda cek di http://pans.co.id/?page=Hubungi_Kami

    Semoga tujuan keuangan anda dapat tercapai. Terima kasih.

  32. sani
    July 21st, 2014 at 18:22 | #36

    Selamat sore pak Rudy, minta pencerahannya, sya pemula mau investasi reksadana, kebetulan sya Pilih panin sekuritas, namun sya bingung mau Pilih reksadana apa, buat Dana anak sekolah tujuannya, sya harus nabung brp tiap bulan agar bisa dpt 1M dlm jangka 5thn? Dan reksadana apa yg diunggulkan untuk 5thn kedepan?
    Terimakasih.

  33. Rudiyanto
    July 23rd, 2014 at 09:06 | #37

    @sani
    Selamat Pagi Sani,

    Kamu bisa mencoba kalkulator finansial yang ada di http://www.panin-am.co.id/InvestmentCalculator.aspx
    Pilih kebutuhan investasi berkala, masukkan
    Kebutuhan Investasi = Rp 1 M
    Periode = 5 tahun
    Inflasi = 0 (jika anda butuh Rp 1 M di tahun ke 5)

    Ekspektasi Imbal Hasil =
    8 – 12% reksa dana pendapatan tetap
    12 – 16% reksa dana campuran
    16 – 20% reksa dana saham

    Dan klik hitung untuk mendapatkan hasilnya.

    Untuk tujuan 5 tahun, yang lebih cocok adalah reksa dana saham. Bukan berarti diunggulkan, tapi lebih cocok saja karena risiko fluktuasi dapat diminimalkan selama periode tersebut.

    Semoga menjawab pertanyaan anda. Terima kasih

  34. samsurih
    September 30th, 2014 at 16:59 | #38

    Assalam

    nama saya samsurih, sy ingin mendapatkan penjelasan dengan mengenai investasi, sekarang ini sedang berencana untuk investasi dalam bentuk saham namun sy agak sedikit bingung, di karenakan dana yg dimiliki terbatas, kalau reksadana sy sdh punya namun di jual di karenakan ingin mencoba investasi dalam bentuk saham dan untuk membuka Account saham harus memiliki dana min 5jt baru bisa buka, tetapi ada perusahaan securitas yg pembukaan awalnya hanya 1jt dan sy pun tertarik untuk membuka account investasi dengan membeli saham X.

    1. yang menjadi pertanyaan sy apakah setelah pembukan tersebut sahamnya hanya di
    diamkan sj atau di mainkan ?
    2. apakah membelinya hanya sekali saja terus di diamkan dengan jangka waktu yg lama ?
    3. bolehkah menabahkan investasi dengan membeli sedikit demi sedikit dengan nominal
    Rp. 300rb setiap bulannya ?
    4. kira2 berapa keuntungan yg sy dpt jika jangka waktunya 10-15 baru sy ambil ?
    5. untuk investasi jangka panjang bagusnya saham yg di beli saham pemerintah atau
    saham di luar pemerintah ?

    mhn penjelasannya agar sy tidak merugi dalam berinvestasi.

    samsurih

  35. Rudiyanto
    October 2nd, 2014 at 12:46 | #39

    @samsurih
    Salam Pak Samsurih,

    Saran saya, mau menjadi investor reksa dana atau saham sebaiknya punya tujuan keuangan dulu. Panduan mengenai tujuan keuangan dan kondisi kesehatan keuangan bisa anda baca di
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2010/11/04/sehat-dulu-investasi-kemudian/ dan http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/05/07/seni-menyusun-tujuan-investasi-dengan-prinsip-smart/
    Kalau belum jelas, maka jawaban untuk pertanyaan anda
    1. Suka-suka anda
    2. Suka-suka anda
    3. Suka-suka anda
    4. Silakan baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/02/20/berapa-asumsi-return-investasi-saham-yang-wajar/
    5. Investasi pada saham, yang penting adalah perusahaan itu bagus. Mau swasta atau pemerintah tidak masalah.

    Tidak merugi dan tidak siap rugi adalah hal yang berbeda. Kalau tidak merugi masih bisa dilakukan jika anda berinvestasi jangka panjang dan memilih saham / reksa dana saham yang bagus. Tapi kalau tidak siap rugi, sebaiknya tidak usah melakukan investasi.

    Semoga anda masuk dalam kategori tidak merugi tersebut.

    Terima kasih.

  1. April 25th, 2011 at 13:35 | #1