Home > Belajar Reksa Dana > Sehat Dulu, Investasi Kemudian..

Sehat Dulu, Investasi Kemudian..

Kini reksa dana bukan lagi menjadi produk investasi yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan terbatas saja. Minimum investasi yang semakin rendah membuka akses kepada investor dari segala kalangan untuk bisa ikut berinvestasi pada seluruh produk ini. Sampai-sampai ada masukan, bahkan tukang becakpun bisa berinvestasi asalkan mau menyisihkan uang rokoknya dalam 1 bulan. Meski demikian, sebelum berinvestasi seharusnya investor melakukan self assessment, apakah dia sudah siap untuk berinvestasi pada reksa dana?

Kesiapan untuk berinvestasi pada reksa dana tidak ditentukan oleh berapa besar uang yang dimiliki saat ini. Oleh karena itu, memiliki jumlah uang kas di atas saldo minimum investasi tidak menjadi suatu kepastian seseorang pasti siap menjadi investor reksa dana. Untuk menjadi investor reksa dana, seseorang harus “Sehat secara Keuangan”.

Definisi sehat secara keuangan tidak ditentukan dari seberapa banyak jumlah uang dimiliki seseorang. Tapi juga darimana asalnya, apakah dari hutang, pinjaman lain atau memang hasil tabungan? Gaji boleh besar, apakah pengeluaran juga besar pula? Untuk mengetahui apakah seseorang sehat secara finansial dapat dilakukan dengan melakukan Financial Check up.

Financial Check Up berbeda dengan profil risiko ataupun data kondisi keuangan yang anda isi pada saat formulir pembukaan rekening reksa dana. Profil risiko bertujuan untuk menunjukkan jenis reksa dana seperti apa yang cocok untuk anda, sementara data yang terdapat pada formulir pembukaan rekening hanya bersifat informasional saja.

Financial check up dilakukan dengan cara mengukur rasio-rasio keuangan seseorang, kemudian membandingkan rasio-rasio tersebut dengan suatu rasio standar. Apabila rasio keuangan pribadi orang tersebut sudah sama atau lebih baik dibandingkan dengan rasio standar, maka seseorang dikatakan “Sehat Secara Keuangan” dan siap untuk menjadi investor. Ada 4 rasio yang dipergunakan dalam financial check up antara lain :

1.       Rasio Hutang Konsumtif

Diperoleh dari Total Hutang Konsumtif / Total Pendapatan Bulanan

Yang termasuk dalam hutang konsumtif antara lain Hutang / Kredit Tanpa Agunan dan Hutang Kartu Kredit. Standar untuk rasio ini adalah 0%. Rasio ini menjadi rasio yang utama dalam menentukan seseorang sehat atau tidak. Jika seseorang sampai memiliki hutang konsumtif untuk alasan apapun, maka orang tersebut tidak sehat secara keuangan dan tidak layak untuk menjadi investor.

2.       Rasio Cicilan

Diperoleh dari Total Cicilan Bulanan / Total Pendapatan Tetap Bulanan

Yang termasuk total cicilan bulanan antara lain Cicilan KPR, Cicilan Motor, Cicilan Apartemen dan Cicilan lainnya. Total Pendapatan Tetap Bulanan adalah komponen pendapatan bulanan yang sifatnya tetap. Jika penghasilan seseorang terdiri dari Gaji yang Tetap dan Komisi yang variabel, maka hanya Gaji tetap yang dipergunakan. Standar untuk rasio ini adalah < 30%.

Poin dari rasio ini adalah bahwa orang yang memiliki hutang (yang bukan konsumtif) sebetulnya juga boleh menjadi investor investasi dan bisa dikatakan sehat secara keuangan. Batas rasio untuk bisa dikatakan sehat adalah di bawah 30%.

3.       Rasio Dana Darurat

Diperoleh dari Total Aset Likuid / Total Biaya Tetap Bulanan

Yang termasuk total aset likuid antara lain dana kas, tabungan, deposito, giro, dan reksa dana pasar uang. Total biaya tetap bulanan terdiri dari seluruh pengeluaran yang sifatnya tetap setiap bulan seperti biaya sewa, iuran air listrik, cicilan-cicilan, biaya makan dan minum, uang sekolah anak dan biaya tetap lainnya yang tidak dapat dihemat lagi. Standar untuk rasio ini adalah 6 kali untuk lajang dan 12 kali untuk pasangan yang telah berkeluarga.

Situasi darurat tidak dapat diprediksi oleh setiap orang. Bayangkan, tiba-tiba anda membutuhkan dana besar karena ada kerabat yang mengalami musibah, pada saat yang sama seluruh uang anda ditempatkan di reksa dana saham. Dan kebetulan bursa saham sedang dalam periode rendah-rendahnya di tahun 2008. Dengan memiliki dana darurat yang cukup, investor akan terbebas dalam situasi dia harus mencairkan dananya pada saat situasi investasi sedang kurang baik.

4.       Rasio Biaya Terhadap Pendapatan

Diperoleh dari Total Biaya Tetap Bulanan / Total Pendapatan Tetap Bulanan

Standar untuk rasio ini adalah < 1. Rasio menyikapi gaya hidup seseorang. Gaya hidup yang sehat adalah gaya hidup dimana seluruh pengeluaran yang sifatnya tetap dapat dicover dari pendapatan yang sifatnya tetap pula. Apabila memiliki rasio lebih dari 1, berarti gaya hidup anda terlalu “tinggi” dan perlu dilakukan penyesuaian. Caranya bisa dengan mengubah pendapatan variabel menjadi pendapatan tetap, seperti meminta kenaikan gaji. Atau berusaha berhemat dengan menurunkan pengeluaran yang sifatnya tetap.

Rasio Kesehatan Keuangan Untuk Financial Check Up

Keterangan :

Hutang Konsumtif           = Hutang KTA dan Hutang Kartu Kredit

Cicilan Bulanan                  = Cicilan Kartu Kredit, Kredit Rumah, Kredit Kendaraan

Aset Likuid                          = Tabungan, Giro, Deposito, Reksa Dana Pasar Uang

Investasi reksa dana bukan merupakan investasi yang memberikan jaminan kepastian hasil. Ada risiko naik turunnya harga yang harus dipahami dan akan dihadapi oleh investor. Pada saat menghadapi ketidakpastian harga, penting sekali bagi investor untuk mengambil keputusan dengan tenang. Jika investor berada dalam kondisi kesehatan keuangan yang tidak baik, maka terdapat kemungkinan investor mengambil keputusan yang salah. Sebagai ilustrasi, misalnya investor dihadapkan pada kondisi harga saham yang sedang turun, pada saat yang sama, dia terpaksa menjual reksa dana tersebut karena kekurangan dana untuk membayar total cicilan kartu kreditnya yang sudah jatuh tempo.

Financial check up perlu dilakukan secara periodik paling tidak 6 bulan sekali. Selain itu, pada saat investor akan mengambil keputusan keuangan yang sifatnya penting seperti mengambil KPR, KTA, pengeluaran dalam jumlah yang besar Liburan jauh, pernikahan, biaya rumah sakit. Financial check up sebaiknya dilakukan sebelum keputusan keuangan tersebut diambil. Jika kebutuhan bersifat urgent sehingga tidak ada pilihan lain, review dilakukan setelah keputusan tersebut di ambil sambil mencari cara untuk memperbaiki kondisi keuangan agar sehat kembali.

Kesiapan investasi merupakan hal penting yang harus dilakukan oleh investor sebelum berinvestasi. Jangan terburu-buru mengambil keputusan, jangan pula terbuai untuk berinvestasi hanya karena iming-iming reksa dana tersebut memberikan return yang tinggi di masa lalu. Semoga artikel ini bermanfaat bagi anda yang ingin menjadi calon investor reksa dana..

Meminjam pepatah

Berakit-rakit Ke Hulu, Berenang-renang Ke Tepian

Bikin Sehat Keuangan Dulu, Investasi Reksa Dana Kemudian

Penyebutan produk investasi di atas (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis.

“Melakukan copy & paste artikel berita ini dan atau mendistribusikan ulang melalui situs atau blog Anda tanpa izin tertulis adalah melanggar Hak Cipta / Copyright ©”

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:
  1. Prabu
    September 25th, 2011 at 13:02 | #1

    Halo Pak Rudi… :)

    Saya baru lulus kuliah dan akan bekerja bulan depan. Dari gaji saya, saya tertarik mau ikut reksadana. Tapi setelah membaca artikel dari Pak Rudi, saya jadi teringat bahwa melihat harga rumah yang semakin melambung, saya jadi berpikir bagaimana caranya agar saya bisa membeli rumah saya sendiri tanpa meminta dari orang tua.

    Menurut Pak Rudi, apa yang harus saya lakukan agar saya bisa mulai berinvestasi dan bisa membeli rumah sendiri :
    1. Apakah dengan hutang bank dulu lalu dananya untuk beli emas. Nanti emasnya dijual jika harga emas melambung tinggi seperti sekarang.
    2. KPR rumah langsung.
    3. Menyisihkan gaji saya untuk berinvestasi di reksadana lalu keuntungan dari reksadana digunakan untuk menyicil rumah? Tapi dengan menggunakan keuntungan reksadana berarti kuantiti di reksadana saya akan berkurang karena di redeem untuk membayar cicilan rumah, rugi juga dong berarti.

    Terimakasih :)

  2. September 26th, 2011 at 17:14 | #2

    @Prabu
    Yth Prabu,

    Saran saya anda kumpulkan uang di deposito atau tabungan sampai mencukupi untuk DP Rumah (umumnya 20% – 25% dari harga rumah termasuk biaya administrasinya), kemudian ambil KPR langsung yang besarnya cicilan rumah setara dengan 30% gaji bulanan anda.

    Lakukan investasi baru ketika setelah membayar cicilan rumah, uang ke orang tua, amal dan sedekah dan kebutuhan hidup pokok masih ada uang sisa, baru diinvestasikan.

    Selamat menghadapi dunia nyata dan semoga sukses.

  3. William
    January 15th, 2012 at 01:36 | #3

    Yth. Pak Rudi

    Saya ingin bertanya, saya seorang mahasiswa usia 21 tahun.
    Saya berinvestasi di RD Saham 4 bulan yang lalu.
    Sebaiknya berapa % dari tabungan saya diinvestasikan ke RD saham?

    Menurut Bapak, teknik top up yang baik seperti apa?
    1. Top up dengan jumlah tetap per bulan
    2. Top up per bulan bervariasi sesuai kondisi NAB saat itu

  4. January 15th, 2012 at 10:33 | #4

    @William
    Yth William,

    Jika anda adalah mahasiswa yang belum memiliki tanggungan keluarga dan ada uang lebih, maka saya sarankan anda bisa berinvestasi sesuai kemampuan saja.
    Pada bagian ini telah dibahas beberapa teknik investasi http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/category/perencanaan-investasi/
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/11/26/strategi-investasi-dynamic-averaging-and-cost-rebalancing/

    Namun ketika anda sudah selesai kuliah dan benar2 memulai dari 0 (tidak ada sokongan biaya hidup dari keluarga, tidak ada rumah dan kendaraan yang cicilannya sudah lunas, dan tidak ada bisnis orang tua yang dilanjutkan), kondisi keuangan yang menurut anda lebih saat masih mahasiswa akan menjadi sangat kurang. Seiring dengan bertambahnya umur, kebutuhan tentu akan semakin meningkat. Untuk sekedar bisa mencapai kondisi finansial yang sehat seperti pada artikel di atas saja membutuhkan perjuangan yang sangat keras.

    So, sangat baik anda sudah mau memulai investasi sejak masih muda, namun saya sarankan investasi cukup dilakukan ketika ada uang lebih saja. Lebih baik fokus kamu dilakukan pada membangun bisnis / karier. Sebagai informasi, untuk bisa hidup makmur di Jakarta, setidaknya anda membutuhkan penghasilan setidaknya 15 – 20 juta per bulan. Referensi artikel bisa anda baca http://strategimanajemen.net/2008/11/17/berapa-besar-gaji-anda-untuk-bisa-hidup-dengan-layak/

    Semoga bermanfaat.

  5. February 3rd, 2012 at 08:55 | #5

    Thanks pak Rudi atas link-nya…:)

    Btw, blog Anda ini benar-benar the best dalam jagat investasi pasar modal di tanah air. Web infovesta.com juga sangat informatif.

    Bagi saya reksadana (yang di-invest secara long term, 10 atau 15 tahun) adalah salah satu TIKET AMPUH untuk ikut riding the wave of Indonesian economy.

    20 tahun lagi, Indonesia akan menjadi the next dragon di Asia. Kata ahli, jangan hanya jadi penonton pasif……kita harus ikut menikmati gelombang dahsyat itu.

    Nah saya melihat investasi di reksadana adalah salah satu tiket agar kita kebagian kursi dalam penerbangan kemakmuran bangsa yang sangat cemerlang itu.

    Again, thanks for your amazing blog and amazing website (infovesta).

  6. February 3rd, 2012 at 11:48 | #6

    @Yodhia @ Blog Strategi + Manajemen
    Terima kasih pak.

    Blog bapak juga sangat bagus. Saya juga termasuk salah satu pembaca setia di blog anda.
    Selamat berkarya ya.

  7. February 7th, 2012 at 08:29 | #7

    Wow, saya sangat terbantu dengan tulisan ini. Kebetulan saya lagi senang baca-baca artikel tentang financial planning :-)

  8. eko
    February 9th, 2012 at 19:02 | #8

    Yth. Pak Rudi
    Mohon saran, saya seorang PNS. saat ini saya punya sisa pokok pinjaman di bank sebesar +_ 64 juta, yang harus saya cicil perbulan sekitar 1,45an juta sampai Oktober 2017 nanti. mulai tahun ini saya bisa menyisihkan penghasilan kami 2 juta perbulan.
    sebelumnya saya berencana ingin invest reksadana, namun setelah baca tulisan Bapak saya jadi bingung dengan sisa gaji saya itu, untuk DCA reksadana saja dengan harapan dapat return yang bagus, apa untuk memperbesar angsuran utang agar cepat lunas (tidak sampai 2017).
    Terimakasih atas jawabannya

  9. February 10th, 2012 at 08:19 | #9

    @eko
    Yth Pak Eko,

    Kalau pinjaman anda merupakan pinjaman berbunga tinggi (kartu kredit / KTA) maka saya menyarankan agar dilunasi secepatnya. Apabila pinjaman tersebut adalah pinjaman dengan bunga rendah (KPR), maka sebetulnya kalau ada kelebihan dana tidak ada salahnya diinvestasikan. Tentu setelah mempertimbangkan faktor rasio keuangan lainnya.

    Semoga bermanfaat. Terima kasih.

  10. vi_roez
    April 28th, 2012 at 11:31 | #10

    halo pak rudi, saya baru kemarin membaca artikel2 anda…bagus dan sangat berguna sekali untuk saya…

    saya juga baru tertarik dan ingin mencoba reksadana (masih sangat awam)…

    Kira2 menurut bapak, reksadana apa yang kira2 cocok dengan saya
    saya seorang karyawati, belum punya tanggungan (umur 26) dan penghasilan 3juta perbulan..

    Saya tipe orang yang bisa menabung, tapi juga bisa mengeluarkan tabungan dengan mudah (dgn adanya atm), saya punya 2 atm (yang pertama untuk belanja), (yg kedua untuk jaga2 saja…tapi sering kali kalau ATM 1 saya kosong, saya akan menggunakan ATM 2 ).

    Saya Memiliki:
    2 Tabungan (Atm 1 sudah bisa dipastikan akan habis untuk 1 bulan)
    2 Asuransi (kantor dan sendiri)

    Anggap saja gaji 3jt – 1jt(pengeluaran saya/ATM 1)= 2 juta (Sisa/ ATM 2)

    Saya ingin membagi pengeluaran saya (berdasarkan prioritas saya):
    1. Jalan2 (Saya tipe penjelajah)
    2. Dana Pensiun
    3. Bisnis
    4. Beli Rumah
    5. Belanja sehari-hari (saya pakai ATM 1)
    6. Untuk biaya di Luar Dugaan/ Dana cadangan (ATM2)
    7. DLL (Seperti Menikah dan Pendidikan Anak)

    Saya adalah tipe orang yang tidak mau mengambil resiko terlalu besar, Untuk memulai-nya saya mungkin akan mencoba dengan nominal yang cukup rendah antara 100-300rb (searching di bank commonwealth bisa 100rb)

    Saya Tertarik dengan Reksa Dana Pendapatan Tetap dan Reksa Dana Campuran.

    Untuk Tujuan Jalan-Jalan saya ingin mengambil Reksa Dana Pendapatan Tetap.
    Bagaimana menurut Bapak? dan bagaimana kalau saya juga ingin mengambil Reksa dana untuk Dana Pensiun (Apakah saya bisa mengambil 2 paket yang berbeda?) Reksa Dana apa yang cocok untuk dana Pensiun atau lainnya yg lebih cocok selain Reksa Dana?

    Menurut bapak apa yang harus saya lakukan lagi, untuk bisa membagi gaji saya yang 3 juta itu berdasarkan pembagian pengeluaran saya, apakah saya harus membuka rekening yang lain lagi atau bagaimana? saya minta sarannya pak Rudy.

    terima kasih,
    Karyawan yang ingin berhemat

  11. Rudiyanto
    April 28th, 2012 at 16:56 | #11

    @vi_roez
    Halo Vi,

    Tanpa bermaksud “menggurui”, pertama-tama saya harus memuji anda. Saya rasa tidak banyak orang di usia 26 yang sudah memiliki tujuan hidup yang jelas dan rencana untuk mencapainya. Bahkan anda punya moto “Karyawan yang ingin berhemat”.

    Tapi tanpa mengurangi rasa hormat, saya rasa anda harus “Realistis”. Dengan asumsi kenaikan gaji anda 12% per tahun (2 kali inflasi), maka anda baru akan punya gaji 6 juta di usia 32 dan 12 juta di usia 38. Angka itu juga sebetulnya masih belum cukup untuk hidup “agak mapan” di kota besar di Indonesia yang membutuhkan sekitar 15 juta per bulan. Referensi dari mas Yodia http://strategimanajemen.net/2008/11/17/berapa-besar-gaji-anda-untuk-bisa-hidup-dengan-layak/

    Dan saya juga sependapat dengan bapak Mario Teguh bahwa “Hemat Bukan Pangkal Kaya, Kalau mau kaya, harus banyak menghasilkan, baru kemudian berhemat” https://twitter.com/#!/MTLovenHoney/status/183493584950018048

    Jadi, anda sudah memenuhi syarat pertama untuk bisa menjadi orang kaya, yaitu memiliki harapan (1 – 7 prioritas anda). Namun langkah selanjutnya adalah jangan membuat harapan tersebut menjadi mimpi atau ilusi, akan tetapi bagaimana caranya agar menjadi kenyataan. Reksa Dana, “Menurut saya” adalah salah satu sarana untuk membuat anda bertambah kaya, namun bukan satu-satunya. Bagaimanapun, anda mesti memiliki karir / usaha yang membuat anda memiliki kehidupan yang mapan dahulu.

    Saya tidak ingin mengurangi semangat anda dalam melakukan investasi, namun dengan kondisi anda saat ini, saran saya, tambahkan pengembangan diri (karakter, karir & penghasilan) di prioritas pertama anda, baru setelah itu rencana-rencana lainnya. Jika anda mengikuti acara Suze Orman (Financial Planner dari US), salah satu Quote beliau yang saya suka, People First, Then Money, Then Things.

    Pendapat saya di atas bisa diperdebatkan, tapi saya hanya mengharapkan yang terbaik untuk anda semua. Terima kasih

  12. vi_roez
    April 30th, 2012 at 09:46 | #12

    makasih masukkannya pak rudi…saya sangat menghargainya…saya akan mencoba memahami penjelasan bapak terlebih dahulu…apabila ada pertanyaan…saya akan tanyakan lagi ke bapak….
    terima kasih banyak pak :)

  13. Rudiyanto
    April 30th, 2012 at 10:17 | #13

    @vi_roez
    Sama2 Vi,

    Ngomong2 gimana caranya masukkan avatar yang gambar itu ya? saya coba2, ga bisa2?

  14. sherine
    May 7th, 2012 at 14:15 | #14

    Pak saya 36 th punya kpr dg bunga 14%/tahun total utang msh 150juta dan masih sktr 11 tahun lagi, apabila saya dapat uang lebih/bonus apakah lebih baik saya investasikan ke reksadana atau untuk mengurangi cicilan kpr? terimakasih sebelumnya

  15. Rudiyanto
    May 7th, 2012 at 16:16 | #15

    @sherine
    Yth Ibu Sherine,

    Bisa tolong sebutkan angka anda dari 4 rasio di atas?

  16. sherine
    May 8th, 2012 at 14:34 | #16

    rasio hutang konsumtif saya : 0, rasio cicilan 35%, rasio dana darurat : 3 ; rasio biaya = 1

  17. Rudiyanto
    May 8th, 2012 at 19:34 | #17

    @sherine
    Terima kasih Ibu Sherine atas informasinya.
    Kalau melihat rasio di atas, saran saya coba kurangi cicilan KPRnya.

    Sebab dengan asumsi perkiraan cicilan kamu 2.5 juta per bulan yang merupakan 35% dari penghasilan anda, sisanya yang sebesar 5 juta sudah dihabiskan untuk kebutuhan sehari-hari. Kesehatan keuangan anda memang baik karena memiliki cadangan 3 bulan pengeluaran. Akan tetapi akan lebih baik lagi jika cicilan pokok hutang anda berkurang, misalnya dari Rp 2.5 juta menjadi Rp 2 juta atau lebih rendah. Sisanya sebesar Rp 500.000 bisa dianggap sebagai disposable income (bagian pendapatan yang bisa disisihkan). Uang tersebut bisa anda gunakan menambah cadangan dana darurat, diinvestasikan atau meningkatkan kualitas hidup (baca : pengeluaran per bulan). Hal ini karena rasio biaya thd pendapatan kamu sudah mencapai 1, sehingga menurut saya mungkin membuat pengeluaran menjadi serba “pas-pasan”. Prinsip saya lebih baik pendapatan > biaya karena masih bisa menabung daripada Pendapatan < Biaya akan tetapi punya investasi / tabungan tapi tergerus terus menerus.

    Demikian pendapat saya, semoga bermanfaat.

  18. Fanny
    September 8th, 2012 at 14:51 | #18

    Pak Rudi,

    Usia saya saat ini 35 tahun, saya berencana pensiun di usia 60 tahun, dan ingin mendapatkan uang sekitar 15 juta pertahun ketika pensiun nanti. Kita-kira bagaimana rencana investasi yg harus saya lakukan? Saat ini saya sudah memiliki rumah dan mobil dan tidak memiliki hutang.

    Terima kasih,
    Fanny

  19. Fanny
    September 8th, 2012 at 14:53 | #19

    Maaf ada koreksi:

    Usia saya saat ini 35 tahun, saya berencana pensiun di usia 60 tahun, dan ingin mendapatkan uang sekitar 15 juta perbulan ketika pensiun nanti. Kita-kira bagaimana rencana investasi yg harus saya lakukan? Saat ini saya sudah memiliki rumah dan mobil dan tidak memiliki hutang.

    Terima kasih,
    Fanny

  20. Rudiyanto
    September 13th, 2012 at 12:50 | #20

    @Fanny
    Yth Fanny,

    Secara keuangan kondisi anda sangat baik dan mungkin menjadi idaman banyak orang di Indonesia. Punya Rumah dan Kendaraan, Bebas Hutang + masih Muda. Berarti fokus anda sebetulnya cukup pada persiapan pendidikan anak (jika sudah berkeluarga) dan menyiapkan dana pensiun. Mengenai bagaimana merencanakan investasi, anda bisa menghubungi tenaga marketing atau CS panin. Kami menyediakan tools perencanaan keuangan yang dapat membantu anda dari menghitung kebutuhan investasi, menghitung berapa investasi per bulan, dan bagaimana proses pemantauannya. Informasi no telp di (62 21) 515-0605 (direct Customer Service). Untuk artikel referensi anda bisa membaca di link ini http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/11/26/strategi-investasi-dynamic-averaging-and-cost-rebalancing/

    Semoga bermanfaat, mohon maaf sebelumnya atas keterlambatan membalas pertanyaan anda. Terima kasih

Comment pages
1 2 3 7 187
  1. April 25th, 2011 at 13:31 | #1
  2. April 19th, 2014 at 18:46 | #2
  3. December 3rd, 2014 at 06:34 | #3


%d bloggers like this: