Home > Belajar Reksa Dana > Sehat Dulu, Investasi Kemudian..

Sehat Dulu, Investasi Kemudian..

Kini reksa dana bukan lagi menjadi produk investasi yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan terbatas saja. Minimum investasi yang semakin rendah membuka akses kepada investor dari segala kalangan untuk bisa ikut berinvestasi pada seluruh produk ini. Sampai-sampai ada masukan, bahkan tukang becakpun bisa berinvestasi asalkan mau menyisihkan uang rokoknya dalam 1 bulan. Meski demikian, sebelum berinvestasi seharusnya investor melakukan self assessment, apakah dia sudah siap untuk berinvestasi pada reksa dana?

Kesiapan untuk berinvestasi pada reksa dana tidak ditentukan oleh berapa besar uang yang dimiliki saat ini. Oleh karena itu, memiliki jumlah uang kas di atas saldo minimum investasi tidak menjadi suatu kepastian seseorang pasti siap menjadi investor reksa dana. Untuk menjadi investor reksa dana, seseorang harus “Sehat secara Keuangan”.

Definisi sehat secara keuangan tidak ditentukan dari seberapa banyak jumlah uang dimiliki seseorang. Tapi juga darimana asalnya, apakah dari hutang, pinjaman lain atau memang hasil tabungan? Gaji boleh besar, apakah pengeluaran juga besar pula? Untuk mengetahui apakah seseorang sehat secara finansial dapat dilakukan dengan melakukan Financial Check up.

Financial Check Up berbeda dengan profil risiko ataupun data kondisi keuangan yang anda isi pada saat formulir pembukaan rekening reksa dana. Profil risiko bertujuan untuk menunjukkan jenis reksa dana seperti apa yang cocok untuk anda, sementara data yang terdapat pada formulir pembukaan rekening hanya bersifat informasional saja.

Financial check up dilakukan dengan cara mengukur rasio-rasio keuangan seseorang, kemudian membandingkan rasio-rasio tersebut dengan suatu rasio standar. Apabila rasio keuangan pribadi orang tersebut sudah sama atau lebih baik dibandingkan dengan rasio standar, maka seseorang dikatakan “Sehat Secara Keuangan” dan siap untuk menjadi investor. Ada 4 rasio yang dipergunakan dalam financial check up antara lain :

1.       Rasio Hutang Konsumtif

Diperoleh dari Total Hutang Konsumtif / Total Pendapatan Bulanan

Yang termasuk dalam hutang konsumtif antara lain Hutang / Kredit Tanpa Agunan dan Hutang Kartu Kredit. Standar untuk rasio ini adalah 0%. Rasio ini menjadi rasio yang utama dalam menentukan seseorang sehat atau tidak. Jika seseorang sampai memiliki hutang konsumtif untuk alasan apapun, maka orang tersebut tidak sehat secara keuangan dan tidak layak untuk menjadi investor.

2.       Rasio Cicilan

Diperoleh dari Total Cicilan Bulanan / Total Pendapatan Tetap Bulanan

Yang termasuk total cicilan bulanan antara lain Cicilan KPR, Cicilan Motor, Cicilan Apartemen dan Cicilan lainnya. Total Pendapatan Tetap Bulanan adalah komponen pendapatan bulanan yang sifatnya tetap. Jika penghasilan seseorang terdiri dari Gaji yang Tetap dan Komisi yang variabel, maka hanya Gaji tetap yang dipergunakan. Standar untuk rasio ini adalah < 30%.

Poin dari rasio ini adalah bahwa orang yang memiliki hutang (yang bukan konsumtif) sebetulnya juga boleh menjadi investor investasi dan bisa dikatakan sehat secara keuangan. Batas rasio untuk bisa dikatakan sehat adalah di bawah 30%.

3.       Rasio Dana Darurat

Diperoleh dari Total Aset Likuid / Total Biaya Tetap Bulanan

Yang termasuk total aset likuid antara lain dana kas, tabungan, deposito, giro, dan reksa dana pasar uang. Total biaya tetap bulanan terdiri dari seluruh pengeluaran yang sifatnya tetap setiap bulan seperti biaya sewa, iuran air listrik, cicilan-cicilan, biaya makan dan minum, uang sekolah anak dan biaya tetap lainnya yang tidak dapat dihemat lagi. Standar untuk rasio ini adalah 6 kali untuk lajang dan 12 kali untuk pasangan yang telah berkeluarga.

Situasi darurat tidak dapat diprediksi oleh setiap orang. Bayangkan, tiba-tiba anda membutuhkan dana besar karena ada kerabat yang mengalami musibah, pada saat yang sama seluruh uang anda ditempatkan di reksa dana saham. Dan kebetulan bursa saham sedang dalam periode rendah-rendahnya di tahun 2008. Dengan memiliki dana darurat yang cukup, investor akan terbebas dalam situasi dia harus mencairkan dananya pada saat situasi investasi sedang kurang baik.

4.       Rasio Biaya Terhadap Pendapatan

Diperoleh dari Total Biaya Tetap Bulanan / Total Pendapatan Tetap Bulanan

Standar untuk rasio ini adalah < 1. Rasio menyikapi gaya hidup seseorang. Gaya hidup yang sehat adalah gaya hidup dimana seluruh pengeluaran yang sifatnya tetap dapat dicover dari pendapatan yang sifatnya tetap pula. Apabila memiliki rasio lebih dari 1, berarti gaya hidup anda terlalu “tinggi” dan perlu dilakukan penyesuaian. Caranya bisa dengan mengubah pendapatan variabel menjadi pendapatan tetap, seperti meminta kenaikan gaji. Atau berusaha berhemat dengan menurunkan pengeluaran yang sifatnya tetap.

Rasio Kesehatan Keuangan Untuk Financial Check Up

Keterangan :

Hutang Konsumtif           = Hutang KTA dan Hutang Kartu Kredit

Cicilan Bulanan                  = Cicilan Kartu Kredit, Kredit Rumah, Kredit Kendaraan

Aset Likuid                          = Tabungan, Giro, Deposito, Reksa Dana Pasar Uang

Investasi reksa dana bukan merupakan investasi yang memberikan jaminan kepastian hasil. Ada risiko naik turunnya harga yang harus dipahami dan akan dihadapi oleh investor. Pada saat menghadapi ketidakpastian harga, penting sekali bagi investor untuk mengambil keputusan dengan tenang. Jika investor berada dalam kondisi kesehatan keuangan yang tidak baik, maka terdapat kemungkinan investor mengambil keputusan yang salah. Sebagai ilustrasi, misalnya investor dihadapkan pada kondisi harga saham yang sedang turun, pada saat yang sama, dia terpaksa menjual reksa dana tersebut karena kekurangan dana untuk membayar total cicilan kartu kreditnya yang sudah jatuh tempo.

Financial check up perlu dilakukan secara periodik paling tidak 6 bulan sekali. Selain itu, pada saat investor akan mengambil keputusan keuangan yang sifatnya penting seperti mengambil KPR, KTA, pengeluaran dalam jumlah yang besar Liburan jauh, pernikahan, biaya rumah sakit. Financial check up sebaiknya dilakukan sebelum keputusan keuangan tersebut diambil. Jika kebutuhan bersifat urgent sehingga tidak ada pilihan lain, review dilakukan setelah keputusan tersebut di ambil sambil mencari cara untuk memperbaiki kondisi keuangan agar sehat kembali.

Kesiapan investasi merupakan hal penting yang harus dilakukan oleh investor sebelum berinvestasi. Jangan terburu-buru mengambil keputusan, jangan pula terbuai untuk berinvestasi hanya karena iming-iming reksa dana tersebut memberikan return yang tinggi di masa lalu. Semoga artikel ini bermanfaat bagi anda yang ingin menjadi calon investor reksa dana..

Meminjam pepatah

Berakit-rakit Ke Hulu, Berenang-renang Ke Tepian

Bikin Sehat Keuangan Dulu, Investasi Reksa Dana Kemudian

Penyebutan produk investasi di atas (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis.

“Melakukan copy & paste artikel berita ini dan atau mendistribusikan ulang melalui situs atau blog Anda tanpa izin tertulis adalah melanggar Hak Cipta / Copyright ©”

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:
  1. Prabu
    September 25th, 2011 at 13:02 | #1

    Halo Pak Rudi… :)

    Saya baru lulus kuliah dan akan bekerja bulan depan. Dari gaji saya, saya tertarik mau ikut reksadana. Tapi setelah membaca artikel dari Pak Rudi, saya jadi teringat bahwa melihat harga rumah yang semakin melambung, saya jadi berpikir bagaimana caranya agar saya bisa membeli rumah saya sendiri tanpa meminta dari orang tua.

    Menurut Pak Rudi, apa yang harus saya lakukan agar saya bisa mulai berinvestasi dan bisa membeli rumah sendiri :
    1. Apakah dengan hutang bank dulu lalu dananya untuk beli emas. Nanti emasnya dijual jika harga emas melambung tinggi seperti sekarang.
    2. KPR rumah langsung.
    3. Menyisihkan gaji saya untuk berinvestasi di reksadana lalu keuntungan dari reksadana digunakan untuk menyicil rumah? Tapi dengan menggunakan keuntungan reksadana berarti kuantiti di reksadana saya akan berkurang karena di redeem untuk membayar cicilan rumah, rugi juga dong berarti.

    Terimakasih :)

  2. September 26th, 2011 at 17:14 | #2

    @Prabu
    Yth Prabu,

    Saran saya anda kumpulkan uang di deposito atau tabungan sampai mencukupi untuk DP Rumah (umumnya 20% – 25% dari harga rumah termasuk biaya administrasinya), kemudian ambil KPR langsung yang besarnya cicilan rumah setara dengan 30% gaji bulanan anda.

    Lakukan investasi baru ketika setelah membayar cicilan rumah, uang ke orang tua, amal dan sedekah dan kebutuhan hidup pokok masih ada uang sisa, baru diinvestasikan.

    Selamat menghadapi dunia nyata dan semoga sukses.

  3. William
    January 15th, 2012 at 01:36 | #3

    Yth. Pak Rudi

    Saya ingin bertanya, saya seorang mahasiswa usia 21 tahun.
    Saya berinvestasi di RD Saham 4 bulan yang lalu.
    Sebaiknya berapa % dari tabungan saya diinvestasikan ke RD saham?

    Menurut Bapak, teknik top up yang baik seperti apa?
    1. Top up dengan jumlah tetap per bulan
    2. Top up per bulan bervariasi sesuai kondisi NAB saat itu

  4. January 15th, 2012 at 10:33 | #4

    @William
    Yth William,

    Jika anda adalah mahasiswa yang belum memiliki tanggungan keluarga dan ada uang lebih, maka saya sarankan anda bisa berinvestasi sesuai kemampuan saja.
    Pada bagian ini telah dibahas beberapa teknik investasi http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/category/perencanaan-investasi/
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/11/26/strategi-investasi-dynamic-averaging-and-cost-rebalancing/

    Namun ketika anda sudah selesai kuliah dan benar2 memulai dari 0 (tidak ada sokongan biaya hidup dari keluarga, tidak ada rumah dan kendaraan yang cicilannya sudah lunas, dan tidak ada bisnis orang tua yang dilanjutkan), kondisi keuangan yang menurut anda lebih saat masih mahasiswa akan menjadi sangat kurang. Seiring dengan bertambahnya umur, kebutuhan tentu akan semakin meningkat. Untuk sekedar bisa mencapai kondisi finansial yang sehat seperti pada artikel di atas saja membutuhkan perjuangan yang sangat keras.

    So, sangat baik anda sudah mau memulai investasi sejak masih muda, namun saya sarankan investasi cukup dilakukan ketika ada uang lebih saja. Lebih baik fokus kamu dilakukan pada membangun bisnis / karier. Sebagai informasi, untuk bisa hidup makmur di Jakarta, setidaknya anda membutuhkan penghasilan setidaknya 15 – 20 juta per bulan. Referensi artikel bisa anda baca http://strategimanajemen.net/2008/11/17/berapa-besar-gaji-anda-untuk-bisa-hidup-dengan-layak/

    Semoga bermanfaat.

  5. February 3rd, 2012 at 08:55 | #5

    Thanks pak Rudi atas link-nya…:)

    Btw, blog Anda ini benar-benar the best dalam jagat investasi pasar modal di tanah air. Web infovesta.com juga sangat informatif.

    Bagi saya reksadana (yang di-invest secara long term, 10 atau 15 tahun) adalah salah satu TIKET AMPUH untuk ikut riding the wave of Indonesian economy.

    20 tahun lagi, Indonesia akan menjadi the next dragon di Asia. Kata ahli, jangan hanya jadi penonton pasif……kita harus ikut menikmati gelombang dahsyat itu.

    Nah saya melihat investasi di reksadana adalah salah satu tiket agar kita kebagian kursi dalam penerbangan kemakmuran bangsa yang sangat cemerlang itu.

    Again, thanks for your amazing blog and amazing website (infovesta).

  6. February 3rd, 2012 at 11:48 | #6

    @Yodhia @ Blog Strategi + Manajemen
    Terima kasih pak.

    Blog bapak juga sangat bagus. Saya juga termasuk salah satu pembaca setia di blog anda.
    Selamat berkarya ya.

  7. February 7th, 2012 at 08:29 | #7

    Wow, saya sangat terbantu dengan tulisan ini. Kebetulan saya lagi senang baca-baca artikel tentang financial planning :-)

  8. eko
    February 9th, 2012 at 19:02 | #8

    Yth. Pak Rudi
    Mohon saran, saya seorang PNS. saat ini saya punya sisa pokok pinjaman di bank sebesar +_ 64 juta, yang harus saya cicil perbulan sekitar 1,45an juta sampai Oktober 2017 nanti. mulai tahun ini saya bisa menyisihkan penghasilan kami 2 juta perbulan.
    sebelumnya saya berencana ingin invest reksadana, namun setelah baca tulisan Bapak saya jadi bingung dengan sisa gaji saya itu, untuk DCA reksadana saja dengan harapan dapat return yang bagus, apa untuk memperbesar angsuran utang agar cepat lunas (tidak sampai 2017).
    Terimakasih atas jawabannya

  9. February 10th, 2012 at 08:19 | #9

    @eko
    Yth Pak Eko,

    Kalau pinjaman anda merupakan pinjaman berbunga tinggi (kartu kredit / KTA) maka saya menyarankan agar dilunasi secepatnya. Apabila pinjaman tersebut adalah pinjaman dengan bunga rendah (KPR), maka sebetulnya kalau ada kelebihan dana tidak ada salahnya diinvestasikan. Tentu setelah mempertimbangkan faktor rasio keuangan lainnya.

    Semoga bermanfaat. Terima kasih.

  10. vi_roez
    April 28th, 2012 at 11:31 | #10

    halo pak rudi, saya baru kemarin membaca artikel2 anda…bagus dan sangat berguna sekali untuk saya…

    saya juga baru tertarik dan ingin mencoba reksadana (masih sangat awam)…

    Kira2 menurut bapak, reksadana apa yang kira2 cocok dengan saya
    saya seorang karyawati, belum punya tanggungan (umur 26) dan penghasilan 3juta perbulan..

    Saya tipe orang yang bisa menabung, tapi juga bisa mengeluarkan tabungan dengan mudah (dgn adanya atm), saya punya 2 atm (yang pertama untuk belanja), (yg kedua untuk jaga2 saja…tapi sering kali kalau ATM 1 saya kosong, saya akan menggunakan ATM 2 ).

    Saya Memiliki:
    2 Tabungan (Atm 1 sudah bisa dipastikan akan habis untuk 1 bulan)
    2 Asuransi (kantor dan sendiri)

    Anggap saja gaji 3jt – 1jt(pengeluaran saya/ATM 1)= 2 juta (Sisa/ ATM 2)

    Saya ingin membagi pengeluaran saya (berdasarkan prioritas saya):
    1. Jalan2 (Saya tipe penjelajah)
    2. Dana Pensiun
    3. Bisnis
    4. Beli Rumah
    5. Belanja sehari-hari (saya pakai ATM 1)
    6. Untuk biaya di Luar Dugaan/ Dana cadangan (ATM2)
    7. DLL (Seperti Menikah dan Pendidikan Anak)

    Saya adalah tipe orang yang tidak mau mengambil resiko terlalu besar, Untuk memulai-nya saya mungkin akan mencoba dengan nominal yang cukup rendah antara 100-300rb (searching di bank commonwealth bisa 100rb)

    Saya Tertarik dengan Reksa Dana Pendapatan Tetap dan Reksa Dana Campuran.

    Untuk Tujuan Jalan-Jalan saya ingin mengambil Reksa Dana Pendapatan Tetap.
    Bagaimana menurut Bapak? dan bagaimana kalau saya juga ingin mengambil Reksa dana untuk Dana Pensiun (Apakah saya bisa mengambil 2 paket yang berbeda?) Reksa Dana apa yang cocok untuk dana Pensiun atau lainnya yg lebih cocok selain Reksa Dana?

    Menurut bapak apa yang harus saya lakukan lagi, untuk bisa membagi gaji saya yang 3 juta itu berdasarkan pembagian pengeluaran saya, apakah saya harus membuka rekening yang lain lagi atau bagaimana? saya minta sarannya pak Rudy.

    terima kasih,
    Karyawan yang ingin berhemat

  11. Rudiyanto
    April 28th, 2012 at 16:56 | #11

    @vi_roez
    Halo Vi,

    Tanpa bermaksud “menggurui”, pertama-tama saya harus memuji anda. Saya rasa tidak banyak orang di usia 26 yang sudah memiliki tujuan hidup yang jelas dan rencana untuk mencapainya. Bahkan anda punya moto “Karyawan yang ingin berhemat”.

    Tapi tanpa mengurangi rasa hormat, saya rasa anda harus “Realistis”. Dengan asumsi kenaikan gaji anda 12% per tahun (2 kali inflasi), maka anda baru akan punya gaji 6 juta di usia 32 dan 12 juta di usia 38. Angka itu juga sebetulnya masih belum cukup untuk hidup “agak mapan” di kota besar di Indonesia yang membutuhkan sekitar 15 juta per bulan. Referensi dari mas Yodia http://strategimanajemen.net/2008/11/17/berapa-besar-gaji-anda-untuk-bisa-hidup-dengan-layak/

    Dan saya juga sependapat dengan bapak Mario Teguh bahwa “Hemat Bukan Pangkal Kaya, Kalau mau kaya, harus banyak menghasilkan, baru kemudian berhemat” https://twitter.com/#!/MTLovenHoney/status/183493584950018048

    Jadi, anda sudah memenuhi syarat pertama untuk bisa menjadi orang kaya, yaitu memiliki harapan (1 – 7 prioritas anda). Namun langkah selanjutnya adalah jangan membuat harapan tersebut menjadi mimpi atau ilusi, akan tetapi bagaimana caranya agar menjadi kenyataan. Reksa Dana, “Menurut saya” adalah salah satu sarana untuk membuat anda bertambah kaya, namun bukan satu-satunya. Bagaimanapun, anda mesti memiliki karir / usaha yang membuat anda memiliki kehidupan yang mapan dahulu.

    Saya tidak ingin mengurangi semangat anda dalam melakukan investasi, namun dengan kondisi anda saat ini, saran saya, tambahkan pengembangan diri (karakter, karir & penghasilan) di prioritas pertama anda, baru setelah itu rencana-rencana lainnya. Jika anda mengikuti acara Suze Orman (Financial Planner dari US), salah satu Quote beliau yang saya suka, People First, Then Money, Then Things.

    Pendapat saya di atas bisa diperdebatkan, tapi saya hanya mengharapkan yang terbaik untuk anda semua. Terima kasih

  12. vi_roez
    April 30th, 2012 at 09:46 | #12

    makasih masukkannya pak rudi…saya sangat menghargainya…saya akan mencoba memahami penjelasan bapak terlebih dahulu…apabila ada pertanyaan…saya akan tanyakan lagi ke bapak….
    terima kasih banyak pak :)

  13. Rudiyanto
    April 30th, 2012 at 10:17 | #13

    @vi_roez
    Sama2 Vi,

    Ngomong2 gimana caranya masukkan avatar yang gambar itu ya? saya coba2, ga bisa2?

  14. sherine
    May 7th, 2012 at 14:15 | #14

    Pak saya 36 th punya kpr dg bunga 14%/tahun total utang msh 150juta dan masih sktr 11 tahun lagi, apabila saya dapat uang lebih/bonus apakah lebih baik saya investasikan ke reksadana atau untuk mengurangi cicilan kpr? terimakasih sebelumnya

  15. Rudiyanto
    May 7th, 2012 at 16:16 | #15

    @sherine
    Yth Ibu Sherine,

    Bisa tolong sebutkan angka anda dari 4 rasio di atas?

  16. sherine
    May 8th, 2012 at 14:34 | #16

    rasio hutang konsumtif saya : 0, rasio cicilan 35%, rasio dana darurat : 3 ; rasio biaya = 1

  17. Rudiyanto
    May 8th, 2012 at 19:34 | #17

    @sherine
    Terima kasih Ibu Sherine atas informasinya.
    Kalau melihat rasio di atas, saran saya coba kurangi cicilan KPRnya.

    Sebab dengan asumsi perkiraan cicilan kamu 2.5 juta per bulan yang merupakan 35% dari penghasilan anda, sisanya yang sebesar 5 juta sudah dihabiskan untuk kebutuhan sehari-hari. Kesehatan keuangan anda memang baik karena memiliki cadangan 3 bulan pengeluaran. Akan tetapi akan lebih baik lagi jika cicilan pokok hutang anda berkurang, misalnya dari Rp 2.5 juta menjadi Rp 2 juta atau lebih rendah. Sisanya sebesar Rp 500.000 bisa dianggap sebagai disposable income (bagian pendapatan yang bisa disisihkan). Uang tersebut bisa anda gunakan menambah cadangan dana darurat, diinvestasikan atau meningkatkan kualitas hidup (baca : pengeluaran per bulan). Hal ini karena rasio biaya thd pendapatan kamu sudah mencapai 1, sehingga menurut saya mungkin membuat pengeluaran menjadi serba “pas-pasan”. Prinsip saya lebih baik pendapatan > biaya karena masih bisa menabung daripada Pendapatan < Biaya akan tetapi punya investasi / tabungan tapi tergerus terus menerus.

    Demikian pendapat saya, semoga bermanfaat.

  18. Fanny
    September 8th, 2012 at 14:51 | #18

    Pak Rudi,

    Usia saya saat ini 35 tahun, saya berencana pensiun di usia 60 tahun, dan ingin mendapatkan uang sekitar 15 juta pertahun ketika pensiun nanti. Kita-kira bagaimana rencana investasi yg harus saya lakukan? Saat ini saya sudah memiliki rumah dan mobil dan tidak memiliki hutang.

    Terima kasih,
    Fanny

  19. Fanny
    September 8th, 2012 at 14:53 | #19

    Maaf ada koreksi:

    Usia saya saat ini 35 tahun, saya berencana pensiun di usia 60 tahun, dan ingin mendapatkan uang sekitar 15 juta perbulan ketika pensiun nanti. Kita-kira bagaimana rencana investasi yg harus saya lakukan? Saat ini saya sudah memiliki rumah dan mobil dan tidak memiliki hutang.

    Terima kasih,
    Fanny

  20. Rudiyanto
    September 13th, 2012 at 12:50 | #20

    @Fanny
    Yth Fanny,

    Secara keuangan kondisi anda sangat baik dan mungkin menjadi idaman banyak orang di Indonesia. Punya Rumah dan Kendaraan, Bebas Hutang + masih Muda. Berarti fokus anda sebetulnya cukup pada persiapan pendidikan anak (jika sudah berkeluarga) dan menyiapkan dana pensiun. Mengenai bagaimana merencanakan investasi, anda bisa menghubungi tenaga marketing atau CS panin. Kami menyediakan tools perencanaan keuangan yang dapat membantu anda dari menghitung kebutuhan investasi, menghitung berapa investasi per bulan, dan bagaimana proses pemantauannya. Informasi no telp di (62 21) 515-0605 (direct Customer Service). Untuk artikel referensi anda bisa membaca di link ini http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/11/26/strategi-investasi-dynamic-averaging-and-cost-rebalancing/

    Semoga bermanfaat, mohon maaf sebelumnya atas keterlambatan membalas pertanyaan anda. Terima kasih

  21. aan
    December 17th, 2012 at 21:30 | #21

    Dear pak rudi,
    Really love fokus bpk pd keselamatan keuangan pembaca di blog bertema reksadana ini.

    Kami keluarga baru dgn 1 anak (11m).Suami sy pns dgn pendapatan di kisaran 170jt/thn, namun yg tetap hanya 70jt, sisanya bersifat variabel. Kami tdk punya hutang konsumtif maupun cicilan, krn selama ini fokus menabung utk biaya sy lanjut program profesi thn dpn ( br tuntas terkumpul).
    Pendapatan reguler sbnrnya tdk cukup membiayai pgeluaran bulanan krn biaya hidup yg tinggi (domisili di Asmat), membiayai adik2 suami yg sdg kuliah, serta permintaan bantuan kelbes (hampir) tiap bulan. Meski dananya ada, tp sy merasa insecure dgn pola kelola keuangan kami skrg krn bergantung pd pndptn variabel. kami sekeluarga dilindungi askes, tp blm ada asuransi pendidikan anak. Krn target tabungan s2 sdh tercapai, kami brncana gabung di CU (Credit Union) sbg persiapan dana pinjaman beli rumah utk 3y ke depan. Byk rencana yg ada, tp kami blm paham meletakkan prioritas penempatan dana yg ada skrg. Apa realistis menyisihkan sbagian dana dlm btk reksadana u biaya pendidikan anak/liburan keluarga/pensiun. mohon masukan bp, khususnya konsep CU sbg pilihan penyimpanan uang. Trimakasih.

  22. Rudiyanto
    December 18th, 2012 at 18:05 | #22

    @aan
    Salam Aan, senang sekali bisa berdiskusi dengan pembaca yang datang dari berbagai penjuru di Indonesia.

    Sebelumnya saya ucapkan selamat karena hasil dari fokus anda, salah satu tujuan keuangan anda tercapai.

    Melihat kondisi anda, dimana prioritas menjadi salah satu masalah, maka kalau boleh saya kasih masukan sebagai berikut:
    1. Fokus untuk punya dana darurat setara 3-6 bulan pengeluaran. Katakan pengeluaran sebulan adalah Rp 10 juta, maka setidaknya ada Rp 30 – 60 juta di rekening darurat. Ingat karena ini benar2 darurat, maka untuk mencegah dipakai oleh kebutuhan sifatnya tidak darurat tarohlah di instrumen investasi yang agak sulit dicairkan. Semakin sulit dicairkan, biasanya orang akan semakin enggan untuk mengambilnya. Reksa Dana Pasar Uang atau Deposito bisa menjadi pilihan. Tapi jangan di tabungan yang ada ATMnya. Depositopun buatlah yang kalau dipecah di tengah jalan kena pinalti. Biar terasa sayang kalau dicairkan sebelum jatuh tempo dan punya alasan ketika diminta tolong untuk urusan yang sifatnya “kurang darurat” dari pihak lain seperti teman, keluarga, dll.

    2. Setelah punya dana darurat, maka kembali ke tujuan keuangan anda yaitu rencana untuk bisa DP Rumah. Saya tidak tahu berapa besarnya harga rumah yang anda maksud di Asmat. Selain itu, apakah yang anda maksud dengan credit union itu semacam Koperasi ? Dimana anda bersama teman2 yang lain menitipkan uang ke CU tersebut kemudian dari hasil perputaran dan keuntungan anda mendapat bagi hasil? Jika iya, faktor yang paling penting adalah Trust. Apakah pengurusnya anda kenal? Kemanakah Bisnis tersebut diputar? Apakah Bisnis tersebut bisa menghasilkan keuntungan yang wajar? Dan yang paling penting apakah, CU tersebut anda Percaya? Kalau anda memahami CU lebih baik daripada memahami reksa dana, maka sebetulnya lebih baik anda investasikan ke instrumen yang anda pahami. Sebab reksa dana juga butuh pemahaman yang sama sebelum kita “mempercayakan” tujuan keuangan kita.

    3. Dengan bertambah besarnya anak, tentu yang utama sekarang adalah pendidikannya. Namun daripada membeli asuransi pendidikan anak, sebaiknya anda membeli asuransi jiwa dan asuransi penyakit kritis untuk anda sendiri / suami anda yang merupakan tulang punggung keluarga. Untuk jaga-jaga saja supaya jika nanti terjadi kenapa2, dana pendidikan anak sudah bisa ditanggung oleh perusahaan asuransi. Jika membeli asuransi tradisional yang kalau tidak ada apa2 maka uang hangus, maka seharusnya angka tersebut tidak terlalu besar. Jadi anda bisa sambil menyiapkan rumah, sambil membeli asuransi jiwa dan kesehatan untuk anda dan suami.

    4. Kalau sudah punya asuransi dan sambil jalan menyiapkan dana membeli rumah serta masih ada uang sisa lagi maka langkah berikut baru menyiapkan pendidikan anak, liburan keluarga dan pensiun. Nah untuk yang ini, anda boleh menggunakan reksa dana atau ke CU yang anda percaya. Tinggal hitung2an berapa besar yang harus disisihkan.
    Boleh tahu, apakah di daerah anda terdapat Manajer Investasi atau Bank Agen Penjual yang melayani penjualan reksa dana? Apakah ada perusahaan asuransi yang bisa anda hubungi untuk kebutuhan tersebut?

    5. Dan juga yang paling penting. Karena hal inilah yang mengantarkan anda punya tabungan untuk pendidikan S2. Yaitu FOKUS!! Dengan fokus, baik di pikiran, tindakan dan ucapan, serta kerja keras maka apapun bisa dicapai.

    Demikian aan, semoga bisa masukan ini bermanfaat bagi anda. Terima kasih.

  23. aan
    January 7th, 2013 at 03:50 | #23

    halo pak rudi,

    Setahu sy MI belum ada di asmat. Jd, rencana2 yg ada hendak dilakukan di kota Merauke.

  24. Rudiyanto
    January 8th, 2013 at 18:32 | #24

    @aan
    Salam Pak Aan,

    Di coba saja pak. Saya tidak begitu yakin sudah ada Manajer Investasi yang membuka cabang di Kota Merauke. Tapi kalau Bank Agen Penjual Reksa dana mungkin ada. Coba saja anda datangi bank seperti Bank Mandiri atau Commonwealth Bank (jika ada), dan kalau beruntung di cabang kota tersebut terdapat petugas yang sudah memiliki Izin WAPERD jadi transaksi bisa dilakukan. Sebaiknya di telepon dulu agar perjalanan anda tidak sia2. Sebagai contoh, pengalaman saya bersama Bank Mandiri, ternyata tidak semua cabang melayani pembelian reksa dana. Hanya cabang yang ada agen berizin yang bisa melakukannya.

    Salam..

  25. Jamil
    June 9th, 2013 at 22:37 | #25

    Dear pak rudi, salam kenal. saat ini usia saya 29 tahun dan bekerja di sebuah perusahaan BUMN dengan gaji 5 juta per bulan, sedangkan istri berpenghasilan 2 juta per bulan. Berikut Financial Check Up saya (tanpa melibatkan gaji istri karena akan berencana resign dalam waktu yang belum ditentukan) :
    - Rasio Hutang Konsumtif = 0 % ;
    - Rasio Cicilan (KPR) = 36 % dengan sisa utang 94 juta (7 tahun) ;
    - Rasio Dana Darurat = 12 kali ;
    - Rasio Biaya Terhadap Pendapatan = 0,7.
    Saya baru setahun menikah dan insya Allah sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. pertanyaan saya :
    1. Investasi RD jenis apa yg tepat buat saya? terutama untuk Dana Pensiun dan Dana Pendidikan Anak
    2. Tepatkah saya jika dalam waktu dekat membeli mobil ? terkait kebutuhan mobilitas keluarga. jika iya, kisaran harga berapakah yg bisa saya beli dengan kondisi keuangan saat ini?
    saya tunggu penjelasan dan saran-saran dari bapak.
    Terima kasih

  26. Rudiyanto
    June 9th, 2013 at 23:28 | #26

    @Jamil
    Salam Pak Jamil,

    Sebelumnya saya mengucapkan selamat atas berita kehamilannya. Semoga ibu dalam keadaan sehat dan anak bisa dilahirkan dalam keadaan selamat dan sehat walafiat. Semoga anak anda Sholeh, Berbakti kepada orang tua dan bermanfaat bagi bangsa dan negara.

    Dengan resignnya istri anda, tentu pendapatan akan berkurang dan pengeluaran akan bertambah. Sebab setelah resign dan di rumah, belum tentu pengeluaran akan berkurang. Umumnya aktivitas di rumah akan bertambah banyak dan sometimes dan almost everytimes, aktivitas tersebut membutuhkan biaya.

    Apalagi dengan kehadiran anak anda, tentu pengeluaran akan bertambah. Dengan dana darurat yang 12 kali pengeluaran, maka secara keuangan harusnya anda cukup solid. Apalagi ada kelebihan sekitar Rp 1,5 juta setiap bulannya. Sebetulnya uang ini bisa digunakan untuk mengantisipasi pengeluaran ekstra sehubungan dengan kehadiran buah hati.

    Terkait pertanyaan anda, masukan saya mungkin sebagai berikut:
    1. Mungkin sulit karena kerja di perusahaan ada jenjang karir, tapi apakah memungkinkan bahwa pendapatan anda dinaikkan menjadi 2 kali lipat dalam 5 tahun? Kalaupun tidak bisa dari THP, paling tidak dari bonusnya. Sebab biaya membesarkan anak itu tidak murah.

    Rasio keuangan Pak Jamil baik karena biaya hidup anda tidak banyak. Jika anda bukan sangat bijaksana dalam melakukan pengeluaran, saya pikir anda tidak tinggal di kota besar. Atau bisa saja, anda masih tinggal dengan orang tua / keluarga sehingga sebagian pengeluaran anda sudah tercover (mohon koreksi jika salah).

    Pendapatan THP 10 juta sangat penting karena saat ini meskipun rasio anda baik, tapi itu lebih karena pengeluaran yang kecil. Namun biaya ini bisa naik pesat seiring dengan kehadiran buah hati anda. Jadinya saya khawatir yang tadinya sehat bisa menjadi kurang sehat.

    Sebagai contoh saja, katakan anda beli mobil, maka dengan mengisi premium saja, paling tidak sudah ada pengeluaran 750rb – 1 juta per bulan untuk bensin dan parkir. Belum lagi, asuransi dan biaya tidak terduga lainnya. Ini kita belum menghitung cicilan dan tentunya pembayaran DPnya akan membuat rasio dana darurat kamu berkurang.

    Terkait mobilitas keluarga, saran saya jika memang harus benar2 diperlukan kamu bisa sewa harian atau mingguan, atau naik taksi saja. Taksi bluebird layanannya sangat bagus, mobilnya juga bersih dan nyaman.

    2. Terkait pertanyaan nomor 1, menurut saya fokus kamu sebaiknya pada dana pendidikan anak. Kelebihan dana anda setiap bulan bisa anda investasikan pada reksa dana pasar uang atau reksa dana pendapatan tetap. Bukan berarti karena profil risiko anda konservatif, tapi lebih karena saya ingin kamu membiasakan dulu dengan kondisi pengeluaran setelah anda menjadi ayah.

    Jika ternyata masih ada dana sisa yang cukup banyak, maka baru kita diskusi lagi tentang perencanaan dana pendidikannya. Jika ternyata sudah menjadi ayah dan pengeluaran bertambah di luar antisipasi kamu, maka investasi yang sudah dimasukkan dapat ditarik sewaktu-waktu untuk kebutuhan sehari-hari.

    Menurut saya, yang harus anda lakukan saat ini adalah bersyukur, bekerja lebih keras untuk menyambut tanggung jawab yang diberikan Tuhan kepada anda, tetap menjaga hubungan baik dengan keluarga serta bersiap2 menjadi ayah yang baik.

    Semoga masukan saya bermanfaat.

  27. Andry silalahi
    June 14th, 2013 at 02:58 | #27

    Dear Pak Rudi, umur sy skrg adlah 35 thn, sya baru menikah skitar 5 bulan yg lalu & istri saat ini sdg hamil pak,

    Puji syukur Tuhan,
    saya mendapatkan Harta waris dari Ortu sebesar 2,5 M, nah setelah di kurangi untuk rumah – kendaraan dll tinggal sisa 1,5 M pak rudi

    Fokus saya saat ini adalah Mengembangkan aset, Mempersiapkan dana pendidikan & masa pensiun

    Menurut bpk apakah dana sisa 1,5 ini saya fokuskan semua ke RD saham ( saya tertarik ke panin prima kata temen panin dana maxima sdh tinggi harganya, ke panin dana prima aja )

    atau saya berbisnis properti ya pak terima kasih banyak pak

  28. Rudiyanto
    June 14th, 2013 at 08:42 | #28

    @Andry silalahi
    Yth Pak Andry,

    Sebelumnya saya turut berbahagia dengan situasi keluarga anda.

    Mengenai properti atau reksa dana itu sebaiknya ditempatkan di mana yang anda paham dan nyaman. Dan jika anda tertarik untuk berinvestasi di reksa dana Panin Asset Management, saran saya anda bisa menghubungi customer service atau marketing Panin Asset Management untuk mendapatkan penjelasan dan simulasi mengenai program pensiun dan dana pendidikan anak anda.

    Semoga bermanfaat pak.

  29. Andry silalahi
    June 15th, 2013 at 01:45 | #29

    @Pak Rudi trims banyak atas pencerahannya,

    stelah saya Search di google saya menemukan link forum discuss dr kaskus, yaitu agen panin sekuritas
    stelah ngobrol ngobrol, ternyata pendaftaran bisa via online pak asal dokumen lengkap dikirim scan via email, bahkan jk langsung transfer pun bisa tanpa tatap muka yg penting dokumen lengkap

    Menurut bpak apakah ini aman ?

    berikut link nya pak

    http://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000008784496/panin-dana-maksima-reksadana-terbaik-dari-panin-sekuritas/

    http://www.kaskus.co.id/thread/51a2bca6631243696c000006/reksadana-panin-return-terbaik-biaya-murah/3

  30. Rudiyanto
    June 15th, 2013 at 12:24 | #30

    @Andry silalahi
    Yth pak Andry,

    Perlu saya klarifikasi, bahwa informasi yang disampaikan terkait pendaftaran via online tersebut adalah kurang tepat.

    Untuk pembelian reksa dana pertama kali, calon investor diwajibkan untuk tatap muka langsung dengan agen penjual. Untuk pembelian berikutnya baru bisa dilakukan tanpa tatap muka. Bisa via faks, email ataupun online via website.

    Jadi persoalannya bukan aman tidak aman, tapi sesuai aturan atau tidak. Saya akan meminta pihak yang memposting informasi tersebut untuk mengklarifikasi hal ini.

    Sebagai informasi, sejak tahun 2011 juga sudah dilakukan spin off dimana Panin Asset Management lebih berfokus pada pengelolaan dan pemasaran reksa dana, sementara Panin Sekuritas lebih berfokus pada transaksi sekuritas, underwriting, dan di beberapa kota, berperan sebagai Agen Penjual Reksa Dana.

    Panin Sekuritas sendiri juga merupakan Induk dari Panin Asset Management, meski demikian kedua perusahaan dijalankan dengan manajemen yang terpisah dan profesional untuk memastikan agar layanan bisa diberikan dengan baik.

    Selain itu, sesuai dengan perkembangan tentang peraturan dan standar keamanan dalam investasi, tatap muka untuk pembelian pertama kali sudah merupakan kewajiban. Mungkin masih ada agen penjual yang belum mendapatkan informasi tersebut, dalam hal ini saya berterima kasih atas masukannya dan akan berupaya untuk memperbaiki hal ini.

    Demikian tanggapannya semoga dapat menjawab pertanyaan anda.

  31. Andry silalahi
    June 22nd, 2013 at 12:33 | #31

    Dear Pak Rudi,

    Terima kasih sekali atas pencerahannya, dan setelah saya terus memantau perkembangan RD akhirnya saya mantab & putuskan untuk Bergabung dengan Panin Asset management

    Mohon untuk informasi nya beberapa Hal :

    1. Untuk RDS PDM & PDP untuk Agen Bank Penjual Wilayah Bekasi & Bogor mhon informasi nya , BANK BCA & CIMB pak saya sdah survei tapi kok banyak yg tdk menerima RDS, nah klo saya ke PUSAT sepertinya agak jauh pak

    2. Untuk BCA / CIMB / PANIN yg sudah terkoneksi dng RDS PDM atau PDP wilayah Bogor atau Bekasi mohon informasi nya ?

    3. Pak untuk biaya nya PDM / PDP itu meliputi biaya apa saja ya ? ada berapa biaya pak ?Dan Fee Pembelian & Fee Redemtion itu total brpa pak ?

    Pengen saya sih bisa langsung ke Pusat panin asset management, cuma terlalu jauh…jika sudah mempunyai cabang di Bekasi, bogor , subang purwakarta atau depok wah itu lebih memudah kan pak hehhehe

    oh iya pak, bisa minta alamat email bapak ? atau alamat yahoo messenger bapak ?
    email saya : translive.advertising@gmail.com

    Terima kasih banyak pak atas informasi nya

  32. Rudiyanto
    June 23rd, 2013 at 10:44 | #32

    @Andry silalahi
    Yth Pak Andry,

    Sebelumnya saya berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada Panin Asset Management. Dan perlu saya jelaskan juga bahwa blog ini adalah milik pribadi dan bukan milik perusahaan. Jadi apabila anda ingin menanyakan informasi pembelian bisa langsung ke email cs@panin-am.co.id.

    Namun saya bisa bantu beberapa informasi sebagai berikut:
    Semua produk reksa dana Panin Asset Management (Kecuali Panin Gebyar Indonesia II yang dijual via Bank BCA) dijual sendiri oleh Panin Asset Management dan Agen Penjual yaitu Panin Sekuritas. Jadi anda hanya bisa membeli produk reksa dana ke cabang Panin Asset Management dan Panin Sekuritas.

    Terkait 5 bank yang saat ini sudah bekerja sama dengan kami yaitu Bank Panin, Bank CIMB Niaga, Bank BCA, Bank BRI dan Bank Mandiri, kerjasama adalah pada penyediaan jasa autodebet. Jadi jika anda memiliki rekening pada 5 bank tersebut anda bisa melakukan autodebet di reksa dana Panin Asset Management, namun proses autodebet tersebut hanya bisa dilakukan di Panin Asset Management atau Panin Sekuritas. Anda tidak bisa melakukan hal tersebut di ke 5 bank di atas karena peran mereka adalah penyedia jasa autodebet bukan bank agen penjual.

    Apabila lokasi anda cukup jauh dan waktu anda juga terbatas, saya boleh sarankan anda menghubungi salah satu dari cabang berikut http://www.panin-am.co.id/ContactUs.aspx dan meminta marketing Panin Asset Management mendatangi anda. Seluruh pertanyaan mengenai biaya dan nominal bisa ditanyakan langsung dengan agen penjual bersangkutan.

    Saya tidak melayani konsultasi pribadi, pertanyaan bisa ditanyakan via blog ini. Terima kasih.

  33. sisca
    July 5th, 2013 at 12:12 | #33

    pak rudi,

    umur saya 35 th, pendapatan 18.5 jt.
    kondisi keuangan saya saat ini :
    rasio hutang konsumtif 10.2 % (per januari 2014 akan menjadi 0 %)
    rasio cicilan 14.6 % (sisa kpr 178 juta berakhir sept 2023 )
    rasio dana darurat 2 kali
    rasio biaya terhadap pendapatan 0.46

    saat ini saya baru saja mengambil mempunyai 1 reksadana campuran dan 2 reksadana saham untuk pendidikan 2 anak dan hari tua.
    yang ingin saya tanyakan :
    1. saya merencanakan untuk memperbesar rasio dana darurat. sebaiknya dengan reksadana atau menabung biasa, jika dengan reksadana sebaiknya reksadana apa?
    2. jika ada uang, sebaiknya saya pergunakan untuk mengurangi pokok kpr saya atau diinvestasikan di reksadana?

    terima kasih.

  34. Rudiyanto
    July 5th, 2013 at 12:53 | #34

    @sisca
    Salam Siska,

    Selamat, pendapatan anda tentu besar sekali utk ukuran masyarakat Indonesia sekarang ini.
    Kalau dari rasio anda yang harus anda benahi cuma rasio dana darurat saja, dan sebetulnya anda sudah sangat bagus karena mampu menabung 50% dari income anda sebulan.

    Kalau untuk dana darurat bisa reksa dana pasar uang atau deposito. Tabungan juga ok.
    Sementara kalau ada kelebihan uang, maka bisa diinvestasikan karena rasio hutang produktif anda juga masih aman (dibawah 30%). Semoga bermanfaat.

  35. sisca
    July 5th, 2013 at 14:07 | #35

    Terima kasih Pak atas informasinya. Saya banyak belajar dari tulisan2 Bapak.

  36. Lilis
    July 17th, 2013 at 14:24 | #36

    yth. pak rudianto

    saat ini saya berusia 26 tahun. suami 27 tahun. dan 1 anak usia 8 bulan. total gaji kami keseluruhan Rp 5.000.000,-. dikurangi pengeluaran rutin / bulan seperti:
    biaya cicilan motor /bulan Rp 600.000,- + kontrakan Rp 850.000,- + bulanan (susu, dll utk anak) Rp 1.200.000,- + Rp 2.000.000,-/bulan (utk transport saya dan suami ke kantor). Saya ingin menanyakan, bagaimana caranya supaya bisa memiliki tabungan? apakah dengan dana pensiun atau reksadana apa yang cocok untuk saya dengan penghasilan dan pengeluaran seperti itu..

    adakah reksadana yang /bulan nya Rp 100.000.? terimakasih

  37. Rudiyanto
    July 17th, 2013 at 15:59 | #37

    @Lilis
    Yth Lilis,

    Kalau boleh saya berikan masukan, anda bisa mulai dengan membenahi keuangan keluarga terlebih dahulu. Caranya, pertama sisihkan penghasilan secara berkala hingga cukup untuk 3 – 6 kali pengeluaran tetap bulanan di tabungan. Selanjutnya baru mulai mencari produk investasi.

    Sambil melakukan hal tersebut, sebisa mungkin lakukan pengembangan diri / karir agar mendapatkan kenaikan penghasilan. Sebab kalau boleh jujur, untuk angka tersebut mungkin masih agak sulit untuk hidup sejahtera di kota besar apalagi anda harus memikirkan bahwa beberapa tahun lagi anak anda akan masuk sekolah.

    Namun percayalah, dimana ada niat di situ ada jalan. Hanya saja menurut saya, fokus anda saat ini bukan pada berinvestasi, tapi alokasikan sebesar-besarnya fokus anda pada peningkatan penghasilan.

    Untuk reksa dana dengan modal Rp 100.000 kalau tidak salah ada di Manulife dan Bank Mandiri, tapi jika kondisi keuangan anda belum mantap, anda akan sering berada dalam kondisi terpaksa untuk mencairkan dana investasi tersebut. Padahal bisa saja, ketika mau dicairkan, keuntungannya belum banyak atau bahkan rugi.

    Jadi kalau boleh beri saran, ikuti judul artikel ini, Sehat Keuangan Dulu, Investasi Reksa Dana Kemudian.

    Semoga berhasil.

  38. sudiyanto
    November 9th, 2013 at 08:00 | #38

    gini sy mw nanya, umurku msh 22thn, sy krja pabrik sbg produksi dg gaji 1,5jt/bln
    Aq ingin memiliki bis mini baru/bekas utk bisnis.
    Total tabungan sy d bank smntara 50jt.
    Sbaiknya ap yg sy hrs lakukan pak?
    Mhn bantuannya.

  39. Rudiyanto
    November 9th, 2013 at 12:46 | #39

    @sudiyanto
    Salam Sudiyanto,

    Semangat untuk berwirausahanya luar biasa. Kalau saya bisa bantu, tolong anda buat perencanaan keuangan yang SMART
    S = Specific – Mini Bis anda tentukan baru atau bekas dan mereknya apa?
    M = Measurable – Kalau sudah spesifik, baru harganya berapa dalam Rp
    A = Attainable – Misalkan harga bekas Rp 100 juta sehingga kurang 50 juta lagi. Sisanya kira2 bisa anda dapatkan atau tidak dengan kondisi penghasilan anda sekarang ini?
    R = Relavant – Anda mau punya bis untuk apa? apakah sesuai dengan passion anda untuk berbisnis di bidang ini? atau hanya ingin punya saja?
    T = Time Bound – Kapan anda mau punya bis tersebut? Pertanyaan kapan akan membantu menjawab kira2 Attainable atau tidak.

    Semoga bermanfaat.

  40. Dodo
    November 9th, 2013 at 15:36 | #40

    Pak saya karyawan swasta berusia 36 tahun dengan 2 anak berumur 8 dan 3 tahun, dengan penghasilan 6 juta perbulan.
    Rasio hutang konsumtif : 0
    Rasio Cicilan : 0
    Rasio Dana Darurat : 1x
    Rasio Pendapatan : 0,8

    Rumah sudah lunas, belum punya mobil, dan rutin investasi di RD saham 1 juta perbulan. Dana darurat saya mepet karena bbrp waktu lalu sempet ada pengeluaran tak terduga.

    Untuk kondisi saat ini sebaiknya saya fokus unTuk mengumpulkan dana darurat dulu 1 juta/bulan atau di bagi dana darurat 500 ribu dan invest di RD saham 500 ribu?

    Tujuan RD Saham untuk masa pensiun 20 tahun kedepan serta biaya kuliah anak 10 dan 13 tahun ke depan.

    Untuk seumuran saya asset aktif apa yang sebaiknya dikumpulkan untuk planning financial freedom agar tanpa bekerja saya bisa mendapatkan pendapatan dari asset aktif saya.

    Terima kasih sebelumnya

  41. daniel
    November 11th, 2013 at 11:49 | #41

    apakah emas (emas LM Antam) tidak termasuk aset likuid?

  42. daniel
    November 11th, 2013 at 12:04 | #42

    @daniel
    dan apakah emas bisa dijadikan sebagai dana cadangan?

  43. Rudiyanto
    November 11th, 2013 at 18:36 | #43

    @Dodo
    Salam Dodo,

    Kalau rumah sudah lunas, itu sudah luar biasa sekali pak. Zaman sekarang, saya ragu orang bisa lunasi rumah kalau belum berusia 50. Mengenai dana darurat yang terpakai karena kondisi darurat itu lumrah pak. Memang namanya juga darurat.

    Mengenai dana darurat tersebut, saran saya bisa anda tambahkan pelan2 lagi. Yang anda mau lakukan itu tidak salah. Sebab dengan 2 anak, dana darurat itu penting. Sebaiknya bisa sampai 6 kali.

    Mengenai aset aktif, sebaiknya dibuatkan rencana pensiun terlebih dahulu untuk mengetahui kebutuhannya. Sambil jalan, saya juga menyarankan sebaiknya anda mencari alternatif untuk meningkatkan penghasilan seperti bisnis sampingan kecil-kecilan. Sebab kebutuhan anak akan bertambah besar seiring mereka dewasa.

    Semoga bermanfaat pak.

  44. Rudiyanto
    November 11th, 2013 at 18:41 | #44

    @daniel
    Salam Daniel,

    Boleh tahu definisi aset likuid menurut anda itu apa?

  45. daniel
    November 11th, 2013 at 20:42 | #45

    menurut saya aset likuid adalah aset yang dapat dengan mudah di uangkan.

  46. Rudiyanto
    November 12th, 2013 at 08:34 | #46

    @daniel
    Menurut kamu, emas mudah diuangkan?

  47. daniel
    November 12th, 2013 at 10:10 | #47

    seharusnya sih mudah pak, apalagi klo dlm bentuk batangan yang gramnya tidak terlalu besar (10-100gr?) tapi belum punya pengalaman jg sih pak karena saya belum pernah menjual emas…

  48. daniel
    November 12th, 2013 at 12:32 | #48

    menurut saya mudah pak… apalagi jika dalam bentuk batangan dengan berat yang tidak terlalu besar (10-100gr)… tapi memang saya belum pernah punya pengalaman menjual emas…
    apakah pemikiran saya salah pak?

  49. Rudiyanto
    November 12th, 2013 at 18:21 | #49

    @daniel
    Coba bayangkan, suatu malam ada kejadian darurat yang membutuhkan uang cash. (amit2 tapi katakanlah) Seseorang yang dekat dengan kita mengalami kecelakaan sehingga harus dirawat di UGD Rumah Sakit. Kemudian karena kondisinya agak parah, maka diharuskan menginap beberapa malam. Namanya rumah sakit di Kota Besar apalagi Jakarta, tentu tidak bisa menginap begitu saja. Anda mungkin diminta menyetor beberapa juta sebagai jaminan.

    Nah anda baru mendapatkan kabar itu jam 7.30 atau jam 8 malam ketika baru pulang dari kantor setelah macet2 selama 2 jam. Dalam kondisi tersebut, menurut anda lebih likuid mana uang di ATM bank atau emas?

  50. Rudiyanto
    November 12th, 2013 at 18:23 | #50

    @daniel
    Kemudian kamu juga bisa coba bawa emas yang punya sekarang, bayangkan ini adalah situasi darurat yang membutuhkan dana. Kemana anda akan menjual emas tersebut dan berapa harga yang anda dapat?

    Di coba saja, paling entar pas mau transaksi bisa bilang ga jadi (he he..)

    Yang namanya dana darurat itu memang harus dirasakan sendiri dulu, kalau tidak kita tidak bisa menakar seberapa daruratnya. Dan FYI, kedua pengalaman di atas adalah pengalaman saya sendiri.

    Semoga bermanfaat

  51. daniel
    November 12th, 2013 at 19:46 | #51

    oh iya saya setuju dengan itu pak… tapi sebenernya saya bertanya itu karena saya sedang menghitung Rasio Dana Darurat… karena dana darurat saya, terlanjur saya jadikan emas sebagian…

    nah karena disitu bapak menulis bahwa yang termasuk total aset likuid antara lain dana kas, tabungan, deposito, giro, dan reksa dana pasar uang.

    makanya saya berpikir bahwa emas seharusnya termasuk aset likuid jg dibandingkan dengan reksadana yg cair paling cepat h+3 (atau saya salah? karena baru belajar reksadana)

    btw pak, saya baca diatas bapak mau pake gambar profile? daftar dl disini
    https://en.gravatar.com/
    nanti otomatis setiap bapak ngepost dengan alamat email yg sama hampir disemua blog akan kluar gambar profilenya… :p

  52. daniel
    November 12th, 2013 at 20:06 | #52

    berdasarkan jumlah take home pay saya dan istri (umur kami berdua 33)…
    Rasio Hutang Konsumtif 0,00%
    Rasio Cicilan 38,75% (cicilan kpr s.d 2023 dan cicilan mobil s.d 2017)
    Rasio Dana Darurat 3 (tidak menghitung emas, klo dengan emas menjadi 5,5)
    Rasio Biaya Terhadap Pendapatan 62,50%

    rencananya saya ingin memakai 1/3 (10jt) dari dana darurat untuk berinvestasi di reksadana dengan top up 1 jt perbulan untuk 5 tahun…. klo berdasarkan test risk profile di “Kontan” saya dijinkan untuk mengambil reksadana saham… cuma saya masih bingung reksadana apa? dan jg masih bingun dengan NAB/UP, apakah tidak apa2 mengambil reksadana yang NAB nya tinggi atau harusnya yg NAB nya rendah…

    mohon bantuan pemikirannya pak… :)
    trimakasih banyak

  53. Rudiyanto
    November 13th, 2013 at 12:37 | #53

    @daniel
    Salam Daniel,

    Terima kasih atas tips gravatarnya. Nanti saya akan coba buat.

    Mengenai pertanyaan anda, emas mau anda masukkan sebagai dana darurat karena dianggap aset likuid tidak apa2. Sebenarnya Reksa Dana Pasar Uang sekalipun punya sedikit kendala karena ketika dicairkan perlu H+1 hari kerja. Jika anda melakukan pencairan di hari Jumat Sore, maka transaksi tersebut baru diproses senin dan uang baru anda bisa terima hari selasa.

    Point saya, memasukkan emas dan reksa dana pasar uang tidak masalah, tapi tidak bisa semuanya. Paling tidak ada 1-2 kali dana darurat berupa tabungan ber ATM yang bisa ditarik sewaktu2. Atau kalaupun mau porsi emas dan reksa dana pasar uangnya banyak, anda bisa menggunakan fasilitas kartu kredit. Bukan sebagai fasilitas tarik tunai, tapi sebagai alat untuk menalangi pembayaran sambil menunggu penjualan emas atau pencairan reksa dana.

    Mengenai pertanyaan anda, bisa anda coba klik arsip artikel dan cari pembahasan tentang reksa dana mahal dan reksa dana murah. Semoga bisa menjawab pertanyaan anda. Kalau masih ada yang bingung baru kita diskusikan lagi.

    Terima kasih.

  54. DaNieL
    November 13th, 2013 at 20:21 | #54

    sudah saya baca pak…. sudah mulai jelas jalannya… :)
    tinggal saya memutuskan RD jenis Campuran ato SAHAM dan RD apa yang akan saya ambil….
    btw pak, jika saya ingin mengambil RD PANIN (mgkn RD MAKSIMA atau PRIMA) di kota Medan…
    dimana saya bisa beli? karena saya lihat di- http://www.panin-am.co.id/ContactUs.aspx -tidak ada cabang di kota Medan…
    dan brapa minimal pembelian pertama untuk kedua RD tersebut?
    trimkasih

  55. Dodo
    November 14th, 2013 at 06:51 | #55

    @Rudiyanto
    Terima kasih sarannya Pak, semakin membuka pola pikir saya mengenai perencanaan keuangan. Jadi intinya memperbesar penghasilan dan dengan mempertahankan gaya hidup maka porsi investasi bisa diperbesar untuk mencapai tujuan di masa depan. Sekaligus memperbesar dana darurat dan mengumpulkan asset aktif untuk tercapainya kebebasan finansial. Ah semoga bukan sekedar impian tapi bisa terlaksana sesuai harapan..Amien..sekali lagi terima kasih Pak.

  56. Rudiyanto
    November 14th, 2013 at 12:25 | #56

    @DaNieL
    Salam Daniel,

    Cabang Panin Asset Management memang hanya di Jakarta dan Surabaya saja. Untuk di luar daerah tersebut, kami dibantu oleh Panin Sekuritas. Informasi mengenai cabang Panin Sekuritas di Medan bisa anda dapatkan di http://pans.co.id/?page=Hubungi_Kami

    Untuk detailnya anda cukup bertanya langsung ke cabang yang bersangkutan, terima kasih.

  57. Rudiyanto
    November 14th, 2013 at 12:27 | #57

    @Dodo
    Semoga tujuan anda tercapai.
    Sehat dan Sukses Selalu

  58. Fanny
    November 27th, 2013 at 10:25 | #58

    Pak, saya istri bekerja dengan 2 anak (4 tahun dan 6 bulan dalam kandungan). Saya dan suami berusia 34 tahun. Kondisi keuangan kami:

    Rasio Hutang Konsumtif = 0%
    Rasio Cicilan = 0%
    Rasio Dana Darurat = 5X
    Rasio Biaya Terhadap Pendapatan = 0.57

    Saat ini kami berinvestasi 2 properti dan logam mulia, dan tidak memiliki asuransi/reksadana apapun. Pertanyaan saya:

    1. Kami menyimpan dana pendidikan, dan pensiun dalam bentuk properti dan LM. Apakah langkah kami ini sudah benar, karena saya sering membaca tentang reksadana saham sebagai dana pendidikan dan dana pensiun?

    2. Adakah saran Bapak untuk jenis investasi buat kami supaya dalam jangka panjang kami tetap dapat hidup nyaman?

    Terima kasih.

  59. Rudiyanto
    December 1st, 2013 at 23:50 | #59

    @Fanny
    Salam Fanny,

    Kalau boleh saya kasih nilai, kondisi keuangan anda saya akan kasih nilai A.
    Kondisi ini bahkan jauh lebih baik dari punya saya sendiri, saya sungguh kagum.

    Nilai tersebut akan jadi A+, kalau perencanaan anda disiapkan dengan lebih SMART. Lebih tepatnya unsur M dalam SMART yaitu Measurable. http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/05/07/seni-menyusun-tujuan-investasi-dengan-prinsip-smart/

    Terkait pertanyaan anda:
    1. Seperti komentar saya di atas, yang kurang dari rencana anda adalah perhitungan matematikanya. Berapa yang anda butuhkan untuk dana pendidikan dan pensiun nanti? Misalnya X Rp. Nah dari properti dan emas yang anda punya, apakah perkiraannya bisa mencapai nilai X tersebut. Jika bisa maka selamat, jika belum permasalahannya bukan di properti, logam mulia atau reksa dana akan tetapi berapa jumlah yang harus dipersiapkan.
    Meski demikian, menurut saya Logam Mulia bukan instrumen investasi. Anda bisa setuju bisa tidak, tapi selengkapnya bisa anda baca di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2013/04/20/saatnya-beli-emas/

    2. Untuk perencanaan pensiun anda bisa baca beberapa artikel ini
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2013/06/08/perencanaan-pensiun-dengan-reksa-dana/
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2013/05/03/kiat-investasi-untuk-para-pensiunan/
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/04/25/pensiun-dengan-reksa-dana-anda-yakin/

    Saran saya sebaiknya anda memiliki asuransi. Jenis asuransinya seperti apa, anda bisa membaca studi kasus ini
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2013/09/12/my-experience-with-unit-link/

    Semoga menjawab pertanyaan anda, dan jaga terus rasio keuangan dan kesehatannya. Semoga sukses dan sehat selalu.

  60. Dana
    January 15th, 2014 at 14:28 | #60

    saya seorang mahasiswa tertarik ikut RD, belum ada NPWP. Apakah ikut RD wajib memiliki NPWP Pak? Pengennya sih ikutan atas nama sendiri, tanpa melalui orang tua, Pak. Trims. Mohon sarannya..

    • Rudiyanto
      January 15th, 2014 at 14:33 | #61

      Selamat Siang Dana,

      Kalau mengenai hal ini, ada perbedaan perlakuan di Manajer Investasi dan Bank Agen Penjual. Di Panin Asset Management, kewajiban NPWP ada bagi Warga Negara Indonesia yang usianya antara 25 – 60 pada saat bergabung.
      Semoga bermanfaat bagi anda. Terima kasih.

  61. Ronny
    February 19th, 2014 at 12:06 | #62

    Salam Kenal Pak Rudi

    Saya berusia 32 tahun, belum berumahtangga dan bekerja sebagai PNS disalah satu kementerian di Jakarta. Saya sudah menjadi nasabah dari reksadana panin dari 6bln yg lalu. Dan saya sudah menghitung bahwa keuangan saya bisa dikatakan sehat, dikarenakan saya tidak punya cicilan hutang. Pada awal masuk saya invest 5 juta dengan strategi investasi berkali (bukan autodebet), karena penghasilan sebagai PNS tidak tentu setiap bulannya. Nah setelah saya baca-baca tentang asuransi, bpk menyatakan bahwa sebaiknya sebelum memutuskan berinvestasi, ikut asuransi. Sedangkan saat ini hanya ikut asuransi dari kantor saja yakni ASKES. Apakah saya perlu membeli produk asuransi lainnya ? karna pernah baca2, katanya kalo blum berumahtangga maka asuransi belum terlalu diperlukan. Jika perlu, produk asuransi seperti apa ?

    terima kasih

  62. Rudiyanto
    February 20th, 2014 at 03:14 | #63

    @Ronny
    Salam Ronny,

    Terkait perlu tidaknya memiliki asuransi, logika saya begini tentang asuransi jiwa
    1. Apakah saat ini anda merupakan tulang punggung keluarga? seseorang atau lebih dari 1 orang bergantung kepada anda bahkan untuk makan sehari-harinya?
    Jika ya, maka lanjut. Jika tidak maka tidak perlu beli asuransi Jiwa
    2. Apakah jika seandainya terjadi sesuatu pada anda, aset yang anda wariskan cukup untuk menghidupi mereka 8 – 10 tahun ke depan?
    Jika ya, maka tidak perlu beli asuransi jiwa, jika tidak maka sebaiknya anda punya.

    Terkait asuransi kesehatan:
    Sebenarnya sederhana, kita harus punya. Hanya saja standar setiap orang berbeda2, ada yang harus langsung ke spesialis. Ada juga yang bisa bersabar di dokter umum. Namun jika biaya rawat inap, operasi dan rumah sakit sudah cukup tercover dalam ASKES yang kamu miliki, maka kamu tidak perlu beli asuransi kesehatan tambahan. Jika belum cukup, maka kamu bisa pertimbangkan untuk upgrade atau beli asuransi kesehatan tambahan.
    Tahunya cukup darimana, coba cari tahu riwayat keluarga yang pernah dirawat di rumah sakit, kemudian coba tanyakan ke HRD atau ke kantor, seandainya (amit2) terjadi kondisi serupa, seberapa besar coverage yang diperoleh.

    Nah, kalau sudah terlindungi Jiwa dan Kesehatannya, baru kita fokus sama investasi. Jika belum, mau 1/2 invest 1/2 asuransi gpp, tapi jangan sampai tidak ada asuransi sama sekali.

    Semoga bermanfaat.

  63. yush4
    March 18th, 2014 at 20:06 | #64

    Malam Pak Rudi,

    Saya ingin memuat ke 4 ratio diatas untuk artikel dalam blog asuransi saya.
    Apakah boleh? Saya akan mencatumkan link ke blog ini.
    Terima kasih.

  64. Rudiyanto
    March 19th, 2014 at 14:28 | #65

    @yush4
    Salam Yusha,

    Kalau boleh usul, anda bisa menulis artikel sendiri dan memasukkan 4 ratio di atas sebagai salah satu dari bagian artikel.

    Blog yang baik (atau paling tidak menurut saya baik) adalah blog yang isinya orisinal. Perihal menarik atau tidak itu soal selera dan jam terbang. Kalau sudah sering menulis, lama2 akan ada orang2 yang appreciate dan tulisan juga akan baik.

    Jadi teruslah berkarya untuk membuat blog yang orisinal. Semoga bermanfaat.

  65. Marcel
    March 26th, 2014 at 00:10 | #66

    Salam kenal pak rudi,

    Secara pribadi saya suka dengan artikel ini karena benar-benar membukakan mata saya mengenai investasi

    Umur saya 30, karyawan swasta dengan 1 anak dan istri tidak bekerja. Kondisi keuangan kami sebagai berikut
    Rasio Hutang Konsumtif = 10% namun semuanya cicilan 0% dan akan lunas dalam 3 bulan.
    Rasio Cicilan = 30%
    Rasio Dana Darurat = 5X
    Rasio Biaya Terhadap Pendapatan = 0.4

    Saat ini kami berinvestasi di 3 apartemen dan hal inilah yang menyebabkan rasio cicilan sampai menyentuh 40% di tahun lalu, namun syukurlah kami bisa menurunkan rasio ini dengan lunasnya mobil, tambahan penghasilan dan juga pelunasan sebagian.

    Karena banyak membaca mengenai financial planning, termasuk salah satunya blog pak rudi, saya sudah mereview semua asuransi saya dan bermaksud untuk menutup unit link saya yang sudah berjalan 7 tahun dan membuka asuransi jiwa term life dengan uang pertanggungan yang tinggi. Sementara asuransi kesehatan sudah dicover kantor termasuk anak dan istri untuk jumlah yang lumayan.

    Yang saya tanyakan adalah apakah investasi properti adalah langkah yang tepat saat ini, mengingat 2apartemen ini baru akan serah terima setahun lagi dan bahkan yang ketiga masih 3 tahun lagi. Melihat kenaikan harga unit dan potential pendapatan sewa rasanya pertumbuhannya akan lebih tinggi dibanding reksadana, namun saya juga paham, bahwa properti adalah aset yang tidak liquid sehingga saya harus punya keranjang lain. oleh karena itu saya sedang menimbang nimbang untuk menambah investasi di reksadana dengan menggunakan alokasi dana dari unit link yang akan saya tutup, kebetulan sekarang sedang membaca kontan edisi khusus.

    Terima kasih

  66. Rudiyanto
    March 28th, 2014 at 01:24 | #67

    @Marcel
    Salam Marcel,

    Kalau membaca profil anda, saya menduga2 bahwa penghasilan bulanan anda pasti besar sekali sehingga sanggup mencicil 3 properti + 1 mobil dan rasio cicilannya baru 40% serta istri tidak bekerja.

    Sangat Luar biasa untuk ukuran orang di usia 30 an atau bahkan 40an sekalipun.

    Tentang investasi properti, sebetulnya tidak ada istilah tepat atau tidak. Sepanjang kita paham dan potensi risiko dan return serta nyaman dengan investasi tersebut, maka investasi tersebut sudah tepat.

    Semoga sukses dan sehat selalu. Terima kasih.

  67. andrian
    April 4th, 2014 at 20:01 | #68

    1.brp rasio persentase minimal utk asuransi proteksi kesehatan dari penghasilan?
    2.rasio dana darurat bukannya 6 x pengeluaran tetap perbulan? bukan pendapatan tetap,sgt debatable kl diambil dr pendptan tetap

  68. Rudiyanto
    April 7th, 2014 at 12:04 | #69

    @andrian
    Salam Andrian,

    1. Anda bisa lihat video perencanaan keuangan di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/sikapi-uang-dengan-bijak/
    2. Mau pakai pengeluaran atau pendapatan menurut saya tidak masalah. Dan angka di atas untuk yang berkeluarga. Kalau masih lajang, saya kira 3 – 6 kali juga sudah ok

  69. April 15th, 2014 at 06:57 | #70

    Pak…senang sekali baca artikel pak rudy ini,
    Umur saya 33th(single parent) ,bekerja n punya anak 1,kondisi keuangan saya sbg berikut
    Hutang = 0%
    Cicilan =0%
    Dana darurat =12x
    Rasio biaya terhadap pendapatan = 30%
    Saat ini saya punya aset liguid bentuk deposito,emas,tanah n saya ambil
    Asuransi berbasis investasi+proteksi (bukan unitlink),utk asuransi kesehatan saya sudah ditanggung
    Tempat saya bekerja sepenuhnya,tp untuk anak blm ada
    Apakah saya harus ambil asuransi kesehatan buat anak??

    Setelah baca2 ttg reksadana saya bnr2 tertarik ingin mencoba
    Untuk hari tua n ingin ambil reksadana panin dana prima atau maksima
    Sedangkan saya type org yg suka ambil resiko moderat,bagaimana menurut pak rudy??

    Atas saran n jawaban pak rudy saya ucapkan trimakasih sebelumnya
    Salam
    Lely

  70. Rudiyanto
    April 15th, 2014 at 15:29 | #71

    @lelyta
    Luar biasa Ibu Lely,

    Kalau misalkan sudah punya rumah, menurut saya kondisi kamu sudah mendekati yang namanya financial freedom. Tinggal nanti anda punya aset yang hasilnya bisa mengcover semua kebutuhan kamu saja.

    Untuk asuransi anak, menurut saya memang perlu tapi itu harus asuransi kesehatan. Jadi fokusnya adalah kesehatan, bukan asuransi yang katanya nanti usia dia sekian tahun akan dapat sekian Rp atau kita kenal dengan nama unit link. Setahu saya, cukup sulit untuk mencari asuransi kesehatan untuk anak kecil karena kebanyakan produk bentuknya unit link, namun jika dapat ya bisa dipertimbangkan.

    Untuk tujuan keuangan kamu bisa menggunakan 1 reksa dana untuk hari tua dan 1 reksa dana lagi untuk pendidikan anak. Jika profil risiko kamu moderat, di Panin Asset Management sebenarnya juga tersedia produk campuran yaitu”
    Panin Dana Prioritas – Campuran Konservatif dengan bobot saham hanya 30%
    Panin Dana Syariah Berimbang – Campuran Moderat dengan bobot saham 50%
    Panin Dana Unggulan – Campuran Agak Agresif dengan bobot saham 60 – 70%
    Panin Dana Bersama Plus – Campuran Agresif dengan bobot saham hingga 79%

    Ada juga Panin Dana USD – Campuran Konservatif dengan bobot saham 30% dan mata uang USD. Cocok jika anda mau menggunakan untuk persiapan pendidikan ke luar negeri.

    Jika profil anda moderat, namun anda berminat pada reksa dana saham, sebetulnya menurut saya masih bisa dengan catatan kondisi keuangan anda terbatas dan tujuan anda masih panjang sehingga anda butuh produk yang lebih agresif dan potensi hasil lebih tinggi untuk mendapatkan tujuan yang anda inginkan. Namun jika kemampuan keuangan anda cukup, maka sebenarnya dengan reksa dana yang moderat sudah cukup. Namun semua itu kembali ke anda.

    Anda bisa membaca artikel ini http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/03/28/panduan-mempersiapkan-pensiun-dengan-reksa-dana/ untuk panduan pensiun. Apabila anda ingin dibuatkan perencanaan yang spesifik, bisa menghubungi Marketing atau Customer Service di Panin Asset Management.

    Terima kasih.

  71. Tony
    May 16th, 2014 at 16:32 | #72

    Dear Pak Rudy

    Salam Kenal.
    Blog Bapak sangat menginspirasi dan membuka pikiran saya :)

    Jika boleh meminta saran, saya umur 22 Tahun.
    Penghasilan saya 8,5 juta, namun saya menjalankan usaha yang kemungkinan tiap bulannya menghasilkan 4 juta.
    Hingga saat ini, saya mengalokasikan keuangan dengan sebagai berikut (asumsikan penghasilan saya hanya 8,5 juta):
    Life Cost : 3 juta
    Cicilan : 0
    Investasi Logam Mulia : 4 Juta
    Rekreasi : 1 juta
    Biaya tak terduga : 500 Ribu

    Hingga kini saya punya dana darurat 6X penghasilan.
    Asset saya hanya motor seharga 8 juta (present value)
    Menurut bapak, bagaimana pengaturan keuangan saya ?
    Apakah harus ada yang saya ubah ?

    Terimakasih banyak pak Rudy :)

  72. Rudiyanto
    May 19th, 2014 at 01:14 | #73

    @Tony
    Salam Pak Tony,

    Terima kasih atas komentarnya. Dan selamat juga, untuk ukuran usia anda yang baru 22, pendapatan 8,5 juta itu tidak kecil. Dengan asumsi naik 10% saja setiap tahun, di usia 30 anda sudah punya pendapatan kira-kira 18 juta per bulan. Kalau kinerja anda yang bagus ini dipertahankan, dengan tingkat kenaikan 15% per tahun, di usia 30 gaji anda bisa mencapai 26 juta.

    Kemudian terkait kesehatan keuangan anda yang sangat bagus, menurut saya ini hanya sementara. Yang namanya life cost akan naik 50% ketika anda sudah mulai berpacaran dan mungkin minimal naik 100% ketika anda sudah berkeluarga. Namun jangan khawatir, ini adalah proses normal yang dilalui juga oleh semua orang. Dengan dana darurat lebih dari 50 juta dan tanpa utang, rasa-rasanya sudah sangat sehat secara keuangan.

    Langkah selanjutnya yang perlu kamu pikirkan adalah proteksi. Ada 2 macam, asuransi kalau sakit (kesehatan) dan kalau meninggal. Untuk asuransi kesehatan terserah kamu apakah mau ikut yang swasta atau ikut pemerintah BPJS. Dari promosi yang saya baca, sepertinya premi untuk BPJS kesehatan sangat murah dan mencakup segala kondisi penyakit. Namun jika anda menginginkan pelayanan kesehatan yang lebih ekslusif, anda bisa coba survei ke asuransi swasta. Namun jika sudah asuransi dari kantor, kamu tidak perlu membeli sendiri asuransi tersebut.

    Yang paling baik tentu adalah jaga makan dan gaya hidup. Jangan minum minuman keras, tidak merokok, rajin olahraga dan sering-sering mengunjungi tempat ibadah, niscaya hidup anda akan sehat-sehat dan baik-baik saja.

    Yang kedua adalah asuransi jiwa. Sekarang mungkin belum, namun suatu saat kamu akan jadi tulang punggung keluarga. Pada saat itu, kamu harus memikirkan seandainya penghasilan kamu hilang, apakah keluarga kamu bisa bertahan hidup untuk katakan 8 tahun ke depan? Jadi dengan asumsi, biaya hidup keluarga 5 juta per bulan, dikalikan 8 tahun adalah 480 juta. Jadi kamu perlu membeli asuransi dengan uang pertanggungan sebesar angka tersebut.

    Kenapa 8 tahun? itu hanya angka saja, bebas kamu mau pakai 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun, dst. Patokannya sederhana, jika kamu punya anak, maka diasumsikan uang itu cukup untuk membiayai dia sampai kuliah. Apabila belum berkeluarga dan saudara atau orang tua masih aktif bekerja, menurut saya tidak perlu membeli asuransi terlalu besar. Namun jika orang tua dan saudara semua sudah mapan, maka menurut saya asuransi jiwa tidak lagi diperlukan.

    Setelah proteksi selesai, langkah berikutnya adalah investasi. Untuk investasi, langkah pertama adalah harus ada tujuannya. Jadi investasi logam mulia 4 juta per bulan yang kamu lakukan itu harus jelas tujuannya untuk apa. Kalau masih bingung tentang tujuan investasi anda bisa baca di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/05/07/seni-menyusun-tujuan-investasi-dengan-prinsip-smart/

    Kalau saran saya kamu mulai bisa membuat beberapa rencana seperti persiapan DP Rumah, Mobil dan pernikahan.

    Semoga Sehat dan Sukses Selalu.

  73. Tony
    May 19th, 2014 at 13:43 | #74

    @Rudiyanto
    Dear Bapak Rudi

    Terimakasih atas saran yang sangat detail dan spesifik.
    Saya kagum dengan kerendahhatian Bapak yang dengan sangat tulus menjawab pertanyaan tiap pembaca.

    Semoga karir Bapak tetap melambung bagaikan padi :)
    Salam hormat

    Tony

  74. alfa
    June 4th, 2014 at 14:35 | #75

    Pa rudi,
    Sy berusia 29 y, ratio:
    Konsumtif: 0
    Cicilan: 33
    Darurat: 7
    Biaya: <1
    Sy ingin mempersiapkan dana sekolah anak sy yg sekarang berusia 4 m. Dana yg dibutuhkan 1.5M berdasarkan kondisi ekonomi saat ini, dana sekolah ini akan dibutuhkan kira2 17 y kemudian. Profile sy moderate, tp setelah baca2 rds relatif aman u jangka panjang, apakah benar? mohon masukannya kira2 reksadana apa yg cocok dan berapa setoran bulanan investasinya?

  75. Rudiyanto
    June 5th, 2014 at 12:39 | #76

    @alfa
    Salam Alfa,

    Rasio keuangan anda sangat bagus dan ideal pak. Untuk tujuan keuangan juga sudah sangat jelas. Kalau saran saya, kamu bisa mencoba menggunakan kalkulator finansial yang ada di website Panin AM dengan memasukkan informasi sbb:
    http://www.panin-am.co.id/InvestmentCalculator.aspx

    Pilih kebutuhan investasi berkala
    Rp 1.5 M sebagai kebutuhan investasi dan Periode 17 tahun
    Inflasi katakanlah 5% dan ekspektasi investasi 20% dengan asumsi saham.

    Untuk pertanyaan apakah RDS aman untuk jangka panjang anda bisa baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/02/20/berapa-asumsi-return-investasi-saham-yang-wajar/

    Mengenai reksa dana apa yang cocok jelasnya untuk tujuan jangka panjang adalah saham. Namun utk reksa dana saham apa, anda bisa coba lihat2 dari sekian banyak Manajer Investasi mana yang paling menarik untuk anda.

    Terima kasih dan semoga bermanfaat.

  76. Mita
    June 29th, 2014 at 19:29 | #77

    Pak Rudi,
    Umur saya 26 thn, lajang dgn gaji 14 jt sebulan..
    Rasio saya :
    Konsumtif: 0
    Cicilan: 25% (saya br mulai mencicil kendaraan)
    Darurat: 4
    Biaya: 0.45 (sy trmasuk boros dan jg sbg tulang punggung kluarga)

    Saat ini sy blm pernah brinvestasi apapun.. Tp sy memiliki asuransi unit link 500 rb/bln, perlukah sy tutup krn sy sudah dicover kesehatannya oleh kantor?
    Jika ingin mulai berinvestasi, produk apakah yg paling tepat untuk sy? LM, deposito atau reksadana.. Sebenarnya sy ingin mengambil produk jangka panjang krn High return jg tp sy takut tiba2 membutuhkan dana tidak terduga. Misalkan ortu sakit, krn ortu sdh tidak bekerja dan adik msh ada yg kuliah (2 thn lg lulus).

    Mohon pencerahannya dan terima kasih atas jawaban nya.

  77. Rudiyanto
    July 3rd, 2014 at 09:32 | #78

    @Mita
    Salam Mita,

    Untuk usia 26, nilai gaji anda rasanya sudah termasuk tinggi. Selamat.
    Untuk rasio keuangan anda juga sangat sehat. Kalau anda hanya memakai 45% dari gaji anda rasanya tidak termasuk boros. Anda masih bisa mengambil cicilan mobil atau rumah senilai 30% dari gaji. Namun tentunya mobil tersebut benar2 diperlukan. Jika tidak, naik kendaraan umum atau taksi juga ok.

    Untuk pertanyaan mengenai asuransi bisa anda baca
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2013/09/12/my-experience-with-unit-link/
    Untuk pertanyaan mengenai pilihan investasi bisa anda baca
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/05/07/seni-menyusun-tujuan-investasi-dengan-prinsip-smart/

    Semoga bisa menjawab pertanyaan anda, terima kasih.

  78. ning
    July 11th, 2014 at 12:06 | #79

    Dear Pak Rudi,

    Salam kenal Pak Rudi.
    Umur saya 33 thn, gaji 3,5jt/bln.
    Ikut asuransi investasi 500rb/bln, ada cicilan hutang ktr 500rb/bln ( utk operasi bapak ).
    Saya tulang punggung keluarga.
    Ada uang simpanan yang terpakai dan ingin mengumpulkan dana lagi agar uang simpanan yang terpakai tersebut bisa ada lagi. Saya juga ingin mewujudkan mimpi saya untuk membiayai kedua orang tua pergi ibadah, beli rumah, beli mobil.
    Agar bisa terwujud keinginan dan mimpi tersebut sebaiknya apa yang harus saya lakukan?
    Karena selama ini uang habis terus dan saya ingin merubahnya.
    Apakah saya harus mengumpulkan dana dahulu untuk mengganti uang yang terpakai atau saya bisa ikut reksadana sambil mengumpulkan dana?
    Atau ada cara lain? Tolong infonya.

    Terima kasih atas info dan bantuannya.

  79. Rudiyanto
    July 14th, 2014 at 16:54 | #80

    @ning
    Salam Ning,

    Pertama-tama, saya ingin memberikan apresiasi yang setinggi2nya atas niat baik anda dalam mensejahterakan orang tua, diri kamu sendiri dan juga sampai menanggung hutang demi operasi orang tua anda.

    Untuk mengubah mimpi tersebut, ada 2 saran dari saya:
    1. Kebiasaan hidup hemat dan asuransi anda tetap dipertahankan. Saya tidak tahu anda tinggal di propinsi mana, yang jelas dengan gaji tersebut dipotong cicilan, akan sulit untuk bertahan hidup di Jakarta. Sebab anda juga membayar biaya kos juga bukan? Dan Asuransi tersebut sangat penting karena sebagai tulang punggung keluarga, akibatnya akan sangat fatal apabila anda sakit atau mengalami hal tidak diinginkan.

    2. Dari uang yang bisa anda sisihkan setiap hari, menurut saya bisa anda gunakan untuk pengembangan diri. Entah itu belajar, kursus, atau hal lainnya karena dengan usia anda sekarang menurut saya gaji 3.5 juta per bulan itu masih kurang. Apabila tempat kerja anda tidak memungkinkan untuk memberikan hasil yang lebih tinggi, maka pilihannya adalah meningkatkan kemampuan diri dan produktifitas untuk mendapatkan gaji yang lebih baik atau melakukan pekerjaan tambahan yang tidak menganggu pekerjaan utama.

    Apabila ada uang sisa yang mau digunakan untuk investasi itu menurut saya ok ok saja. Tapi bukan itu. Yang penting adalah bagaimana anda memiliki penghasilan yang lebih besar sehingga ada uang lebih untuk diinvestasikan di reksa dana.

    Semoga informasi ini bermanfaat, dan semoga sukses mencapai impian anda. Terima kasih.

  80. August 7th, 2014 at 14:39 | #81

    salam kenal pak,

    saya pria single usia 30 thn, tinggal di jakarta. Gaji 7 jt. pengeluaran perbulan rutin 3 juta. (byar kost, makan sebulan, pulsa, ciciilan kartu kredit dan hobi). Saya termasuk telat dalam investasi bahkan menabung, masa muda saya terlalu banyak berfoya2. baru 3 tahun belakangan ini saya berinvestasi. Hasilnya asset yang saya punya adalah

    Tabungan : 15 jt
    Reksadana tetap : 25 jt
    Reksadana Saham : 10 jt
    Sepeda motor
    asuransi kesehetan rawat inap dan asuransi penyakit kritis sendiri
    asuransi kesehatan dari kantor

    Dengan penghasilan segitu apakah sudah cukup sehat atau saya perlu menambah penghasilan utama saya ? Sementara saya punya 3 keinginan yang jadi prioritas saya , yaitu

    - Kuliah S2, total biaya selama 2 tahun 30-40 jutaan. Alasannya adalah untuk jenjang karir bisa lebih bagus nantinya. Saat ini masih staff, jika saya s-2 kemungkinan ke level management lebih terbuka.Dengan jadi manager otamatis gaji saya naik. Atau saya bisa nyambi jadi dosen untuk kuliah malam atau weekend di sini saya mengharapkan penghasilan tambahan

    - Beli rumah, dengan gaji segitu saya bisa max plafond 300 jutaan untuk 15 thn. harga rumah sekitaran bodetabek sekarang 400-sd 500. asumsi saya ambil yang 400 jt, maka saya harus punya DP 100 jt, nah bagaimana mensiasatinya ?

    - Menikah, kalo yang ini saya belum ada kepastian karena saya belum punya calon istrinya, namun jika sudah di tunjukan sama tuhan, saya harus menyiapkan biaya pernikahan. Walaupun sederhana tapi saya harus mempersiapkannya.

    Dari ke 3 rencana ke depan manakah yang harus saya prioritaskan,
    - jika saya kuliah dulu maka saya harus sisihkan setidaknya 2 juta perbulan dan pada akhirnya saya menunda beli rumah setidaknya sampai 2 tahun ke depan (setelah kuliah selesai) padahal harga property pasti naik.

    - Jika saya beli rumah dulu maka saya harus menyiapkan setidaknya 1 tahun ke depan 50 juta lagi buat DP. Kuliah di tunda. dan uang saya pun habis.

    - Jika saya ternyata mendapatkan calon pasangan kira2, maka saya harus segera siapkan buat biaya nikah. Stidaknya rencana planning 1 tahun buat kumpulkan biaya.

    Menurut bapak , gimana sarannya untuk bisa mensiasati 3 hal tersebut. mana yang lebih jadi prioritas ???

  81. Rudiyanto
    August 7th, 2014 at 18:21 | #82

    @firman pradana
    Salam Pak Firman,

    Boleh tolong rasio keuangannya dihitung dulu?

  82. August 8th, 2014 at 16:10 | #83

    Ini rasio keuangan saya, pake financial diagnosis dari link menu blog bapak

    Rasio utang terhadap aset = 5,45%
    Rasio likuiditas = 5,00
    Rasio cicilan terhadap pendapatan = 3,23%
    Rasio kemampuan menabung = 61,29%

  83. August 8th, 2014 at 16:26 | #84

    sedangkan jika menggunakan perhitungan dari catatan blog di atas , maka

    - rasio hutang komsumtif = 0.07 atau 7 %
    - Rasio Cicilan = 0.035 atau 3.5 %
    - Rasio Dana Darurat = 5
    - Rasio Biaya Terhadap Pendapatan = 0.425

  84. Rudiyanto
    August 8th, 2014 at 19:01 | #85

    @firman pradana
    Terima kasih Firman,

    Kalau dilihat dari rasio keuangan sebetulnya kamu sudah sangat sehat sekali. Cicilan konsumtif ya kalau bisa langsung dilunasi sekaligus. Tapi bunya dana darurat 5 bulan pengeluaran dan hanya menghabiskan 42% dari penghasilan sebulan itu sudah luar biasa.

    Kemudian terlepas dari kondisi anda yang sudah sehat, menurut saya untuk bisa “agak” lumayan di kota besar seperti Jakarta, minimum pendapatan yang dibutuhkan adalah 15 – 20 juta per bulan. Tapi tolong jangan dibandingkan dengan gaji kamu saja, tapi total penghasilan per tahun yang sudah termasuk gaji, insentif, bonus, THR dan lainnya (jika ada) kemudian dibagi 12. Kalau sudah angka segitu, menurut saya kamu bisa fokus pada biaya nikah atau DP rumah. Saya sih lebih prefer DP Rumah dulu.

    Tapi kalau belum, dan jika saya jadi kamu, saya akan priortas pada peningkatan kemampuan diri (kuliah S2) itu. Kalau bisa sambil nyambi mencari penghasilan tambahan tanpa mengganggu pekerjaan utama itu lebih baik lagi. Soal Nikah dan Rumah, itu memang perlu dipersiapkan. Tapi akan jauh lebih mudah kalau penghasilan kamu sudah besar.

    Kalau soal jodoh, mengutip kata Mario Teguh, “Success is Sexy”. Kalau income sudah ok, mungkin tidak terlalu sulit mencari pasangan hidup. Pesta pernikahan itupun sangat fleksibel. Kamu mau pesta besar-besaran dan memberikan hadiah Ipad untuk setiap orang yang menghabiskan dana miliaran, sampai pesta sederhana di rumah atau restoran bersama keluarga yang cukup beberapa juta saja juga bisa. Kehidupan berkeluarga yang bahagia itu tidak harus dimulai dengan pesta yang luar biasa mahal. Yang penting kualitas hubungannya.

    Semoga bermanfaat.

  85. Jonas
    August 11th, 2014 at 05:32 | #86

    Selamat pagi pak Rudi

    Orang tua saya berusia 70 tahun dan sudah pensiun. Punya rumah tinggal dan 1 mobil dan tidak ada cicilan hutang apapun dan tidak ada tanggungan.

    Saat ini mereka memiliki aset produktif berupa sebuah rumah kontrakan yang menghasilkan 40juta/tahun dan sebuah apartment yang menghasilkan pendapatan dari sewa sebesar 95juta / tahun. Aset lain yang dimiliki berupa RD saham senilai sekitar 600juta dan LM 300gr. Perlu diketahui awal tahun depan ayah saya akan mendapatkan pencairan dana pensiun lump sum yang kedua (yang terakhir) sebesar 3 M rupiah dari perusahan tempatnya bekerja dulu. Biaya hidup orang tua saya sekitar 15 juta per bulan dan mereka berharap bisa mendapatkan pendapatan total dari passive income idealnya di atas 20 juta per bulan. Jumlah tersebut rencananya ingin dicapai setelah mendapatkan pencairan dana pensiun yang terakhir yang kemudian akan diinvestasikan.

    Pertanyaan saya, bagaimana sebaiknya mengalokasi dana pensiun yang sebesar 3M itu supaya bisa mendapatkan penghasilan tambahan setidaknya 10 juta per bulan mengingat saat ini penghasilan dari aset produktif yang ada belum dapat menutup biaya hidup 15 juta tersebut dan selama ini harus menutup kekurangannya dari dana darurat yang besarnya sekarang tinggal sekitar 10x mthly expenses.  Sebenarnya tidak sulit untuk mendapatkan jumlah tersebut bila membeli properti lagi untuk disewakan tetapi saat ini alokasi aset mereka di kolom properti sudah hampir 80 persen dari total aset (belum termasuk rumah tinggal yang sekarang mereka tempati) dan terkesan kurang seimbang dan cukup beresiko apabila kelak terjadi property crash seperti di AS. Tentu saja jika uang tersebut hanya didepositokan saja maka ke depannya akan terus digerogoti inflasi. Atas sarannya saya ucapkan terima kasih.

  86. Rudiyanto
    August 20th, 2014 at 01:57 | #87

    @Jonas
    Yth Pak Jonas,

    Sepertinya memang komentar ini terlewatkan. Saya akan balas pada komentar yang terbaru anda.

    Terima kasih

  87. ning
    September 1st, 2014 at 13:40 | #88

    Dear Pak Rudi,

    Maaf baru balas sekarang.
    Terima kasih atas infonya.
    Sekarang sedang mencoba berhemat pelan-pelan, sedikit demi sedikit.
    Saya sudah mengambil RD saham, daripada uang habis gak jelas terus, walau nominal kecil.
    Mencoba memperbaiki bertahap, mudah-mudahan bisa terselesaikan semuanya.

    Salam sukses untuk Pak Rudi dan kita semua.
    Untuk hidup yang lebih baik. Amin

  88. farhamutia
    September 2nd, 2014 at 14:19 | #89

    Terima kasih Pak atas ulasan2nya. Sgt bermanfaat utk kami.
    Saya Mutia, usia 27th, tidak bekerja. Suami bekerja di BUMN di Cirebon dg gaji 15,8jt/ bulan (sdh termasuk bonus 7x gaji).
    Untuk biaya hidup sekitar 4jt/bulan, karena kami tinggal di rumah dinas.
    Kami sedang mencicil rumah di Depok sebesar 5jt/bulan yang akan selesai di tahun 2021.
    Kami berencana untuk mencicil mobil awal tahun nanti sebesar 4jt/bulan (DP sudah ada).
    Untuk kesehatan, rawat jalan & RS sudah ditanggung kantor untuk saya & calon anak kami. Termasuk dana pensiun juga sudah potong gaji dari perusahaan.
    Saya memiliki asuransi kesehatan+jiwa unitlink sudah berjalan 2th, yang akan kami berhentikan, karena sudah dicover kantor, dan dirasa kurang maksimal.

    Rasio hutang konsumtif : 0%
    Rasio Cicilan : 31,58%
    Rasio Dana Darurat : 4,5 kali atau 13 kali jika dg emas.
    Rasio Biaya : 25,26%

    Pertanyaan kami,
    1. Apakah rencana kami mencicil mobil sudah tepat? Mengingat rasio hutang sudah 31%, namun masih ada dana yang bisa kami sisihkan.
    2. Saat ini kami belum berinvestasi scr maksimal, karena mengumpulkan uang DP dan sedikit2 untuk membeli furniture. Perlahan kami ingin memulai dgn reksadana saham untuk mempersiapkan pendidikan anak dan biaya haji. Manakah yang harus kami dahulukan, melunasi cicilan (termasuk mobil) atau ber investasi?

    Sebelumnya terima kasih banyak Pak,
    Sukses selalu dan makin bermanfaat untuk sesama.

  89. Rudiyanto
    September 2nd, 2014 at 15:39 | #90

    @farhamutia
    Salam Ibu Farhamutia,

    Sehubungan dengan pertanyaan anda:
    1. Mengenai cicilan mobil, apakah anda juga sudah menghitung biaya operasional mobil? Sebagai contoh, uang parkir, uang bensin, uang tol, uang asuransi, uang aksesoris, uang jalan2 karena begitu punya mobil tiba2 orang jadi punya hobi untuk menjelajahi tempat baru atau mencoba makanan di tempat yang jauh? Jadi membeli mobil tidak hanya soal rasio cicilan saja tapi juga meningkatkan biaya hidup.

    Apakah mobil ini benar-benar merupakan kebutuhan yang tidak dapat ditawar atau karena anda memiliki dana lebih dan berminat untuk punya mobil saja?

    2. Kembali ke pertanyaan no 1, mobil itu kebutuhan atau gengsi? Kalau memang kebutuhan untuk antar jemput anak sekolah dan suami anda, dimana fasilitas kendaraan umum yang tersedia sudah tidak aman dan nyaman lagi. Ya menurut saya memang itu harus didahulukan. Tapi jika masih bisa menggunakan fasilitas kendaraan umum atau naik kendaraan bermotor, mengapa tidak digunakan untuk rencana yang lain?

    Saya banyak melihat orang punya mobil tapi malahan bawa motor terutama jika kantornya di SCBD Jakarta. Bagaimana tidak, parkir Rp 5000 per jam, sehingga per hari bisa Rp 45 – 50rb. Kemudian kena Three in One, kalau pakai Joki bisa Rp 25.000 x 2 perhari untuk pulang pergi. Belum lagi tol, bensin dan macetnya.

    Semoga diskusi ini bermanfaat.

    Semoga bermanfaat ya.

  90. mutia
    September 3rd, 2014 at 07:44 | #91

    Selamat pagi p rudy..
    Selama ini kami tggl di cirebon yg transport umum nya belum memadai. Saat ini sdh ada mobil pinjaman orgtua, biaya servis, pajak serta operasional nya sudah termasuk biaya hidup kami.
    Sehatkah skema cicilan seperti itu? Perkiraan perbulan masih tersisa 2jt utk tambahan lain2. Terima kasih pak..

  91. Rudiyanto
    September 3rd, 2014 at 11:11 | #92

    @mutia
    Yth Ibu Mutia,

    Menurut saya, berinvestasi adalah kegiatan mengambil risiko. Kenapa orang mengambil risiko, karena dia sadar bahwa hanya dengan menabung tidak akan mencukupi kebutuhannya.

    Sama juga, ketika orang mengambil kredit yang cicilannya melebihi 30% pendapatan, saya juga sebut dengan mengambil risiko. Secara kedokteran keuangan, dia akan bilang tidak sehat. Namun jika itu memang “harus” apa boleh buat.

    Sekarang yang membedakan apakah itu harus atau tidak adalah apakah membeli mobil itu “Gengsi” atau “Kebutuhan” yang tidak bisa ditunda lagi?

    Dan berhubung saya bukan dokter, saya tidak bisa menjatuhkan vonis sehat atau tidak kepada anda. He he.. Ini hanya ibarat hasil pemeriksaan lab saja. Untuk detailnya silakan tanya ke dokter yang berizin seperti perencana keuangan.

    Semoga menjawab pertanyaan anda.

  92. Ine
    October 2nd, 2014 at 18:16 | #93

    Salam, Pak Rudi. Terima kasih karena mau berbagi ilmu melalui artikel2nya yg sangat bermanfaat…

    Saat ini saya & suami sedang memikirkan untuk membeli rumah di daerah jakarta atau sekitarnya. Tp saat ini kami sdh 8 thn tinggal di luar kota krn suami sedang ditempatkan di cabang disini & belum tahu kapan akan ditarik ke jakarta lg.

    Secara keuangan kami tidak ada hutang konsumtif maupun cicilan lainnya. Saat ini kami memiliki 2 anak kecil & suami saja yg bekerja.

    Pertanyaan saya, apakah lebih baik kami mengambil KPR sekarang mengingat harga rumah terus naik setiap tahun meskipun kami belum akan menempatinya atau lebih baik kami investasikan uang tersebut dgn membeli reksadana dengan tujuan mendapat tambahan modal agar lebih mampu lagi membeli rumah yg sesuai idaman kami?

    Atau juga, apakah mungkin membeli rumah secara tunai dari hasil investasi reksadana?

    Mohon sarannya, Pak Rudi & terima kasih sebelumnya…

  93. Rudiyanto
    October 6th, 2014 at 11:41 | #94

    @Ine
    Salam Ine,

    Sebetulnya kondisi anda adalah kondisi yang dihadapi mungkin sebagian besar atau hampir semua kelas menengah di kota besar di Indonesia. Ada tabungan dan simpanan, tapi bingung mau diinvestasikan atau dipakai untuk DP Rumah saat ini juga.

    Kalau menurut saya, rumah tempat tinggal (rumah pertama) adalah kebutuhan yang tidak hanya pokok tapi juga kebanggaan pribadi. Tentu bangga sekali rasanya sudah tidak tinggal di rumah mertua indah atau membayar kontrakan meskipun tinggal di rumah yang masih nyicil. Besar atau kecil itu relatif, yang penting milik sendiri.

    Meski demikian, kita juga harus mempertimbangkan kemampuan keuangan. Ketika memutuskan membeli rumah, tidak hanya DP saja yang kita hitung, tapi juga cicilan per bulan dan uang yang dibutuhkan untuk mengisi rumah tersebut. Perabotan, air, listrik, dan peralatan elektronik itu semua butuh uang.

    Apabila semua hal di atas sudah dimasukkan dalam perhitungan anda, ketika sudah memiliki DP yang cukup, maka menurut saya sudah bisa membeli rumah. Jika belum, ya terpaksa dikumpulkan melalui instrumen investasi sampai mencukupi baru pembelian rumah dilakukan. Perihal mau terkumpul DPnya atau terkumpul semuanya sehingga bisa beli tunai, anda bisa tentukan sendiri. Namun melihat harga rumah di Jakarta, sepertinya sejauh uangnya cukup untuk DP, bayar cicilan dan kebutuhan bulanan, pembelian rumah sudah bisa dilakukan.

    Tentu saja, hal yang saya bahas di atas adalah jika anda adalah seorang pekerja. Jika anda seorang pengusaha, tentu hitungannya bisa lebih berani. Memang ada yang nekat dan berhasil serta semakin sukses. Tapi tidak sedikit juga yang bangkrut, terlilit hutang dan rumahnya disita.

    Semoga bermanfaat.

  94. joko santoso
    October 6th, 2014 at 19:41 | #95

    Selamat malam pak rudiyanto. Saya minta saran saya karyawan swasta umur 35 tahun anak 2 orang 5 tahun dan 3 tahun penghasilan sekitar 20 jt tdk ada hutang bayar asuransi 2 jt perbulan, ada deposito 1,2 m dpt bunga perbulan 6jt ada 1 rumah sdh lunas , tanah dengan nilai aset 300 jt. Sebetulnya sy sdh tidak nyaman kerja jadi karyawan cm karena sy masih membutuhkan penghasilan untuk biaya anak2 saya sekolah jadi sy memilih bertahan sqmbil berharap tabungan sy mencapai 3 sd 4 m sehingga sy bisa mengandalkan bunga deposito sambil sy membuka kost2 an.pengeluaran sekitar 3 sd 5 jt perbulan pak. Kira2 reksadana apa yang cocok pak.?sy tinggal dikabupaten di ntt sehingga pembelian harus menghubungi cabang panin mana pak?tx

  95. Rudiyanto
    October 7th, 2014 at 09:02 | #96

    @joko santoso
    Selamat Pagi Pak Joko,

    Senang sekali melihat kondisi keuangan berada dalam situasi yang sangat sehat.
    Dengan pendapatan 20 juta per bulan, pengeluaran 5 juta + asuransi 2 juta, berarti anda bisa menabung setidaknya 13 juta setiap bulannya dan itu jumlah uang yang besar menurut saya. Belum lagi anda masih mendapat bunga deposito sebesar 6 juta lagi setiap bulannya. Belum tentu warga kota besar seperti Jakarta dan Surabaya mampu menabung sejumlah tersebut sekalipun pendapatannya lebih besar.

    Dengan asumsi uang Rp 1,2 M dan mendapat bunga 6 juta per bulan atau 72 juta per tahun, berarti bunga yang anda dapatkan adalah 6% net atau 7.5% gross. Sebagai informasi bunga LPS sekarang sudah 7.75%. Jika anda mau menerima risiko bahwa deposito anda tidak dijamin oleh LPS, dengan nilai dana anda sekarang saya yakin anda bisa mendapatkan bunga lebih tinggi hingga 8 – 9 % gross. Anda hanya perlu mengambil cuti dan datang ke kota besar terdekat seperti Surabaya untuk window shopping ke bank yang bersedia menawarkan bunga tersebut.

    Sehubungan dengan tujuan keuangan untuk punya 3 – 4 M berarti tambahan 1.8 – 2.8 M bisa anda simulasikan di website Panin AM. Untuk cara simulasinya bisa baca referensi artikel di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/08/10/3-langkah-menjadi-investor-reksa-dana-bagi-pemula/ menggunakan praktek no 2.

    Pada Praktek no 1, disebutkan apabila anda menyisihkan uang Rp 1 juta per bulan selama 10 tahun di reksa dana saham dengan asumsi keuntungan 20% per bulan, maka hasil investasi setelah 10 tahun akan menjadi 382 juta. Kalau anda menyisihkan 10 juta per bulan, tinggal dikalikan 10. Namun perlu diingat bahwa angka tersebut hanya merupakan asumsi. Hasil akhirnya bisa lebih tinggi atau rendah.

    Untuk pembelian reksa dana pertama kali masih diharapkan adanya tatap muka. Sebenarnya selain merupakan persyaratan yang ditetapkan dalam peraturan, tatap muka tersebut juga merupakan faktor yang membangun kepercayaan. Anda bisa mendapatkan penjelasan lebih lengkap mengenai prosedur, cara kerja, manfaat serta risiko yang lebih lengkap mengenai investasi reksa dana dengan adanya pertemuan tersebut, termasuk pertanyaan jenis reksa dana apa yang cocok sesuai dengan pertanyaan anda.

    Jika memungkinkan apabila anda kebetulan ada di Surabaya, saran saya pak Joko bisa mengunjungi kantor cabang Panin AM Surabaya di

    Graha Bumi Surabaya Lt.3
    Jl. Basuki Rakhmat 106 – 128
    Surabaya 60271
    Telp : (62-31) 531-5488
    Fax : (62-31) 531-6488
    Email : surabaya@panin-am.co.id

    Bisa juga anda mengatur janji untuk ketemuan dimana. Kalau di NTT, mohon maaf masih belum ada cabang pada kota tersebut.

    Semoga bermanfaat.

  96. Tony
    October 7th, 2014 at 11:38 | #97

    Yth. Bapak Rudiyanto

    Saya Tony
    Dalam 2 bulan terakhir ini saya memantau diskusi di forum ini dan sangat sangat bermanfaat untuk diterapkan.
    Kalau berkenan, saya ingin meminta pandangan Bapak.
    Saya berumur 22 tahun, bekerja sebagai ass. manager di perusahaan korea.
    Hingga kini saya memiliki investasi 200 gr logam mulia, motor Rp 5jt, dan tidak memiliki angsuran sama sekali.
    Penghasilan saya Rp 8jt/ bulan dan kadang mendapat penghasilan tambahan Rp 6jt/bulan dari usaha sampingan.

    saya memiliki rencana untuk mengambil S2, namun ada beberapa pertimbangan :
    1. Jika saya ambil S2 beasiswa di Inggris, otomatis saya akan kehilangan penghasilan tambahan dan keluar dari pekerjaan sekarang. Lalu kembali ke Indonesia memulai kembari karir dari 0 dan selama studi, investasi stagnan. Namun keuntungannya saya tidak perlu bayar biaya kuliah.
    2. Jika saya S2 di UI, saya harus membayar 21 juta persemester atau 84 juta hingga lulus. Dengan asumsi saya masih bisa berinvestasi tiap bulannya dan menaikkan karir di Indonesia.

    Menurut pandangan Bapak, bagaimana seharusnya dari sisi investasi dan karir?

    Terimakasih pak :)

  97. joko santoso
    October 7th, 2014 at 17:32 | #98

    Tx pak rudiyanto

  98. Rudiyanto
    October 14th, 2014 at 13:33 | #99

    @Tony
    Salam Pak Tony,

    Sebelumnya saya salut untuk profil keuangan anda. Gaji pertama saya waktu seusia anda adalah menjadi asisten pengajar di universitas yang dibayar berdasarkan jumlah pertemuan. Kalau tidak salah ingat, waktu itu di kisaran 600 – 800 rb per bulan. Mau dikalikan inflasi sekalipun, rasanya tidak sampai setengahnya anda yang sekarang. he he..

    Yah tapi itu hal bagus, karena itu berarti pertumbuhan ekonomi Indonesia yang selalu kita baca di koran memang memberikan manfaat untuk masyarakatnya. Tentu saja, saya juga yakin bahwa anda adalah karyawan yang sangat bertalenta sehingga penghargaan dari perusahaan cukup baik.

    Pada point ini, tentu menjadi dilemma yang anda hadapi sangat besar. Di satu sisi, kapan lagi kita bisa ke Inggris dan sekolah dibayarin beasiswa yang saya yakin biaya hidup dan biaya sekolahnya bisa mencapai ratusan juta hingga miliaran. Pengalaman kuliah di universitas internasional tentu tidak akan datang setiap waktu.

    Tapi di sisi lain, pekerjaan anda sekarang sudah mantap, perusahaan menghargai talenta anda, ada penghasilan tambahan, bisa juga dapat S2 di UI yang tidak kalah prestisenya dan dalam beberapa tahun dengan kondisi penghasilan anda sekarang tentu uang yang terkumpul sudah lumayan.

    Well, saya sendiri juga akan bingung sekali jika dalam kondisi tersebut. Kalau hal seperti ini, menurut saya bisa ditanyakan ke orang tua anda. Saya tidak dalam kapasitas bisa memberi kamu pandangan soal karir, tapi saya bisa sharing sedikit tentang perjalanan karir saya.

    Di awal karir, saya juga sempat mengalami kondisi dilema seperti yang anda hadapi meskipun mungkin tidak sebaik anda. Ceritanya waktu di baru lulus kuliah, saya sempat mengikuti program rekrutmen yang diselenggarakan oleh group Astra. Waktu itu, dari sekian yang ikut, akhirnya saya dan beberapa teman saya terpilih saringan pertama. Beberapa bulan kemudian, kami dipanggil lagi mengikuti psiko test, iq test dan segala macam test yang diselenggarakan oleh HRD.

    Bedanya pada saringan pertama, yang ikut hanya teman2 saya dari kampus Tarumanagara saja, kalau pada saringan kedua yang ikut sudah dari berbagai universitas. Ada yang S2, ada yang IPK cum laude, dan lain sebagainya. Waktu itu saya agak keder, karena IPK saya tidak cum laude dan hanya berpengalaman sebagai asisten pengajar. Satu hal yang saya sangat banggakan waktu adalah skripsi yang saya buat dengan mati-matian.Judul dan topik skripsi tersebut belum pernah dibuat sama sekali sehingga saya membuat semuanya dari nol. Proses pembuatannya juga benar-benar dilakukan dengan survey langsung ke perusahaan dan mengunjungi showroom mobil satu per satu. Waktu itu, saya dibimbing langsung oleh General Manager suatu perusahaan multifinance yang kebetulan menjadi dosen di universitas.

    Waktu wawancara, skripsi itulah yang saya ceritakan dengan semangat dan berapi-api. Saya tahu, kalau cuma mengandalkan IPK, pengalaman kerja dan lain-lain, banyak sekali yang lebih baik. Selesai interview, seperti halnya perusahaan besar, sampai dipanggil lagi bisa berbulan-bulan lamanya.

    Saya pun kembali pada kehidupan, kerja sebagai pengajar sambil magang di perusahaan riset yang pertama yaitu PT. Infovesta Utama. Waktu itu, status saya magang. Magang disana telah dimulai sejak semester terakhir sebelum skripsi. Saya memilih magang disitu karena kebetulan lokasi perusahaan tidak jauh dari tempat kost. Namun karena kondisi keuangan saat itu belum terlalu baik, saya magang tanpa dibayar. Buat saya ok ok aja karena saya butuh pengalaman kerja.

    Setelah magang beberapa bulan disana, saya melihat bahwa produk perusahaan itu sangat baik. Tapi mungkin tidak dipasarkan dengan baik sehingga belum terlalu memberikan keuntungan untuk perusahaan. Kebetulan bidang usaha perusahaan yang bergerak di bidang data dan pengolahannya sangat sesuai dengan passion saya. Jadi saya klop sendiri bekerja di perusahaan tersebut. Dan yang paling penting, ada seorang mentor yang sangat luar biasa di perusahaan tersebut yang mau mengajari saya.

    Saya naik pangkat dari magang menjadi part time dengan gaji Rp 600.000 per bulan dan beberapa bulan kemudian menjadi karyawan tetap dengan gaji Rp 1,5 juta (kalau tidak salah). Ketika mulai kerasan dan menikmati pekerjaan tersebut, pihak Astra menelepon dan mengatakan bahwa saya diterima kerja disana. Bayangkan, mana yang pilih, kerja di perusahaan (yang waktu itu) masih ga jelas masih exist atau tidak tahun depannya, dengan diterima kerja di Astra yang notabene group besar dan sudah pasti gajinya jauh lebih tinggi waktu itu.

    Setelah memikirkan matang-matang, akhirnya saya putuskan untuk bertahan di perusahaan riset. Pertimbangan saya waktu sederhana, saya menemukan pekerjaan yang sesuai dengan passion. Selebihnya menjadi catatan di CV.

    Seandainya saya menerima tawaran tersebut, mungkin hari ini blog ini tidak akan pernah ada. Mungkin saja saya beralih buka bengkel franchaise mobil, mungkin juga saya menjadi jauh lebih sukses dari sekarang karena bagaimanapun group Astra adalah perusahaan besar yang telah mensejahterakan banyak orang. Tapi hal yang tidak saya sesali dalam pilihan tersebut adalah saya tetap melakukan pekerjaan sesuai passion. Ketika melakukan hal yang anda sukai, kadang-kadang uang sudah tidak terlalu jadi masalah (bukan berarti tidak masalah ya).

    Jadi, jika anda bertanya mengenai pandangan saya. Pilihlah opsi yang tidak akan kamu sesali 5, 10, 15 tahun dari sekarang. Mungkin itu bukan jalan yang paling membuat kamu kaya, tapi paling tidak kamu menjadi “hidup” ketika melakukannya.

    Terima kasih

  99. Tri Sulaksono
    October 28th, 2014 at 10:34 | #100

    Salam Pak Rudi,
    Nama sya Tri Sulaksono usia 22
    Saya karyawan swasta dgn gaji sekitar 3.5 jt…
    Rincian bulanan saya adalah
    1 Biaya Hidup (fleksibel menyesuaikan isi dompet) :)
    2 Bantu orang tua 450
    3 Biaya Kuliah 500
    4 Potongan DPLK 250
    5 Reksadana ( berusaha menyisihkan )
    Sya memiliki sedikit tabungan dan deposito, Seandainya saya ingin memiliki KPR rumah apa dengan rincian seperti itu memungkinkan untuk cicilan dengan tab dan deposito saya sebagai DP nya

    Salam Tri Sulaksono

    • Rudiyanto
      October 28th, 2014 at 10:40 | #101

      Pagi Pak Tri,

      Anda masih sangat muda sekali dan menurut saya fokus anda saat ini sebaiknya di meningkatkan pendapatan melalui peningkatan karir atau pengembangan diri. Dari penghasilan yang meningkat tersebut, sebagian uang kamu sisihkan dan nanti baru kamu sesuaikan dengan harga rumah yang mau dibeli. Kalau di tempat seperti Jakarta, mau rumah / apartemen harga ratusan juta di pinggiran sampai puluhan M di pusat kota itu ada. Tinggal disesuaikan dengan kemampuan keuangan anda saja.

      Semoga bermanfaat.

  100. Tony
    October 28th, 2014 at 10:47 | #102

    Rudiyanto :
    @Tony
    Salam Pak Tony,

    Jadi, jika anda bertanya mengenai pandangan saya. Pilihlah opsi yang tidak akan kamu sesali 5, 10, 15 tahun dari sekarang. Mungkin itu bukan jalan yang paling membuat kamu kaya, tapi paling tidak kamu menjadi “hidup” ketika melakukannya.
    Terima kasih

    Pak Rudy, kata kata bapak diatas selalu akan saya ingat.
    Memang dalam satu terakhir ini saya terlalu berpikir bagaimana mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan peningkatan kualitas diri.
    Sekarang saya sudah mulai persiapan untuk S2 dan mengikuti forum-forum internasional.

    Semoga suatu hari saya bisa bertemu bapak dan bertukar pikiran :)

    • Rudiyanto
      October 28th, 2014 at 10:53 | #103

      Punya Uang Banyak itu juga peningkatan kualitas diri kok. Yang penting tidak disesali saja. he he

  1. April 25th, 2011 at 13:31 | #1
  2. April 19th, 2014 at 18:46 | #2