Home > Belajar Reksa Dana > Bank Kustodian dan Bank Agen Penjual Reksa Dana

Bank Kustodian dan Bank Agen Penjual Reksa Dana

Ketika kata “Bank” dikaitkan dengan “Reksa Dana”, maka yang pertama kali muncul di benak investor adalah Bank Agen Penjual dan Bank Kustodian. Apakah saja peran masing-masing Bank dalam proses investasi reksa dana. Dan apakah ada ketentuan bahwa kedua bank tersebut harus merupakan institusi yang sama atau berbeda?

Hingga tulisan ini ditulis, sepengetahuan saya belum  ada ketentuan yang mengharuskan Bank Kustodian harus sama atau berbeda dengan Bank Agen Penjual.

Bank Kustodian adalah bank yang bertugas melakukan fungsi administrasi dan menjaga harta reksa dana, sementara Bank Agen Penjual yang bertugas menjual reksa dana. Kedua bank tersebut boleh beda boleh sama dan TIDAK memiliki Pengaruh secara langsung terhadap kinerja Reksa Dana. Keuntungan dari Reksa Dana dengan Bank Agen Penjual dan Bank Kustodi yang sama adalah nasabah bisa mendapatkan fasilitas bebas biaya transfer dan dana sampai pada hari yang sama karena memiliki rekening tabungan pada Bank Kustodian.

Umumnya reksa dana yang memiliki Bank Agen Penjual dan Bank Kustodian yang sama adalah Jenis Reksa Dana Terproteksi. Hal ini dikarenakan jenis reksa dana ini memiliki fitur pembagian dividen secara periodik. Bisa bulanan, 3 bulanan, atau 6 bulanan sesuai dengan obligasi yang menjadi portofolio investasinya. Apabila setiap kali pembayaran dividen, investor dikenakan biaya transfer tentu akan menjadi nilai minus. Selain itu, terdapat Reksa Dana Terproteksi yang dipasarkan secara eksklusif di bank tertentu tidak seperti reksa dana konvensional pada umumnya (saham, campuran, pendapatan tetap dan pasar uang). Hal ini juga menjadi pertimbangan Bank Agen Penjual dalam bekerja sama dengan Manajer Investasi. Tentunya Bank Agen Penjual akan lebih senang jika Bank Kustodian yang ditunjuk adalah bank yang sama karena memberikan bisnis tambahan bagi Bank tersebut. Namun, oleh karena tidak seluruh bank menyediakan jasa kustodian, hal ini tidak berlaku untuk semua reksa dana terproteksi.

Pada Bank Agen Penjual yang juga menjalani fungsi Bank Kustodian, dalam peraturan pasar modal juga diatur dan dikenal dengan prinsip Segregation of Duties. Artinya secara operasional, pejabat yang berwenang dan pertanggungjawaban divisi yang menjadi agen penjual dan bank kustodian harus terpisahkan dengan jelas dan ada evaluasi secara berkesinambungan. Hal ini untuk menjaga agar tidak timbul conflict of interest.

Kesimpulannya, Investor tidak perlu terlalu khawatir bahwa persamaan atau perbedaan bank kustodian akan berpengaruh terhadap kinerja reksa dana. Suatu reksa dana harus memiliki Bank Kustodian namun boleh tidak memiliki Bank Agen Penjual karena tidak seluruh produk reksa dana dijual di Bank. Bukan berarti pula bahwa kinerja reksa dana yang tidak dijual di bank kurang baik, Bank Agen Penjual hanyalah salah satu dari saluran pemasaran reksa dana.

Semoga artikel ini bermanfaat.

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:
  1. Bambang Februamitto
    March 23rd, 2011 at 02:22 | #1

    Pak Rudi, telah dijelaskan tentang agen penjual & bank kustodian buat produk unit penyertaan reksadana ( khususnya rek. saham ). Apakah juga berlaku buat produk unit link ( asuransi jiwa )? Apakah unit link menyimpan dana nasabah di bank kustodian atau di lembaga asuransi itu sendiri ( yang menerbitkan produk unit link )?

  2. March 24th, 2011 at 01:57 | #2

    Yth Pak Bambang,

    Sepengetahuan saya dan hingga komentar ini saya kemukakan, belum ada aturan yang secara jelas mengatur tentang unit link. Pendapat saya,

    Pertama, karena belum ada aturan (atau ada tapi saya kurang tahu) Sehingga apakah Bank Kustodian menjadi suatu KEWAJIBAN, saya kurang terlalu jelas. Namun yang pasti, data unit link yang ditampilkan dalam koran adalah berasal dari Bank Kustodian. Jadi Unit Link juga memiliki Bank Kustodian meskipun saya tidak tahu apakah hal ini berlaku untuk SELURUH unit link.

    Kedua, produk asuransi sedikit lebih complicated karena menggabungkan unsur asuransi. Selain itu, produk asuransi sangat beraneka ragam. Terkadang bahkan, pembeli asuransi itu sendiri tidak tahu sebetulnya produk yang dibeli itu unit link atau bukan. Jadi jika tidak ada Bank Kustodian, jangan buru2 bilang bahwa unit link tersebut tidak baik, bisa saja yang dibeli tersebut bukan unit link. Tapi produk asuransi (Seperti yang sering ditawarkan ke saya akhir2 ini), dimana anda menyetorkan premi, kemudian jika tidak ada hal klaim yang terjadi, premi anda dikembalikan seluruhnya di tahun x (bisa 8, 10 tahun). Nah, officer yang menawarkan ke saya tersebut mengatakan sekalian ini investasi karena uangnya dikembalikan. Menurut saya, produk tersebut bukan unit link, namun karena saya tidak membelinya, saya tidak tahu apakah ada Bank Kustodiannya atau tidak.

    Ketiga, untuk mengetahui apakah ada Bank Kustodian atau tidak, anda bisa melakukan beberapa hal:
    * Lihat Fund Fact Sheet dari produk investasi yang menjadi link asuransi anda. Biasanya di dokumen tersebut disebutkan siapa Bank Kustodiannya
    * Tanyakan langsung kepada Agen Asuransi yang bersangkutan apakah ada atau tidak.

    Dalam investasi reksa dana, biasanya dana langsung ditransfer ke rekening atas nama Reksa dana di Bank Kustodian. Sementara kalau asuransi (mohon dikoreksi jika salah), dana ditransfer ke rekening perusahaan asuransi dulu baru kemudian ke Bank Kustodian. Kalau tebakan saya, mungkin buat dipotong biaya2 dulu seperti komisi agen, biaya asuransi, biaya lain2.

    Sekian pak, semoga bisa menjelaskan pertanyaan anda.

  3. Rudy Hart
    March 24th, 2011 at 07:46 | #3

    Pak Rudi,
    saya membeli sebuah reksa dana saham dengan Bank Asing (yang juga beroperasi di Indonesia) sebagai Bank Kustodiannya.
    Tetapi selama melakukan pembelian dan top up, saya selalu transfer ke rek. bank si reksa dana di bank nasional tanpa dikenakan biaya transfer dll.
    Dalam brosur, kedua rek. bank (asing dan nasional) tercantum.

    Apakah peranan bank nasional tersebut juga sebagai bank kustodian juga? (Seingat saya, di brosur, cuma ada satu bank kustodian)

    Mohon pencerahannya, Pak Rudi. Terima kasih

  4. March 24th, 2011 at 08:38 | #4

    @Rudy Hart
    Pak Rudy Hart,

    Untuk memudahkan investor, ada reksa dana yang menggunakan (istilah saya) Sub Kustodian. Artinya ada kustodian yang menjalankan fungsi utama sebagai bank kustodian, ada pula kustodian yang berfungsi sebagai bank yang mempermudah transaksi investor.

    Bank yang menjadi Sub Kustodian adalah bank yang biasanya memiliki basis nasabah yang besar seperti Bank BCA (misalnya). Sehingga dalam proses investasi, Investor reksa dana cukup transfer uang ke Sub Kustodian di BCA, kemudian Sub Kustodian di BCA akan melanjutkan dana tersebut ke Kustodian utama reksa dana sesuai dengan prospektus. Demikian pada saat redemption, dana bisa langsung ditransfer dari rekening reksa dana di BCA ke rekening investor di BCA juga.

    Dalam contoh ini, (misalnya) jika anda kebetulan juga menjadi nasabah di Bank BCA tentu saja proses transfer akan bebas biaya transfer dan dana akan sampai lebih cepat dibandingkan jika transaksi dilakukan antar bank yang berbeda.

    Memang saat ini, ada layanan bank asing yang membebaskan biaya transfer antara bank, namun layanan ini berlaku untuk nasabah individu. Saya tidak tahu apakah layanan tersebut juga berlaku untuk nasabah institusi seperti reksa dana. Dan jika tidak ada layanan bebas biaya transfer, maka biaya tersebut akan dibebankan ke Investor. Selain itu, dikhawatirkan juga akan ada jeda waktu antara dana dicairkan dan sampai di rekening nasabah karena transfer antara bank.

    Dengan menggunakan rekening pada Sub Kustodian pada bank yang dimiliki juga rekeningnya oleh banyak investor pada umumnya di Indonesia, biaya dan proses seperti ini bisa diefisiensikan.

    Yang paling penting dari penggunaan Sub Kustodian adalah Informasi tersebut disampaikan oleh Manajer Investasi dan Agen Penjual yang bersangkutan sehingga bukan rekening abal2 dan nama rekening tersebut haruslah sama dengan nama reksa dana yang menjadi tujuan investasi anda.

    Contoh penggunaan Sub Kustodian yang saya tahu adalah di Manulife dan Danareksa. Contoh : http://www.reksadana-manulife.com/Bahasa/Cara_Berinvestasi/Cara_Berinvestasi_All.htm
    Jika memang masih ada yang lain silakan sharing disini. Mudah2an bisa bermanfaat untuk pembaca yang lain.

    Demikian semoga bisa menjawab pertanyaan anda.

  5. Rudy Hart
    March 24th, 2011 at 10:22 | #5

    Pak Rudi,
    Terima kasih atas informasinya tentang (meminjam istilah Bapak) ‘Sub Kustodian’.

    Dengan adanya bank sub kustodian ini memang sangat membantu saya dalam berinvestasi, karena menghemat waktu dan biaya.
    Kebetulan saya juga memiliki rekening di Bank yang sama dengan bank Sub Kustodian si reksa dana.

    Sayang sekali hanya beberapa reksa dana yang memiliki rekening sub kustodian.
    Kalau lebih banyak reksa dana yang mengambil langkah demikian, tentunya akan semakin mempermudah (calon) nasabah reksa dana, yang pada akhirnya akan berimbas pada majunya reksa dana di Indonesia.

    Sekali lagi terima kasih Pak Rudi

  6. March 24th, 2011 at 11:42 | #6

    @Rudy Hart

    Sama-sama pak. Semoga sehat dan sukses selalu.

  7. Teguh
    March 25th, 2011 at 03:01 | #7

    seberapa besar tanggung jwb bank kustodian sbg pengelola dana.apakah jika krn suatu hal MI dilikuidasi/dibubarkan,bank kustodian juga ikut mengcover dana para investor reksadana??

  8. March 25th, 2011 at 04:16 | #8

    @Teguh
    Yth Pak Teguh,

    Bank kustodian dalam pandangan saya lebih sebagai Sekretaris dan Safekeeping. Artinya hanya administrasi dan penyimpanan aset. Jika MI dan atau reksa dana dibubarkan maka tugas si sekretaris hanya memberikan aset yang tersisa kepada investor sesuai kepemilikan Jumlah Unit Penyertaannya.

    Tidak seluruh reksa dana yang dibubarkan atau dilikuidasi itu berkonotasi negatif. Bisa saja karena Jumlah Dana Kelolaan di bawah ketentuan BAPEPAM-LK (Rp 25 M), perubahan manajemen, pertimbangan marketing (kinerja historis tidak bagus) sehingga tidak memiliki nilai jual, diperintahkan oleh BAPEPAM-Lk, atau alasan2 lainya. Untuk kasus di atas, tanggung jawab Bank Kustodian hanya terbatas pada administrasi dan transfer dana.

    Namun jika kondisi sebagai berikut yang terjadi:
    a. hilang atau rusaknya harta atau catatan mengenai harta dalam penitipan;
    b. keterlambatan dalam penyerahan harta keluar dari penitipan; atau
    c. kegagalan pemegang rekening menerima keuntungan berupa dividen, bunga, atau hak-hak lain atas harta dalam penitipan.

    Maka baru Bank Kustodian wajib memberikan ganti rugi. Informasi selengkapnya bisa anda dapatkan disini http://www.bapepam.go.id/pasar_modal/regulasi_pm/uu_pm/bab_VI.htm pasal 46.

    Semoga bermanfaat

  9. Teguh
    March 25th, 2011 at 05:02 | #9

    sedikit di luar tema pak.apa saja perbedaan antara reksadana syariah dgn yg umum. thaks a lot…

  10. March 25th, 2011 at 08:27 | #10

    @Teguh
    Kebetulan pak, saya lagi blank mau nulis tentang apa. Artikel minggu depan akan saya bahas sedikit tentang reksa dana syariah. Biar lebih jelas nantinya.

    Terima kasih.

  11. March 28th, 2011 at 08:43 | #11

    @Teguh

    Ternyata setelah saya cek, tulisan tentang reksa dana syariah ternyata sudah pernah saya bahas sebelumnya. Linknya bisa dilihat disini http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2010/10/21/reksa-dana-syariah-dan-non-syariah/

    Setelah membaca ini dan masih ada pertanyaan, silakan pak teguh tanyakanya kembali

  12. Sonny
    April 14th, 2011 at 12:28 | #12

    Salam kenal Pak Rudi,

    Ini baru pertama kali saya mengunjungi website ini dan saya sangat tertarik karena bapak selalu berusaha memberikan solusi2 yang baik. Saya tertarik untuk berinvestasi di reksa dana namun saya sangat “buta” sekali tentang reksa dana karena ini baru pertama kali. PErtanyaan saya, mana yang lebih baik membeli reksa dana melalui agen let say bank atau langsung ke manager investasinya (MI) karena kalau menggunakan agen yang saya dengar ada biaya pemotongan apabila ingin menjual dan menurut saya walaupun 0.5% atau 1& itu jumlah yang lumayan di banding langsung ke MI dimana tidak ada pemotongan. Saya juga tidak terlalu tau apa keuntungan dan kekurangan masing2. Terima kasih.

  13. April 15th, 2011 at 02:04 | #13

    @Sonny
    Yth Pak Sonny,

    Untuk soal biaya, dugaan anda tidak salah. Dalam praktek, membeli melalui Bank Agen Penjual lebih rentan dikenakan biaya dibandingkan jika membeli langsung melalui Manajer Investasi. Tapi hal ini juga sangat relatif tergantung kepada besarnya jumlah yang diinvestasikan.

    Jika jumlah dananya besar, beberapa fasilitas yang saya ketahui pernah disediakan kepada investor antara lain:
    1. Fee murah bahkan gratis
    2. Diundang ke berbagai acara seminar di hotel bintang lima atau outing keluar kota.
    3. Didaftarkan ke seminar investasi luar negeri seperti Hong Kong atau Singapore
    4. Saya juga pernah diundang dalam suatu acara dimana untuk penempatan dana hingga USD 1 juta dollar, anak dari investor tsb akan diberikan pendidikan gratis dan tinggal selama beberapa bulan di USA untuk belajar tentang investasi.

    Untuk fasilitas 1-2 kebanyakan saya tahu bisa didapatkan dengan berinvestasi melalui Bank Agen Penjual. Untuk fasilitas 1-4, khususnya 3-4 sepengetahuan saya ditawarkan oleh Manajer Investasi. Saya tidak tahu jelas apakah hal tersebut juga disediakan oleh Bank Agen Penjual. Mungkin saja juga ada fasilitas lainnya, yang bisa disharing dengan pembaca lain disini.

    Berapa definisi besar? Umumnya definisi besar adalah Rp 1 Milliar. Sementara tingkatan yang di atasnya lagi adalah USD 1 Juta, umumnya Rp 9 – 10 Milliar. Pada bank, jika sudah memiliki sejumlah dana tersebut maka sudah dikategorikan sebagai Private Banking (satu tingkat di atas Priority Banking, investor akan diberikan satu orang customer service yang hanya khusus menangani investor tersebut saja). Apakah masih ada tingkatan yang lebih tinggi lagi? seharusnya ada, tapi saya kurang tahu apa namanya. Orang bank yang umumnya lebih tahu dan memiliki definisi tersendiri. http://keuangan.kontan.co.id/v2/read/1302792982/64937/20-nasabah-Indonesia-perlu-priority-banking

    Kalau dari sisi update dan service informasi seperti harga hari ini, jumlah dana yang dimiliki dan lainnya, umumnya hal ini sangat tergantung kepada jumlah nasabah yang dilayani dan kemampuan back office dari Manajer Investasi atau Bank Agen Penjual yang bersangkutan. Tidak ada kepastian mana yang lebih baik. Hal ini hanya bisa anda ketahui dengan merasakan langsung bagaimana kenyamanan berinvestasi melalui institusi tersebut.

    Demikian semoga bermanfaat. Terima kasih

  14. May 12th, 2011 at 03:30 | #14

    Pak Rudi saya mau menanyakan, adakah Bank Kustodian yang bukan agen penjual jadi berperan murni sebagai bank kustodian saja

  15. May 12th, 2011 at 04:02 | #15

    @Deka
    Yth Pak Deka,

    Untuk itu anda bisa mengecek di sini.
    Daftar Bank Kustodian
    http://www.bapepam.go.id/reksadana/data.asp?page=bank-kustodian
    Daftar Bank Agen Penjual
    http://www.bapepam.go.id/reksadana/data.asp?page=aperd

    Semoga membantu

  16. Peter
    February 7th, 2012 at 19:45 | #16

    Pak Rudi Yth

    Saya tertarik belajar berinvestasi lewat reksadana, pertanyaan saya:
    1. Menurut Pak Rudi jenis reksadana apa yang cocok untuk pemula seperti saya?
    2. Berapa nilai uang paling minimal untuk awal investasi?
    3. Sebaiknya saya membeli reksadana di Bank Kustodian atau di Bank Agen penjual?

    Sekian pertanyaan saya, semoga Pak Rudi berkenan berbagi pengalamannya. Terima kasih.

  17. February 10th, 2012 at 08:21 | #17

    @Peter
    Salam Pak Peter,

    Apabila anda masih pemula, maka saran saya bapak baca dulu artikel dan komentar yang ada disini http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2010/11/04/sehat-dulu-investasi-kemudian/

    Setelah mantap baru anda putuskan mau investasi atau tidak. Terima kasih.

  18. Hermawan
    June 22nd, 2012 at 21:03 | #18

    Bpk. Rudi Yth.,
    Sudah sekitar 6 bulan ini saya berinvestasi di reksadana saham (pilihan terbaik saya) disalah satu perusahaan MI, melalui bank agen penjualan, sebut saja bank \X\. Karena dananya kecil, saya pilih fasilitas autoinvest, dengan setoran sebesar Rp. 200.000 ke bank \X\ tersebut, setiap tanggal 30 setiap bulan. Rencana investasi saya selama 5 tahun ke depan. Setiap bulan saya mendapat kiriman rekening koran sehingga saya tahu perkembangan investasi saya itu. Tapi, setiap kali setor autodebet tsb tercatat di buku tabungan kena biaya sekitar Rp. 4.000, kalau saya hitung sekitar 2%, yang menurut saya sih lumayan besar. Maksud hati ingin mendapatkan return yang maksimal, tapi kalau dikenakan biaya 2% tiap bulan, ya sama saja bohong, pikir saya.
    Yang saya tanyakan :
    1. Biaya sebesar 2% itu biaya untuk apa ya Pak?
    2. Menurut pengalaman Bapak, apa memang seperti itu kalau invest melalui bank agen penjualan?
    3. Apakah bisa saya langsung setor ke Bank Kustodian tiap bulan tanpa melalui bank agen penjualan?
    4. Apakah biaya pajak di reksadana Saham itu sudah dipotongkan dari keuntungan (return) tiap bulan yang saya dapatkan?
    5. Apakah nanti kalau saya menjual reksadana saya itu akan dikenakan biaya lagi? dan Berapa persen?
    6. Setahu Bapak, yang dimaksud sistem investasi autodebet itu apakah benar-benar melalui mesin automatis (debet sendiri) atau itu masih dilakukan oleh karyawan bank secara manual setiap bulan?

    Terimakasih sebelumnya…

  19. Hermawan
    June 23rd, 2012 at 11:10 | #19

    Selamat siang Bapak Rudi Yth.

    Sekitar 6 bulan lalu saya investasi di reksadana saham (pilihan terbaik saya) di salah satu perusahaan MI, melalui agen penjualan di bank swasta X. Investasinya saya memilih sistem autoinvest setiap bulan sebesar Rp. 200.000 dengan cara autodebet rekening tabungan saya di bank X tersebut setiap tanggal 30. Rencana investasi selama 5 tahun ke depan. Setiap bulan saya dikirimi rekening koran ke alamat rumah, sehingga saya tahu perkembangan investasi saya.
    Yang agak keberatan bagi saya, setiap bulan angsuran Rp. 200.000 tersebut, di buku tabungan saya tercetak potongan biaya sekitar Rp. 4.000, kalau saya hitung sekitar 2%, yang menurut saya biaya itu lumayan besar. Maksud hati ingin mendapatkan return investasi yang maksimal, kalau biayanya sebesar itu, ya sama saja bohong, akan habis termakan biaya-biaya, pikir saya.

    Yang saya tanyakan :

    1. Biaya 2% tersebut biaya untuk apa ya, Pak ?
    2. Apakah memang seperti itu aturannya jika membeli reksadana melalui bank agen?
    3. Apakah kelak waktu penjualan reksadana saya nanti juga kena biaya lagi ?
    4. Bisakah untuk transaksinya langsung ke bank Kustodian tanpa harus melalui bank agen ? Bagaimana caranya ?
    5. Seperti halnya pajak bunga deposito, apakah pajak investasi reksadana Saham yang dikenakan juga sudah dipotongkan langsung dari return keuntungan investasi tiap bulan ? Bagaimana cara penghitungannya ?
    6. Setahu Bapak, yang dimaksud dengan sistem autodebet tiap bulan itu artinya apakah mesin sudah disetting untuk mendebet sendiri/otomatis secara komputerisasi, atau masih dilakukan oleh karyawan bank secara manual tiap bulan ? Dan dilakukannya dari Bank Kustodian atau dari Bank Agen ?

    Mohon Penjelasannya. Terimakasih.

  20. Rudiyanto
    June 23rd, 2012 at 18:42 | #20

    @Hermawan
    Yth Hermawan,

    Terkait pertanyaan anda,
    1. Pernyataan anda kurang tepat, biaya Rp 4000 bukan 2%, sebab 2% itu karena dihitung dari nilai investasi anda. Jika nilai cicilan anda Rp 20 juta sekalipun, biayanya tetap Rp 4000 bukan? Perkiraan saya itu, adalah biaya transfer dari transaksi autodebet tersebut. Dengan catatan biaya masuk anda adalah 0%
    2. Yang namanya fee, aturannya saya pikir sama. Tinggal fee itu mau ditanggung oleh Manajer Investasi atau dibebankan ke nasabah. Kalau benar biaya tersebut adalah biaya transfer, maka dalam kasus kamu dibebankan kepada investor.
    3. Penjualan reksa dana mengikuti aturan redemption, tentu ada ketentuan seperti sampai berapa tahun tidak kena biaya dan seterusnya. Untuk itu, anda bisa membaca prospektus reksa dana yang bersangkutan. Dan kalau misalnya bank kustodian berbeda dengan bank rekening anda, kemungkinan anda bisa dikenakan biaya transfer antar bank. Itu saya alami di salah satu reksa dana yang saya miliki. Namun di reksa dana yang lain, meski berbeda bank, saya tidak dikenakan biaya tersebut. Jadi memang MI punya kebijakan yang berbeda-beda. Koreksi, setelah saya cek, di reksa dana yang tidak dikenakan biaya tersebut, ternyata memang kebetulan bank kustodian dan bank tempat saya membuka rekening sama. Jadi tidak dikenakan biaya transfer.
    4.Kalau itu harus ditanyakan ke Manajer Investasi reksa dana yang bersangkutan, apakah bisa dibeli langsung tanpa melalui agen penjual. Kalau Manajer Investasi asing, umumnya hal ini bisa dilakukan jika anda adalah investor institusi. (Dana Pensiun, Asuransi, Yayasan dan lain-lain). Jika perorangan, umumnya akan diarahkan ke Agen Penjual dalam hal ini bank.
    5. Silakan baca-baca di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/category/perpajakan-reksa-dana/
    6. Untuk ini sebenarnya sudah internal operation dari Manajer Investasi dan Bank Kustodian yang bersangkutan. Sebagai investor, rasanya informasi ini tidak terlau penting untuk diketahui. Sebetulnya anda juga bisa melakukan autodebet sendiri dengan mensetting transfer otomatis melalui internet banking anda. Bedanya dengan proses autodebet yang anda lakukan sekarang, bukti transfer tersebut harus anda sampaikan setiap kali transaksi. Sementara jika dilakukan autodebet melalui bank tempat anda berinvestasi, bukti transfer tersebut tidak perlu disampaikan lagi.

    Semoga bermanfaat.

Comment pages
1 2 3 394
  1. No trackbacks yet.


%d bloggers like this: