Home > Belajar Reksa Dana > Sehat Dulu, Investasi Kemudian..

Sehat Dulu, Investasi Kemudian..

Kini reksa dana bukan lagi menjadi produk investasi yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan terbatas saja. Minimum investasi yang semakin rendah membuka akses kepada investor dari segala kalangan untuk bisa ikut berinvestasi pada seluruh produk ini. Sampai-sampai ada masukan, bahkan tukang becakpun bisa berinvestasi asalkan mau menyisihkan uang rokoknya dalam 1 bulan. Meski demikian, sebelum berinvestasi seharusnya investor melakukan self assessment, apakah dia sudah siap untuk berinvestasi pada reksa dana?

Kesiapan untuk berinvestasi pada reksa dana tidak ditentukan oleh berapa besar uang yang dimiliki saat ini. Oleh karena itu, memiliki jumlah uang kas di atas saldo minimum investasi tidak menjadi suatu kepastian seseorang pasti siap menjadi investor reksa dana. Untuk menjadi investor reksa dana, seseorang harus “Sehat secara Keuangan”.

Definisi sehat secara keuangan tidak ditentukan dari seberapa banyak jumlah uang dimiliki seseorang. Tapi juga darimana asalnya, apakah dari hutang, pinjaman lain atau memang hasil tabungan? Gaji boleh besar, apakah pengeluaran juga besar pula? Untuk mengetahui apakah seseorang sehat secara finansial dapat dilakukan dengan melakukan Financial Check up.

Financial Check Up berbeda dengan profil risiko ataupun data kondisi keuangan yang anda isi pada saat formulir pembukaan rekening reksa dana. Profil risiko bertujuan untuk menunjukkan jenis reksa dana seperti apa yang cocok untuk anda, sementara data yang terdapat pada formulir pembukaan rekening hanya bersifat informasional saja.

Financial check up dilakukan dengan cara mengukur rasio-rasio keuangan seseorang, kemudian membandingkan rasio-rasio tersebut dengan suatu rasio standar. Apabila rasio keuangan pribadi orang tersebut sudah sama atau lebih baik dibandingkan dengan rasio standar, maka seseorang dikatakan “Sehat Secara Keuangan” dan siap untuk menjadi investor. Ada 4 rasio yang dipergunakan dalam financial check up antara lain :

1.       Rasio Hutang Konsumtif

Diperoleh dari Total Hutang Konsumtif / Total Pendapatan Bulanan

Yang termasuk dalam hutang konsumtif antara lain Hutang / Kredit Tanpa Agunan dan Hutang Kartu Kredit. Standar untuk rasio ini adalah 0%. Rasio ini menjadi rasio yang utama dalam menentukan seseorang sehat atau tidak. Jika seseorang sampai memiliki hutang konsumtif untuk alasan apapun, maka orang tersebut tidak sehat secara keuangan dan tidak layak untuk menjadi investor.

2.       Rasio Cicilan

Diperoleh dari Total Cicilan Bulanan / Total Pendapatan Tetap Bulanan

Yang termasuk total cicilan bulanan antara lain Cicilan KPR, Cicilan Motor, Cicilan Apartemen dan Cicilan lainnya. Total Pendapatan Tetap Bulanan adalah komponen pendapatan bulanan yang sifatnya tetap. Jika penghasilan seseorang terdiri dari Gaji yang Tetap dan Komisi yang variabel, maka hanya Gaji tetap yang dipergunakan. Standar untuk rasio ini adalah < 30%.

Poin dari rasio ini adalah bahwa orang yang memiliki hutang (yang bukan konsumtif) sebetulnya juga boleh menjadi investor investasi dan bisa dikatakan sehat secara keuangan. Batas rasio untuk bisa dikatakan sehat adalah di bawah 30%.

3.       Rasio Dana Darurat

Diperoleh dari Total Aset Likuid / Total Biaya Tetap Bulanan

Yang termasuk total aset likuid antara lain dana kas, tabungan, deposito, giro, dan reksa dana pasar uang. Total biaya tetap bulanan terdiri dari seluruh pengeluaran yang sifatnya tetap setiap bulan seperti biaya sewa, iuran air listrik, cicilan-cicilan, biaya makan dan minum, uang sekolah anak dan biaya tetap lainnya yang tidak dapat dihemat lagi. Standar untuk rasio ini adalah 6 kali untuk lajang dan 12 kali untuk pasangan yang telah berkeluarga.

Situasi darurat tidak dapat diprediksi oleh setiap orang. Bayangkan, tiba-tiba anda membutuhkan dana besar karena ada kerabat yang mengalami musibah, pada saat yang sama seluruh uang anda ditempatkan di reksa dana saham. Dan kebetulan bursa saham sedang dalam periode rendah-rendahnya di tahun 2008. Dengan memiliki dana darurat yang cukup, investor akan terbebas dalam situasi dia harus mencairkan dananya pada saat situasi investasi sedang kurang baik.

4.       Rasio Biaya Terhadap Pendapatan

Diperoleh dari Total Biaya Tetap Bulanan / Total Pendapatan Tetap Bulanan

Standar untuk rasio ini adalah < 1. Rasio menyikapi gaya hidup seseorang. Gaya hidup yang sehat adalah gaya hidup dimana seluruh pengeluaran yang sifatnya tetap dapat dicover dari pendapatan yang sifatnya tetap pula. Apabila memiliki rasio lebih dari 1, berarti gaya hidup anda terlalu “tinggi” dan perlu dilakukan penyesuaian. Caranya bisa dengan mengubah pendapatan variabel menjadi pendapatan tetap, seperti meminta kenaikan gaji. Atau berusaha berhemat dengan menurunkan pengeluaran yang sifatnya tetap.

Rasio Kesehatan Keuangan Untuk Financial Check Up

Keterangan :

Hutang Konsumtif           = Hutang KTA dan Hutang Kartu Kredit

Cicilan Bulanan                  = Cicilan Kartu Kredit, Kredit Rumah, Kredit Kendaraan

Aset Likuid                          = Tabungan, Giro, Deposito, Reksa Dana Pasar Uang

Investasi reksa dana bukan merupakan investasi yang memberikan jaminan kepastian hasil. Ada risiko naik turunnya harga yang harus dipahami dan akan dihadapi oleh investor. Pada saat menghadapi ketidakpastian harga, penting sekali bagi investor untuk mengambil keputusan dengan tenang. Jika investor berada dalam kondisi kesehatan keuangan yang tidak baik, maka terdapat kemungkinan investor mengambil keputusan yang salah. Sebagai ilustrasi, misalnya investor dihadapkan pada kondisi harga saham yang sedang turun, pada saat yang sama, dia terpaksa menjual reksa dana tersebut karena kekurangan dana untuk membayar total cicilan kartu kreditnya yang sudah jatuh tempo.

Financial check up perlu dilakukan secara periodik paling tidak 6 bulan sekali. Selain itu, pada saat investor akan mengambil keputusan keuangan yang sifatnya penting seperti mengambil KPR, KTA, pengeluaran dalam jumlah yang besar Liburan jauh, pernikahan, biaya rumah sakit. Financial check up sebaiknya dilakukan sebelum keputusan keuangan tersebut diambil. Jika kebutuhan bersifat urgent sehingga tidak ada pilihan lain, review dilakukan setelah keputusan tersebut di ambil sambil mencari cara untuk memperbaiki kondisi keuangan agar sehat kembali.

Kesiapan investasi merupakan hal penting yang harus dilakukan oleh investor sebelum berinvestasi. Jangan terburu-buru mengambil keputusan, jangan pula terbuai untuk berinvestasi hanya karena iming-iming reksa dana tersebut memberikan return yang tinggi di masa lalu. Semoga artikel ini bermanfaat bagi anda yang ingin menjadi calon investor reksa dana..

Meminjam pepatah

Berakit-rakit Ke Hulu, Berenang-renang Ke Tepian

Bikin Sehat Keuangan Dulu, Investasi Reksa Dana Kemudian

Penyebutan produk investasi di atas (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis.

“Melakukan copy & paste artikel berita ini dan atau mendistribusikan ulang melalui situs atau blog Anda tanpa izin tertulis adalah melanggar Hak Cipta / Copyright ©”

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:
  1. Dion
    August 7th, 2016 at 21:38 | #1

    Mengenai dana darurat, karena kita sudah mengetahui nominal yg harus dipenuhi.. apabila nominal tersebut telah tercapai, apa lantas kita berhenti mengalokasikan dana darurat? kemudian apabila dana darurat tersebut terpakai, apa saran Pak Rudi untuk mengisi ulang dana darurat tersebut? apa langsung dialokasikan sesuai dengan nominal yang terpakai atau kita alokasikan bertahap per bulan?

    Kemudian, saya sudah ada pos u/ investasi (alokasi per bulan, masih mengendap di tabungan), sedekah/amal (alokasi per bulan, pengeluaran tidak setiap saat), serta pos u/ membantu orang tua & mertua (alokasi per bulan, dikeluarkan di bulan itu juga). saya msh bingung, apakah ketiga pos tersebut bisa saya jadikan sebagai dana darurat?

  2. Rudiyanto
    August 8th, 2016 at 19:37 | #2

    @Dion
    Salam Pak Dion,

    - Kalau nominal dana darurat sudah cukup ya sudah, bisa dialokasikan untuk keperluan lain
    - Kalau terpakai ya nanti diisi ulang lagi, mengenai nominal yang semampunya saja.
    - Untuk pos lain menurut saya tidak bisa digabung dengna dana darurat

    Untuk referensi tambahan bisa baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2016/02/15/mengelola-keuangan-dengan-prinsip-10-20-30-40/

    Semoga bermanfaat

  3. Dion
  4. elan
    August 29th, 2016 at 15:03 | #4

    Salam pak rudi, saya baru belajar tentang Reksadana baru beberapa hari dan itupun hanya baca-baca saja dan saya belum begitu memahami jadi Mohon penjelasannya jika masalahnya seperti ini :
    Umur saya baru 22 tahun dan saya belum bekerja dalam artian belum punya penghasilan tapi saya ingin berinvestasi reksadana, bagaimana solusi dari pak rudi?
    Lalu apakah berinvestasi reksadana itu cukup satu kali membeli saham, atau setiap bulan harus menyisihkan uang untuk berinvestasi?
    Terimakasih banyak sebelumnya.

  5. Rudiyanto
    August 31st, 2016 at 22:17 | #5

    @elan
    Salam Pak Elan,

    Semangat anda untuk berinvestasi di reksa dana sangat saya apresiasi. Namun terlepas dari prosedur dan cara berinvestasi apakah harus sekaligus atau berkala, pertanyaan dasarnya adalah investasi membutuhkan dana. Bagaimana anda punya uang kalau tidak punya penghasilan?

    Kalau menurut saya, solusinya anda cari kerja dulu. Baru dari penghasilan anda disisihkan untuk berinvestasi di reksa dana. Kalau cara pengelolaan keuangan bisa baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2016/02/15/mengelola-keuangan-dengan-prinsip-10-20-30-40/

    Semoga bermanfaat

  6. elan
    August 31st, 2016 at 22:30 | #6

    Terima kasih banyak pak atas jawabannya, sangat membantu dan bermanfaat. Saya lebih mengapresiasi bapak disela kesibukan bisa menyempatkan untuk membalas.
    Sedikit demi sedikit saya mulai memahami tapi belum sepenuhnya, rencananya saya ingin mengikuti sekolah investor reksadana pada 1 oktober semoga bisa menambah keyakinan, pemahaman dan wawasan dalam berinvestasi di reksadana.
    Terimakasih sebelumnya pak Rudi, salam sukses.

  7. Rudiyanto
    August 31st, 2016 at 22:45 | #7

    @elan
    Terima kasih atas partisipasinya pada kegiatan Sekolah Investor Reksa Dana APRDI.

    Semoga sukses dengan pengelolaan keuangannya.

  8. dhiandhani
    September 12th, 2016 at 23:48 | #8

    Selamat malam Pak, saya baru membeli buku bapak, belum dibaca tapi sudah terjun dulu ke reksadana saham 39 bln yll 10 juta rupiah sekali penempatan dan 3th ini loss 27% sehingga tinggal 7,3 juta rp. Gaji berdua (pokok+tunjangan+lain2) 18.500.000. Oiya ada 2 RD campuran dibeli autodebet total 450rb/bln. Mohon info apakah RD yg loss 27% sebaiknya di cut atau mnunggu membaik? Kedua, rasio hutang kta 5,4%, rasio cicilan kpr+mobil 62%, rasio dana darurat 2, rasio pengeluaran </= 1. Saya mempunyai RD senilai 11jt (sebgai bagian dari dana darurat selain LM dan tabungan ber ATM). Setelah membaca penjelasan Bapak terhadap pertanyaan2 di atas, saya simpulkan bahwa kami harus:
    1. Melunasi KTA 50 jt (dulu saya pakai untuk forex tapi gagal semua, memang saya dulu sangat emosional terlalu berani bermain forex dengan hutang).;
    2. Setelah lunas KTA, Menambah Pokok KPR untuk mengurangi cicilan KPR hingga turun dari angka 5,9 jt.

    Setelah itu secara bersamaan, saya berencana untuk: no 3,4,5

    3. Membeli Asuransi jiwa termlife utk suami (atau haruskah untuk kami berdua)? Gaji suami 12,6jt dan gaji saya 3,2 s/d 5jt. Kami 32 th, 2 anak balita. Cicilan mobil sbg kebutuhan pokok 3jt. ( krn daerah rawan begal dan angkot tidak aman)
    4. Menabung dana darurat hingga rasio 6
    5. Menabung tabungan rencana Pendidikan (ataukah cukup dengan 2 RD autodebet senilai 450 rb/bln di atas)?
    Apakah rencana saya diatas sudah tepat Pak? Atau ada lagi kah hal yg perlu dilakukan. Terimakasih banyak sebelumnya atas saran Bapak..

  9. dhiandhani
    September 13th, 2016 at 00:11 | #9

    Supaya pembaca tidak salah paham, beli bukunya baru saja, sedangkan membeli reksadana nya sudah 39 bln yll. Begitulah Pak, belum mengenal baik tapi sudah terjun, tlalu berani mengambil risiko ya Pak? Tapi saat blm terjun blm mengerti2 juga, srkarang baru mulai sedikit paham. Golongan apa saya ini Pak? Terimakasih Pak Rudi..

  10. Rudiyanto
    September 17th, 2016 at 13:26 | #10

    @dhiandhani
    Selamat Pagi Ibu Dhian Dhani,

    Terima kasih telah membeli buku saya dan menjadi salah satu investor reksa dana di Indonesia. Sehubungan dengan pertanyaan anda:

    Kinerja reksa dana memang tidak ada jaminan pasti untung setiap tahun atau setelah beberapa tahun. Jadi sekalipun anda mengganti di reksa dana yang lain, bisa saja ketika kondisi pasar sedang kurang baik, maka kerugian tetap bisa terjadi.

    Namun jika rata-rata reksa dana saham 3 tahun terakhir positif, sementara reksa dana saham yang anda miliki tidak, maka bisa menjadi pertimbangan bahwa reksa dana ini underperform dan mungkin ada baiknya dialihkan sebagian atau seluruhnya ke reksa dana lain yang dianggap perform.

    Untuk rata-rata kinerja reksa dana bisa lihat di http://www.panin-am.co.id/FundsAndPerformance.aspx

    Sekali lagi, tidak ada jaminan ke reksa dana yang lain pasti akan lebih baik, tergantung seberapa baik penjelasan tenaga penjual kepada anda mengenai penyebab kinerja reksa dana kurang bagus, apakah alasannya masuk akal atau tidak. Dan seberapa sabar anda mau menunggu reksa dana tersebut berkinerja baik kembali.

    Kemudian mengenai 5 poin anda:
    1. Bagus sekali, KTA ini sangat memberatkan karena bunganya sangat tinggi. Makin cepat dilunasi makin baik dan jangan mencoba lagi untuk berinvestasi dengan berutang kecuali sangat yakin dengan kemampuanya.

    2. Mantap

    3. Asuransi termlife sebaiknya di suami yang penghasilannya lebih besar. Namun jika budgetnya cukup, bisa beli untuk berdua. Tergantung kondisi kesehatan juga. Nilai uang pertanggungan asuransi sebaiknya minimal 10 tahun pengeluaran. Misalkan 1 bulan pengeluaran Rp 10 juta, maka 1 tahun 120 juta dan 10 tahun 1,2 M.

    Namun sebenarnya jika anda berdua bekerja, kurang lebih anda sudah mendapat uang pertanggungan setara 4 – 5 tahun gaji yang mungkin setara 6 – 8 tahun pengeluaran dari BPJS Ketenagakerjaan. Dengan demikian, dengan UP setara 5 tahun pengeluaran saja sebenarnya juga sudah cukup. Yang perlu dipahami adalah asuransi kecelakaan kerja dari BPJS Ketenagakerjaan hanya berlaku untuk cacat dan meninggal karena kecelakaan saja.

    Referensi : http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2016/05/20/antisipasi-risiko-kematian-asuransi-komersial-atau-bpjs-ketenagakerjaan/

    4. Sebaiknya 8 – 12 karena anak masih kecil, tapi tentu tidak mudah karena pengeluaran juga tentunya banyak. Selamat berjuang

    5. Perlu dihitung apakah dengan Rp 450.000 cukup untuk biaya pendidikan anak di masa mendatang. Caranya, gunakan kalkulator finansial di http://www.panin-am.co.id/InvestmentCalculator.aspx Kalau tata caranya bisa baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/08/10/3-langkah-menjadi-investor-reksa-dana-bagi-pemula/

    Untuk golongan, sebenarnya profil anda tidak begitu berbeda dengan banyak orang. Kebanyakan juga investasi coba-coba dulu, baru pahamnya belakangan. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali dan selanjutnya pengalaman ini bisa dibagikan ke orang lain.

    Semoga sukses dengan pengaturan keuangan dan tujuan investasi pendidikan anaknya.

  11. barlian
    January 15th, 2017 at 22:23 | #11

    Salam pak
    Saya barlian usia 34 thn saya pgen ber investasi untuk bisa membuat rumah sndiri dlm jangka 5 tahun sebaik nya saya harus ikut investasi RD apa dan berapa sebaiknya nilai investasi yg hrs saya byarkan setiao bulan nya

  12. Rudiyanto
    January 16th, 2017 at 02:47 | #12

    @barlian
    Selamat malam pak Barlian,

    Boleh diberikan informasi lebih lengkap, untuk kebutuhan rumah sendiri tersebut apakah sudah dilakukan survei seperti tempatnya dimana, berapa besarnya biaya yang dibutuhkan untuk membeli tanah dan mendirikan bangunannya?

    Terima kasih

  13. barlian
    January 16th, 2017 at 05:07 | #13

    Sudah survey tempt dan lokasi serta tanah tinggal menempati saja..yg dibutuh tinggal membangun rummahnya kira” biayanya 150 jt,an

  14. Rudiyanto
    January 17th, 2017 at 13:57 | #14

    @barlian
    Salam Pak Barlian,

    Kalau hitungan sederhana seperti ini :
    Dengan reksa dana campuran yang risikonya lebih moderat dan asumsi return 13% dan inflasi biaya rumah sebesar 5%, dibutuhkan Rp 2,302,736 per bulan

    Apabila anda mau mengambil risiko dengan reksa dana saham yang lebih agresif, asumsi return 17% dan inflasi biaya rumah 5%, dibutuhkan sebesar Rp 2,086,840 per bulan

    Untuk cara perhitungan dan kalkulatornya bisa baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/08/10/3-langkah-menjadi-investor-reksa-dana-bagi-pemula/

    Semoga bermanfaat

  15. SRI
    September 10th, 2017 at 10:37 | #15

    Halo Pak Rudi, saya benar-benar butuh bantuan anda saat ini.
    kondisi keuangan saya sangat tidak sehat sekarang ini, 82%nya adalah hutang.
    penghasilan saya 34.500.000
    namun saya memiliki hutang KPR 3 masing-masing 1juta, 5,7 juta & 10 juta.
    memiliki 2 KTA sebesar 4 juta akan selesai pada juli & des 2018. Lalu ada tabungan rencana sebesar 2juta berakhir di des 2018.
    Dan parahnya saya memiliki 6 kartu kredit yang sebetulnya saat ini tidak terlalu saya butuhkan.

    Mohon pencerahan Pak Rudi, apa yang harus saya lakukan dengan situasi ini.
    Saya ingin uang saya bisa lebih produktif.

    Terima kasih.

  16. Rudiyanto
    September 20th, 2017 at 13:52 | #16

    @SRI
    Salam ibu Sri,

    Mohon maaf baru sempat saya balas sekarang karena berbagai kesibukan.

    Kalau boleh saya perjelas :

    Pendapatan Rp 34.5 juta per bulan (termasuk besar menurut saya, apalagi jika angka ini merupakan net take home pay. Dengan asumsi sudah menikah, itu setara dengan gaji Rp 42 juta sebulan sebelum dipotong pajak dan BPJS).

    Pembayaran cicilan KPR total 16.7 juta (setara 48% dari pendapatan, agak bahaya memang dan kemungkinan ada cicilan langsung ke developer karena kalau di bank harusnya sudah ditolak)

    Pembayaran KTA 4 juta (setara 11% dari pendapatan, menurut saya kalau ada bonus / THR / Rejeki lainnya sebisa mungkin segera dilunasi lebih cepat dari jadwalnya)

    Tabungan Rencana Rp 2 juta per bulan (menurut saya masuk kategori investasi 5% dari pendapatan. Cukup ok, tapi menurut saya secara perlahan jika cashflownya memungkinkan bisa ditingkatkan sampai 15-20% dari pendapatan mengingat penghasilan anda cukup lumayan)

    Punya kartu kredit 6, biasanya karena doyan diskon atau promo yang berkaitan dengan penawaran kartu kredit. Sepanjang tidak ada hutang menurut saya sih tidak apa2. Cuman mesti waspada sama iuran bulanan / biaya materai yang terlewatkan dan menyebabkan kolektibilitas kredit anda turun.

    Untuk kartu kredit menurut saya kondisi masing-masing orang bisa berbeda. Apabila anda bekerja sebagai eksekutif di perusahaan dimana ada pengeluaran yang mengandalkan kartu kredit, maka cukup simpan minimal 2 kartu kredit saja.

    1 Untuk penggunaan pribadi dan 1 untuk penggunaan kantor. Dengan nilai gaji anda seharusnya bisa dinegosiasikan untuk gratis iuran tahunan yang seumur hidup atau paling tidak bisa di waive setiap tahunnya.

    Untuk kartu kredit penggunaan pribadi bisa juga disesuaikan dengan gaya belanja anda. Misalkan kalau sering belanja di carefour bisa apply / cukup punya Mega yang ada diskon 10%.

    Dari Pendapatan anda 34.5 juta sebanyak 22.7 juta dihabiskan untuk KPR, KTA dan Tabungan Rencana. Sisanya 11.8 juta. Angka ini seharusnya lebih dari cukup untuk biaya kebutuhan anda / keluarga anda dalam 1 bulan. Seharusnya juga termasuk pemakaian kartu kredit pribadi anda.

    Kalau menurut saya coba press angka ini menjadi 7-8 juta sebulan. Membership fitness, klub, kursus yang tidak terlalu sering anda hadiri, kongkow2 yang sekali pergi habis di atas Rp 250.000 (termasuk parkir, bensin dan tol) sebaiknya dikurangi.

    Kemudian sisanya diakumulasikan untuk fokus membayar cicilan KTA supaya lebih cepat lunas.

    Semoga saran ini bermanfaat

  17. tara
    September 30th, 2017 at 03:19 | #17

    Salam kenal pak Rudi, saat ini saya berumur 28th anak usia 2th, suami 29th. jika digabungkan pendapatan kami berdua kurang lebih 24 jt per bln. kami ambil tabungan mapan yg akan cair 3th lg dr sekarang dg setoran 7jt per bln (terimanya sktr 260jt), angsuran tetap cicilan mobil dan cc kurang lebih 4jt, bila dihitung2 biaya hidup 10-15jt per bln. setiap bln kadang kami msh bisa irit dan ada sisa 2 jt. uang tabungan saya saat ini 35jt dan aset dagang -/+ 14jt (diluar tabungan mapan).

    pertanyaan saya, saya ingin ikut dana pensiun, jenis reksadana apa yg sebaiknya sy ambil?
    apakah bisa bila saya ambil saat ini?atau sebaiknya di tahun ke-3 saat dana tabungan mapan tsb cair?
    bila saya dlm wkt dekat ingin ambil asuransi kesehatan, asuransi pendidikan, dan dana utk membeli rumah 10th lagi, apakah uang saya cukup? atau dijadikan 1 saja dengan investasi reksadana utk tujuan dana pensiun tadi pak? bagaimana membagi-baginya ya pak?

    krn saya ingat pak Rudi berkata
    bhw tujuan investasi harus jelas agar hasil yg didapat maksimal, saya jadi kesulitan sendiri baiknya memilih jenis apa yg bail utk tujuan2 yg saya jabarkan diatas.

    terima kasih sebelumnya ya Pak.

  18. Rudiyanto
    October 2nd, 2017 at 05:30 | #18

    @tara
    Salam kenal juga ibu Tara,

    Terima kasih atas pemaparan data yang lengkap sehingga memudahkan saya untuk melakukan analisa.

    Secara cashflow, kalau pendapatan Rp 24 juta dikurangi dengan tabungan mapan Rp 7 juta dan cicilan mobil – kartu kredit Rp 4 juta, berarti tinggal Rp 13 juta per bulan. Berdasarkan info bahwa kalau masih irit baru ada sisa Rp 2 juta, berarti setidaknya pengeluaran anda Rp 11 juta per bulan. Kalau sedang tidak irit, menurut saya harus bisa kamu batasi maksimal pengeluaran Rp 13 juta agar tidak defisit.

    Dengan menggunakan konsep 10-20-30-40, maka dengan penghasilan Rp 24 juta, seharusnya :
    10 % = Rp 2.4 juta untuk Kebaikan. Bisa berikan ke orang tua, sedekah, sumbangan pada saat ke tempat ibadah dan lainnya. Saat ini mungkin masuk ke Rp 10-15 juta yang anda maksud, tapi alangkah baiknya kalau bisa dipisahkan agar kantong pengeluarannya jelas.

    20 % = Rp 4.8 juta untuk Masa Depan. Yang termasuk dalam Masa Depan adalah seperti asuransi, tabungan pendidikan, dan investasi reksa dana. Tabungan Mapan yang anda lakukan termasuk untuk penggunaan cashflow untuk masa depan. Yang berarti kelebihan Rp 2.2 juta. Anggap saja Rp 2.2 juta ini sebagai bagian dari cicilan. Untuk asuransi, seharusnya dalam tabungan Mapan anda sudah ada fitur asuransi jiwa sehingga tidak perlu buru-buru beli. Untuk asuransi kesehatan dan pendidikan, sebenarnya secara cashflow sudah tidak cukup, tapi jika mau diambil dalam waktu dekat, hanya bisa diambil dari porsi tabungan mapan yang Rp 7 juta per bulan.

    Saya tidak begitu tahu seperti apa kontrak tabungan mapan tersebut. Sebagai alternatif, menurut saya, anda bisa mengambil BPJS Kesehatan, dimana untuk premi layanan kesehatan kelas I, sekitar Rp 70rb an per bulan x jumlah anggota keluarga. Memang tidak se eksklusif asuransi kesehatan komersial, tapi menurut saya jika diikuti prosedurnya, akan cukup banyak menghemat biaya kesehatan.

    Porsi biaya pendidikan anak bisa diambil dari tabungan mapan yang cair nanti 3 tahun lagi sehingga tidak perlu mengikuti asuransi pendidikan.

    30 % = Rp 7.2 juta untuk Cicilan. Cicilan yang dimaksud disini adalah untuk cicilan yang produktif seperti rumah atau kendaraan untuk kerja. Cicilan ke kartu kredit tidak termasuk. Cicilan tidak berarti harus ke bank, untuk dana untuk persiapan beli rumah juga bisa masuk ke sini. Jadi dengan nilai cicilan Rp 4 juta per bulan, ditambah Rp 2.2 juta yang dari porsi masa depan, totalnya Rp 6.2 juta. Perlu diupayakan ada tambahan Rp 1 juta lagi untuk porsi cicilan ini.

    40% = Rp 9.6 juta untuk Kebutuhan. Dengan pengeluaran antara Rp 11 – 15 juta per bulan, sebenarnya agak berlebih. Namun terkadang apa boleh buat mengingat biaya untuk membesarkan anak juga semakin mahal, apalagi terkadang orang tua agak “tidak terkontrol” dalam memberikan sesuatu kepada anaknya. Apabila kurang, menurut saya bisa “meminjam” dulu 5% dari porsi 10% untuk Kebaikan. Kalau nanti pendapatan sudah agak membaik, bisa dikembalikan porsinya.

    Karena pengeluaran anda masih belum ideal dan kalau dari perkiraan saya terkadang masih nombok.

    Jadi secara cashflow, ada biaya pengeluaran yang perlu ditekan dan tambahan Rp 1 juta untuk persiapan DP Rumah.

    Selain penggunaan cashflow di atas, ada beberapa indikator kesehatan keuangan yang bisa anda coba penuhi :
    - Memiliki dana darurat 6 – 12 kali pengeluaran. Dengan asumsi Rp 11 juta, maka idealnya anda punya dana darurat Rp 66 – 132 juta. Dana ini bisa diambil dari tabungan Mapan pada saat sudah cair nanti ditambah dengan dana di tabungan anda sekarang dengan catatan itu bukan cashflow untuk keperluan usaha, sebaiknya antara uang untuk usaha dan perorangan dipisah walaupun kita sendiri jadi pengusaha. Simpan di deposito atau reksa dana pasar uang.

    - Dengan asumsi anda simpan yang paling maksimal yaitu Rp 132 juta, dikurangi Rp 35 juta dita tabungan sekarang, maka dari Rp 260 juta yang cair 3 tahun lagi, sisanya sekitar Rp 160 juta. Porsi dana ini bisa anda gunakan untuk persiapan DP Rumah dan biaya pendidikan anak. Saya tidak tahu berapa rumah yang anda inginkan, namun mengingat harga rumah sekarang, setidaknya anda perlu memiliki Rp 500 juta sebelum memulai mencari rumah, kecuali menemukan rumah yang semuanya bisa dicicil mulai dari DP sampai pokoknya sekarang.

    Dana Rp 160 juta tersebut nantinya bisa diinvestasikan dalam jenis reksa dana yang konservatif seperti reksa dana pasar uang atau reksa dana pendapatan tetap karena digunakan untuk kebutuhan yang tidak memungkinkan bagi kita untuk menghadapi risiko fluktuasi harga yang berlebihan.

    Dari kondisi keuangan anda sekarang, rasanya masih sulit untuk menyisihkan uang untuk dana pensiun. Saran saya coba atur keuangannya terlebih dahulu, lunasi kartu kredit, dan coba kaji ulang biaya hidup setiap bulannya apakah semua yang dikeluarkan itu benar-benar perlu.

    Setelah itu, jika masih ada dana yang tersisa, baru coba investasikan ke reksa dana. Silakan dicoba dulu selama 2-3 bulan dan kita lihat apa yang terjadi.

    Semoga bermanfaat

Comment pages
1 5 6 7 187
  1. April 25th, 2011 at 13:31 | #1
  2. April 19th, 2014 at 18:46 | #2
  3. December 3rd, 2014 at 06:34 | #3

 


%d bloggers like this: