Home > Belajar Reksa Dana, Perpajakan Reksa Dana > Apakah Reksa Dana Bisa Jatuh Tempo?

Apakah Reksa Dana Bisa Jatuh Tempo?

Salah satu perbedaan utama antara Obligasi dan Saham adalah Obligasi memiliki masa jatuh tempo sementara saham tidak. Dengan memiliki masa jatuh tempo, artinya suatu saat instrumen tersebut bisa expired dan pada masa itu seluruh pokok investasi harus dikembalikan ke investor. Sementara reksa dana lebih unik, instrumen ini merupakan wadah investasi yang bisa diisi dengan saham dan obligasi. Apakah reksa dana bisa expired? Jika tidak bisa, mengapa pula ada reksa dana yang suka berganti nama atau melanjutkan ke seri yang lebih panjang? Bagaimana pula dengan reksa dana terproteksi?

Reksa Dana berganti nama setelah 5 tahun disebabkan karena fasilitas bebas pajak atas kupon dan capital gain obligasi hanya berlaku untuk 5 tahun pertama setelah penerbitannya. Setelah 5 tahun, fasilitas bebas pajak tersebut akan dihapus dan dikenakan pajak seperti biasanya. Hal itu, menyebabkan para Manajer Investasi memindahkan portofolio investasi ke reksa dana lanjutannya atau disebut “berganti nama”. Contoh :

Jadi sebetulnya reksa dana tidak memiliki jatuh tempo, hanya saja dibuat reksa dana lanjutan atau ada pergantian nama karena dengan demikian investor tetap memperoleh fasilitas bebas pajak atas kupon dan capital gain obligasi. Hal ini menyebabkan hanya pada jenis reksa dana pendapatan tetap yang dijumpai kasus pergantian nama. Tidak menjadi jaminan pula bahwa reksa dana pendapatan tetap yang berganti nama akan memiliki kinerja seperti reksa dana sebelumnya karena isinya belum tentu sama. Kinerja reksa dana bisa lebih baik atau tidak sangat tergantung kepada instrumen pilihan dan kondisi yang harga pasar dari instrumen tersebut yang berlaku.

Peraturan terbaru tentang perpajakan reksa dana secara bertahap akan menghapuskan fasilitas bebas pajak pada reksa dana dengan ketentuan sebagai berikut: Pengenaan pajak sebesar 5% dari tahun 2011 – 2013 dan pajak sebesar 15% pada tahun 2014. (Sebagai catatan, pajak atas obligasi adalah sebesar 15%, berbeda dengan deposito yang sebesar 20%). Dengan berlakunya peraturan di atas, maka diperkirakan pada tahun 2014 sudah tidak ada lagi reksa dana yang berganti nama karena manfaat penghematan pajak sudah tidak diperoleh.

Sementara itu, untuk jenis reksa dana terproteksi, sebetulnya juga tidak ada jatuh tempo. Yang ada adalah reksa dana tersebut dibubarkan seiring dengan periode jatuh tempo instrumen obligasi yang terdapat dalam reksa dana tersebut. Sebagai informasi, reksa dana terproteksi merupakan reksa dana dengan strategi investasi pasif. Artinya reksa dana tidak secara aktif melakukan jual beli namun secara buy and hold membeli instrumen tertentu yang umumnya obligasi. Obligasi tersebut akan dipegang hingga jatuh tempo. Pada saat obligasi jatuh tempo, dan seluruh hasil pembayaran diberikan kepada pemegang obligasi, maka reksa dana tersebut juga dibubarkan.

Alasan kenapa ada demikian banyak seri reksa dana terproteksi (terkadang ada seri hingga 30 – 40) lebih kepada alasan pemasaran. Misalnya seri 1 – 10 merupakan reksa dana terproteksi yang dibuat hasil kerja sama antara Manajer Investasi dengan Bank A, sementara seri 11- 20 adalah hasil kerja sama dengan Bank B. Selain itu, pemberian seri juga memudahkan investor, misalnya seri 11 jatuh tempo 1,5 tahun lagi, sementara seri 12 jatuh tempo 3 tahun lagi.

Seri tersebut akan terus menerus bertambah nomornya sehingga memberikan kesan baru bagi investor, alternatif lain, nomor seri dimulai dari 1 tapi nama reksa dana terproteksinya diubah. Kontribusi jenis reksa dana ini terhadap total jumlah dana kelolaan Manajer Investasi masih sangat dominan, namun dari sisi pendapatan, nilainya relatif kecil karena jenis reksa dana ini mengenakan biaya management fee yang jauh lebih kecil dibandingkan jenis reksa dana lain.

Berbeda dengan reksa dana jenis non terproteksi yang diperkirakan tidak akan berubah nama setelah pemberlakukan peraturan pajak pada 2014, reksa dana terproteksi masih akan tetap memiliki seri-seri yang berbeda-beda. Demikian, semoga artikel ini bermanfaat bagi anda.

Penyebutan produk investasi di atas (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis.

“Melakukan copy & paste artikel berita ini dan atau mendistribusikan ulang melalui situs atau blog Anda tanpa izin tertulis adalah melanggar Hak Cipta / Copyright ©”

  1. eko
    February 17th, 2011 at 03:27 | #1

    Pak Rudy, kalu deposito biasanya pada saat laporan SPT tahunan saya laporkan sebagai Penghasilan yang di kenakan PPh Final, sedangkan kalau Reksa Dana di tahun 2011 dikenakan pajak 5% apakah ini bisa di laporkan sebagai penghasilan yang di kenakan PPh Final seperti bunga deposito?
    akan tetapi gain Reksadana kan tidak selalu positif, lalu bagai mana cara cara pelaporannya pada SPT tahunan… kalau bisa dibahas lebih lanjut pak rudy….
    GBU…..eko….

    • February 18th, 2011 at 04:01 | #2

      Yth Pak Eko,

      Untuk penjelasannya secara sederhana bisa begini. Ada 3 Pihak secara umum yang terlibat dalam reksa dana.
      1. Bank Kustodian dan Manajer Investasi (Sebagai Pihak Pengelola dan Pihak Administrasi)
      2. Investor (Sebagai Pihak yang menyetorkan dana untuk dikelola)
      3. Reksa Dana (Sebagai Wadah setoran uang dari investor dikelola oleh Manajer Investasi).

      Jika Manajer Investasi dan Bank Kustodian mendapat penghasilan, maka penghasilan mereka dari Management Fee dan Custodian Fee akan dikenakan pajak Pph Badan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

      Jika investor mendapat penghasilan misalnya dari gaji, Tunjangan, komisi, atau penghasilan lainnya sesuai ketentuan pajak maka dikenakan Pph Pribadi sesuai ketentuan yang berlaku.

      Nah, Reksa Dana sebagai wadah dalam pengelolaan dana juga dianggap sebagai suatu badan tersendiri. Jadi jika reksa dana berinvestasi pada saham, maka setiap kali transaksi jual beli saham dikenakan pajak atas pembelian dan penjualan sama halnya seperti investor. Jika reksa dana berinvestasi pada deposito, maka hasil bunga deposito dikenakan pajak 20% sama halnya juga dengan investor yang berinvestasi sendiri. Reksa dana juga membayar pajak penghasilan dimana keterangan tersebut bisa dilihat dalam laporan keuangan reksa dana yang dicantumkan dalam prospektus pembaharuan.

      Nah, Pajak 5% yang bapak sebutkan itu adalah pajak yang dikenakan kepada “Reksa Dana” bukan kepada investor. Dan hingga saat ini reksa dana bukan objek pajak, maka sebetulnya tidak perlu dilaporkan dalam SPT PPh sebagai penghasilan. Selain itu, pajak 5% dikenakan atas Kupon (bunga) dan Capital Gain dari Obligasi ketika suatu reksa dana dikelola. Jadi meskipun kinerja reksa dana negatif, tapi dalam pengelolaannya, reksa dana membeli obligasi dan mendapatkan kupon (misalnya) maka 5% dari kupon yang diterima harus dibayarkan pajaknya kepada pemerintah). Tapi sekali lagi, pajak ini dibayarkan oleh Reksa Dana dan bukan oleh investor.

      Semoga cukup jelas pak. Jika ada yang kurang silakan ditanyakan kembali atau bisa dilihat pada artikel terdahulu di sini http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/category/perpajakan-reksa-dana/

      Thanks

  2. joe naini
    February 22nd, 2011 at 10:06 | #3

    joe naini :
    apakah account reksadana bisa digunakan sebagai persyaratan laporan keuangan untuk membuat visa? terima kasih

    • February 23rd, 2011 at 04:09 | #4

      Yth Joe Naini,

      Untuk informasi ini saya juga kurang terlalu jelas. Ada baiknya ditanyakan dengan pihak yang langsung berwenang.

  3. rima
    March 5th, 2014 at 16:56 | #5

    klo reksa dana saham atau pasar uang dan campuran ada masa jatuh temponya tidak alias gampangnya time limitnya. trims

  4. Rudiyanto
    March 5th, 2014 at 17:08 | #6

    @rima
    Tidak ada.

    Terima kasih.

  1. No trackbacks yet.

 


%d bloggers like this: