Home > Belajar Reksa Dana > Bank Kustodian dan Bank Agen Penjual Reksa Dana

Bank Kustodian dan Bank Agen Penjual Reksa Dana

Ketika kata “Bank” dikaitkan dengan “Reksa Dana”, maka yang pertama kali muncul di benak investor adalah Bank Agen Penjual dan Bank Kustodian. Apakah saja peran masing-masing Bank dalam proses investasi reksa dana. Dan apakah ada ketentuan bahwa kedua bank tersebut harus merupakan institusi yang sama atau berbeda?

Hingga tulisan ini ditulis, sepengetahuan saya belum  ada ketentuan yang mengharuskan Bank Kustodian harus sama atau berbeda dengan Bank Agen Penjual.

Bank Kustodian adalah bank yang bertugas melakukan fungsi administrasi dan menjaga harta reksa dana, sementara Bank Agen Penjual yang bertugas menjual reksa dana. Kedua bank tersebut boleh beda boleh sama dan TIDAK memiliki Pengaruh secara langsung terhadap kinerja Reksa Dana. Keuntungan dari Reksa Dana dengan Bank Agen Penjual dan Bank Kustodi yang sama adalah nasabah bisa mendapatkan fasilitas bebas biaya transfer dan dana sampai pada hari yang sama karena memiliki rekening tabungan pada Bank Kustodian.

Umumnya reksa dana yang memiliki Bank Agen Penjual dan Bank Kustodian yang sama adalah Jenis Reksa Dana Terproteksi. Hal ini dikarenakan jenis reksa dana ini memiliki fitur pembagian dividen secara periodik. Bisa bulanan, 3 bulanan, atau 6 bulanan sesuai dengan obligasi yang menjadi portofolio investasinya. Apabila setiap kali pembayaran dividen, investor dikenakan biaya transfer tentu akan menjadi nilai minus. Selain itu, terdapat Reksa Dana Terproteksi yang dipasarkan secara eksklusif di bank tertentu tidak seperti reksa dana konvensional pada umumnya (saham, campuran, pendapatan tetap dan pasar uang). Hal ini juga menjadi pertimbangan Bank Agen Penjual dalam bekerja sama dengan Manajer Investasi. Tentunya Bank Agen Penjual akan lebih senang jika Bank Kustodian yang ditunjuk adalah bank yang sama karena memberikan bisnis tambahan bagi Bank tersebut. Namun, oleh karena tidak seluruh bank menyediakan jasa kustodian, hal ini tidak berlaku untuk semua reksa dana terproteksi.

Pada Bank Agen Penjual yang juga menjalani fungsi Bank Kustodian, dalam peraturan pasar modal juga diatur dan dikenal dengan prinsip Segregation of Duties. Artinya secara operasional, pejabat yang berwenang dan pertanggungjawaban divisi yang menjadi agen penjual dan bank kustodian harus terpisahkan dengan jelas dan ada evaluasi secara berkesinambungan. Hal ini untuk menjaga agar tidak timbul conflict of interest.

Kesimpulannya, Investor tidak perlu terlalu khawatir bahwa persamaan atau perbedaan bank kustodian akan berpengaruh terhadap kinerja reksa dana. Suatu reksa dana harus memiliki Bank Kustodian namun boleh tidak memiliki Bank Agen Penjual karena tidak seluruh produk reksa dana dijual di Bank. Bukan berarti pula bahwa kinerja reksa dana yang tidak dijual di bank kurang baik, Bank Agen Penjual hanyalah salah satu dari saluran pemasaran reksa dana.

Semoga artikel ini bermanfaat.

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:
  1. Hermawan
    June 25th, 2012 at 18:58 | #1

    Terimakasih atas semua penjelasan Bapak yang lalu,

    Mengulang dari pertanyaan saya sebelumnya, dan setelah membaca penjelasan Bapak, yg no. 1 dan 2, dengan buru-buru saya mengambil buku tabungan saya dan mengecek lagi print-outnya yang memang sudah beberapa bulan ini tidak saya lihat. Sayapun mengecek tiap-tiap kode transaksinya, Misalnya kode : setoran tunai, bunga kredit, biaya bulanan, setoran dana, pembelian reksadana, biaya pembelian reksadana, dan seterusnya, yang jumlah kode-kodenya sampai puluhan baris.

    Detail kasusnya seperti ini :
    Dulu waktu pembelian perdana saya setor Rp. 500.000 seperti ketentuan, dan costumer service mengatakan kena biaya sekitar 2,25% dari setiap pembelian, sehingga saya pun dikenai biaya Rp. 11.220. Dibuku tabungan pembelian tersebut tercetak dengan kode “setor dana” = Rp. 498.780, dan biayanya tercetak sebagai “biaya pembelian reksadana”. Kemudian, dalam angsuran saya yang setiap bulan yaitu sebesar Rp. 200.000, terkena biaya Rp. 4.400, (sekitar 2,20%, bukan Rp. 4.000, seperti di pertanyaan saya yang lalu). Biaya tersebut tercecak dengan kode yang sama dengan kode biaya pembelian perdana yaitu sebagai “biaya pembelian reksadana”. Semua transaksi saya lakukan di bank yang sama, di bank agen penjualan reksadana.

    Pertanyaan saya:
    1. Kenapa ya Pak yang tercetak dibuku tabungan bukan Rp. 500.000, tapi Rp. 498.780 ?
    2. Menurut perkiraan sementara saya, biaya Rp. 4.400 itu bukan biaya transfer, tapi biaya dari angsuran reksadana yang sebesar Rp. 200.000 itu, yang mana kode biaya bersebut sama dengan kode biaya (Rp. 11.220) waktu pembelian reksadana perdana. Mohon penjelasannya !
    3. Untuk transaksi angsuran yang Rp. 200.000 tiap bulan dan transaksi perdana yang Rp. 500.000 itu, kenapa ya Pak, kodenya tercetak sebagai “angsuran dana” dan bukan sebagai kode “pembelian reksadana”? Apakah kalau untuk autoinvest itu memang bukan dianggap sebagai pembelian reksadana? Kalaupun toh sebagai “angsuran dana” tapi kenapa biayanya kok kodenya tercetak sebagai “biaya pembelian reksadana ?

    Mohon penjelasan dari Bapak.
    Ini semua hanya sebagai masukan untuk saya dalam resiko invest di reksadana saham saya khususnya resiko biaya invest (selain resiko naik-turunnya harga saham), agar nantinya saya bisa melakukan antisipasi kedepan selanjutnya, TERIMAKASIH.

  2. Rudiyanto
    June 26th, 2012 at 13:09 | #2

    @Hermawan
    Yth Hermawan,

    Terus terang saya merasa sedikit agak heran dengan pertanyaan anda. Terlepas dari bagaimana biaya tersebut dicetak dan ditampilkan di rekening anda, bukankah sejak awal anda sudah menyetujui biaya transfer yang sebesar 2% tersebut (0.20% kemungkinan PPN, diperoleh dari 2% + 10%PPN x 2%) ??

    Bukankah pada formulir pembukaan rekening sudah ada pernyataan yang anda tanda tangani sendiri bahwa anda telah membaca, menyetujui dan memahmai semua ketentuan yang ada dalam prospektus dimana salah satunya adalah ketentuan biaya? Biaya investasi bukan risiko tapi pilihan, ada reksa dana yang tidak mengenakan biaya pembelian ada pula yang ada. Terlepas dari kinerjanya, anda bisa memutuskan sendiri sebelum berinvestasi di reksa dana tersebut.

    Menurut saya, permasalahan ini bukan dari biaya akan tetapi dari masalah portofolio investasi anda yang belum menguntungkan karena kalau investasi dalam 6 bulan secara averaging perkiraan saya harusnya secara rata-rata reksa dana saham masih pada rugi. Saya tidak yakin anda akan mempermasalahkan hal ini seperti sekarang apabila reksa dana yang anda beli ternyata memberikan keuntungan yang jauh di atas rata-rata.

    Dan tambahan lagi, bukankah sudah bagus jika anda tidak dikenakan biaya transfer? Sebab kalau anda mau langsung melakukan transaksi reksa dana langsung ke Bank Kustodian yang berbeda dengan bank rekening anda (seperti pernyataan yang pertama), masih ada lagi tambahan biaya transfer antar bank (yang berkisar antara Rp 5000 – Rp 10.000) yang harus anda tanggung. Apabila anda tidak merasa pernah disodorkan ketentuan biaya tersebut, maka anda bisa komplain ke bank agen penjual yang bersangkutan. Kalau pengalaman pribadi saya waktu mendatangi Bank Agen Penjual untuk mengurus autodebet, rasanya Customer Service cukup informatif.

    Terkait pencatatan yang di buku rekening saran saya anda bisa mendiskusikan dengan bank Agen Penjual tempat anda mendaftar. Sebab hal tersebut di luar pengetahuan saya.

    Semoga bisa membantu. Terima kasih

  3. Luna
    September 16th, 2013 at 19:48 | #3

    Yth. Pak Rudi,
    terima kasih atas artikelnya terkait bank Kustodian. Sangat membantu pemahaman saya dalam menulis skripsi tentang hukum perbankan. Yang ingin saya tanyakan kepada Pak Rudi adalah,

    1.Apakah fungsi kustodian dapat dilaksanakan langsung oleh penerbit reksa dana? Dengan demikian bolehkah penerbit reksa dana tersebut dapat menyimpan secara langsung dana para investor?
    2. Apakah bank dapat bertindak sebagai sub agen penjualan? Apabila hal tersebut diperbolehkan, apakah bank tersebut juga harus terdaftar di BAPEPAM? Mengingat yang harus didaftarkan di BAPEPAM adalah bank sebagai agen penjual.

    Atas perhatiannya terima kasih banyak Pak Rudi.

  4. Rudiyanto
    September 18th, 2013 at 01:04 | #4

    @Luna
    Salam Luna,

    Terkait pertanyaan anda:
    1. Penerbit reksa dana adalah Manajer Investasi. Sementara Bank Kustodian adalah Bank Umum yang mendapat izin untuk melakukan bidang usaha bank kustodian. Penyimpanan dana dan segala aset reksa dana dilakukan oleh Bank Kustodian bukan penerbit reksa dana.
    2. Bank yang bertindak sebagai Agen Penjual disebut Agen Penjual Reksa Dana (APERD). Hal ini diperbolehkan dan izin APERD dulunya dikeluarkan oleh BAPEPAM-LK sekarang OJK. Izin sebagai Bank Kustodian dan Agen Penjual sekarang dikeluarkan oleh OJK. suatu bank dapat memiliki 2 izin atau hanya salah satunya saja.

    Semoga bermanfaat.

  5. ETI HERAWATI
    December 1st, 2013 at 17:21 | #5

    Saya baru mengenal Bank Kustodian,sebagai perbandingan, mana yg lebih menarik hasilnya , depositokah,…unitlink…atau bank Kustodian?…apakah Kustodian ada penjaminnya…Tolong bantu ya Pak …agar lbh jelas, Terima kasih

  6. Rudiyanto
    December 2nd, 2013 at 00:04 | #6

    @ETI HERAWATI
    Salam Eti,

    Sepertinya proses kamu ada yang salah. Seharusnya kamu
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2010/11/04/sehat-dulu-investasi-kemudian/
    dan
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/05/07/seni-menyusun-tujuan-investasi-dengan-prinsip-smart/
    baru pikirkan mana yang lebih baik.

    Semoga bermanfaat

  7. nori
    December 10th, 2013 at 09:14 | #7

    pagi pak…saya baru ikut pdm…tapi kayaknya penulisan nama nasabah ada yg salah dikit….dan rekening jk saya reedem saham juga salah(mgkn kesalahan saya pd saat isi biodata rekening)..apa yg hrs dilakukan pak…saya sih inin cuek aja…tp takut akan terjadi masalah dimasa depan ..(baru ketahuan setelah dapat surat konfirm)..makasih pak

  8. Rudiyanto
    December 10th, 2013 at 13:57 | #8

    @nori
    Salam Nori,

    Terima kasih atas kepercayaannya kepada Panin Asset Management. Terkait penulisan nama nasabah, sebaiknya anda bisa mengirimkan koreksi. Caranya anda bisa mengirimkan email ke cs@panin-am.co.id dengan memberikan informasi nomor CIF anda atau nomor Investor yang tercantum di surat konfirmasi, Nama Lengkap dan Cabang tempat anda bertransaksi, koreksi nama yang ingin anda lakukan.

    Kami akan melakukan pengecekan, seandainya memang kesalahan dari pihak nasabah pada saat melakukan pengisian data, maka kami akan meminta nasabah untuk mengisi formulir pengkinian data. Namun jika kesalahan terjadi di pihak administrasi Panin Asset Management, kami akan melakukan koreksi di data.

    Perlu diketahui bahwa data nasabah tersimpan di 2 tempat yaitu di Manajer Investasi dan Bank Kustodian. Sehingga jika harus diubah, maka harus diubah di 2 tempat supaya datanya tetap sinkron.

    Kemudian terkait nama yang tidak sama, akan berisiko pada proses pencairan karena pada saat pencairan dilakukan, akan dilakukan pengecekan antara nama pemilik reksa dana dan nama pemilik rekening tujuan transfer.

    Demikian, semoga informasi ini bermanfaat.

  9. wanda
    December 13th, 2014 at 06:51 | #9

    Dear Pak Rudi,
    saya ingin bertanya ttg prosedur dan biaya penjualan di program autodebet. Jika di suatu produk reksadana tertulis biaya penjualan utk kurang dari 6bln adalah A rupiah. Lalu bgmna menghitung perkiraan penjualan produk reksadana yg dibeli secara autodebet oleh bank sub kustodian Pak? Sebagai perbandingan di pembelian lumpsum kita dikirimi surat penjualan per produk yg kita beli dengan informasi tgl pembelian, lalu bagaimanakah biaya di program autodebet. terima kasih.

  10. Rudiyanto
    December 15th, 2014 at 18:19 | #10

    @wanda
    Selamat Sore Ibu Wanda,

    Sebenarnya Bank Kustodian tidak mengenal apakah itu transaksi dilakukan secara lump sum atau autodebet. Bank Kustodian hanya mengenal apakah itu transaksi pembelian dan penjualan saja. Misalkan anda lump sum 12 juta, maka bank kustodian akan mengirimkan surat konfirmasi beli senilai 12 juta. Jika anda autodebet Rp 1 juta selama 12 bulan, maka selama 12 bulan anda akan menerima surat konfirmasi beli senilai Rp 1 juta.

    Perlu diperhatikan bahwa surat konfirmasi itu bukan bukti kepemilikan, apabila tidak mendapatkan dan mohon maaf, memang layanan dari bank kustodian saat ini kurang begitu baik ditandai dengan surat konfirmasi yang tidak selalu sampai, namun kepemilikan saldo investor tetap dicatat secara sistem di Bank Kustodian dan Manajer Investasi. Jadi jika anda melakukan penjualan, meskipun surat konfirmasi belum ada terima itu tidak ada masalah sama sekali.

    Mengenai biaya penjualan, itu biasanya berbeda antara Manajer Investasi dan Agen Penjual yang satu dengan yang lainnya. Pada umumnya ada 2 sistem, sistem FIFO (First In First Out) dan berdasarkan transaksi pertama.

    Untuk sistem FIFO misalkan > 6 bulan kena fee 1%. Transaksi 1 Januari, 1 Februari dan 1 Maret. Maka ketika pada 2 Juli melakukan transaksi penjualan semua reksa dana, maka yang bebas fee hanya 1 Januari saja, karena untuk transaksi 1 Feb dan 1 Maret masih kurang dari 6 bulan jika dihitung dari tanggal redemption.

    Sistem yang satu lagi adalah melihat kapan transaksi pertama dilakukan. Dengan menggunakan contoh di atas, jika transaksi penjualan dilakukan pada 2 Juli, maka semua pembelian mulai dari Januari – Maret dinyatakan bebas fee. Namun di Panin Asset Management, ada syarat tambahan yaitu jika nasabah melakukan redemption semua unit, dan membeli lagi, maka perhitungan 6 bulan dihitung ulang dari tanggal transaksi yang terakhir.

    Untuk biaya, anda bisa bertanya ke masing-masing agen penjual karena sepengetahuan saya bisa berbeda.

    Terima kasih

  11. Chandra
    January 10th, 2015 at 23:06 | #11

    Dear Pak Rudi,

    Tentang bank custodian ada hal2 menarik yg ingin sy tanyakan:
    1. Apakah MI memilih sendiri bank custodian untuk tiap reksa dana? atau membuka penawaran ke beberapa bank dan kemudian memilih yg deal/fee nya paling menguntungkan? Apa kriteria MI memilih bank custodian.
    2. Knapa satu MI tidak menggunakan 1 bank custodian yg sama untuk semua reksa dana keluarannya. Pasti ada reksa dana menggunakan bank custodian yg berbeda di MI yg sama. Apakah terkait dengan diversifikasi (misal jika 1 bank custodian bangkrut/bermasalah maka tidak berdampak ke semua reksa dana)?
    3. Ada reksadana yg bank custodiannya sampai 5 (misal simas saham ung****). Tapi di prospektus hanya disebutkan 1. brarti yg 4 itu bank tampungan saja? Kenapa sampai 5, apakah agar memudahkan nasabah memilih agar transfer fee nya gratis.
    Terima kasih.

  12. Rudiyanto
    January 13th, 2015 at 09:30 | #12

    @Chandra
    Pagi Pak Chandra,

    1. Setiap reksa dana pasti memiliki bank kustodian karena reksa dana adalah kontrak investasi kolektif antara Manajer Investasi dan Bank Kustodian. Proses pemilihannya tergantung ke pertimbangan masing2 manajer investasi dari berbagai faktor. Bisa dari fee, service dan lain2.

    2. Masing2 MI memiliki pertimbangan sendiri. Yang jelas, bukan karena bangkrut karena dana itu milik nasabah sehingga walaupun bank kustodian atau MI bangkrut, dana tetap aman.

    3. Saya tidak begitu mengerti mengapa nama reksa dana harus disamarkan. Yang jelas setiap reksa dana hanya punya 1 bank kustodian. Bank lain, itu sifatnya hanya rekening penampung saja. Tujuannya tidak hanya memudahkan kegiatan transfer oleh nasabah tapi juga kegiatan operasional perusahaan.

    Semoga bermanfaat.

  13. Stephen
    February 14th, 2015 at 13:21 | #13

    Selamat siang Pak Rudi,

    mengenai Bank Agen sebagai perantara, ada beberapa hal yg ingin saya tanyakan:

    1. Dalam hal terjadinya resiko likuiditas, apakah peran Bank Agen sebagai perantara MI dgn nasabah?
    2. Seandainya terjadi hal demikian, apakah dana nasabah yg dikelola MI akan dikembalikan seutuhnya, dikembalikan tetapi dgn ketentuan sperti LPS di Bank, atau hilang sama sekali?
    3. Apakah MI dgn Bank Agen penjual memiliki kontrak perjanjian yg mengatur lamanya kerjasama? Jika demikian, apa yg terjadi jika nasabah yg sudah berinvestasi RD melalui Bank Agen ingin melakukan redemption/topup seandainya Bank Agen sudah tidak berkerjasama lagi dgn MI dari RD tsb?

    Mohon info pencerahannya ya Pak Rudi,

    Thanks & God bless.

  14. Rudiyanto
    February 15th, 2015 at 15:12 | #14

    @Stephen
    Salam Pak Stephen,

    Pertanyaan yang cukup kritis. Mengingat hal ini memang sangat jarang ditanyakan dan juga sangat jarang atau bahkan mungkin belum pernah terjadi. Dalam pandangan saya:

    1.Yang dimaksud dengan risiko likuiditas adalah pembayaran hasil redemption di atas 7 hari kerja sesuai dengan peraturan. Jika melebihi hal tersebut, maka Manajer Investasi melanggar ketentuan dalam hal pengelolaan investasi sesuai Kontrak Investasi Kolektif. Dengan demikian, Manajer Investasi tentu akan sangat menghindari hal tersebut. Sanksi dan teguran dari OJK tentu akan ada, namun yang tidak kalah pentingnya adalah sanksi dari nasabah. Pembayaran hasil redemption yang terlalu lama akan menyebabkan hilangnya kepercayaan. Dan itu sangat mahal harganya. Jadi pada saat memilih Manajer Investasi, risiko tersebut sudah diperhitungkan dengan sangat hati-hati.

    Secara logika, reksa dana dengan dana kelolaan besar dianggap memiliki risiko likuiditas yang lebih kecil. Dengan demikian, umumnya reksa dana yang dijual di bank selalu memiliki dana kelolaan cukup besar. Kemudian, secara peraturan, Manajer Investasi juga berhak untuk memproses redemption pada hari kerja berikutnya apabila jumlah redemption dalam satu hari melebihi persentase tertentu yang disepakati dalam kontrak. Bisa 10% – 20% dari dana kelolaan.

    Namun jika semua itu sudah diantisipasi namun tetap terjadi karena reksa dana berinvestasi pada saham yang kurang likuid, maka umumnya Manajer Investasi akan berkoordinasi dengan Bank atas kondisi tersebut. Bank akan diminta agar bisa membujuk nasabah untuk memundurkan atau tidak melakukan redemption. Alternatif lain, redemption tetap diproses namun Manajer Investasi dan Bank Agen Penjual mencari nasabah lain yang mau memasukkan dananya sehingga ada sejumlah dana untuk membayar redemption tersebut. Untuk itu, Manajer Investasi dengan nasabah yang banyak dan bervariasi juga akan memperkecil risiko likuiditas.

    2. Anda salah mengartikan risiko likuiditas sebagai risiko kebangkrutan. Kalau LPS itu, jika Bank bangkrut, maka dana yang sejumlah ketentuan dalam penjaminan LPS akan dikembalikan. Sementara reksa dana sendiri bebas dari risiko kebangkrutan Manajer Investasinya karena aset disimpan di kustodian. Kalau pengelola bangkrut, ya ditunjuk pengelola lain atas aset yang ada. Nah kalau saham / obligasi yang dibeli reksa dana, perusahaannya bangkrut. Maka berlaku peraturan kebangkrutan dimana aset perusahaan tersebut dijual, dan hasil penjualan dipakai untuk pembayaran segala kewajiban termasuk obligasi. Baru jika ada sisanya diberikan ke pemegang saham.

    3. Umumnya standar kerjasama itu lamanya beberapa tahun dengan fitur perpanjang otomatis kecuali ada pembatalan di tengah jalan. Kalaupun kontrak diputus karena ada satu dan lain hal, saya yakin bank akan meminta agar nasabah menjual dan memindahkannya produk lain sebelum kontrak itu berakhir. Pembatalan kontrak juga akan berisiko terhadap “nama baik” bank karena seolah-olah bank salah memilih partner. Jadi kemungkinan yang ada, kerjasama akan terus dilanjutkan namun produk tersebut tidak dijual dan nasabah secara pelan2 minta dipindahkan. Namun saya terus terang belum banyak berpengalaman dalam hal ini karena lebih banyak melakukan penjualan langsung. Kalau ada marketing yang resign, ya dipindahkan ke marketing lain atau ditangani customer service.

    Terima kasih.

  15. hudanadnan
    April 2nd, 2015 at 13:10 | #15

    mau tanya pa rudi ? tiap bulan kami dikirimi rekening koran reksadana yang kami invest kan, untuk lebih cepat dan mudah apakah bisa dari rekening koran terus dipindah / di ganti melalui email. kalau bisa bagai mana caranya. makasih atas pencerahannya

  16. Rudiyanto
    April 4th, 2015 at 18:10 | #16

    @hudanadnan
    Salam Pak Hudan,

    Hal tersebut tergantung kemampuan dan kesiapan dari Manajer Investasi dan Bank Kustodian.

    Tidak semua perusahaan siap menyelenggarakan hal tersebut.

    Alternatifnya anda bisa mengecek melalui fasilitas online yang disediakan. Biasanya 2 hari kerja sudah bisa dicek.

    Semoga bermanfaat.

  17. ditatiara
    September 24th, 2015 at 20:57 | #17

    Pak rudi, saya mau tanya, apakah beda prinsip kehati-hatian antara bank umum dengan bank kustodian? Terimakasih, pak…

  18. Rudiyanto
    September 25th, 2015 at 01:01 | #18

    @ditatiara
    Selamat Malam Dita,

    Kalau soal itu saya kurang begitu paham, mungkin bisa dibaca pada buku yang membahas tentang perbankan.

    Semoga bermanfaat.

  19. Nur Arief
    January 17th, 2016 at 07:08 | #19

    Yth. Pak Rudi

    Saya ingin menanyakan berapakah umumnya besar komisi dari agen penjual reksadana? Apakah ada perbedaan dari bank agen penjual reksadana dan agen penjual reksadana?

    Terima kasih

  20. Rudiyanto
    January 18th, 2016 at 00:26 | #20

    @Nur Arief
    Selamat Malam Pak Arief,

    Komisi untuk agen penjual diambil dari Biaya Transaksi dan Biaya Pengelolaan. Biaya transaksi berarti Fee pembelian, fee penjualan dan fee pengalihan.

    Untuk biaya transaksi, Biasanya ada di kisaran 1-2%, tapi di Panin Asset Management ada yang mencapai 4% karena ada manfaat asuransi. Umumnya biaya ini diambil sama agen penjual perseorangan di lapangan.

    Biaya Pengelolaan tergantung jenisnya, antara 1 – 3%. Semakin agresif reksa dana, umumnya biaya pengelolaan semakin tinggi. Umumnya biaya ini diambil oleh perusahaan. Katakanlah reksa dana dijual di bank, maka biaya transaksi buat orang lapangan dan biaya pengelolaan untuk perusahaannya.

    Baik untuk biaya transaksi dan pengelolaan, antara manajer investasi dan agen penjual sifatnya berbagi. Bisa 50 : 50, bisa juga lain sesuai kesepakatan kedua pihak.

    Semoga bermanfaat.

Comment pages
  1. No trackbacks yet.


%d bloggers like this: