Home > Riset Reksa Dana > (Jenis) Reksa Dana Pilihan Investor 2010

(Jenis) Reksa Dana Pilihan Investor 2010

Berikut adalah arsip artikel yang sudah dipublikasikan di mingguan kontan yang ditulis bersama rekan tim riset di www.infovesta.com bapak Edbert A. Suryajaya.

Apa jenis reksa dana favorit anda? Apakah reksa dana saham, campuran, pendapatan tetap, terproteksi atau reksa dana indeks? Dalam artikel kali ini kami akan membahas apa yang menjadi pilihan para investor untuk tahun 2010 ini.

Dalam melihat apakah suatu reksa dana menjadi pilihan para investor, umumnya orang akan menggunakan Asset Under Management (AUM / Jumlah Dana Kelolaan) sebagai indikator. Logikanya semakin banyak jumlah dana kelolaan reksa dana ini, berarti semakin banyak pula investor yang berinvestasi pada reksa dana tersebut.

Penggunaan indikator tersebut tidak salah, tapi juga tidak sepenuhnya tepat. Sebab kenaikan harga saham dan obligasi juga dapat menyebabkan kenaikan pada AUM walaupun jumlah investasi investor tetap sama. Untuk itu, masih ada satu indikator lainnya yaitu Jumlah Unit Penyertaannya (UP).

Pada saat investor berinvestasi pada reksa dana, maka Manajer Investasi akan menerbitkan sejumlah unit penyertaan. Semakin banyak investor yang berinvestasi, maka semakin banyak pula Unit Penyertaan yang diterbitkan. Sebaliknya, ketika investor menjual investasi reksa dananya, maka Manajer Investasi akan membeli Unit Penyertaan dari investor. Aktivitas ini akan menyebabkan Unit Penyertaan yang ada semakin berkurang.

Aspek kenaikan harga saham dan obligasi tidak mempengaruhi jumlah unit penyertaan. Hanya saja tetap ada kelemahan dari penggunaan jumlah unit penyertaan sebagai indikator. Sebagai ilustrasi jika investor berinvestasi masing-masing 100 juta pada reksa dana saham yang harganya Rp 10.000 dan reksa dana pendapatan tetap yang harganya Rp 1.000, maka dari sisi Unit Penyertaan, akan terlihat seolah-olah reksa dana pendapatan tetap yang lebih diminati karena pertambahan jumlah unit yang lebih besar, padahal sebetulnya sama saja. Kelemahan yang kedua adalah jenis reksa dana pasar uang yang harganya selalu Rp 1000. Pendapatan dalam bentuk dividen, kupon, bunga deposito atau kenaikan harga akan dikonversikan ke dalam unit sehingga menambah jumlah unit penyertaan.

Oleh karena itu, dalam menentukan pilihan investor kami menggunakan 2 indikator sekaligus. Berdasarkan data per akhir Oktober 2010, sebagai berikut:

Sumber: BAPEPAM-LK dan Infovesta.com, diolah

Reksa Dana Saham

Per Oktober 2010, jenis reksa dana saham merupakan reksa dana dengan dana kelolaan terbesar yang mencapai Rp 43 triliun atau tumbuh 10% dari posisi akhir tahun 2009 yang sebesar Rp 39,7 triliun. Tahun ini pun jenis reksa dana ini mendapat angin segar karena pertumbuhan IHSG yang mencapai lebih dari 43%. Tapi jika melihat data Jumlah Unit Penyertaan, ternyata turun dari 11,79 juta menjadi 10,17 juta unit.

Angka di atas mengindikasikan bahwa meski jumlah dana kelolaan bertambah ternyata tidak diikuti dengan pertambahan jumlah investor. Oleh karena itu besar kemungkinan kenaikan jumlah dana kelolaan lebih ditopang karena kenaikan harga saham secara umum. Dari sisi psikologis investor, kami melihat bahwa momen kenaikan ini digunakan sebagian investor sebagai peluang untuk melakukan profit taking.

Reksa Dana Pasar Uang

Karena fiturnya yang unik, maka agak sulit untuk menjelaskan apakah kenaikan jumlah dana kelolaan lebih disebabkan karena investor atau kenaikan aset. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan melihat persentase returnnya. Dengan asumsi kenaikan unit karena kupon dan bunga deposito adalah sekitar 6% – 7%, maka diperkirakan sekitar 35%nya merupakan dana tambahan baru. Angka ini terhitung cukup lumayan meski secara angka absolut, AUM sebesar RP 7 triliun masih relatif kecil.

Reksa Dana Pendapatan Tetap

Dari sisi persentase pertumbuhan Jumlah Dana Kelolaan dan Jumlah Unit Penyertaan, bisa dibilang bahwa jenis reksa dana ini merupakan salah satu favorit pilihan investor 2010. Kombinasi antara naiknya harga obligasi dan kondisi suku bunga yang stabil dan rendah disertai dengan kekhawatiran terhadap potensi capital outflow terhadap kinerja reksa dana saham membuat jenis reksa dana ini menjadi pilihan utama.

Kebijakan pengenaan pajak atas kupon dan capital gain obligasi yang akan mulai berlaku secara bertahap mulai tahun 2011 nanti menurut kami tidak terlalu mempengaruhi minat investor. Dibandingkan isu pajak, kami lebih melihat faktor kebijakan akan naik atau tidaknya suku bunga lebih menjadi penentu apakah jenis reksa dana ini masih akan tetap menjadi favorit di tahun depan.

Reksa Dana Campuran

Jika dilihat dari pertumbuhan AUM yang positif dan Unit Penyertaan yang negatif, reksa dana campuran memiliki karakteristik yang hampir sama dengan reksa dana saham. Hal ini disebabkan karena reksa dana campuran yang ada saat ini sebagian besar memiliki kebijakan alokasi yang mendekati reksa dana saham. Oleh karena itu, naiknya harga digunakan oleh sebagian investor sebagai momentum untuk melakukan profit taking.

Reksa Dana Terproteksi

Dari sisi pertumbuhan AUM dan UP jenis reksa dana memang di bawah Reksa Dana Pendapatan Tetap, tapi jika ditambah aspek besaran absolut Jumlah Dana Kelolaan, maka bisa dikatakan inilah reksa dana pilihan investor yang paling favorit untuk tahun 2010 ini.

Karakteristik reksa dana ini merupakan instrumen investasi yang paling mendekati deposito karena memberikan dividen secara periodik. Didukung lagi dengan pemasaran yang banyak dilakukan melalui perbankan, kemungkinan besar jenis reksa dana ini akan menjadi reksa dana dengan dana kelolaan terbesar pada tahun 2011 nanti. Salah satu aspek yang dapat menghambat pertumbuhan jenis reksa dana ini adalah kebijakan pajak atas kupon dan capital gain obligasi yang akan berlaku nanti. Karena pengenaannya secara bertahap yaitu sebesar 5% hingga tahun 2013, prospek pertumbuhan masih ada meskipun tingkat imbal hasil yang diterima investor akan menurun.

Reksa Dana Indeks dan ETF (Exchange Traded Fund)

Dilihat dari pertumbuhan AUM dan Unit Penyertaannya, jenis reksa dana ini merupakan reksa dana yang tidak menjadi pilihan investor bahkan semakin menurun. Penyebabnya beragam, mulai dari produk yang hanya sedikit (hanya ada 4 reksa dana untuk kategori ini), sosialisasi yang kurang, hingga pada kinerja produk ini yang tidak terlalu luar biasa sehingga investor lebih memilih jenis reksa dana konvensional lainnya.

Dalam waktu yang tersisa 2 bulan ini, kecil kemungkinan peta di atas dapat berubah secara signifikan. Melihat kondisi sekarang ini, tampaknya jenis reksa dana yang akan mendominasi adalah reksa dana terproteksi. Peluang reksa dana saham untuk menjadi nomor 1 tetap ada sepanjang IHSG tetap mendulang return positif pada tahun depan. Semoga artikel ini bermanfaat bagi anda.

Penyebutan produk investasi di atas (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Investasi adalah kegiatan yang mengandung risiko, investor dan calon investor harus sepenuhnya menyadari bahwa dengan berinvestasi, risiko yang dihadapi adalah dapat kehilangan sebagian atau seluruh nilai pokok investasinya.

“Melakukan copy & paste artikel berita ini dan atau mendistribusikan ulang dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis adalah melanggar Hak Cipta / Copyright ©”

Categories: Riset Reksa Dana Tags:
  1. arga
    November 25th, 2010 at 08:35 | #1

    Halo Pak Rudiyanto, mohon pencerahannya…

    Saya baru mengenal Reksadana, dan ingin memulai investasi (mulai Desember 2010 atau Januari 2011 ..?)

    ada target yg ingin sy capai dari hasil investasi ini, yaitu DP rumah (target dana 50 jta), pendidikan kuliah anak (target dana 150 jta) dan masa pensiun (target dana 500jta), waktu investasi msng2x adalah 3, 10 dan 15 Tahun.

    Berapa Rp/bulan (rupiah cost average) yg harus saya alokasikan untuk investasi diatas, dan dialokasikan ke produk RD yang mana…? Apakah setelah masuk, perlu untuk memonitor kinerja RD yg saya beli, atau “pasif” saja (gak perduli lagi naik.turun)

    Terima kasih

  2. November 26th, 2010 at 02:43 | #2

    Yth Pak Arga,

    Untuk menghitung besarnya jumlah dana yang dibutuhkan anda bisa lakukan dengan cara menggunakan fungsi Future Value dan Present Value yang terdapat pada Microsoft Excel.

    Alternatif lainnya adalah anda bisa mendatangi Financial Planner yang dewasa ini jumlahnya semakin banyak. Mereka akan bisa memberikan penilaian tidak hanya dari sisi bagaimana pencapaian tujuan tapi juga dengan kesehatan keuangan anda. Jika anda ingin melakukan pemeriksaan kesehatan keuangan secara manual, saya juga sempat membahasnya secara singkat di artikel http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2010/11/04/sehat-dulu-investasi-kemudian/

    Selain cara di atas, anda juga bisa datang dan berkonsultasi dengan analis kami di infovesta pada session pelatihan yang kami selenggarakan setiap hari Rabu atau Sabtu. Informasi mengenai biaya dan waktu bisa anda dapatkan dengan menghubungi ibu Erni di 021 5697 2930.

    Demikian semoga penjelasan ini dapat membantu anda. Atas perhatiannya, saya mengucapkan banyak terima kasih.

  3. arga
    November 26th, 2010 at 03:05 | #3

    @Rudiyanto
    Terima kasih Pak untuk pencerahannya

  4. riyanto
    December 20th, 2010 at 13:10 | #4

    Dear, Bp. Rudiyanto

    Saya ingin menanyakan bagaimana caranya mengenal reksa dana saham akan naik atau akan turun / dengan kata lain bagaimana caranya mengetahui kalau reksadana saham itu bakal naik atau bakal turun ( cara memprediksinya ) ? dimana 2 bulan terakhir ini ( nopember , desember 2010 ) selalu naik turun , bahkan turun drastis….terimakasih sebelumnya.

    Rgds,
    Ryan

  5. December 21st, 2010 at 01:19 | #5

    @riyanto
    Yth Bapak Riyanto,

    Kalau untuk memprediksikan apakah reksa dana saham akan naik atau turun, caranya adalah dengan memprediksikan apakah harga saham akan naik atau turun. Kalau prediksi tentang harga saham akan naik atau turun yang anda lakukan ternyata benar, maka 99% pergerakan harga reksa dana saham akan mengikuti pergerakan harga saham tersebut.

    Cara untuk memprediksi ada banyak. Bisa fundamental, teknikal, data historis, dan lain-lain. Tapi yang namanya prediksi, tentu bisa salah.

    Saya termasuk salah satu yang memprediksikan harga saham (IHSG) akan lebih tinggi dibandingkan posisi akhir Oktober 2010 ataupun akhir November 2010 karena ada fenomena window dressing. Meski sekarang IHSG masih di bawah harga prediksi saya, saya masih memiliki keyakinan bahwa harga tersebut masih bisa naik.

    Tapi tentu saja, yang namanya prediksi bisa salah. Tapi itulah risiko investasi. Anda bisa mengalami kerugian sebagian atau seluruh dari nilai pokok investasi anda.

    Semoga menjawab pertanyaan anda. Terima kasih.

  6. aris
    January 25th, 2011 at 13:37 | #6

    Dear Pak Rudiyanto

    Saya ingin menanyakan tentang bagaimana prinsip transaksi jual beli reksadana, apakah ada batasan pembelian dan penjualan baik secara nominal rupiah atau jumlah unit penyertaanya. terima kasih.

  7. jusran
    June 30th, 2012 at 11:08 | #7

    Dear Pak Rudiyanto,
    Pendapat umum mengatakan bahwa makin besar dana kelolaan (AUM) suatu reksadana, maka makin kurang flexible/ kurang lincah bagi manager investasi untuk ber investasi, sehingga berdampak pada kinerja reksadana tsb. Apakah bapak mempunyai data analisis yang menggambarkan korelasi antara dana kelolaan dan kinerja (return) suatu reksadana?.
    Apakah ada angka AUM yang ideal dari suatu Reksadana untuk menghasilkan kinerja yang optimal ? Terima kasih.

  8. Rudiyanto
    June 30th, 2012 at 23:25 | #8

    @aris
    Yth Aris,

    Sebelumnya mohon maaf, sepertinya comment anda terlewatkan jadi belum sempat saya balas. Untuk pembelian, ada batasan maksimum jumlah unit yang bisa diterbitkan oleh Manajer Investasi. Ketika mencapai angka tersebut maka pembelian tidak bisa dilakukan lagi. Namun anda tidak usah khawatir karena jumlahnya mencapai triliun. Kecuali anda konglongmerat yang ingin mempercayakan seluruh harta anda pada suatu reksa dana, hal ini tidak perlu dikhawatirkan.

    Terkait penjualan. Ada ketentuan yang terkadang tidak berlaku di semua reksa dana dimana jika setelah melakukan redemption nilai investasi tersisa sangat sedikit (umumnya kurang dari Rp 500.000), maka Manajer Investasi BERHAK untuk mencairkan seluruh investasi anda tanpa persetujuan dari anda.

    Demikian penjelasannya semoga bermanfaat.

  9. Rudiyanto
    June 30th, 2012 at 23:57 | #9

    @jusran
    Malam Pak Jusran,

    Pendapat umum yang disampaikan / yang anda dengar tersebut sudah sering dikemukakan. Namun menurut saya ada hal yang tidak disampaikan dengan benar sehingga terkadang menimbulkan interprestasi yang salah.

    Secara operasional, dana kelolaan yang besar akan membatasi jenis saham yang bisa menjadi pilihan investasi. Sebab menurut aturan BAPEPAM-LK ada ketentuan yang membatasi kepemilikan reksa dana atas suatu saham adalah 5% dari modal disetor perusahaan tersebut. Artinya, kepemilikan reksa dana pada suatu saham harus minoritas. Sebab ketika sudah tidak minoritas dengan kepemilikan di atas 5%, maka sebagai pemegang saham reksa dana bisa ikut menentukan / mempengaruhi kebijakan perusahaan. Padahal hal ini yang dihindari, idealnya reksa dana hanya sebagai investor saja. Sebab dikhawatirkan bisa terjadi konflik kepentingan.

    Nah, dari sekitar 400an (kalau tidak salah 444) emiten yang ada di bursa saham, ukuran perusahaan bervariasi. Dari Milliar, Puluhan Milliar bahkan ratusan triliun. 5% dari 100 triliun adalah 5 triliun, 5% dari 100 M adalah 5 Milliar. Suatu reksa dana dengan dana kelolaan katakan Rp 1 triliun, bisa dengan mudah membeli satu saham dengan nominal di atas Rp 5 M. Hal ini yang saya katakan tadi menjadi melanggar ketentuan telah dibuat oleh BAPEPAM-LK. Oleh sebab itu, reksa dana yang dana kelolaan sudah besar umumnya hanya membeli perusahaan yang sudah besar. Hal ini yang dikatakan TIDAK FLEKSIBEL.

    Nah kalau KURANG LINCAH, lain lagi. Dengan dana kelolaan yang besar, ketika reksa dana memutuskan untuk membeli atau menjual saham tertentu, bisa berpotensi menyebabkan harga saham tersebut bergerak dengan signifikan. Oleh karena itu, reksa dana akan memilih saham yang memiliki volume transaksi yang besar. Istilah dalam bursa, saham yang likuid. Saham yang likuid banyak diperjualbelikan sehingga ketika reksa dana berukuran besar melakukan tindakan pembelian atau penjualan, harga saham tetap bergerak normal. Beda jika investasinya dilakukan pada saham yang kurang likuid.

    Dari 2 pernyataan di atas, berarti reksa dana yang berukuran besar akan mengutamakan strategi investasinya pada saham yang berukuran besar (istilah bursa Berkapitalisasi Besar) dan saham yang aktif ditransaksikan (Likuid). Apakah hal ini berarti negatif atau tidak bagus terhadap kinerja? Silakan anda pikirkan baik2 dan jawab pertanyaan tersebut menurut anda sendiri.

    Sangat penting bagi kita untuk mengetahui definisi Fleksibel dan Lincah dahulu sebelum kemudian mengatakan hal tersebut positif atau negatif terhadap suatu reksa dana.

    Jika anda sudah memiliki pemahaman yang jelas, anda juga bisa membaca riset yang pernah saya buat di
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/05/09/apakah-besarnya-jumlah-dana-kelolaan-berpengaruh-terhadap-kinerja-reksa-dana-saham/
    Baru-baru ini di artikel kontan harian (kalau ga salah sekitar 23 atau 24 Juni) ada artikel yang ditulis oleh analis infovesta tentang kinerja reksa dana dan dana kelolaan. Anda bisa coba cari di e-paper kontan.

    Semoga bermanfaat.

  1. November 18th, 2010 at 03:00 | #1
  2. November 30th, 2010 at 08:35 | #2

 


%d bloggers like this: