Home > Belajar Reksa Dana > Sehat Dulu, Investasi Kemudian..

Sehat Dulu, Investasi Kemudian..

Kini reksa dana bukan lagi menjadi produk investasi yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan terbatas saja. Minimum investasi yang semakin rendah membuka akses kepada investor dari segala kalangan untuk bisa ikut berinvestasi pada seluruh produk ini. Sampai-sampai ada masukan, bahkan tukang becakpun bisa berinvestasi asalkan mau menyisihkan uang rokoknya dalam 1 bulan. Meski demikian, sebelum berinvestasi seharusnya investor melakukan self assessment, apakah dia sudah siap untuk berinvestasi pada reksa dana?

Kesiapan untuk berinvestasi pada reksa dana tidak ditentukan oleh berapa besar uang yang dimiliki saat ini. Oleh karena itu, memiliki jumlah uang kas di atas saldo minimum investasi tidak menjadi suatu kepastian seseorang pasti siap menjadi investor reksa dana. Untuk menjadi investor reksa dana, seseorang harus “Sehat secara Keuangan”.

Definisi sehat secara keuangan tidak ditentukan dari seberapa banyak jumlah uang dimiliki seseorang. Tapi juga darimana asalnya, apakah dari hutang, pinjaman lain atau memang hasil tabungan? Gaji boleh besar, apakah pengeluaran juga besar pula? Untuk mengetahui apakah seseorang sehat secara finansial dapat dilakukan dengan melakukan Financial Check up.

Financial Check Up berbeda dengan profil risiko ataupun data kondisi keuangan yang anda isi pada saat formulir pembukaan rekening reksa dana. Profil risiko bertujuan untuk menunjukkan jenis reksa dana seperti apa yang cocok untuk anda, sementara data yang terdapat pada formulir pembukaan rekening hanya bersifat informasional saja.

Financial check up dilakukan dengan cara mengukur rasio-rasio keuangan seseorang, kemudian membandingkan rasio-rasio tersebut dengan suatu rasio standar. Apabila rasio keuangan pribadi orang tersebut sudah sama atau lebih baik dibandingkan dengan rasio standar, maka seseorang dikatakan “Sehat Secara Keuangan” dan siap untuk menjadi investor. Ada 4 rasio yang dipergunakan dalam financial check up antara lain :

1.       Rasio Hutang Konsumtif

Diperoleh dari Total Hutang Konsumtif / Total Pendapatan Bulanan

Yang termasuk dalam hutang konsumtif antara lain Hutang / Kredit Tanpa Agunan dan Hutang Kartu Kredit. Standar untuk rasio ini adalah 0%. Rasio ini menjadi rasio yang utama dalam menentukan seseorang sehat atau tidak. Jika seseorang sampai memiliki hutang konsumtif untuk alasan apapun, maka orang tersebut tidak sehat secara keuangan dan tidak layak untuk menjadi investor.

2.       Rasio Cicilan

Diperoleh dari Total Cicilan Bulanan / Total Pendapatan Tetap Bulanan

Yang termasuk total cicilan bulanan antara lain Cicilan KPR, Cicilan Motor, Cicilan Apartemen dan Cicilan lainnya. Total Pendapatan Tetap Bulanan adalah komponen pendapatan bulanan yang sifatnya tetap. Jika penghasilan seseorang terdiri dari Gaji yang Tetap dan Komisi yang variabel, maka hanya Gaji tetap yang dipergunakan. Standar untuk rasio ini adalah < 30%.

Poin dari rasio ini adalah bahwa orang yang memiliki hutang (yang bukan konsumtif) sebetulnya juga boleh menjadi investor investasi dan bisa dikatakan sehat secara keuangan. Batas rasio untuk bisa dikatakan sehat adalah di bawah 30%.

3.       Rasio Dana Darurat

Diperoleh dari Total Aset Likuid / Total Biaya Tetap Bulanan

Yang termasuk total aset likuid antara lain dana kas, tabungan, deposito, giro, dan reksa dana pasar uang. Total biaya tetap bulanan terdiri dari seluruh pengeluaran yang sifatnya tetap setiap bulan seperti biaya sewa, iuran air listrik, cicilan-cicilan, biaya makan dan minum, uang sekolah anak dan biaya tetap lainnya yang tidak dapat dihemat lagi. Standar untuk rasio ini adalah 6 kali untuk lajang dan 12 kali untuk pasangan yang telah berkeluarga.

Situasi darurat tidak dapat diprediksi oleh setiap orang. Bayangkan, tiba-tiba anda membutuhkan dana besar karena ada kerabat yang mengalami musibah, pada saat yang sama seluruh uang anda ditempatkan di reksa dana saham. Dan kebetulan bursa saham sedang dalam periode rendah-rendahnya di tahun 2008. Dengan memiliki dana darurat yang cukup, investor akan terbebas dalam situasi dia harus mencairkan dananya pada saat situasi investasi sedang kurang baik.

4.       Rasio Biaya Terhadap Pendapatan

Diperoleh dari Total Biaya Tetap Bulanan / Total Pendapatan Tetap Bulanan

Standar untuk rasio ini adalah < 1. Rasio menyikapi gaya hidup seseorang. Gaya hidup yang sehat adalah gaya hidup dimana seluruh pengeluaran yang sifatnya tetap dapat dicover dari pendapatan yang sifatnya tetap pula. Apabila memiliki rasio lebih dari 1, berarti gaya hidup anda terlalu “tinggi” dan perlu dilakukan penyesuaian. Caranya bisa dengan mengubah pendapatan variabel menjadi pendapatan tetap, seperti meminta kenaikan gaji. Atau berusaha berhemat dengan menurunkan pengeluaran yang sifatnya tetap.

Rasio Kesehatan Keuangan Untuk Financial Check Up

Keterangan :

Hutang Konsumtif           = Hutang KTA dan Hutang Kartu Kredit

Cicilan Bulanan                  = Cicilan Kartu Kredit, Kredit Rumah, Kredit Kendaraan

Aset Likuid                          = Tabungan, Giro, Deposito, Reksa Dana Pasar Uang

Investasi reksa dana bukan merupakan investasi yang memberikan jaminan kepastian hasil. Ada risiko naik turunnya harga yang harus dipahami dan akan dihadapi oleh investor. Pada saat menghadapi ketidakpastian harga, penting sekali bagi investor untuk mengambil keputusan dengan tenang. Jika investor berada dalam kondisi kesehatan keuangan yang tidak baik, maka terdapat kemungkinan investor mengambil keputusan yang salah. Sebagai ilustrasi, misalnya investor dihadapkan pada kondisi harga saham yang sedang turun, pada saat yang sama, dia terpaksa menjual reksa dana tersebut karena kekurangan dana untuk membayar total cicilan kartu kreditnya yang sudah jatuh tempo.

Financial check up perlu dilakukan secara periodik paling tidak 6 bulan sekali. Selain itu, pada saat investor akan mengambil keputusan keuangan yang sifatnya penting seperti mengambil KPR, KTA, pengeluaran dalam jumlah yang besar Liburan jauh, pernikahan, biaya rumah sakit. Financial check up sebaiknya dilakukan sebelum keputusan keuangan tersebut diambil. Jika kebutuhan bersifat urgent sehingga tidak ada pilihan lain, review dilakukan setelah keputusan tersebut di ambil sambil mencari cara untuk memperbaiki kondisi keuangan agar sehat kembali.

Kesiapan investasi merupakan hal penting yang harus dilakukan oleh investor sebelum berinvestasi. Jangan terburu-buru mengambil keputusan, jangan pula terbuai untuk berinvestasi hanya karena iming-iming reksa dana tersebut memberikan return yang tinggi di masa lalu. Semoga artikel ini bermanfaat bagi anda yang ingin menjadi calon investor reksa dana..

Meminjam pepatah

Berakit-rakit Ke Hulu, Berenang-renang Ke Tepian

Bikin Sehat Keuangan Dulu, Investasi Reksa Dana Kemudian

Penyebutan produk investasi di atas (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis.

“Melakukan copy & paste artikel berita ini dan atau mendistribusikan ulang melalui situs atau blog Anda tanpa izin tertulis adalah melanggar Hak Cipta / Copyright ©”

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:
  1. Rudiyanto
    August 7th, 2014 at 18:21 | #1

    @firman pradana
    Salam Pak Firman,

    Boleh tolong rasio keuangannya dihitung dulu?

  2. August 8th, 2014 at 16:10 | #2

    Ini rasio keuangan saya, pake financial diagnosis dari link menu blog bapak

    Rasio utang terhadap aset = 5,45%
    Rasio likuiditas = 5,00
    Rasio cicilan terhadap pendapatan = 3,23%
    Rasio kemampuan menabung = 61,29%

  3. August 8th, 2014 at 16:26 | #3

    sedangkan jika menggunakan perhitungan dari catatan blog di atas , maka

    - rasio hutang komsumtif = 0.07 atau 7 %
    - Rasio Cicilan = 0.035 atau 3.5 %
    - Rasio Dana Darurat = 5
    - Rasio Biaya Terhadap Pendapatan = 0.425

  4. Rudiyanto
    August 8th, 2014 at 19:01 | #4

    @firman pradana
    Terima kasih Firman,

    Kalau dilihat dari rasio keuangan sebetulnya kamu sudah sangat sehat sekali. Cicilan konsumtif ya kalau bisa langsung dilunasi sekaligus. Tapi bunya dana darurat 5 bulan pengeluaran dan hanya menghabiskan 42% dari penghasilan sebulan itu sudah luar biasa.

    Kemudian terlepas dari kondisi anda yang sudah sehat, menurut saya untuk bisa “agak” lumayan di kota besar seperti Jakarta, minimum pendapatan yang dibutuhkan adalah 15 – 20 juta per bulan. Tapi tolong jangan dibandingkan dengan gaji kamu saja, tapi total penghasilan per tahun yang sudah termasuk gaji, insentif, bonus, THR dan lainnya (jika ada) kemudian dibagi 12. Kalau sudah angka segitu, menurut saya kamu bisa fokus pada biaya nikah atau DP rumah. Saya sih lebih prefer DP Rumah dulu.

    Tapi kalau belum, dan jika saya jadi kamu, saya akan priortas pada peningkatan kemampuan diri (kuliah S2) itu. Kalau bisa sambil nyambi mencari penghasilan tambahan tanpa mengganggu pekerjaan utama itu lebih baik lagi. Soal Nikah dan Rumah, itu memang perlu dipersiapkan. Tapi akan jauh lebih mudah kalau penghasilan kamu sudah besar.

    Kalau soal jodoh, mengutip kata Mario Teguh, “Success is Sexy”. Kalau income sudah ok, mungkin tidak terlalu sulit mencari pasangan hidup. Pesta pernikahan itupun sangat fleksibel. Kamu mau pesta besar-besaran dan memberikan hadiah Ipad untuk setiap orang yang menghabiskan dana miliaran, sampai pesta sederhana di rumah atau restoran bersama keluarga yang cukup beberapa juta saja juga bisa. Kehidupan berkeluarga yang bahagia itu tidak harus dimulai dengan pesta yang luar biasa mahal. Yang penting kualitas hubungannya.

    Semoga bermanfaat.

  5. Jonas
    August 11th, 2014 at 05:32 | #5

    Selamat pagi pak Rudi

    Orang tua saya berusia 70 tahun dan sudah pensiun. Punya rumah tinggal dan 1 mobil dan tidak ada cicilan hutang apapun dan tidak ada tanggungan.

    Saat ini mereka memiliki aset produktif berupa sebuah rumah kontrakan yang menghasilkan 40juta/tahun dan sebuah apartment yang menghasilkan pendapatan dari sewa sebesar 95juta / tahun. Aset lain yang dimiliki berupa RD saham senilai sekitar 600juta dan LM 300gr. Perlu diketahui awal tahun depan ayah saya akan mendapatkan pencairan dana pensiun lump sum yang kedua (yang terakhir) sebesar 3 M rupiah dari perusahan tempatnya bekerja dulu. Biaya hidup orang tua saya sekitar 15 juta per bulan dan mereka berharap bisa mendapatkan pendapatan total dari passive income idealnya di atas 20 juta per bulan. Jumlah tersebut rencananya ingin dicapai setelah mendapatkan pencairan dana pensiun yang terakhir yang kemudian akan diinvestasikan.

    Pertanyaan saya, bagaimana sebaiknya mengalokasi dana pensiun yang sebesar 3M itu supaya bisa mendapatkan penghasilan tambahan setidaknya 10 juta per bulan mengingat saat ini penghasilan dari aset produktif yang ada belum dapat menutup biaya hidup 15 juta tersebut dan selama ini harus menutup kekurangannya dari dana darurat yang besarnya sekarang tinggal sekitar 10x mthly expenses.  Sebenarnya tidak sulit untuk mendapatkan jumlah tersebut bila membeli properti lagi untuk disewakan tetapi saat ini alokasi aset mereka di kolom properti sudah hampir 80 persen dari total aset (belum termasuk rumah tinggal yang sekarang mereka tempati) dan terkesan kurang seimbang dan cukup beresiko apabila kelak terjadi property crash seperti di AS. Tentu saja jika uang tersebut hanya didepositokan saja maka ke depannya akan terus digerogoti inflasi. Atas sarannya saya ucapkan terima kasih.

  6. Rudiyanto
    August 20th, 2014 at 01:57 | #6

    @Jonas
    Yth Pak Jonas,

    Sepertinya memang komentar ini terlewatkan. Saya akan balas pada komentar yang terbaru anda.

    Terima kasih

  7. ning
    September 1st, 2014 at 13:40 | #7

    Dear Pak Rudi,

    Maaf baru balas sekarang.
    Terima kasih atas infonya.
    Sekarang sedang mencoba berhemat pelan-pelan, sedikit demi sedikit.
    Saya sudah mengambil RD saham, daripada uang habis gak jelas terus, walau nominal kecil.
    Mencoba memperbaiki bertahap, mudah-mudahan bisa terselesaikan semuanya.

    Salam sukses untuk Pak Rudi dan kita semua.
    Untuk hidup yang lebih baik. Amin

  8. farhamutia
    September 2nd, 2014 at 14:19 | #8

    Terima kasih Pak atas ulasan2nya. Sgt bermanfaat utk kami.
    Saya Mutia, usia 27th, tidak bekerja. Suami bekerja di BUMN di Cirebon dg gaji 15,8jt/ bulan (sdh termasuk bonus 7x gaji).
    Untuk biaya hidup sekitar 4jt/bulan, karena kami tinggal di rumah dinas.
    Kami sedang mencicil rumah di Depok sebesar 5jt/bulan yang akan selesai di tahun 2021.
    Kami berencana untuk mencicil mobil awal tahun nanti sebesar 4jt/bulan (DP sudah ada).
    Untuk kesehatan, rawat jalan & RS sudah ditanggung kantor untuk saya & calon anak kami. Termasuk dana pensiun juga sudah potong gaji dari perusahaan.
    Saya memiliki asuransi kesehatan+jiwa unitlink sudah berjalan 2th, yang akan kami berhentikan, karena sudah dicover kantor, dan dirasa kurang maksimal.

    Rasio hutang konsumtif : 0%
    Rasio Cicilan : 31,58%
    Rasio Dana Darurat : 4,5 kali atau 13 kali jika dg emas.
    Rasio Biaya : 25,26%

    Pertanyaan kami,
    1. Apakah rencana kami mencicil mobil sudah tepat? Mengingat rasio hutang sudah 31%, namun masih ada dana yang bisa kami sisihkan.
    2. Saat ini kami belum berinvestasi scr maksimal, karena mengumpulkan uang DP dan sedikit2 untuk membeli furniture. Perlahan kami ingin memulai dgn reksadana saham untuk mempersiapkan pendidikan anak dan biaya haji. Manakah yang harus kami dahulukan, melunasi cicilan (termasuk mobil) atau ber investasi?

    Sebelumnya terima kasih banyak Pak,
    Sukses selalu dan makin bermanfaat untuk sesama.

  9. Rudiyanto
    September 2nd, 2014 at 15:39 | #9

    @farhamutia
    Salam Ibu Farhamutia,

    Sehubungan dengan pertanyaan anda:
    1. Mengenai cicilan mobil, apakah anda juga sudah menghitung biaya operasional mobil? Sebagai contoh, uang parkir, uang bensin, uang tol, uang asuransi, uang aksesoris, uang jalan2 karena begitu punya mobil tiba2 orang jadi punya hobi untuk menjelajahi tempat baru atau mencoba makanan di tempat yang jauh? Jadi membeli mobil tidak hanya soal rasio cicilan saja tapi juga meningkatkan biaya hidup.

    Apakah mobil ini benar-benar merupakan kebutuhan yang tidak dapat ditawar atau karena anda memiliki dana lebih dan berminat untuk punya mobil saja?

    2. Kembali ke pertanyaan no 1, mobil itu kebutuhan atau gengsi? Kalau memang kebutuhan untuk antar jemput anak sekolah dan suami anda, dimana fasilitas kendaraan umum yang tersedia sudah tidak aman dan nyaman lagi. Ya menurut saya memang itu harus didahulukan. Tapi jika masih bisa menggunakan fasilitas kendaraan umum atau naik kendaraan bermotor, mengapa tidak digunakan untuk rencana yang lain?

    Saya banyak melihat orang punya mobil tapi malahan bawa motor terutama jika kantornya di SCBD Jakarta. Bagaimana tidak, parkir Rp 5000 per jam, sehingga per hari bisa Rp 45 – 50rb. Kemudian kena Three in One, kalau pakai Joki bisa Rp 25.000 x 2 perhari untuk pulang pergi. Belum lagi tol, bensin dan macetnya.

    Semoga diskusi ini bermanfaat.

    Semoga bermanfaat ya.

  10. mutia
    September 3rd, 2014 at 07:44 | #10

    Selamat pagi p rudy..
    Selama ini kami tggl di cirebon yg transport umum nya belum memadai. Saat ini sdh ada mobil pinjaman orgtua, biaya servis, pajak serta operasional nya sudah termasuk biaya hidup kami.
    Sehatkah skema cicilan seperti itu? Perkiraan perbulan masih tersisa 2jt utk tambahan lain2. Terima kasih pak..

  11. Rudiyanto
    September 3rd, 2014 at 11:11 | #11

    @mutia
    Yth Ibu Mutia,

    Menurut saya, berinvestasi adalah kegiatan mengambil risiko. Kenapa orang mengambil risiko, karena dia sadar bahwa hanya dengan menabung tidak akan mencukupi kebutuhannya.

    Sama juga, ketika orang mengambil kredit yang cicilannya melebihi 30% pendapatan, saya juga sebut dengan mengambil risiko. Secara kedokteran keuangan, dia akan bilang tidak sehat. Namun jika itu memang “harus” apa boleh buat.

    Sekarang yang membedakan apakah itu harus atau tidak adalah apakah membeli mobil itu “Gengsi” atau “Kebutuhan” yang tidak bisa ditunda lagi?

    Dan berhubung saya bukan dokter, saya tidak bisa menjatuhkan vonis sehat atau tidak kepada anda. He he.. Ini hanya ibarat hasil pemeriksaan lab saja. Untuk detailnya silakan tanya ke dokter yang berizin seperti perencana keuangan.

    Semoga menjawab pertanyaan anda.

  12. Ine
    October 2nd, 2014 at 18:16 | #12

    Salam, Pak Rudi. Terima kasih karena mau berbagi ilmu melalui artikel2nya yg sangat bermanfaat…

    Saat ini saya & suami sedang memikirkan untuk membeli rumah di daerah jakarta atau sekitarnya. Tp saat ini kami sdh 8 thn tinggal di luar kota krn suami sedang ditempatkan di cabang disini & belum tahu kapan akan ditarik ke jakarta lg.

    Secara keuangan kami tidak ada hutang konsumtif maupun cicilan lainnya. Saat ini kami memiliki 2 anak kecil & suami saja yg bekerja.

    Pertanyaan saya, apakah lebih baik kami mengambil KPR sekarang mengingat harga rumah terus naik setiap tahun meskipun kami belum akan menempatinya atau lebih baik kami investasikan uang tersebut dgn membeli reksadana dengan tujuan mendapat tambahan modal agar lebih mampu lagi membeli rumah yg sesuai idaman kami?

    Atau juga, apakah mungkin membeli rumah secara tunai dari hasil investasi reksadana?

    Mohon sarannya, Pak Rudi & terima kasih sebelumnya…

  13. Rudiyanto
    October 6th, 2014 at 11:41 | #13

    @Ine
    Salam Ine,

    Sebetulnya kondisi anda adalah kondisi yang dihadapi mungkin sebagian besar atau hampir semua kelas menengah di kota besar di Indonesia. Ada tabungan dan simpanan, tapi bingung mau diinvestasikan atau dipakai untuk DP Rumah saat ini juga.

    Kalau menurut saya, rumah tempat tinggal (rumah pertama) adalah kebutuhan yang tidak hanya pokok tapi juga kebanggaan pribadi. Tentu bangga sekali rasanya sudah tidak tinggal di rumah mertua indah atau membayar kontrakan meskipun tinggal di rumah yang masih nyicil. Besar atau kecil itu relatif, yang penting milik sendiri.

    Meski demikian, kita juga harus mempertimbangkan kemampuan keuangan. Ketika memutuskan membeli rumah, tidak hanya DP saja yang kita hitung, tapi juga cicilan per bulan dan uang yang dibutuhkan untuk mengisi rumah tersebut. Perabotan, air, listrik, dan peralatan elektronik itu semua butuh uang.

    Apabila semua hal di atas sudah dimasukkan dalam perhitungan anda, ketika sudah memiliki DP yang cukup, maka menurut saya sudah bisa membeli rumah. Jika belum, ya terpaksa dikumpulkan melalui instrumen investasi sampai mencukupi baru pembelian rumah dilakukan. Perihal mau terkumpul DPnya atau terkumpul semuanya sehingga bisa beli tunai, anda bisa tentukan sendiri. Namun melihat harga rumah di Jakarta, sepertinya sejauh uangnya cukup untuk DP, bayar cicilan dan kebutuhan bulanan, pembelian rumah sudah bisa dilakukan.

    Tentu saja, hal yang saya bahas di atas adalah jika anda adalah seorang pekerja. Jika anda seorang pengusaha, tentu hitungannya bisa lebih berani. Memang ada yang nekat dan berhasil serta semakin sukses. Tapi tidak sedikit juga yang bangkrut, terlilit hutang dan rumahnya disita.

    Semoga bermanfaat.

  14. joko santoso
    October 6th, 2014 at 19:41 | #14

    Selamat malam pak rudiyanto. Saya minta saran saya karyawan swasta umur 35 tahun anak 2 orang 5 tahun dan 3 tahun penghasilan sekitar 20 jt tdk ada hutang bayar asuransi 2 jt perbulan, ada deposito 1,2 m dpt bunga perbulan 6jt ada 1 rumah sdh lunas , tanah dengan nilai aset 300 jt. Sebetulnya sy sdh tidak nyaman kerja jadi karyawan cm karena sy masih membutuhkan penghasilan untuk biaya anak2 saya sekolah jadi sy memilih bertahan sqmbil berharap tabungan sy mencapai 3 sd 4 m sehingga sy bisa mengandalkan bunga deposito sambil sy membuka kost2 an.pengeluaran sekitar 3 sd 5 jt perbulan pak. Kira2 reksadana apa yang cocok pak.?sy tinggal dikabupaten di ntt sehingga pembelian harus menghubungi cabang panin mana pak?tx

  15. Rudiyanto
    October 7th, 2014 at 09:02 | #15

    @joko santoso
    Selamat Pagi Pak Joko,

    Senang sekali melihat kondisi keuangan berada dalam situasi yang sangat sehat.
    Dengan pendapatan 20 juta per bulan, pengeluaran 5 juta + asuransi 2 juta, berarti anda bisa menabung setidaknya 13 juta setiap bulannya dan itu jumlah uang yang besar menurut saya. Belum lagi anda masih mendapat bunga deposito sebesar 6 juta lagi setiap bulannya. Belum tentu warga kota besar seperti Jakarta dan Surabaya mampu menabung sejumlah tersebut sekalipun pendapatannya lebih besar.

    Dengan asumsi uang Rp 1,2 M dan mendapat bunga 6 juta per bulan atau 72 juta per tahun, berarti bunga yang anda dapatkan adalah 6% net atau 7.5% gross. Sebagai informasi bunga LPS sekarang sudah 7.75%. Jika anda mau menerima risiko bahwa deposito anda tidak dijamin oleh LPS, dengan nilai dana anda sekarang saya yakin anda bisa mendapatkan bunga lebih tinggi hingga 8 – 9 % gross. Anda hanya perlu mengambil cuti dan datang ke kota besar terdekat seperti Surabaya untuk window shopping ke bank yang bersedia menawarkan bunga tersebut.

    Sehubungan dengan tujuan keuangan untuk punya 3 – 4 M berarti tambahan 1.8 – 2.8 M bisa anda simulasikan di website Panin AM. Untuk cara simulasinya bisa baca referensi artikel di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/08/10/3-langkah-menjadi-investor-reksa-dana-bagi-pemula/ menggunakan praktek no 2.

    Pada Praktek no 1, disebutkan apabila anda menyisihkan uang Rp 1 juta per bulan selama 10 tahun di reksa dana saham dengan asumsi keuntungan 20% per bulan, maka hasil investasi setelah 10 tahun akan menjadi 382 juta. Kalau anda menyisihkan 10 juta per bulan, tinggal dikalikan 10. Namun perlu diingat bahwa angka tersebut hanya merupakan asumsi. Hasil akhirnya bisa lebih tinggi atau rendah.

    Untuk pembelian reksa dana pertama kali masih diharapkan adanya tatap muka. Sebenarnya selain merupakan persyaratan yang ditetapkan dalam peraturan, tatap muka tersebut juga merupakan faktor yang membangun kepercayaan. Anda bisa mendapatkan penjelasan lebih lengkap mengenai prosedur, cara kerja, manfaat serta risiko yang lebih lengkap mengenai investasi reksa dana dengan adanya pertemuan tersebut, termasuk pertanyaan jenis reksa dana apa yang cocok sesuai dengan pertanyaan anda.

    Jika memungkinkan apabila anda kebetulan ada di Surabaya, saran saya pak Joko bisa mengunjungi kantor cabang Panin AM Surabaya di

    Graha Bumi Surabaya Lt.3
    Jl. Basuki Rakhmat 106 – 128
    Surabaya 60271
    Telp : (62-31) 531-5488
    Fax : (62-31) 531-6488
    Email : surabaya@panin-am.co.id

    Bisa juga anda mengatur janji untuk ketemuan dimana. Kalau di NTT, mohon maaf masih belum ada cabang pada kota tersebut.

    Semoga bermanfaat.

  16. Tony
    October 7th, 2014 at 11:38 | #16

    Yth. Bapak Rudiyanto

    Saya Tony
    Dalam 2 bulan terakhir ini saya memantau diskusi di forum ini dan sangat sangat bermanfaat untuk diterapkan.
    Kalau berkenan, saya ingin meminta pandangan Bapak.
    Saya berumur 22 tahun, bekerja sebagai ass. manager di perusahaan korea.
    Hingga kini saya memiliki investasi 200 gr logam mulia, motor Rp 5jt, dan tidak memiliki angsuran sama sekali.
    Penghasilan saya Rp 8jt/ bulan dan kadang mendapat penghasilan tambahan Rp 6jt/bulan dari usaha sampingan.

    saya memiliki rencana untuk mengambil S2, namun ada beberapa pertimbangan :
    1. Jika saya ambil S2 beasiswa di Inggris, otomatis saya akan kehilangan penghasilan tambahan dan keluar dari pekerjaan sekarang. Lalu kembali ke Indonesia memulai kembari karir dari 0 dan selama studi, investasi stagnan. Namun keuntungannya saya tidak perlu bayar biaya kuliah.
    2. Jika saya S2 di UI, saya harus membayar 21 juta persemester atau 84 juta hingga lulus. Dengan asumsi saya masih bisa berinvestasi tiap bulannya dan menaikkan karir di Indonesia.

    Menurut pandangan Bapak, bagaimana seharusnya dari sisi investasi dan karir?

    Terimakasih pak :)

  17. joko santoso
    October 7th, 2014 at 17:32 | #17

    Tx pak rudiyanto

  18. Rudiyanto
    October 14th, 2014 at 13:33 | #18

    @Tony
    Salam Pak Tony,

    Sebelumnya saya salut untuk profil keuangan anda. Gaji pertama saya waktu seusia anda adalah menjadi asisten pengajar di universitas yang dibayar berdasarkan jumlah pertemuan. Kalau tidak salah ingat, waktu itu di kisaran 600 – 800 rb per bulan. Mau dikalikan inflasi sekalipun, rasanya tidak sampai setengahnya anda yang sekarang. he he..

    Yah tapi itu hal bagus, karena itu berarti pertumbuhan ekonomi Indonesia yang selalu kita baca di koran memang memberikan manfaat untuk masyarakatnya. Tentu saja, saya juga yakin bahwa anda adalah karyawan yang sangat bertalenta sehingga penghargaan dari perusahaan cukup baik.

    Pada point ini, tentu menjadi dilemma yang anda hadapi sangat besar. Di satu sisi, kapan lagi kita bisa ke Inggris dan sekolah dibayarin beasiswa yang saya yakin biaya hidup dan biaya sekolahnya bisa mencapai ratusan juta hingga miliaran. Pengalaman kuliah di universitas internasional tentu tidak akan datang setiap waktu.

    Tapi di sisi lain, pekerjaan anda sekarang sudah mantap, perusahaan menghargai talenta anda, ada penghasilan tambahan, bisa juga dapat S2 di UI yang tidak kalah prestisenya dan dalam beberapa tahun dengan kondisi penghasilan anda sekarang tentu uang yang terkumpul sudah lumayan.

    Well, saya sendiri juga akan bingung sekali jika dalam kondisi tersebut. Kalau hal seperti ini, menurut saya bisa ditanyakan ke orang tua anda. Saya tidak dalam kapasitas bisa memberi kamu pandangan soal karir, tapi saya bisa sharing sedikit tentang perjalanan karir saya.

    Di awal karir, saya juga sempat mengalami kondisi dilema seperti yang anda hadapi meskipun mungkin tidak sebaik anda. Ceritanya waktu di baru lulus kuliah, saya sempat mengikuti program rekrutmen yang diselenggarakan oleh group Astra. Waktu itu, dari sekian yang ikut, akhirnya saya dan beberapa teman saya terpilih saringan pertama. Beberapa bulan kemudian, kami dipanggil lagi mengikuti psiko test, iq test dan segala macam test yang diselenggarakan oleh HRD.

    Bedanya pada saringan pertama, yang ikut hanya teman2 saya dari kampus Tarumanagara saja, kalau pada saringan kedua yang ikut sudah dari berbagai universitas. Ada yang S2, ada yang IPK cum laude, dan lain sebagainya. Waktu itu saya agak keder, karena IPK saya tidak cum laude dan hanya berpengalaman sebagai asisten pengajar. Satu hal yang saya sangat banggakan waktu adalah skripsi yang saya buat dengan mati-matian.Judul dan topik skripsi tersebut belum pernah dibuat sama sekali sehingga saya membuat semuanya dari nol. Proses pembuatannya juga benar-benar dilakukan dengan survey langsung ke perusahaan dan mengunjungi showroom mobil satu per satu. Waktu itu, saya dibimbing langsung oleh General Manager suatu perusahaan multifinance yang kebetulan menjadi dosen di universitas.

    Waktu wawancara, skripsi itulah yang saya ceritakan dengan semangat dan berapi-api. Saya tahu, kalau cuma mengandalkan IPK, pengalaman kerja dan lain-lain, banyak sekali yang lebih baik. Selesai interview, seperti halnya perusahaan besar, sampai dipanggil lagi bisa berbulan-bulan lamanya.

    Saya pun kembali pada kehidupan, kerja sebagai pengajar sambil magang di perusahaan riset yang pertama yaitu PT. Infovesta Utama. Waktu itu, status saya magang. Magang disana telah dimulai sejak semester terakhir sebelum skripsi. Saya memilih magang disitu karena kebetulan lokasi perusahaan tidak jauh dari tempat kost. Namun karena kondisi keuangan saat itu belum terlalu baik, saya magang tanpa dibayar. Buat saya ok ok aja karena saya butuh pengalaman kerja.

    Setelah magang beberapa bulan disana, saya melihat bahwa produk perusahaan itu sangat baik. Tapi mungkin tidak dipasarkan dengan baik sehingga belum terlalu memberikan keuntungan untuk perusahaan. Kebetulan bidang usaha perusahaan yang bergerak di bidang data dan pengolahannya sangat sesuai dengan passion saya. Jadi saya klop sendiri bekerja di perusahaan tersebut. Dan yang paling penting, ada seorang mentor yang sangat luar biasa di perusahaan tersebut yang mau mengajari saya.

    Saya naik pangkat dari magang menjadi part time dengan gaji Rp 600.000 per bulan dan beberapa bulan kemudian menjadi karyawan tetap dengan gaji Rp 1,5 juta (kalau tidak salah). Ketika mulai kerasan dan menikmati pekerjaan tersebut, pihak Astra menelepon dan mengatakan bahwa saya diterima kerja disana. Bayangkan, mana yang pilih, kerja di perusahaan (yang waktu itu) masih ga jelas masih exist atau tidak tahun depannya, dengan diterima kerja di Astra yang notabene group besar dan sudah pasti gajinya jauh lebih tinggi waktu itu.

    Setelah memikirkan matang-matang, akhirnya saya putuskan untuk bertahan di perusahaan riset. Pertimbangan saya waktu sederhana, saya menemukan pekerjaan yang sesuai dengan passion. Selebihnya menjadi catatan di CV.

    Seandainya saya menerima tawaran tersebut, mungkin hari ini blog ini tidak akan pernah ada. Mungkin saja saya beralih buka bengkel franchaise mobil, mungkin juga saya menjadi jauh lebih sukses dari sekarang karena bagaimanapun group Astra adalah perusahaan besar yang telah mensejahterakan banyak orang. Tapi hal yang tidak saya sesali dalam pilihan tersebut adalah saya tetap melakukan pekerjaan sesuai passion. Ketika melakukan hal yang anda sukai, kadang-kadang uang sudah tidak terlalu jadi masalah (bukan berarti tidak masalah ya).

    Jadi, jika anda bertanya mengenai pandangan saya. Pilihlah opsi yang tidak akan kamu sesali 5, 10, 15 tahun dari sekarang. Mungkin itu bukan jalan yang paling membuat kamu kaya, tapi paling tidak kamu menjadi “hidup” ketika melakukannya.

    Terima kasih

  19. Tri Sulaksono
    October 28th, 2014 at 10:34 | #19

    Salam Pak Rudi,
    Nama sya Tri Sulaksono usia 22
    Saya karyawan swasta dgn gaji sekitar 3.5 jt…
    Rincian bulanan saya adalah
    1 Biaya Hidup (fleksibel menyesuaikan isi dompet) :)
    2 Bantu orang tua 450
    3 Biaya Kuliah 500
    4 Potongan DPLK 250
    5 Reksadana ( berusaha menyisihkan )
    Sya memiliki sedikit tabungan dan deposito, Seandainya saya ingin memiliki KPR rumah apa dengan rincian seperti itu memungkinkan untuk cicilan dengan tab dan deposito saya sebagai DP nya

    Salam Tri Sulaksono

    • Rudiyanto
      October 28th, 2014 at 10:40 | #20

      Pagi Pak Tri,

      Anda masih sangat muda sekali dan menurut saya fokus anda saat ini sebaiknya di meningkatkan pendapatan melalui peningkatan karir atau pengembangan diri. Dari penghasilan yang meningkat tersebut, sebagian uang kamu sisihkan dan nanti baru kamu sesuaikan dengan harga rumah yang mau dibeli. Kalau di tempat seperti Jakarta, mau rumah / apartemen harga ratusan juta di pinggiran sampai puluhan M di pusat kota itu ada. Tinggal disesuaikan dengan kemampuan keuangan anda saja.

      Semoga bermanfaat.

  20. Tony
    October 28th, 2014 at 10:47 | #21

    Rudiyanto :
    @Tony
    Salam Pak Tony,

    Jadi, jika anda bertanya mengenai pandangan saya. Pilihlah opsi yang tidak akan kamu sesali 5, 10, 15 tahun dari sekarang. Mungkin itu bukan jalan yang paling membuat kamu kaya, tapi paling tidak kamu menjadi “hidup” ketika melakukannya.
    Terima kasih

    Pak Rudy, kata kata bapak diatas selalu akan saya ingat.
    Memang dalam satu terakhir ini saya terlalu berpikir bagaimana mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan peningkatan kualitas diri.
    Sekarang saya sudah mulai persiapan untuk S2 dan mengikuti forum-forum internasional.

    Semoga suatu hari saya bisa bertemu bapak dan bertukar pikiran :)

    • Rudiyanto
      October 28th, 2014 at 10:53 | #22

      Punya Uang Banyak itu juga peningkatan kualitas diri kok. Yang penting tidak disesali saja. he he

Comment pages
1 3 4 5 6 7 187
  1. April 25th, 2011 at 13:31 | #1
  2. April 19th, 2014 at 18:46 | #2
  3. December 3rd, 2014 at 06:34 | #3


%d bloggers like this: