Home > Belajar Reksa Dana, Riset Reksa Dana > Mengenal Benchmark Reksa Dana Yang Apple to Apple

Mengenal Benchmark Reksa Dana Yang Apple to Apple

Dalam menentukan baik atau tidak baiknya kinerja reksa dana, diperlukan suatu pembanding. Dengan adanya pembanding, kita dapat mengetahui tinggi rendahnya return dan risiko reksa dana. Reksa dana dikatakan memberikan return tinggi apabila returnnya di atas return pembanding. Sebaliknya reksa dana dikatakan berisiko rendah apabila risikonya lebih kecil dibandingkan risiko pembanding. Instrumen yang dianggap sebagai pembanding itulah disebut dengan Benchmark.

Benchmark sangat penting dalam menentukan kinerja suatu reksa dana, oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk bisa menentukan benchmark yang tepat. Benchmark yang tepat adalah benchmark yang apple to apple. Pemilihan benchmark yang tidak tepat, dapat mengaburkan penilaian terhadap kinerja suatu reksa dana sehingga keputusan investasi yang diambil juga menjadi tidak tepat. Salah satu contohnya adalah misalnya membandingkan kinerja reksa dana pendapatan tetap dengan Deposito.

Reksa dana pendapatan tetap adalah reksa dana yang berinvestasi pada instrumen berbasis pendapatan tetap lebih tepatnya obligasi. Deposito sendiri memiliki karakterisitik yang mirip dengan obligasi yaitu memberikan kupon secara tetap namun memiliki perbedaan terutama pada masa jatuh tempo, besaran kupon dan cara kerjanyanya. Masa jatuh tempo deposito biasanya di bawah 1 tahun, sementara masa jatuh tempo obligasi di atas 1 tahun. Dengan jatuh tempo yang lebih panjang, umumnya obligasi juga memberikan imbal hasil (kupon) yang lebih tinggi dibandingkan bunga deposito. Perbedaan utama ketiga adalah obligasi bisa ditransaksikan sedangkan deposito tidak, hal ini menyebabkan Obligasi memiliki “harga” yang bisa naik turun sementara nilai deposito selalu tetap.

Dengan adanya perbedaan di atas, maka perbandingan antara Reksa Dana Pendapatan Tetap dengan Deposito adalah perbandingan yang tidak apple to apple. Investor membutuhkan benchmark yang lebih spesifik agar bisa menilai kinerja reksa dana secara lebih objektif. Seperti apa benchmark reksa dana itu?

Benchmark Reksa Dana

Dalam menentukan Benchmark reksa dana, ada 2 cara yang dapat digunakan oleh investor.

Pertama, menggunakan Investment Universe dari instrumen yang menjadi portofolio reksa dana. Sebagai contoh, jika reksa dana berinvestasi pada saham-saham yang tergabung dalam kategori saham yang mengikuti prinsip syariah, maka bisa dipilih Jakarta Islamic Index (kumpulan 30 saham usaha perusahaan memenuhi prinsip syariah) sebagai Benchmark. Jika reksa dana berinvestasi pada saham-saham yang likuid maka dapat dipilih Index LQ-45 (Kumpulan 45 saham yang transaksinya paling likuid). Namun jika pilihan investasi sahamnya terlalu luas, maka bisa menggunakan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) yang merupakan cerminan kinerja seluruh saham yang ada di bursa. Selain indeks di atas, ada juga indeks lain yang dikembangkan baik oleh institusi pemerintah maupun swasta seperti : Indeks Kompas 100, Indeks Bisnis 27, Indeks Sri Kehati 25, dan Indeks PEFINDO 25.

Permasalahan dalam penggunaan investment universe di atas adalah jika penilaian kinerja dilakukan pada reksa dana yang berbasis obligasi. Sebab indeks yang mencerminkan kinerja obligasi masih belum terlalu dikenal di Indonesia. Untuk membantu investor, maka tim riset infovesta mengembangkan suatu indeks obligasi yang dapat digunakan oleh investor untuk membandingkan kinerja reksa dana berbasis pendapatan tetap. Ada 3 Indeks Obligasi yang dikembangkan infovesta yaitu :

  1. Infovesta Government Bond Index (IGBI) –> Mencerminkan pergerakan harga Obligasi Pemerintah berbasis Kupon Tetap
  2. Infovesta Corporate Bond Index (ICBI) –> Mencerminkan pergerakan harga Obligasi Korporasi berbasis Kupon Tetap
  3. Infovesta Syariah Bond Index (ISBI) –> Mencerminkan pergerakan harga Obligasi Korporasi Syariah berbasis Kupon Tetap (Ijarah)

Indeks Obligasi adalah Indeks yang dikembangkan oleh tim riset Infovesta untuk memberikan perbandingan yang lebih baik untuk reksa dana pendapatan tetap. Setiap perubahan dari Indeks Obligasi ini telah mencerminkan:

  • Bobot masing-masing obligasi sesuai dengan Nominal Jumlah beredar.
  • Perubahan Harga Obligasi
  • Accrued Interest Obligasi (kupon obligasi yang dihitung secara harian)
  • Reinvestasi accrued interest obligasi pada tingkat suku bunga sebesar YTM (Yield To Maturity) Obligasi

Manfaat dari Indeks ini adalah menjadi Benchmark dari Obligasi seperti halnya IHSG yang digunakan dalam perbandingan reksa dana saham. Kinerja dari ketiga Indeks adalah sebagai berikut:

Meski indeks ini dikembangkan, masalah tetap ada ketika kita ingin membandingkan kinerja reksa dana campuran yang terdiri dari kombinasi Obligasi dan Saham. Salah satu caranya adalah dengan membuat indeks tersendiri yang komposisinya sesuai dengan komposisi reksa dana campuran seperti 50% IHSG dan 50% Indeks Obligasi Pemerintah. Dalam istilah manajemen investasi, benchmark yang diperoleh dari Investment Universe ini disebut sebagai Market. Jika kinerja reksa dana lebih baik dari Benchmark ini maka disebut reksa dana Outperform dibandingkan market dan sebaliknya jika lebih buruk disebut Underperform dibandingkan market. Penggunaan market ini juga sering diaplikasikan dalam perhitungan CAPM (Capital Asset Pricing Model).

Kedua, yaitu membandingkan reksa dana dengan rata-rata reksa dana sejenis. Salah satu kendala yang dihadapi ketika menggunakan cara pertama di atas adalah tidak seluruh reksa dana mampu mengalahkan benchmarknya. Sebagai contoh pada tahun 2010, dari 65 reksa dana saham, hanya ada 5 reksa dana saham yang kinerjanya lebih baik dibandingkan dengan IHSG. Apakah hal ini berarti 60 reksa dana saham lainnya pasti jelek? Tidak juga. Secara historis, sangat sulit untuk menemukan reksa dana yang mampu mengalahkan kinerja secara konsisten setiap tahun. Meski demikian, reksa dana dianggap perform bila mempu menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan sesamanya. Untuk itulah tim riset di www.infovesta.com mengembangkan benchmark yang kedua yaitu Indeks Reksa Dana.

Hingga saat ini, ada 3 indeks reksa dana yang telah dikembangkan yaitu :

  1. Indeks Reksa Dana Saham –> yang merupakan rata-rata dari seluruh reksa dana saham
  2. Indeks Reksa Dana Pendapatan Tetap –> yang merupakan rata-rata dari seluruh reksa dana pendapatan tetap
  3. Indeks Reksa Dana Campuran –> yang merupakan rata-rata dari seluruh reksa dana campuran

Kinerja dari ketiga indeks adalah sebagai berikut:

Dengan adanya Indeks Reksa Dana, maka investor dapat menggunakan indeks ini untuk membandingkan apakah kinerja reksa dana telah lebih baik dibandingkan sesamanya atau tidak. Bisa saja reksa dana tidak mampu mengalahkan market, tapi jika reksa dana tersebut lebih baik dibandingkan dengan sesamanya, maka sebetulnya dari seluruh produk yang underperform, reksa dana tersebut yang kinerjanya paling bagus.

Sebagai informasi, Indeks Reksa Dana dan Indeks Obligasi dapat didownload di Homepage www.infovesta.com bagian bawah bagi rekan-rekan yang berniat menggunakan indikator ini untuk kepentingan penelitian atau perbandingan investasi. Demikian semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi anda.

  1. Hengky
    March 8th, 2011 at 03:53 | #1

    Pak Rudi, Saya mau tanya mengenai pengenaan PPN 10% pada transaksi reksadana (pembelian, penjualan, dan pengalihan), apakah hal tersebut benar?

    Hal ini terkait dengan surat yang saya terima dari bank saya yang mengacu pada Surat Edaran Kementerian Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jendral Pajak Nomor SE 121 /PJ/2010.

    Apakah semua reksadana dari penjual manapun akan terkena biaya PPN ini ?

  2. March 8th, 2011 at 12:09 | #2

    @Hengky
    Yth Pak Hengky,

    Yang dimaksud dengan PPN 10% itu adalah pengenaan terhadap BIAYA reksa dana, bukan transaksi reksa dana. Misalnya apabila ada transaksi Rp 100 juta dan biaya yang timbul sebesar 1% atau Rp 1 juta. Maka atas biaya Rp 1 juta tersebut dikenakan PPN 10% yaitu sebesar 10% x Rp 1 juta = Rp 100.000.

    PPN bukan dikenakan atas nilai transaksi yang sebesar Rp 100 juta tersebut.

    Dari surat edaran tersebut, tidak disebutkan bahwa pendapatan bank yang berasal dari kegiatan menjual reksa dana dibebaskan dari PPN oleh karena itu atas pendapatan (dari biaya reksa dana) tersebut dikenakan PPN. Jadi peraturan ini tidak mengatakan akan mengenakan pajak pada reksa dana akan tetapi mengatakan produk apa saja (terutama dari kegiatan perbankan) yang dibebaskan dari PPN dan sayangnya reksa dana tidak termasuk dalam daftar tersebut.

    Surat edaran ini ditujukan kepada BANK sebagai Agen penjual. Tidak secara spesifik kepada Manajer Investasi yang juga bisa bertindak sebagai agen penjual. Namun dari rekan saya yang bekerja di Asset Management (Manajer Investasi), saya diinformasi bahwa di tempat dia bekerja, memang sejak awal biaya pembelian telah dikenakan PPN sebesar 10%. Namun biaya itu diserap oleh Manajer Investasi. Jadi tidak ada biaya tambahan yang dibayarkan oleh investor. Hanya saja, saya tidak tahu apakah hal ini juga berlaku di seluruh Manajer Investasi.

    Keterangan selengkapnya juga bisa anda lihat disini
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/category/perpajakan-reksa-dana/

    Semoga bermanfaat.

  3. Hermawan
    March 11th, 2011 at 09:54 | #3

    Dear, Pak Rudi.

    Mengenai pengenaan pajak PPN 10% itu, berarti masuk ke biaya manajemen MI ya (biaya atas operasional pemutaran uang di MI)? Bukannya masuk ke beban biaya per subcript/redempt, dimana misalnya kita redempt 100 juta, biaya 1%, maka dikenai biaya 10 juta dan dari 10 juta itu dikenai lagi pemotongan 10%, jadi totalnya 11 juta?

    Kedua, saya pribadi mengamati gejolak ekonomi beberapa saat terakhir, dan merasa heran mengapa emas naik belakangan ini. Ternyata memang benar kondisi defisit AS dan pemulihan lambat yang membuatnya naik. Ditambah analisis dari Pak Omer, saya jadi merasa kuatir jika terjadi krisis finansial part 2 di tahun 2011 ini. Apalagi berdasarkan history, IHSG tiap 3 tahun pasti drop selama 12 tahun belakangan ini.

    Sebagai tambahan, saya memperkirakan pertengahan 2011 atau awal 2012 ini, bisa jadi terjadi krisis global ke 2. Boleh jadi IHSG akan turun pesat seperti 2008 silam. Karena pertandanya sekarang investor mulai keluar dari Indonesia, ketika inflasi Indonesia dinilai meningkat tempo hari silam, dan BI rate juga sudah naik. Yang menandakan Indonesia bukan lagi tempat amat untuk lindung nilai atas aset-aset investor besar.

    Dengan demikian, meski devisa Indonesia bernilai $96,2 miliar, sepertinya bisa jadi IHSG akan drop besar-besaran lagi di tahun ini. Rencana saya, begitu IHSG balik ke 3700, akan saya tarik aset saya di reksadana, kalau bisa sebelum 1 April 2011 ini kita dikenai PPN 10% ini.

    Pertanyaan saya, menurut Bapak apakah mungkinkah IHSG akan mencapai 3700 lagi di bulan Maret 2011 ini? Atau minimal mencapai 3600 di bulan ini, sebelum bulan April? Dan bagaimanakah prospek IHSG tahun ini, apakah masih cerah atau sudah amat berisiko?

    Terima kasih banyak.

  4. March 12th, 2011 at 06:51 | #4

    Yth Pak Hermawan,

    Mengenai biaya, PPN 10% itu dikategorikan sebagai biaya yang ditanggung oleh Investor. Jadi tidak ditanggung oleh Manajer Investasi ataupun reksa dana. Penjelasan mengenai biaya reksa dana kebetulan sudah saya persiapkan dalam artikel minggu 4 maret ini. Semoga saja tidak ada perubahan.

    Untuk pertanyaan bapak yang kedua, saya tidak tahu apakah IHSG bisa ke 3700 pada bulan maret ini. Kalau 3600 sepertinya kemarin sudah sempat menyentuh dan kemudian turun lagi. Untuk prospek IHSG, menurut saya saat ini konsentrasinya masih di pengendalian inflasi. Untuk lebih jelasnya juga saya cantumkan dalam artikel yang sebelumnya, disini http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/02/26/benang-merah-antara-makro-ekonomi-dan-investasi/

    Artikel ini juga dimuat di tabloid kontan dengan judul Bargain Hunting.

    Semoga cukup jelas. Atas perhatiannya saya mengucapkan banyak terima kasih.

  5. ratna
    October 6th, 2011 at 13:55 | #5

    Pak, infonya sangat berguna sekali, bagi sy investor pemula RD. Kebetulan sy lagi belajar metode evaluasi RD setelah 1 tahun apakah kinerjanya sesuai dengan tujuan investasi atau tidak.
    Sy sudah cb lihat grafiknya, tp utk membandingkan, kita juga butuh record NAB RD (misalnya : 1 th). Dimana data ini bisa diperoleh?
    Dan seandainya kita tidak punya data ini, apakah bisa hanya dengan membandingkan angka kinerja. Misalnya di grafik indeks RD saham menunjukkan -13.3% dan kita bandingkan dengan return RD yang bersangkutan selama 1 tahun juga.
    Apakah cara ini bisa dipakai?
    Terimakasih banyak atas penjelasannya

  6. October 6th, 2011 at 14:36 | #6

    @ratna
    Yth Ratna,

    Informasi tersebut bisa anda peroleh di koran, website manajer investasi atau media, atau di infovesta.com. Saya tidak begitu mengerti tentang riset atau metode yang anda pakai, tapi kalau membandingkan return antara rd saham dengan indeks saya rasa tidak ada masalah.

  7. Anggia
    March 18th, 2012 at 00:07 | #7

    Pak, saya sedang melakukan penulisan tesis mengenai sentimen investor yang diukur dari mutual fund flow (aliran dana reksa dana). Bisa kah bapak memberikan masukan berupa penjelasan mengenai mutual fund flow yang bisa menambah wawasan saya.
    Terima Kasih

  8. Rudiyanto
    March 18th, 2012 at 20:30 | #8

    @Anggia
    Salam Anggia,

    Menurut saya aliran dana reksa dana paling tepat jika diukur dari nilai subscription dan nilai redemption yang masuk. Sayangnya sejak tahun 2008, informasi ini sudah tidak dipublikasikan oleh BAPEPAM-LK. Salah satu cara alternatif lain yang mungkin bisa digunakan adalah menggunakan perubahan Unit Penyertaan. Sayangnya informasi ini hanya tersedia bulanan selain itu perubahan unit penyertaan tidak bisa mencerminkan dengan pasti berapa jumlah Rupiah yang keluar atau masuk, sehingga kecuali Bank Kustodian dan Manajer Investasi, tidak ada orang yang tahu dengan pasti berapa jumlah uang yang masuk dan keluar dari reksa dana setiap harinya.

    Semoga bermanfaat dan selamat mencoba. Jika sudah selesai, bisa juga di sharing dengan teman2 pembaca disini dalam bentuk artikel. Kalau hasil penelitian anda ternyata bisa memberikan nilai tambah bagi para pembaca, saya bisa bantu muat dalam blog ini.

  9. riza
    June 15th, 2012 at 21:45 | #9

    malam pa rudi..
    mengenai artikel index benchmark seperti dijelaskan pa rudi bahwa untuk membandingkan salah satu reksadana dengan indek yang sesuai agar sebanding, nah yang menjadi pertanyaan saya saat ini ketika saya menganalisis mengunakan rasio informasi: rata2 return reksadana – Rata2 return indek bencmark / sd (rata2 return reksadana-Rata2 return indek).
    saya bingung apakah hasil dari analisis saya benar karena hasilnya sekitar -846.8690 ini reksadana pendapatan tetap AAA Bond Fund 2 pada tahun 2009?
    terimaksih…

  10. Rudiyanto
    June 15th, 2012 at 23:25 | #10

    @riza
    Kalau boleh tahun, indeks acuan yang anda gunakan apa?

  11. riza
    June 16th, 2012 at 06:35 | #11

    indeks acuan yang saya dapat di website http://www.infovesta.com kodenya IRDPT, saya ambil rata2 1 tahun, 0.2515.
    terimakasih..

  12. Rudiyanto
    June 16th, 2012 at 09:43 | #12
  13. Rudiyanto
    June 16th, 2012 at 12:05 | #13

    @riza
    sebelumnya, apakah kamu sudah mengetahui definisi, fungsi dan hasil interprestasi dari information ratio? Jika sudah yakin tahu 100 persen, selanjutnya bisakah anda sebutkan rata2 return dan standar deviasi dari seluruh komponen yg disebutkan dalam perhitungan anda?

  14. riza
    June 16th, 2012 at 19:30 | #14

    maaf pa rudi, saya belum menegtahui sepenuhnya mengenai definisi, fungsi interpestasi dari information ratio..
    saat ini saya masih mencari tempat rujukan. terimakasih

  15. riza
    June 16th, 2012 at 19:36 | #15

    mungkin pa rudi bisa memberikan pencerahan. :-)
    terimakasih

  16. Rudiyanto
    June 16th, 2012 at 20:40 | #16

    @riza,
    kalau kamu memang membutuhkan pencerahan dari saya, maka coba kamu cari artikel, paper atau tulisan yang bisa membuat kamu memahami tentang information ratio tersebut baru kamu buat penelitiannya. Nanti kamu akan tercerahkan dengan sendirinya apabila menguasai topik tersebut dengan baik. Semoga bermanfaat.

  17. riza
    June 16th, 2012 at 21:41 | #17

    iya pa rudi..
    terimakasih sarannya.

  18. tulus
    December 15th, 2012 at 10:48 | #18

    pak rudi, saya membutuhkan data untuk penelitian saya, mengenai infovesta fixed income fund index, balanced fund index, dan equity fund index, dimana saya bisa mendapatkannya? karena di infovesta.com data yg tersedia hanya dari 3 tahun lalu, sedangkan saya memerlukan data tahun 2008-2009, mohon bantuannya pak..terima kasih.

  19. Rudiyanto
    December 15th, 2012 at 18:04 | #19

    @tulus
    Salam Tulus,

    Data yang anda butuhkan bisa diakses melalui versi infovesta yang berlangganan. Untuk detail lebih lanjut coba anda tanyakan langsung ke sana saja. Semoga bermanfaat.

  20. musdamang
    January 16th, 2013 at 08:50 | #20

    Yth. Pak Rudianto

    Salam sejahtera,
    Pak Rudi, berkaitan dengan penyusunan latar belakang masalah (skripsi) saya, saya membutuhkan referensi tentang kelayakan IRDPT, IRDSH, dan IRDCP dijadikan sebagai benchmark reksadana. Adakah buku/penelitian sebelumnya yang mengkaji tentang hal tersebut? Bila ada, Mohon bantuannya Pak…
    Terima Kasih

  21. Rudiyanto
    January 16th, 2013 at 16:44 | #21

    @musdamang
    Dear Musdamang,

    Boleh tahu, definisi “layak” itu apa ya?

  22. Musdamang
    January 22nd, 2013 at 23:30 | #22

    @Rudiyanto
    Yth Pak Rudiyanto

    Maaf sebelumnya, penelitian yang banyak dilakukan para akademisi selama ini banyak menggunakan IHSG sebagai benchmark untuk reksa dana saham, Suku bunga Obligasi untuk reksa dana pendapatan tetap, dan Rata-rata keduanya untuk reksa dana campuran.

    Yang menjadi pertanyaan saya adalah apakah sudah ada penelitian yang menjadikan IRDPT, IRDSH, dan IRDCP sebagai benchmark reksa dana? dan bila ada, tolong di share ya pak :)

    Satu lagi, terkait perhitungan return IRDPT, IRDSH, dan IRDCP itu seperti apa ya Pak? karena kalau kinerja pasar kan caranya KINP = “(IHSG1 – IHSGT1) / IHSGT1″
    dimana KINP adalah Kinerja pasar,
    IHSG1 adalah Kinerja Pasar akhir bulan,
    IHSGT1 adalah Kinerja pasar awal bulan(akhir bulan sebelumnya)

  23. Rudiyanto
    January 23rd, 2013 at 09:13 | #23

    @Musdamang
    Salam Musdamang,

    Bukankah riset dengan ketiga indeks di atas sudah pernah ada di blog ini?
    Bukankah beberapa publikasi dari blog ini juga merupakan hasil dari suatu penelitian?

    KINP atau istilah pasar menurut informasi dari anda itu baru pertama kali saya dengar. Tapi kalau rumus itu sudah tentu jelas yaitu rumus untuk menghitung return. Karena digunakan pada IHSG maka menjadi return pasar. Akan tetapi kalau digunakan pada saham atau reksa dana, maka menjadi return saham atau reksa dana.

    Semoga bermanfaat. Terima kasih.

  24. Musdamang
    January 25th, 2013 at 05:32 | #24

    Salam Pak Rudiyanto,

    Terima kasih atas bantuannya selama ini. tapi kalau boleh bertanya lagi nih pak.
    Bagaimana ya Pak caranya membuat grafik ketiga indeks IRDPT, IRDSH, dan IRDCP menyatu seperti yang Bapak muat di blog ini. Keren.
    Karena kalau di http://www.infovesta.com, grafik yang bisa dilihat cuman satu per satu. tidak bisa dibandingkan seperti yang Bapak lakukan.

    Terima Kasih Pak

  25. Rudiyanto
    January 25th, 2013 at 09:24 | #25

    @Musdamang
    Kalau untuk hal tersebut harus menggunakan versi yang berlangganan. Alternatifnya kamu bisa mengolah data tersebut di excel. Di coba saja.

    Semoga bermanfaat.

  26. Musdamang
    January 28th, 2013 at 04:33 | #26

    @Rudiyanto
    Salam Pak Rudiyanto,

    Jadi ga’ enak nih pak. hehe. bawaannya pengen nanya terus.
    Begini Pak, metode Sharpe, Treynor, dan Jensen itu kan biasanya digunakan untuk mengukur kinerja reksa dana bila benchmark-nya adalah kinerja pasar.
    Kalau benchmark-nya IRDPT, IRDSH, dan IRDCP, apakah metode Sharpe, Treynor, dan Jensen bisa digunakan? ataukah rumusnya perlu dimodifikasi? misalnya dalam kasus untuk mencari beta portofolio itu kan ditentukan oleh kovarians dan varians dari portofolio pasar, apakah boleh kita menggunakan kovarians dan varians dari portofolio benchmark (IRDPT,IRDSH,IRDCP)? Mohon dengan sangat bantuannya Pak.

    Akhir kata, saya ucapkan banyak terima kasih dan saya tentunya turut mendoakan agar kesuksesan selalu menyertai Bapak.

  27. Rudiyanto
    January 28th, 2013 at 10:20 | #27

    @Musdamang
    Kalau hal ini tergantung berdasarkan apa anda mendefinisikan “Pasar” itu. Dan apakah selanjutnya Definisi “Pasar” anda diterima oleh penguji.

  28. jamal
    January 25th, 2014 at 13:26 | #28

    siang pak.
    untuk menentukan suatu reksa dana outperform/underperform maka dibandingkan dgn bechmarknya.
    saya menghitung kinerja menggunakan metode sharpe.
    untuk reksa dana pendapatan tetap konvensional (RDPTK) saya menggunakan benchmark indeks obligasi dari infovesta.

    yg mau saya tanyakan:
    1. apa yg dibandingkan dgn indeks obligasi tersebut? apakah hasil perhitungan kinerja RDPTK dgn metode sharpe? atau hanya return dari RDPTKnya?
    2. jika membandingkan dalam data tahunan, apakah indeksnya juga di”setahunkan” dulu pak?

  29. Rudiyanto
    January 25th, 2014 at 23:04 | #29

    @jamal
    Salam Jamal,

    Boleh lebih diperjelas pertanyaan anda:
    1. Bukankah sudah jelas kamu menghitung kinerja berdasarkan metode sharpe? mengapa kembali menggunakan return lagi? kalau pakai return mengapa harus dihitung sharpe rationya?
    2. Yang disetahunkan apanya ya?

  30. jamal
    January 26th, 2014 at 11:48 | #30

    @Rudiyanto
    mungkin maksudnya seperti ini pak
    1. saya ingin membandingkan kinerja reksa dana yg sdh dihitung dengan metode sharpe. apakah benchmarknya, harus dihitung dulu kinerjanya dengan metode sharpe. setelah itu baru dibandingkan?
    2. data indeks yang tersedia di infovesta kan berupa harian pak. sedangkan saya menghitung kinerja reksa dana dalam “tahunan”. apakah indeks tadi dihitung dulu kinerjanya dalam “tahunan” menggunakan sharpe?

  31. Rudiyanto
    January 27th, 2014 at 00:51 | #31

    @jamal
    Terkait pertanyaan anda:
    1. Tujuan kamu itu membandingkan kinerja antar reksa dana atau reksa dana dengan benchmark?
    2. Kalau membandingkan, berarti yang dibandingkan harus setara. Kamu tidak bisa membandingkan data harian dengan tahunan. Yang saya masih kurang mengerti itu adalah data indeks obligasi dan harga reksa dana kan sama2 harian?

    Saran saya kamu bisa baca2 tentang http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/05/16/mengenal-metode-evaluasi-kinerja-reksa-dana/

    Semoga bermanfaat.

  32. helmi
    January 27th, 2014 at 22:38 | #32

    @Rudiyanto

    selamat malam pak

    1. saya ingin membandingkan reksa dana dengan benchmark. apa benchmarknya juga harus dihitung dulu kinerjanya dgn menggunakan sharpe?

    2. yang saya maksud bukan harga reksa dana pak, saya menghitung kinerja menggunakan data NAB per bulan dari aria.bapepam.go.id/reksadana. itu kan per bulan pak. setelah itu saya hitung dgn sharpe, hasilnya saya jadikan kinerja per tahun.
    indeks obligasi dari infovesta datanya harian, apa itu dijadikan data bulanan dulu? (agar sama seperti data NAB reksa dana)
    kalau iya, bagaimana cara menjadikan data bulanannya? apakah rata-rata indeks selama 1 bulan (hasilnya menjadi indeks bulan yg bersangkutan.)

    maaf kalau penjelasannya berbelit-belit.

  33. Rudiyanto
    January 28th, 2014 at 01:12 | #33

    @helmi
    Malam juga Helmi,

    Terkait pertanyaan anda:
    1. Kalau tidak dihitung Sharpe mau kamu bandingkan apanya ya?
    2. NAB per bulan itu jatuh pada tanggal tertentu bukan? mengapa kamu tidak mengambil indeks di tanggal yang sama? Kemudian NAB itu Jumlah Dana Kelolaan bukan, bagaimana kamu bisa mengukur Sharpe Ratio dari Jumlah Dana Kelolaan? Seharusnya dihitung dari Harga atau NAB/Up.

    Semoga bermafnaat.

  34. helmi
    January 28th, 2014 at 07:17 | #34

    @Rudiyanto

    selamat pagi pak
    1. masalah terselesaikan (terima kasih pak)

    2. iya pak, maksud saya NAB/UP. hehehe
    untuk informasi NAB jatuh pada tanggal tertentu saya belum bisa mendapatkan informasi tersebut pak pada aria.bapepam.go.id/reksadana. karena hal tersebut, bisakah saya merata-ratakan indeks obligasi harian hingga menjadi data bulanan untuk mendapatkan nilai bulanannya?

  35. Rudiyanto
    January 28th, 2014 at 12:10 | #35

    @helmi
    Kalau data dana kelolaan di website tersebut selalu akhir bulan. Sampai saat ini saya belum menemukan teori yang bilang boleh bahwa rata-rata indeks harian selama 1 bulan sama dengan nilai bulanannya. Kalau kamu bisa menjustifikasi hal tersebut saya pikir tidak apa2.

  36. helmi
    January 28th, 2014 at 22:49 | #36

    @Rudiyanto
    baik pak, terimakasih banyak atas penjelasannya

  37. Anton
    August 6th, 2014 at 14:53 | #37

    Saya Mau daftar untuk anak saya umur satu tahun, gimana caranya?

  38. Rudiyanto
    August 7th, 2014 at 18:05 | #38

    @Anton
    Yth Pak Anton,

    Mohon maaf sebelumnya karena berdasarkan peraturan yang saya tahu, anak yang belum memiliki KTP tidak boleh menjadi investor reksa dana. Tapi sebagai gantinya anda bisa membuat rekening OR, dengan keterangan Orang Tua OR Anak. Untuk detailnya anda bisa menghubungi Manajer Investasi atau Agen Penjual terpercaya.

    Semoga bermanfaat.

  39. rizki sakinah
    June 25th, 2015 at 15:00 | #39

    salam pak rudy, saya masih baru mengenal dunia investasi, yang saya tanyakan jika IHSG dijadikan acuan untuk mengukur kinerja reksa dana saham, apakah LQ45 juga dibutuhkan? atau hanya salah satunya saja?

    terimakasih pak,

  40. Rudiyanto
    July 5th, 2015 at 23:26 | #40

    @rizki sakinah
    Salam Pak Rizki,

    IHSG adalah kumpulan dari seluruh saham di Indonesia sementara LQ-45 adalah 45 saham yang paling likuid saja. Tergantung dari investornya, bisa menggunakan salah satu atau keduanya. Sepengetahuan saya, dalam jangka panjang LQ-45 masih kalah dengan IHSG. Jadi menggunakan IHSG sudah cukup, tapi banyak Manajer Investasi yang menambahkannya sebagai referensi saja.

    Semoga bermanfaat.

  41. Rizki Sakinah
    July 7th, 2015 at 10:45 | #41

    salam pak rudi,
    terimakasih atas jawabannya yang bermanfaat. yang saya mau tanyakan lagi, jika IHSG saya gunakan untuk pengukuran return pasar atas reksadana saham konvensional, maka untuk reksadana saham syariah menggunakan data apa ya pak untuk pengukurannya??

    terimakasih pak,

  42. Rudiyanto
    July 9th, 2015 at 13:53 | #42

    @Rizki Sakinah
    Selamat SIang Ibu Rizki,

    Untuk reksa dana saham syariah anda bisa gunakan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) atau Jakarta Islamic Index (JII)

    Semoga bermanfaat.

  43. Ema Rosdiana
    April 26th, 2016 at 11:30 | #43

    selamat siang pak,
    saya mau bertanya, adakah pendapat ahli yang mendukung tentang benchmark tersebut. Bolehkah saya tahu referensinya?
    terimakasih

  44. Rudiyanto
    April 27th, 2016 at 15:28 | #44

    @Ema Rosdiana
    Selamat Sore Ibu Ema,

    Kalau ahli saya juga kurang tahu, mungkin bisa dicari di Google.

    Semoga bermanfaat

  45. Nick
    April 28th, 2017 at 12:47 | #45

    Selamat Siang Pak Rudi
    Dalam menghitung atribusi suatu portofolio reksadana saham, besaran alpha, selisih positif kinerja return dibandingkan kinerja benchmark. sebaiknya:
    1. Pembobotan Sektor (Efek Alokasi), Pemilihan Saham (Efek Seleksi) dan Efek Interaksi di Sektor Saham
    2. Pemilihan Saham (Efek Alokasi), Pembobotan Sektor (Efek Seleksi) dan Efek Interaksi di Sektor Saham
    3. Pembobotan Sektor (Efek Alokasi), Pemilihan Saham (Efek Seleksi)
    4. Pemilihan Saham (Efek Alokasi), Pembobotan Sektor (Efek Seleksi)

    Terima kasih sebelumnya

    • Rudiyanto
      April 28th, 2017 at 12:50 | #46

      Selamat siang pak Nick,

      Yang ditanyakan apa?

  46. nadia
    April 29th, 2017 at 23:02 | #47

    Selamat Malam Pak Rudiyanto…

    Benchmark yang dipakai untuk evaluasi kinerja reksa dana syariah dg Sharpe Ratio sebenarnya apa ya pak?

    sy membaca di beberapa artikel ada yg IHSG, Jakarta ISlamic Index, Sertifikat Bank Indonesia…

    mohon jawaban dan penjelasannya.
    terima kasih

  47. Rudiyanto
    May 3rd, 2017 at 09:20 | #48

    @nadia
    Selamat Pagi Ibu Nadia,

    Kalau reksa dana syariah, maka sebaiknya menggunakan benchmark atau pembanding yang berkaitan dengan syariah juga. Ada Indeks Saham Syariah Indonesia, Jakarta Islamic Index, Sertifikat Wadiah Bank Indonesia, Indeks Obligasi Syariah dan sebagainya.

    Semoga bermanfaat

  1. August 21st, 2011 at 15:48 | #1

 


%d bloggers like this: