Home > Belajar Reksa Dana > Bank Kustodian dan Bank Agen Penjual Reksa Dana

Bank Kustodian dan Bank Agen Penjual Reksa Dana

Ketika kata “Bank” dikaitkan dengan “Reksa Dana”, maka yang pertama kali muncul di benak investor adalah Bank Agen Penjual dan Bank Kustodian. Apakah saja peran masing-masing Bank dalam proses investasi reksa dana. Dan apakah ada ketentuan bahwa kedua bank tersebut harus merupakan institusi yang sama atau berbeda?

Hingga tulisan ini ditulis, sepengetahuan saya belumĀ  ada ketentuan yang mengharuskan Bank Kustodian harus sama atau berbeda dengan Bank Agen Penjual.

Bank Kustodian adalah bank yang bertugas melakukan fungsi administrasi dan menjaga harta reksa dana, sementara Bank Agen Penjual yang bertugas menjual reksa dana. Kedua bank tersebut boleh beda boleh sama dan TIDAK memiliki Pengaruh secara langsung terhadap kinerja Reksa Dana. Keuntungan dari Reksa Dana dengan Bank Agen Penjual dan Bank Kustodi yang sama adalah nasabah bisa mendapatkan fasilitas bebas biaya transfer dan dana sampai pada hari yang sama karena memiliki rekening tabungan pada Bank Kustodian.

Umumnya reksa dana yang memiliki Bank Agen Penjual dan Bank Kustodian yang sama adalah Jenis Reksa Dana Terproteksi. Hal ini dikarenakan jenis reksa dana ini memiliki fitur pembagian dividen secara periodik. Bisa bulanan, 3 bulanan, atau 6 bulanan sesuai dengan obligasi yang menjadi portofolio investasinya. Apabila setiap kali pembayaran dividen, investor dikenakan biaya transfer tentu akan menjadi nilai minus. Selain itu, terdapat Reksa Dana Terproteksi yang dipasarkan secara eksklusif di bank tertentu tidak seperti reksa dana konvensional pada umumnya (saham, campuran, pendapatan tetap dan pasar uang). Hal ini juga menjadi pertimbangan Bank Agen Penjual dalam bekerja sama dengan Manajer Investasi. Tentunya Bank Agen Penjual akan lebih senang jika Bank Kustodian yang ditunjuk adalah bank yang sama karena memberikan bisnis tambahan bagi Bank tersebut. Namun, oleh karena tidak seluruh bank menyediakan jasa kustodian, hal ini tidak berlaku untuk semua reksa dana terproteksi.

Pada Bank Agen Penjual yang juga menjalani fungsi Bank Kustodian, dalam peraturan pasar modal juga diatur dan dikenal dengan prinsip Segregation of Duties. Artinya secara operasional, pejabat yang berwenang dan pertanggungjawaban divisi yang menjadi agen penjual dan bank kustodian harus terpisahkan dengan jelas dan ada evaluasi secara berkesinambungan. Hal ini untuk menjaga agar tidak timbul conflict of interest.

Kesimpulannya, Investor tidak perlu terlalu khawatir bahwa persamaan atau perbedaan bank kustodian akan berpengaruh terhadap kinerja reksa dana. Suatu reksa dana harus memiliki Bank Kustodian namun boleh tidak memiliki Bank Agen Penjual karena tidak seluruh produk reksa dana dijual di Bank. Bukan berarti pula bahwa kinerja reksa dana yang tidak dijual di bank kurang baik, Bank Agen Penjual hanyalah salah satu dari saluran pemasaran reksa dana.

Semoga artikel ini bermanfaat.

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:
  1. Eddy
    February 19th, 2016 at 15:55 | #1

    Selamat Sore Pak Rudi,

    Terkait dengan pembahasan diatas, saya ingin menanyakan mengenai safekeeping.
    Hal ini karena saya ditawarkan reksadana di salah satu custodian bank, dan mereka juga mengatakan mengenai keunggulan mereka dalam fitur safekeeping. Namun saya sendiri masih belum terlalu jelas, oleh karena itu saya ingin menanyakannya dengan Bapak.
    1. Apa sebenarnya yang dimaksudkan dengan safe keeping services (terutama hubungannya dengan reksadana)?
    2. Sebenarnya fungsi apakah yang dimaksudkan dengan safekeeping ini (terutama dalam custodian bank), sehingga membuat pihak bank menyebut sebagai salah satu fitur unggulannya?
    3. Apakah kelebihan safekeeping ini dibandingkan dengan tanpa adanya safekeeping ini?
    4. Apakah fitur safekeeping dalam custodian bank yang murni berbeda dengan custodian bank yang juga mempunyai sektor retail (kebetulan custodian bank yang menawarkan ke saya adalah custodian bank yang juga mempunyai sektor retail) ?
    5. Saya mencoba mencari informasi mengenai safekeeping melalui internet (sayangnya banyak dalam bahasa Inggris), ada juga istilah safekeeping receipt, apa yang dimaksud dengan safekeeping receipt?

    Sekian pertanyaan dari saya. Atas jawabannya, saya ucapkan terima kasih.

    Regards,
    Eddy

  2. Rudiyanto
    February 24th, 2016 at 10:23 | #2

    @Eddy
    Selamat Pagi Pak Eddy,

    Perlu saya koreksi bahwa yang menawarkan reksa dana itu sudah pasti bank agen penjual. Kalau bank agen penjual tersebut sama dengan bank kustodian, maka itu adalah kebetulan saja. Namun yang berhubungan dengan anda sudah pasti agen penjualnya.

    Jika suatu bank memiliki 2 fungsi yaitu sebagai agen penjual dan kustodian, maka kedua fungsi tersebut harus dipisahkan. Mulai dari karyawan yang menangani sampai dengan letak kantornya.

    Terkait pertanyaan anda :
    1. Fungsi dari safe keeping adalah sama seperti anda menyimpan harta anda di Safe Deposit Box. Dalam konteks reksa dana, dana masyarakat dan surat berharga disimpan di SDB di Bank Kustodian.

    2. Kalau itu sepertinya cuma bahasa pemasaran saja. Karena semua reksa dana itu pasti ada bank kustodiannya. Tapi kalau dalam konteks reksa dana dibandingkan dengan instrumen investasi yang lain, bank kustodian memang menjadi keunggulan karena aman dari risiko pencurian secara fisik dan kebangkrutan Manajer Investasi.

    Ibaratnya jika Manajer Investasi bangkrut, dana nasabah dan surat berharga masih aman karena disimpan di bank tersebut. Demikian pula jika Bank Kustodiannya bangkrut, maka namanya SDB, itu bukan aset bank. Tinggal diganti pengelolanya.

    3. Kalau tidak ada kustodian dan dana dititipkan ke perusahaan / perorangan seperti investasi bodong / penipuan yang banyak beredar belakangan ini (MMM, D4F, dan nama2 baru – pokoknya yang tidak terdaftar di OJK = Bodong), maka uang anda bisa dibawa kabur sama pemiliknya.

    4. Sudah dijelaskan di atas

    5. Wah kalau itu saya tidak mengerti. Silakan cari di sumber lain.

    Semoga bermanfaat

  3. Eddy
    February 29th, 2016 at 11:19 | #3

    @Rudiyanto

    Terima kasih banyak atas penjelasannya, Pak Rudi

  4. Citra Vanesa
    June 15th, 2016 at 06:51 | #4

    selamat pagi pak, maaf saya sangat tertarik untuk berinfestasi reksadana dan baru saja memulainya tapi ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan
    1. bila saya beli reksa dana di APRED, apakah harus dilayani oleh WAPRED dalam pembelian reksadana? bagaimana bila yang melayani saya adalah Customer Service Bank biasa, apakah reksadana saya tetap aman dan tidak bermasalah pak dikemudian hari?
    2. Apakah dalam pembelian reksadana kita dapat kita hanya dapat pelaporan pembelian lewat e-mail saja atau kita juga dapat buku perjanjian sepertihalnya polis asuransi?
    3. Untuk pembelian/top Up reksadana saya harus sebaiknya auto debet rekening sesuai tanggal yang kita tentukan atau secara manual tergantung NAB bila turun saatnya kita beli?
    4. bagaimana cara mengetahui suatu produk reksadana yang saya pilih aman dan tidak bermasalah (bodong seperti halnya kasus bank centuri).
    5. minimal dana kelolaan suatu produk reksadana dana adalah 25 Milyard dan dalam 90 hari berturut bila tidak tercapai produk tersebut harus dibukarkan, bagaimanakah dengan uang nasabah apakah tetap aman pak?
    6. Bagaimana bila Bank tempat saya membeli produk reksadana tutup ? apakah dana saya tetap aman ? dan bagaimana cara mencairkanya ?

    Terima kasih sebbelumnya

  5. Rudiyanto
    June 18th, 2016 at 23:25 | #5

    @Citra Vanesa
    Selamat malam Ibu Citra Vanesa,

    Sehubungan dengan pertanyaan anda :
    1. Idealnya memang semua tenaga pemasar punya WAPERD, tapi hal ini belum bisa diwujudkan. Biasanya bank mencoba menfasilitas dengan cara yang melayani customer service, yang tanda tangan pimpinan atau tenaga pemasar yang punya WAPERD. Yang penting beli produknya jangan yang bodong saja.

    2. Dulu masih dapat surat konfirmasi via surat fisik. Namun dalam pelaksanaannya suka bermasalah sehingga sekarang orang beralih ke email. Tergantung masing-masing tempat, jika anda lebih nyaman kertas bisa special request. Yang jelas, email tersebut bukan bukti kepemilikan, sekalipun hilang anda tetap bisa klaim ke bank karena tercatat di sistem.

    3. Definisi turun menurut anda itu itu turun dari berapa ke berapa, selama berapa hari dan turun seberapa dalam?

    4. Bisa cek ke http://www.ojk.go.id, bertanya ke CS OJK atau menelepon call center OJK

    5. Kalau dibubarkan, biasanya dikembalikan ke masing-masing orang sesuai unit kepemilikan pada harga pasar saat dibubarkan

    6. Bisa baca http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/02/02/060700526/Apakah.Reksa.Dana.Bisa.Bangkrut.?page=all

    Saran saya, untuk yang awam bisa ikut Sekolah Investor Reksa Dana APRDI di https://investoready-aprdi.org Bisa juga baca2 di https://reksadanauntukpemula.com atau berkonsultasi dengan agen penjual yang melayani anda.

    Semoga bermanfaat

  6. August 22nd, 2016 at 15:09 | #6

    terima kasih info tentang : Bank Kustodian dan Bank Agen Penjual Reksa Dana sangat bermanfaat.
    semoga website ini terus menyajikan info, berita, dan artikel yang menarik dan bermanfaat.

  7. eko elfarizy
    August 30th, 2016 at 13:18 | #7

    Salam Pak Rudi….

    Saya mau bertanya soal Bank Kustodian. Sepemahaman saya, bank kustodian itu selain menyimpan efek, surat berharga dll, mereka juga menyimpan dana investor, benar begitu pak ? Kalo begitu, apakah dana investor tsb juga ikut diputar oleh bank dalam bentuk kredit/pembiayaan ? Kalo iya, tentu saja ada resiko kredit macetnya ya.

    Kalo dana itu ga diputar/dana nganggur, apa bank kustodi ga rugi ya pak, nyimpen dana gede dia harus bayar bunga tapi imbal jasa atas bank kustodi nya kecil sekali ?

    Inti dari pertanyaan saya sebenarnya jika dana investor itu di putar dalam bentuk kredit td pak, khawatirnya kreditnya banyak yg macet, banyak investor yg redeem sehingga ada kemungkinan kesulitan likuiditas dr sisi bank kustodinya, krn kan bank kustodi juga harus melayani transaksi penarikan nasabahnya sendiri.

    Terima kasih penjelasannya pak Rudy…biar lebih manteb soal harta investor yg tidak tercampur dengan harta bank kustodi

  8. Rudiyanto
    August 31st, 2016 at 22:36 | #8

    @eko elfarizy
    Malam Pak Eko,

    Pertanyaan kritis yang bagus sekali. Perlu kita pahami bahwa ketika uang investasi reksa dana yang disimpan di bank kustodian itu berbeda dengan uang deposito masyarakat yang disimpan di bank.

    Ketika masyarakat menempatkan deposito pada bank, nilai deposito itu dicatat sebagai hutang bank. Makanya ada LPS yang menjamin seandainya bank tidak bayar dan bangkrut, akan diganti oleh LPS sesuai persyaratan. Uang tersebut selanjutnya diputar oleh bank dengan cara menyalurkan kredit.

    Ketika masyarakat berinvestasi pada reksa dana dan dananya disimpan di bank kustodian itu cara kerjanya sama seperti kita menyimpan emas di Safe Deposit Box (SDB) perbankan. Cara kerja SDB itu adalah penitipan dan tidak dicatat di neraca perusahaan alias off balance sheet.

    Kalau off balance sheet, artinya uang itu hanya dititipkan dan tidak bisa dimanfaatkan oleh bank untuk dijadikan kredit. Dengan demikian, kalau terjadi risiko kredit macet pada bank tersebut, tidak ada pengaruhnya terhadap reksa dana. Kecuali manajer investasi memerintahkan untuk melakukan penempatan deposito pada bank tersebut.

    Uang yang ada di kustodi kan tidak sepenuhnya uang, bisa jadi saham, obligasi, reksa dana atau instrumen keuangan lainnya. Buat dia tidak ada cost of fundnnya.

    Dengan logika di atas, maka tidak ada risiko kredit macet dari perbankan yang mempengaruhi likuiditas reksa dana. Mereka hanya “dititipkan” saja.

    Kalau yang bisa buat reksa dana tidak likuid adalah manajer investasi berinvestasi pada instrumen saham dan obligasi yang tidak likuid serta melakukan penempatan deposito pada bank yang terancam gagal bayar.

    Semoga bermanfaat

  9. bambang
    March 14th, 2017 at 15:34 | #9

    langsung saja ya Pak…..di antara semua bank yg bs trm RD, mana yg hasilnya paling bagus ? Trima kasih

  10. Deni Mulyoto
    March 17th, 2017 at 18:37 | #10

    Selamat siang pak Rudi,
    Saya terkadang masih bingung pak, misalnya ada Bank besar (X) yg mempunyai anak perusahaan MI (Y),dan memakain bank agen penjual yg sama, lalu banyak memakai bank asing untuk kustodian RD nya, tapi disisi lain ada MI yg lain malah memakai bank X tersebut untuk menjadi kustodiannya,
    Pertanyaan saya, kenapa mereka tidak memakai bank mereka sendiri menjadi kustodiannya? Tks. Semoga Pak Rudi selalu diberi kesehatan dan keberkahan hidup.

  11. Rudiyanto
    March 20th, 2017 at 02:34 | #11

    @Deni Mulyoto
    Salam Pak Deni,

    Terima kasih untuk doanya. Berkaitan dengan pertanyaan anda, perlu saya jelaskan bahwa peraturan OJK secara jelas melarang penggunaan bank kustodian yang memiliki hubungan afiliasi dengan manajer investasi kecuali hubungan afiliasi tersebut karena penyertaan modal pemerintah.

    Dalam bahasa yang sederhana, Panin Asset Management tidak boleh menggunakan Bank Panin sebagai bank kustodian karena milik swasta sementara Mandiri Manajemen Investasi boleh menggunakan Bank Mandiri sebagai bank kustodian karena milik pemerintah.

    Untuk agen penjual tidak ada ketentuan sehingga walaupun ada afiliasi tetap bisa menjadi agen penjual.

    Semoga bermanfaat

  12. Rudiyanto
    March 20th, 2017 at 02:51 | #12

    @bambang
    Silakan dicoba satu per satu. Urusan bagus atau tidak, semua orang bisa punya penilaian dan selera yang berbeda. Semoga bermanfaat

Comment pages
1 2 3 394
  1. No trackbacks yet.

 


%d bloggers like this: