Home > Belajar Reksa Dana > Sehat Dulu, Investasi Kemudian..

Sehat Dulu, Investasi Kemudian..

Kini reksa dana bukan lagi menjadi produk investasi yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan terbatas saja. Minimum investasi yang semakin rendah membuka akses kepada investor dari segala kalangan untuk bisa ikut berinvestasi pada seluruh produk ini. Sampai-sampai ada masukan, bahkan tukang becakpun bisa berinvestasi asalkan mau menyisihkan uang rokoknya dalam 1 bulan. Meski demikian, sebelum berinvestasi seharusnya investor melakukan self assessment, apakah dia sudah siap untuk berinvestasi pada reksa dana?

Kesiapan untuk berinvestasi pada reksa dana tidak ditentukan oleh berapa besar uang yang dimiliki saat ini. Oleh karena itu, memiliki jumlah uang kas di atas saldo minimum investasi tidak menjadi suatu kepastian seseorang pasti siap menjadi investor reksa dana. Untuk menjadi investor reksa dana, seseorang harus “Sehat secara Keuangan”.

Definisi sehat secara keuangan tidak ditentukan dari seberapa banyak jumlah uang dimiliki seseorang. Tapi juga darimana asalnya, apakah dari hutang, pinjaman lain atau memang hasil tabungan? Gaji boleh besar, apakah pengeluaran juga besar pula? Untuk mengetahui apakah seseorang sehat secara finansial dapat dilakukan dengan melakukan Financial Check up.

Financial Check Up berbeda dengan profil risiko ataupun data kondisi keuangan yang anda isi pada saat formulir pembukaan rekening reksa dana. Profil risiko bertujuan untuk menunjukkan jenis reksa dana seperti apa yang cocok untuk anda, sementara data yang terdapat pada formulir pembukaan rekening hanya bersifat informasional saja.

Financial check up dilakukan dengan cara mengukur rasio-rasio keuangan seseorang, kemudian membandingkan rasio-rasio tersebut dengan suatu rasio standar. Apabila rasio keuangan pribadi orang tersebut sudah sama atau lebih baik dibandingkan dengan rasio standar, maka seseorang dikatakan “Sehat Secara Keuangan” dan siap untuk menjadi investor. Ada 4 rasio yang dipergunakan dalam financial check up antara lain :

1.       Rasio Hutang Konsumtif

Diperoleh dari Total Hutang Konsumtif / Total Pendapatan Bulanan

Yang termasuk dalam hutang konsumtif antara lain Hutang / Kredit Tanpa Agunan dan Hutang Kartu Kredit. Standar untuk rasio ini adalah 0%. Rasio ini menjadi rasio yang utama dalam menentukan seseorang sehat atau tidak. Jika seseorang sampai memiliki hutang konsumtif untuk alasan apapun, maka orang tersebut tidak sehat secara keuangan dan tidak layak untuk menjadi investor.

2.       Rasio Cicilan

Diperoleh dari Total Cicilan Bulanan / Total Pendapatan Tetap Bulanan

Yang termasuk total cicilan bulanan antara lain Cicilan KPR, Cicilan Motor, Cicilan Apartemen dan Cicilan lainnya. Total Pendapatan Tetap Bulanan adalah komponen pendapatan bulanan yang sifatnya tetap. Jika penghasilan seseorang terdiri dari Gaji yang Tetap dan Komisi yang variabel, maka hanya Gaji tetap yang dipergunakan. Standar untuk rasio ini adalah < 30%.

Poin dari rasio ini adalah bahwa orang yang memiliki hutang (yang bukan konsumtif) sebetulnya juga boleh menjadi investor investasi dan bisa dikatakan sehat secara keuangan. Batas rasio untuk bisa dikatakan sehat adalah di bawah 30%.

3.       Rasio Dana Darurat

Diperoleh dari Total Aset Likuid / Total Biaya Tetap Bulanan

Yang termasuk total aset likuid antara lain dana kas, tabungan, deposito, giro, dan reksa dana pasar uang. Total biaya tetap bulanan terdiri dari seluruh pengeluaran yang sifatnya tetap setiap bulan seperti biaya sewa, iuran air listrik, cicilan-cicilan, biaya makan dan minum, uang sekolah anak dan biaya tetap lainnya yang tidak dapat dihemat lagi. Standar untuk rasio ini adalah 6 kali untuk lajang dan 12 kali untuk pasangan yang telah berkeluarga.

Situasi darurat tidak dapat diprediksi oleh setiap orang. Bayangkan, tiba-tiba anda membutuhkan dana besar karena ada kerabat yang mengalami musibah, pada saat yang sama seluruh uang anda ditempatkan di reksa dana saham. Dan kebetulan bursa saham sedang dalam periode rendah-rendahnya di tahun 2008. Dengan memiliki dana darurat yang cukup, investor akan terbebas dalam situasi dia harus mencairkan dananya pada saat situasi investasi sedang kurang baik.

4.       Rasio Biaya Terhadap Pendapatan

Diperoleh dari Total Biaya Tetap Bulanan / Total Pendapatan Tetap Bulanan

Standar untuk rasio ini adalah < 1. Rasio menyikapi gaya hidup seseorang. Gaya hidup yang sehat adalah gaya hidup dimana seluruh pengeluaran yang sifatnya tetap dapat dicover dari pendapatan yang sifatnya tetap pula. Apabila memiliki rasio lebih dari 1, berarti gaya hidup anda terlalu “tinggi” dan perlu dilakukan penyesuaian. Caranya bisa dengan mengubah pendapatan variabel menjadi pendapatan tetap, seperti meminta kenaikan gaji. Atau berusaha berhemat dengan menurunkan pengeluaran yang sifatnya tetap.

Rasio Kesehatan Keuangan Untuk Financial Check Up

Keterangan :

Hutang Konsumtif           = Hutang KTA dan Hutang Kartu Kredit

Cicilan Bulanan                  = Cicilan Kartu Kredit, Kredit Rumah, Kredit Kendaraan

Aset Likuid                          = Tabungan, Giro, Deposito, Reksa Dana Pasar Uang

Investasi reksa dana bukan merupakan investasi yang memberikan jaminan kepastian hasil. Ada risiko naik turunnya harga yang harus dipahami dan akan dihadapi oleh investor. Pada saat menghadapi ketidakpastian harga, penting sekali bagi investor untuk mengambil keputusan dengan tenang. Jika investor berada dalam kondisi kesehatan keuangan yang tidak baik, maka terdapat kemungkinan investor mengambil keputusan yang salah. Sebagai ilustrasi, misalnya investor dihadapkan pada kondisi harga saham yang sedang turun, pada saat yang sama, dia terpaksa menjual reksa dana tersebut karena kekurangan dana untuk membayar total cicilan kartu kreditnya yang sudah jatuh tempo.

Financial check up perlu dilakukan secara periodik paling tidak 6 bulan sekali. Selain itu, pada saat investor akan mengambil keputusan keuangan yang sifatnya penting seperti mengambil KPR, KTA, pengeluaran dalam jumlah yang besar Liburan jauh, pernikahan, biaya rumah sakit. Financial check up sebaiknya dilakukan sebelum keputusan keuangan tersebut diambil. Jika kebutuhan bersifat urgent sehingga tidak ada pilihan lain, review dilakukan setelah keputusan tersebut di ambil sambil mencari cara untuk memperbaiki kondisi keuangan agar sehat kembali.

Kesiapan investasi merupakan hal penting yang harus dilakukan oleh investor sebelum berinvestasi. Jangan terburu-buru mengambil keputusan, jangan pula terbuai untuk berinvestasi hanya karena iming-iming reksa dana tersebut memberikan return yang tinggi di masa lalu. Semoga artikel ini bermanfaat bagi anda yang ingin menjadi calon investor reksa dana..

Meminjam pepatah

Berakit-rakit Ke Hulu, Berenang-renang Ke Tepian

Bikin Sehat Keuangan Dulu, Investasi Reksa Dana Kemudian

Penyebutan produk investasi di atas (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis.

“Melakukan copy & paste artikel berita ini dan atau mendistribusikan ulang melalui situs atau blog Anda tanpa izin tertulis adalah melanggar Hak Cipta / Copyright ©”

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:
  1. Prabu
    September 25th, 2011 at 13:02 | #1

    Halo Pak Rudi… :)

    Saya baru lulus kuliah dan akan bekerja bulan depan. Dari gaji saya, saya tertarik mau ikut reksadana. Tapi setelah membaca artikel dari Pak Rudi, saya jadi teringat bahwa melihat harga rumah yang semakin melambung, saya jadi berpikir bagaimana caranya agar saya bisa membeli rumah saya sendiri tanpa meminta dari orang tua.

    Menurut Pak Rudi, apa yang harus saya lakukan agar saya bisa mulai berinvestasi dan bisa membeli rumah sendiri :
    1. Apakah dengan hutang bank dulu lalu dananya untuk beli emas. Nanti emasnya dijual jika harga emas melambung tinggi seperti sekarang.
    2. KPR rumah langsung.
    3. Menyisihkan gaji saya untuk berinvestasi di reksadana lalu keuntungan dari reksadana digunakan untuk menyicil rumah? Tapi dengan menggunakan keuntungan reksadana berarti kuantiti di reksadana saya akan berkurang karena di redeem untuk membayar cicilan rumah, rugi juga dong berarti.

    Terimakasih :)

  2. September 26th, 2011 at 17:14 | #2

    @Prabu
    Yth Prabu,

    Saran saya anda kumpulkan uang di deposito atau tabungan sampai mencukupi untuk DP Rumah (umumnya 20% – 25% dari harga rumah termasuk biaya administrasinya), kemudian ambil KPR langsung yang besarnya cicilan rumah setara dengan 30% gaji bulanan anda.

    Lakukan investasi baru ketika setelah membayar cicilan rumah, uang ke orang tua, amal dan sedekah dan kebutuhan hidup pokok masih ada uang sisa, baru diinvestasikan.

    Selamat menghadapi dunia nyata dan semoga sukses.

  3. William
    January 15th, 2012 at 01:36 | #3

    Yth. Pak Rudi

    Saya ingin bertanya, saya seorang mahasiswa usia 21 tahun.
    Saya berinvestasi di RD Saham 4 bulan yang lalu.
    Sebaiknya berapa % dari tabungan saya diinvestasikan ke RD saham?

    Menurut Bapak, teknik top up yang baik seperti apa?
    1. Top up dengan jumlah tetap per bulan
    2. Top up per bulan bervariasi sesuai kondisi NAB saat itu

  4. January 15th, 2012 at 10:33 | #4

    @William
    Yth William,

    Jika anda adalah mahasiswa yang belum memiliki tanggungan keluarga dan ada uang lebih, maka saya sarankan anda bisa berinvestasi sesuai kemampuan saja.
    Pada bagian ini telah dibahas beberapa teknik investasi http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/category/perencanaan-investasi/
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/11/26/strategi-investasi-dynamic-averaging-and-cost-rebalancing/

    Namun ketika anda sudah selesai kuliah dan benar2 memulai dari 0 (tidak ada sokongan biaya hidup dari keluarga, tidak ada rumah dan kendaraan yang cicilannya sudah lunas, dan tidak ada bisnis orang tua yang dilanjutkan), kondisi keuangan yang menurut anda lebih saat masih mahasiswa akan menjadi sangat kurang. Seiring dengan bertambahnya umur, kebutuhan tentu akan semakin meningkat. Untuk sekedar bisa mencapai kondisi finansial yang sehat seperti pada artikel di atas saja membutuhkan perjuangan yang sangat keras.

    So, sangat baik anda sudah mau memulai investasi sejak masih muda, namun saya sarankan investasi cukup dilakukan ketika ada uang lebih saja. Lebih baik fokus kamu dilakukan pada membangun bisnis / karier. Sebagai informasi, untuk bisa hidup makmur di Jakarta, setidaknya anda membutuhkan penghasilan setidaknya 15 – 20 juta per bulan. Referensi artikel bisa anda baca http://strategimanajemen.net/2008/11/17/berapa-besar-gaji-anda-untuk-bisa-hidup-dengan-layak/

    Semoga bermanfaat.

  5. February 3rd, 2012 at 08:55 | #5

    Thanks pak Rudi atas link-nya…:)

    Btw, blog Anda ini benar-benar the best dalam jagat investasi pasar modal di tanah air. Web infovesta.com juga sangat informatif.

    Bagi saya reksadana (yang di-invest secara long term, 10 atau 15 tahun) adalah salah satu TIKET AMPUH untuk ikut riding the wave of Indonesian economy.

    20 tahun lagi, Indonesia akan menjadi the next dragon di Asia. Kata ahli, jangan hanya jadi penonton pasif……kita harus ikut menikmati gelombang dahsyat itu.

    Nah saya melihat investasi di reksadana adalah salah satu tiket agar kita kebagian kursi dalam penerbangan kemakmuran bangsa yang sangat cemerlang itu.

    Again, thanks for your amazing blog and amazing website (infovesta).

  6. February 3rd, 2012 at 11:48 | #6

    @Yodhia @ Blog Strategi + Manajemen
    Terima kasih pak.

    Blog bapak juga sangat bagus. Saya juga termasuk salah satu pembaca setia di blog anda.
    Selamat berkarya ya.

  7. February 7th, 2012 at 08:29 | #7

    Wow, saya sangat terbantu dengan tulisan ini. Kebetulan saya lagi senang baca-baca artikel tentang financial planning :-)

  8. eko
    February 9th, 2012 at 19:02 | #8

    Yth. Pak Rudi
    Mohon saran, saya seorang PNS. saat ini saya punya sisa pokok pinjaman di bank sebesar +_ 64 juta, yang harus saya cicil perbulan sekitar 1,45an juta sampai Oktober 2017 nanti. mulai tahun ini saya bisa menyisihkan penghasilan kami 2 juta perbulan.
    sebelumnya saya berencana ingin invest reksadana, namun setelah baca tulisan Bapak saya jadi bingung dengan sisa gaji saya itu, untuk DCA reksadana saja dengan harapan dapat return yang bagus, apa untuk memperbesar angsuran utang agar cepat lunas (tidak sampai 2017).
    Terimakasih atas jawabannya

  9. February 10th, 2012 at 08:19 | #9

    @eko
    Yth Pak Eko,

    Kalau pinjaman anda merupakan pinjaman berbunga tinggi (kartu kredit / KTA) maka saya menyarankan agar dilunasi secepatnya. Apabila pinjaman tersebut adalah pinjaman dengan bunga rendah (KPR), maka sebetulnya kalau ada kelebihan dana tidak ada salahnya diinvestasikan. Tentu setelah mempertimbangkan faktor rasio keuangan lainnya.

    Semoga bermanfaat. Terima kasih.

  10. vi_roez
    April 28th, 2012 at 11:31 | #10

    halo pak rudi, saya baru kemarin membaca artikel2 anda…bagus dan sangat berguna sekali untuk saya…

    saya juga baru tertarik dan ingin mencoba reksadana (masih sangat awam)…

    Kira2 menurut bapak, reksadana apa yang kira2 cocok dengan saya
    saya seorang karyawati, belum punya tanggungan (umur 26) dan penghasilan 3juta perbulan..

    Saya tipe orang yang bisa menabung, tapi juga bisa mengeluarkan tabungan dengan mudah (dgn adanya atm), saya punya 2 atm (yang pertama untuk belanja), (yg kedua untuk jaga2 saja…tapi sering kali kalau ATM 1 saya kosong, saya akan menggunakan ATM 2 ).

    Saya Memiliki:
    2 Tabungan (Atm 1 sudah bisa dipastikan akan habis untuk 1 bulan)
    2 Asuransi (kantor dan sendiri)

    Anggap saja gaji 3jt – 1jt(pengeluaran saya/ATM 1)= 2 juta (Sisa/ ATM 2)

    Saya ingin membagi pengeluaran saya (berdasarkan prioritas saya):
    1. Jalan2 (Saya tipe penjelajah)
    2. Dana Pensiun
    3. Bisnis
    4. Beli Rumah
    5. Belanja sehari-hari (saya pakai ATM 1)
    6. Untuk biaya di Luar Dugaan/ Dana cadangan (ATM2)
    7. DLL (Seperti Menikah dan Pendidikan Anak)

    Saya adalah tipe orang yang tidak mau mengambil resiko terlalu besar, Untuk memulai-nya saya mungkin akan mencoba dengan nominal yang cukup rendah antara 100-300rb (searching di bank commonwealth bisa 100rb)

    Saya Tertarik dengan Reksa Dana Pendapatan Tetap dan Reksa Dana Campuran.

    Untuk Tujuan Jalan-Jalan saya ingin mengambil Reksa Dana Pendapatan Tetap.
    Bagaimana menurut Bapak? dan bagaimana kalau saya juga ingin mengambil Reksa dana untuk Dana Pensiun (Apakah saya bisa mengambil 2 paket yang berbeda?) Reksa Dana apa yang cocok untuk dana Pensiun atau lainnya yg lebih cocok selain Reksa Dana?

    Menurut bapak apa yang harus saya lakukan lagi, untuk bisa membagi gaji saya yang 3 juta itu berdasarkan pembagian pengeluaran saya, apakah saya harus membuka rekening yang lain lagi atau bagaimana? saya minta sarannya pak Rudy.

    terima kasih,
    Karyawan yang ingin berhemat

  11. Rudiyanto
    April 28th, 2012 at 16:56 | #11

    @vi_roez
    Halo Vi,

    Tanpa bermaksud “menggurui”, pertama-tama saya harus memuji anda. Saya rasa tidak banyak orang di usia 26 yang sudah memiliki tujuan hidup yang jelas dan rencana untuk mencapainya. Bahkan anda punya moto “Karyawan yang ingin berhemat”.

    Tapi tanpa mengurangi rasa hormat, saya rasa anda harus “Realistis”. Dengan asumsi kenaikan gaji anda 12% per tahun (2 kali inflasi), maka anda baru akan punya gaji 6 juta di usia 32 dan 12 juta di usia 38. Angka itu juga sebetulnya masih belum cukup untuk hidup “agak mapan” di kota besar di Indonesia yang membutuhkan sekitar 15 juta per bulan. Referensi dari mas Yodia http://strategimanajemen.net/2008/11/17/berapa-besar-gaji-anda-untuk-bisa-hidup-dengan-layak/

    Dan saya juga sependapat dengan bapak Mario Teguh bahwa “Hemat Bukan Pangkal Kaya, Kalau mau kaya, harus banyak menghasilkan, baru kemudian berhemat” https://twitter.com/#!/MTLovenHoney/status/183493584950018048

    Jadi, anda sudah memenuhi syarat pertama untuk bisa menjadi orang kaya, yaitu memiliki harapan (1 – 7 prioritas anda). Namun langkah selanjutnya adalah jangan membuat harapan tersebut menjadi mimpi atau ilusi, akan tetapi bagaimana caranya agar menjadi kenyataan. Reksa Dana, “Menurut saya” adalah salah satu sarana untuk membuat anda bertambah kaya, namun bukan sarana untuk membuat anda menjadi kaya. Bagaimanapun, anda meski memiliki karir / usaha yang membuat anda memiliki kehidupan yang mapan dahulu.

    Saya tidak ingin mengurangi semangat anda dalam melakukan investasi, namun dengan kondisi anda saat ini, saran saya, tambahkan pengembangan diri (karakter, karir & penghasilan) di prioritas pertama anda, baru setelah itu rencana-rencana lainnya. Jika anda mengikuti acara Suze Orman (Financial Planner dari US), salah satu Quote beliau yang saya suka, People First, Then Money, Then Things.

    Pendapat saya di atas bisa diperdebatkan, tapi saya hanya mengharapkan yang terbaik untuk anda semua. Terima kasih

  12. vi_roez
    April 30th, 2012 at 09:46 | #12

    makasih masukkannya pak rudi…saya sangat menghargainya…saya akan mencoba memahami penjelasan bapak terlebih dahulu…apabila ada pertanyaan…saya akan tanyakan lagi ke bapak….
    terima kasih banyak pak :)

  13. Rudiyanto
    April 30th, 2012 at 10:17 | #13

    @vi_roez
    Sama2 Vi,

    Ngomong2 gimana caranya masukkan avatar yang gambar itu ya? saya coba2, ga bisa2?

  14. sherine
    May 7th, 2012 at 14:15 | #14

    Pak saya 36 th punya kpr dg bunga 14%/tahun total utang msh 150juta dan masih sktr 11 tahun lagi, apabila saya dapat uang lebih/bonus apakah lebih baik saya investasikan ke reksadana atau untuk mengurangi cicilan kpr? terimakasih sebelumnya

  15. Rudiyanto
    May 7th, 2012 at 16:16 | #15

    @sherine
    Yth Ibu Sherine,

    Bisa tolong sebutkan angka anda dari 4 rasio di atas?

  16. sherine
    May 8th, 2012 at 14:34 | #16

    rasio hutang konsumtif saya : 0, rasio cicilan 35%, rasio dana darurat : 3 ; rasio biaya = 1

  17. Rudiyanto
    May 8th, 2012 at 19:34 | #17

    @sherine
    Terima kasih Ibu Sherine atas informasinya.
    Kalau melihat rasio di atas, saran saya coba kurangi cicilan KPRnya.

    Sebab dengan asumsi perkiraan cicilan kamu 2.5 juta per bulan yang merupakan 35% dari penghasilan anda, sisanya yang sebesar 5 juta sudah dihabiskan untuk kebutuhan sehari-hari. Kesehatan keuangan anda memang baik karena memiliki cadangan 3 bulan pengeluaran. Akan tetapi akan lebih baik lagi jika cicilan pokok hutang anda berkurang, misalnya dari Rp 2.5 juta menjadi Rp 2 juta atau lebih rendah. Sisanya sebesar Rp 500.000 bisa dianggap sebagai disposable income (bagian pendapatan yang bisa disisihkan). Uang tersebut bisa anda gunakan menambah cadangan dana darurat, diinvestasikan atau meningkatkan kualitas hidup (baca : pengeluaran per bulan). Hal ini karena rasio biaya thd pendapatan kamu sudah mencapai 1, sehingga menurut saya mungkin membuat pengeluaran menjadi serba “pas-pasan”. Prinsip saya lebih baik pendapatan > biaya karena masih bisa menabung daripada Pendapatan < Biaya akan tetapi punya investasi / tabungan tapi tergerus terus menerus.

    Demikian pendapat saya, semoga bermanfaat.

  18. Fanny
    September 8th, 2012 at 14:51 | #18

    Pak Rudi,

    Usia saya saat ini 35 tahun, saya berencana pensiun di usia 60 tahun, dan ingin mendapatkan uang sekitar 15 juta pertahun ketika pensiun nanti. Kita-kira bagaimana rencana investasi yg harus saya lakukan? Saat ini saya sudah memiliki rumah dan mobil dan tidak memiliki hutang.

    Terima kasih,
    Fanny

  19. Fanny
    September 8th, 2012 at 14:53 | #19

    Maaf ada koreksi:

    Usia saya saat ini 35 tahun, saya berencana pensiun di usia 60 tahun, dan ingin mendapatkan uang sekitar 15 juta perbulan ketika pensiun nanti. Kita-kira bagaimana rencana investasi yg harus saya lakukan? Saat ini saya sudah memiliki rumah dan mobil dan tidak memiliki hutang.

    Terima kasih,
    Fanny

  20. Rudiyanto
    September 13th, 2012 at 12:50 | #20

    @Fanny
    Yth Fanny,

    Secara keuangan kondisi anda sangat baik dan mungkin menjadi idaman banyak orang di Indonesia. Punya Rumah dan Kendaraan, Bebas Hutang + masih Muda. Berarti fokus anda sebetulnya cukup pada persiapan pendidikan anak (jika sudah berkeluarga) dan menyiapkan dana pensiun. Mengenai bagaimana merencanakan investasi, anda bisa menghubungi tenaga marketing atau CS panin. Kami menyediakan tools perencanaan keuangan yang dapat membantu anda dari menghitung kebutuhan investasi, menghitung berapa investasi per bulan, dan bagaimana proses pemantauannya. Informasi no telp di (62 21) 515-0605 (direct Customer Service). Untuk artikel referensi anda bisa membaca di link ini http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/11/26/strategi-investasi-dynamic-averaging-and-cost-rebalancing/

    Semoga bermanfaat, mohon maaf sebelumnya atas keterlambatan membalas pertanyaan anda. Terima kasih

  21. aan
    December 17th, 2012 at 21:30 | #21

    Dear pak rudi,
    Really love fokus bpk pd keselamatan keuangan pembaca di blog bertema reksadana ini.

    Kami keluarga baru dgn 1 anak (11m).Suami sy pns dgn pendapatan di kisaran 170jt/thn, namun yg tetap hanya 70jt, sisanya bersifat variabel. Kami tdk punya hutang konsumtif maupun cicilan, krn selama ini fokus menabung utk biaya sy lanjut program profesi thn dpn ( br tuntas terkumpul).
    Pendapatan reguler sbnrnya tdk cukup membiayai pgeluaran bulanan krn biaya hidup yg tinggi (domisili di Asmat), membiayai adik2 suami yg sdg kuliah, serta permintaan bantuan kelbes (hampir) tiap bulan. Meski dananya ada, tp sy merasa insecure dgn pola kelola keuangan kami skrg krn bergantung pd pndptn variabel. kami sekeluarga dilindungi askes, tp blm ada asuransi pendidikan anak. Krn target tabungan s2 sdh tercapai, kami brncana gabung di CU (Credit Union) sbg persiapan dana pinjaman beli rumah utk 3y ke depan. Byk rencana yg ada, tp kami blm paham meletakkan prioritas penempatan dana yg ada skrg. Apa realistis menyisihkan sbagian dana dlm btk reksadana u biaya pendidikan anak/liburan keluarga/pensiun. mohon masukan bp, khususnya konsep CU sbg pilihan penyimpanan uang. Trimakasih.

  22. Rudiyanto
    December 18th, 2012 at 18:05 | #22

    @aan
    Salam Aan, senang sekali bisa berdiskusi dengan pembaca yang datang dari berbagai penjuru di Indonesia.

    Sebelumnya saya ucapkan selamat karena hasil dari fokus anda, salah satu tujuan keuangan anda tercapai.

    Melihat kondisi anda, dimana prioritas menjadi salah satu masalah, maka kalau boleh saya kasih masukan sebagai berikut:
    1. Fokus untuk punya dana darurat setara 3-6 bulan pengeluaran. Katakan pengeluaran sebulan adalah Rp 10 juta, maka setidaknya ada Rp 30 – 60 juta di rekening darurat. Ingat karena ini benar2 darurat, maka untuk mencegah dipakai oleh kebutuhan sifatnya tidak darurat tarohlah di instrumen investasi yang agak sulit dicairkan. Semakin sulit dicairkan, biasanya orang akan semakin enggan untuk mengambilnya. Reksa Dana Pasar Uang atau Deposito bisa menjadi pilihan. Tapi jangan di tabungan yang ada ATMnya. Depositopun buatlah yang kalau dipecah di tengah jalan kena pinalti. Biar terasa sayang kalau dicairkan sebelum jatuh tempo dan punya alasan ketika diminta tolong untuk urusan yang sifatnya “kurang darurat” dari pihak lain seperti teman, keluarga, dll.

    2. Setelah punya dana darurat, maka kembali ke tujuan keuangan anda yaitu rencana untuk bisa DP Rumah. Saya tidak tahu berapa besarnya harga rumah yang anda maksud di Asmat. Selain itu, apakah yang anda maksud dengan credit union itu semacam Koperasi ? Dimana anda bersama teman2 yang lain menitipkan uang ke CU tersebut kemudian dari hasil perputaran dan keuntungan anda mendapat bagi hasil? Jika iya, faktor yang paling penting adalah Trust. Apakah pengurusnya anda kenal? Kemanakah Bisnis tersebut diputar? Apakah Bisnis tersebut bisa menghasilkan keuntungan yang wajar? Dan yang paling penting apakah, CU tersebut anda Percaya? Kalau anda memahami CU lebih baik daripada memahami reksa dana, maka sebetulnya lebih baik anda investasikan ke instrumen yang anda pahami. Sebab reksa dana juga butuh pemahaman yang sama sebelum kita “mempercayakan” tujuan keuangan kita.

    3. Dengan bertambah besarnya anak, tentu yang utama sekarang adalah pendidikannya. Namun daripada membeli asuransi pendidikan anak, sebaiknya anda membeli asuransi jiwa dan asuransi penyakit kritis untuk anda sendiri / suami anda yang merupakan tulang punggung keluarga. Untuk jaga-jaga saja supaya jika nanti terjadi kenapa2, dana pendidikan anak sudah bisa ditanggung oleh perusahaan asuransi. Jika membeli asuransi tradisional yang kalau tidak ada apa2 maka uang hangus, maka seharusnya angka tersebut tidak terlalu besar. Jadi anda bisa sambil menyiapkan rumah, sambil membeli asuransi jiwa dan kesehatan untuk anda dan suami.

    4. Kalau sudah punya asuransi dan sambil jalan menyiapkan dana membeli rumah serta masih ada uang sisa lagi maka langkah berikut baru menyiapkan pendidikan anak, liburan keluarga dan pensiun. Nah untuk yang ini, anda boleh menggunakan reksa dana atau ke CU yang anda percaya. Tinggal hitung2an berapa besar yang harus disisihkan.
    Boleh tahu, apakah di daerah anda terdapat Manajer Investasi atau Bank Agen Penjual yang melayani penjualan reksa dana? Apakah ada perusahaan asuransi yang bisa anda hubungi untuk kebutuhan tersebut?

    5. Dan juga yang paling penting. Karena hal inilah yang mengantarkan anda punya tabungan untuk pendidikan S2. Yaitu FOKUS!! Dengan fokus, baik di pikiran, tindakan dan ucapan, serta kerja keras maka apapun bisa dicapai.

    Demikian aan, semoga bisa masukan ini bermanfaat bagi anda. Terima kasih.

  23. aan
    January 7th, 2013 at 03:50 | #23

    halo pak rudi,

    Setahu sy MI belum ada di asmat. Jd, rencana2 yg ada hendak dilakukan di kota Merauke.

  24. Rudiyanto
    January 8th, 2013 at 18:32 | #24

    @aan
    Salam Pak Aan,

    Di coba saja pak. Saya tidak begitu yakin sudah ada Manajer Investasi yang membuka cabang di Kota Merauke. Tapi kalau Bank Agen Penjual Reksa dana mungkin ada. Coba saja anda datangi bank seperti Bank Mandiri atau Commonwealth Bank (jika ada), dan kalau beruntung di cabang kota tersebut terdapat petugas yang sudah memiliki Izin WAPERD jadi transaksi bisa dilakukan. Sebaiknya di telepon dulu agar perjalanan anda tidak sia2. Sebagai contoh, pengalaman saya bersama Bank Mandiri, ternyata tidak semua cabang melayani pembelian reksa dana. Hanya cabang yang ada agen berizin yang bisa melakukannya.

    Salam..

  25. Jamil
    June 9th, 2013 at 22:37 | #25

    Dear pak rudi, salam kenal. saat ini usia saya 29 tahun dan bekerja di sebuah perusahaan BUMN dengan gaji 5 juta per bulan, sedangkan istri berpenghasilan 2 juta per bulan. Berikut Financial Check Up saya (tanpa melibatkan gaji istri karena akan berencana resign dalam waktu yang belum ditentukan) :
    - Rasio Hutang Konsumtif = 0 % ;
    - Rasio Cicilan (KPR) = 36 % dengan sisa utang 94 juta (7 tahun) ;
    - Rasio Dana Darurat = 12 kali ;
    - Rasio Biaya Terhadap Pendapatan = 0,7.
    Saya baru setahun menikah dan insya Allah sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. pertanyaan saya :
    1. Investasi RD jenis apa yg tepat buat saya? terutama untuk Dana Pensiun dan Dana Pendidikan Anak
    2. Tepatkah saya jika dalam waktu dekat membeli mobil ? terkait kebutuhan mobilitas keluarga. jika iya, kisaran harga berapakah yg bisa saya beli dengan kondisi keuangan saat ini?
    saya tunggu penjelasan dan saran-saran dari bapak.
    Terima kasih

  26. Rudiyanto
    June 9th, 2013 at 23:28 | #26

    @Jamil
    Salam Pak Jamil,

    Sebelumnya saya mengucapkan selamat atas berita kehamilannya. Semoga ibu dalam keadaan sehat dan anak bisa dilahirkan dalam keadaan selamat dan sehat walafiat. Semoga anak anda Sholeh, Berbakti kepada orang tua dan bermanfaat bagi bangsa dan negara.

    Dengan resignnya istri anda, tentu pendapatan akan berkurang dan pengeluaran akan bertambah. Sebab setelah resign dan di rumah, belum tentu pengeluaran akan berkurang. Umumnya aktivitas di rumah akan bertambah banyak dan sometimes dan almost everytimes, aktivitas tersebut membutuhkan biaya.

    Apalagi dengan kehadiran anak anda, tentu pengeluaran akan bertambah. Dengan dana darurat yang 12 kali pengeluaran, maka secara keuangan harusnya anda cukup solid. Apalagi ada kelebihan sekitar Rp 1,5 juta setiap bulannya. Sebetulnya uang ini bisa digunakan untuk mengantisipasi pengeluaran ekstra sehubungan dengan kehadiran buah hati.

    Terkait pertanyaan anda, masukan saya mungkin sebagai berikut:
    1. Mungkin sulit karena kerja di perusahaan ada jenjang karir, tapi apakah memungkinkan bahwa pendapatan anda dinaikkan menjadi 2 kali lipat dalam 5 tahun? Kalaupun tidak bisa dari THP, paling tidak dari bonusnya. Sebab biaya membesarkan anak itu tidak murah.

    Rasio keuangan Pak Jamil baik karena biaya hidup anda tidak banyak. Jika anda bukan sangat bijaksana dalam melakukan pengeluaran, saya pikir anda tidak tinggal di kota besar. Atau bisa saja, anda masih tinggal dengan orang tua / keluarga sehingga sebagian pengeluaran anda sudah tercover (mohon koreksi jika salah).

    Pendapatan THP 10 juta sangat penting karena saat ini meskipun rasio anda baik, tapi itu lebih karena pengeluaran yang kecil. Namun biaya ini bisa naik pesat seiring dengan kehadiran buah hati anda. Jadinya saya khawatir yang tadinya sehat bisa menjadi kurang sehat.

    Sebagai contoh saja, katakan anda beli mobil, maka dengan mengisi premium saja, paling tidak sudah ada pengeluaran 750rb – 1 juta per bulan untuk bensin dan parkir. Belum lagi, asuransi dan biaya tidak terduga lainnya. Ini kita belum menghitung cicilan dan tentunya pembayaran DPnya akan membuat rasio dana darurat kamu berkurang.

    Terkait mobilitas keluarga, saran saya jika memang harus benar2 diperlukan kamu bisa sewa harian atau mingguan, atau naik taksi saja. Taksi bluebird layanannya sangat bagus, mobilnya juga bersih dan nyaman.

    2. Terkait pertanyaan nomor 1, menurut saya fokus kamu sebaiknya pada dana pendidikan anak. Kelebihan dana anda setiap bulan bisa anda investasikan pada reksa dana pasar uang atau reksa dana pendapatan tetap. Bukan berarti karena profil risiko anda konservatif, tapi lebih karena saya ingin kamu membiasakan dulu dengan kondisi pengeluaran setelah anda menjadi ayah.

    Jika ternyata masih ada dana sisa yang cukup banyak, maka baru kita diskusi lagi tentang perencanaan dana pendidikannya. Jika ternyata sudah menjadi ayah dan pengeluaran bertambah di luar antisipasi kamu, maka investasi yang sudah dimasukkan dapat ditarik sewaktu-waktu untuk kebutuhan sehari-hari.

    Menurut saya, yang harus anda lakukan saat ini adalah bersyukur, bekerja lebih keras untuk menyambut tanggung jawab yang diberikan Tuhan kepada anda, tetap menjaga hubungan baik dengan keluarga serta bersiap2 menjadi ayah yang baik.

    Semoga masukan saya bermanfaat.

  27. Andry silalahi
    June 14th, 2013 at 02:58 | #27

    Dear Pak Rudi, umur sy skrg adlah 35 thn, sya baru menikah skitar 5 bulan yg lalu & istri saat ini sdg hamil pak,

    Puji syukur Tuhan,
    saya mendapatkan Harta waris dari Ortu sebesar 2,5 M, nah setelah di kurangi untuk rumah – kendaraan dll tinggal sisa 1,5 M pak rudi

    Fokus saya saat ini adalah Mengembangkan aset, Mempersiapkan dana pendidikan & masa pensiun

    Menurut bpk apakah dana sisa 1,5 ini saya fokuskan semua ke RD saham ( saya tertarik ke panin prima kata temen panin dana maxima sdh tinggi harganya, ke panin dana prima aja )

    atau saya berbisnis properti ya pak terima kasih banyak pak

  28. Rudiyanto
    June 14th, 2013 at 08:42 | #28

    @Andry silalahi
    Yth Pak Andry,

    Sebelumnya saya turut berbahagia dengan situasi keluarga anda.

    Mengenai properti atau reksa dana itu sebaiknya ditempatkan di mana yang anda paham dan nyaman. Dan jika anda tertarik untuk berinvestasi di reksa dana Panin Asset Management, saran saya anda bisa menghubungi customer service atau marketing Panin Asset Management untuk mendapatkan penjelasan dan simulasi mengenai program pensiun dan dana pendidikan anak anda.

    Semoga bermanfaat pak.

  29. Andry silalahi
    June 15th, 2013 at 01:45 | #29

    @Pak Rudi trims banyak atas pencerahannya,

    stelah saya Search di google saya menemukan link forum discuss dr kaskus, yaitu agen panin sekuritas
    stelah ngobrol ngobrol, ternyata pendaftaran bisa via online pak asal dokumen lengkap dikirim scan via email, bahkan jk langsung transfer pun bisa tanpa tatap muka yg penting dokumen lengkap

    Menurut bpak apakah ini aman ?

    berikut link nya pak

    http://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000008784496/panin-dana-maksima-reksadana-terbaik-dari-panin-sekuritas/

    http://www.kaskus.co.id/thread/51a2bca6631243696c000006/reksadana-panin-return-terbaik-biaya-murah/3

  30. Rudiyanto
    June 15th, 2013 at 12:24 | #30

    @Andry silalahi
    Yth pak Andry,

    Perlu saya klarifikasi, bahwa informasi yang disampaikan terkait pendaftaran via online tersebut adalah kurang tepat.

    Untuk pembelian reksa dana pertama kali, calon investor diwajibkan untuk tatap muka langsung dengan agen penjual. Untuk pembelian berikutnya baru bisa dilakukan tanpa tatap muka. Bisa via faks, email ataupun online via website.

    Jadi persoalannya bukan aman tidak aman, tapi sesuai aturan atau tidak. Saya akan meminta pihak yang memposting informasi tersebut untuk mengklarifikasi hal ini.

    Sebagai informasi, sejak tahun 2011 juga sudah dilakukan spin off dimana Panin Asset Management lebih berfokus pada pengelolaan dan pemasaran reksa dana, sementara Panin Sekuritas lebih berfokus pada transaksi sekuritas, underwriting, dan di beberapa kota, berperan sebagai Agen Penjual Reksa Dana.

    Panin Sekuritas sendiri juga merupakan Induk dari Panin Asset Management, meski demikian kedua perusahaan dijalankan dengan manajemen yang terpisah dan profesional untuk memastikan agar layanan bisa diberikan dengan baik.

    Selain itu, sesuai dengan perkembangan tentang peraturan dan standar keamanan dalam investasi, tatap muka untuk pembelian pertama kali sudah merupakan kewajiban. Mungkin masih ada agen penjual yang belum mendapatkan informasi tersebut, dalam hal ini saya berterima kasih atas masukannya dan akan berupaya untuk memperbaiki hal ini.

    Demikian tanggapannya semoga dapat menjawab pertanyaan anda.

  31. Andry silalahi
    June 22nd, 2013 at 12:33 | #31

    Dear Pak Rudi,

    Terima kasih sekali atas pencerahannya, dan setelah saya terus memantau perkembangan RD akhirnya saya mantab & putuskan untuk Bergabung dengan Panin Asset management

    Mohon untuk informasi nya beberapa Hal :

    1. Untuk RDS PDM & PDP untuk Agen Bank Penjual Wilayah Bekasi & Bogor mhon informasi nya , BANK BCA & CIMB pak saya sdah survei tapi kok banyak yg tdk menerima RDS, nah klo saya ke PUSAT sepertinya agak jauh pak

    2. Untuk BCA / CIMB / PANIN yg sudah terkoneksi dng RDS PDM atau PDP wilayah Bogor atau Bekasi mohon informasi nya ?

    3. Pak untuk biaya nya PDM / PDP itu meliputi biaya apa saja ya ? ada berapa biaya pak ?Dan Fee Pembelian & Fee Redemtion itu total brpa pak ?

    Pengen saya sih bisa langsung ke Pusat panin asset management, cuma terlalu jauh…jika sudah mempunyai cabang di Bekasi, bogor , subang purwakarta atau depok wah itu lebih memudah kan pak hehhehe

    oh iya pak, bisa minta alamat email bapak ? atau alamat yahoo messenger bapak ?
    email saya : translive.advertising@gmail.com

    Terima kasih banyak pak atas informasi nya

  32. Rudiyanto
    June 23rd, 2013 at 10:44 | #32

    @Andry silalahi
    Yth Pak Andry,

    Sebelumnya saya berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada Panin Asset Management. Dan perlu saya jelaskan juga bahwa blog ini adalah milik pribadi dan bukan milik perusahaan. Jadi apabila anda ingin menanyakan informasi pembelian bisa langsung ke email cs@panin-am.co.id.

    Namun saya bisa bantu beberapa informasi sebagai berikut:
    Semua produk reksa dana Panin Asset Management (Kecuali Panin Gebyar Indonesia II yang dijual via Bank BCA) dijual sendiri oleh Panin Asset Management dan Agen Penjual yaitu Panin Sekuritas. Jadi anda hanya bisa membeli produk reksa dana ke cabang Panin Asset Management dan Panin Sekuritas.

    Terkait 5 bank yang saat ini sudah bekerja sama dengan kami yaitu Bank Panin, Bank CIMB Niaga, Bank BCA, Bank BRI dan Bank Mandiri, kerjasama adalah pada penyediaan jasa autodebet. Jadi jika anda memiliki rekening pada 5 bank tersebut anda bisa melakukan autodebet di reksa dana Panin Asset Management, namun proses autodebet tersebut hanya bisa dilakukan di Panin Asset Management atau Panin Sekuritas. Anda tidak bisa melakukan hal tersebut di ke 5 bank di atas karena peran mereka adalah penyedia jasa autodebet bukan bank agen penjual.

    Apabila lokasi anda cukup jauh dan waktu anda juga terbatas, saya boleh sarankan anda menghubungi salah satu dari cabang berikut http://www.panin-am.co.id/ContactUs.aspx dan meminta marketing Panin Asset Management mendatangi anda. Seluruh pertanyaan mengenai biaya dan nominal bisa ditanyakan langsung dengan agen penjual bersangkutan.

    Saya tidak melayani konsultasi pribadi, pertanyaan bisa ditanyakan via blog ini. Terima kasih.

  33. sisca
    July 5th, 2013 at 12:12 | #33

    pak rudi,

    umur saya 35 th, pendapatan 18.5 jt.
    kondisi keuangan saya saat ini :
    rasio hutang konsumtif 10.2 % (per januari 2014 akan menjadi 0 %)
    rasio cicilan 14.6 % (sisa kpr 178 juta berakhir sept 2023 )
    rasio dana darurat 2 kali
    rasio biaya terhadap pendapatan 0.46

    saat ini saya baru saja mengambil mempunyai 1 reksadana campuran dan 2 reksadana saham untuk pendidikan 2 anak dan hari tua.
    yang ingin saya tanyakan :
    1. saya merencanakan untuk memperbesar rasio dana darurat. sebaiknya dengan reksadana atau menabung biasa, jika dengan reksadana sebaiknya reksadana apa?
    2. jika ada uang, sebaiknya saya pergunakan untuk mengurangi pokok kpr saya atau diinvestasikan di reksadana?

    terima kasih.

  34. Rudiyanto
    July 5th, 2013 at 12:53 | #34

    @sisca
    Salam Siska,

    Selamat, pendapatan anda tentu besar sekali utk ukuran masyarakat Indonesia sekarang ini.
    Kalau dari rasio anda yang harus anda benahi cuma rasio dana darurat saja, dan sebetulnya anda sudah sangat bagus karena mampu menabung 50% dari income anda sebulan.

    Kalau untuk dana darurat bisa reksa dana pasar uang atau deposito. Tabungan juga ok.
    Sementara kalau ada kelebihan uang, maka bisa diinvestasikan karena rasio hutang produktif anda juga masih aman (dibawah 30%). Semoga bermanfaat.

  35. sisca
    July 5th, 2013 at 14:07 | #35

    Terima kasih Pak atas informasinya. Saya banyak belajar dari tulisan2 Bapak.

  36. Lilis
    July 17th, 2013 at 14:24 | #36

    yth. pak rudianto

    saat ini saya berusia 26 tahun. suami 27 tahun. dan 1 anak usia 8 bulan. total gaji kami keseluruhan Rp 5.000.000,-. dikurangi pengeluaran rutin / bulan seperti:
    biaya cicilan motor /bulan Rp 600.000,- + kontrakan Rp 850.000,- + bulanan (susu, dll utk anak) Rp 1.200.000,- + Rp 2.000.000,-/bulan (utk transport saya dan suami ke kantor). Saya ingin menanyakan, bagaimana caranya supaya bisa memiliki tabungan? apakah dengan dana pensiun atau reksadana apa yang cocok untuk saya dengan penghasilan dan pengeluaran seperti itu..

    adakah reksadana yang /bulan nya Rp 100.000.? terimakasih

  37. Rudiyanto
    July 17th, 2013 at 15:59 | #37

    @Lilis
    Yth Lilis,

    Kalau boleh saya berikan masukan, anda bisa mulai dengan membenahi keuangan keluarga terlebih dahulu. Caranya, pertama sisihkan penghasilan secara berkala hingga cukup untuk 3 – 6 kali pengeluaran tetap bulanan di tabungan. Selanjutnya baru mulai mencari produk investasi.

    Sambil melakukan hal tersebut, sebisa mungkin lakukan pengembangan diri / karir agar mendapatkan kenaikan penghasilan. Sebab kalau boleh jujur, untuk angka tersebut mungkin masih agak sulit untuk hidup sejahtera di kota besar apalagi anda harus memikirkan bahwa beberapa tahun lagi anak anda akan masuk sekolah.

    Namun percayalah, dimana ada niat di situ ada jalan. Hanya saja menurut saya, fokus anda saat ini bukan pada berinvestasi, tapi alokasikan sebesar-besarnya fokus anda pada peningkatan penghasilan.

    Untuk reksa dana dengan modal Rp 100.000 kalau tidak salah ada di Manulife dan Bank Mandiri, tapi jika kondisi keuangan anda belum mantap, anda akan sering berada dalam kondisi terpaksa untuk mencairkan dana investasi tersebut. Padahal bisa saja, ketika mau dicairkan, keuntungannya belum banyak atau bahkan rugi.

    Jadi kalau boleh beri saran, ikuti judul artikel ini, Sehat Keuangan Dulu, Investasi Reksa Dana Kemudian.

    Semoga berhasil.

  38. sudiyanto
    November 9th, 2013 at 08:00 | #38

    gini sy mw nanya, umurku msh 22thn, sy krja pabrik sbg produksi dg gaji 1,5jt/bln
    Aq ingin memiliki bis mini baru/bekas utk bisnis.
    Total tabungan sy d bank smntara 50jt.
    Sbaiknya ap yg sy hrs lakukan pak?
    Mhn bantuannya.

  39. Rudiyanto
    November 9th, 2013 at 12:46 | #39

    @sudiyanto
    Salam Sudiyanto,

    Semangat untuk berwirausahanya luar biasa. Kalau saya bisa bantu, tolong anda buat perencanaan keuangan yang SMART
    S = Specific – Mini Bis anda tentukan baru atau bekas dan mereknya apa?
    M = Measurable – Kalau sudah spesifik, baru harganya berapa dalam Rp
    A = Attainable – Misalkan harga bekas Rp 100 juta sehingga kurang 50 juta lagi. Sisanya kira2 bisa anda dapatkan atau tidak dengan kondisi penghasilan anda sekarang ini?
    R = Relavant – Anda mau punya bis untuk apa? apakah sesuai dengan passion anda untuk berbisnis di bidang ini? atau hanya ingin punya saja?
    T = Time Bound – Kapan anda mau punya bis tersebut? Pertanyaan kapan akan membantu menjawab kira2 Attainable atau tidak.

    Semoga bermanfaat.

  40. Dodo
    November 9th, 2013 at 15:36 | #40

    Pak saya karyawan swasta berusia 36 tahun dengan 2 anak berumur 8 dan 3 tahun, dengan penghasilan 6 juta perbulan.
    Rasio hutang konsumtif : 0
    Rasio Cicilan : 0
    Rasio Dana Darurat : 1x
    Rasio Pendapatan : 0,8

    Rumah sudah lunas, belum punya mobil, dan rutin investasi di RD saham 1 juta perbulan. Dana darurat saya mepet karena bbrp waktu lalu sempet ada pengeluaran tak terduga.

    Untuk kondisi saat ini sebaiknya saya fokus unTuk mengumpulkan dana darurat dulu 1 juta/bulan atau di bagi dana darurat 500 ribu dan invest di RD saham 500 ribu?

    Tujuan RD Saham untuk masa pensiun 20 tahun kedepan serta biaya kuliah anak 10 dan 13 tahun ke depan.

    Untuk seumuran saya asset aktif apa yang sebaiknya dikumpulkan untuk planning financial freedom agar tanpa bekerja saya bisa mendapatkan pendapatan dari asset aktif saya.

    Terima kasih sebelumnya

  41. daniel
    November 11th, 2013 at 11:49 | #41

    apakah emas (emas LM Antam) tidak termasuk aset likuid?

  42. daniel
    November 11th, 2013 at 12:04 | #42

    @daniel
    dan apakah emas bisa dijadikan sebagai dana cadangan?

  43. Rudiyanto
    November 11th, 2013 at 18:36 | #43

    @Dodo
    Salam Dodo,

    Kalau rumah sudah lunas, itu sudah luar biasa sekali pak. Zaman sekarang, saya ragu orang bisa lunasi rumah kalau belum berusia 50. Mengenai dana darurat yang terpakai karena kondisi darurat itu lumrah pak. Memang namanya juga darurat.

    Mengenai dana darurat tersebut, saran saya bisa anda tambahkan pelan2 lagi. Yang anda mau lakukan itu tidak salah. Sebab dengan 2 anak, dana darurat itu penting. Sebaiknya bisa sampai 6 kali.

    Mengenai aset aktif, sebaiknya dibuatkan rencana pensiun terlebih dahulu untuk mengetahui kebutuhannya. Sambil jalan, saya juga menyarankan sebaiknya anda mencari alternatif untuk meningkatkan penghasilan seperti bisnis sampingan kecil-kecilan. Sebab kebutuhan anak akan bertambah besar seiring mereka dewasa.

    Semoga bermanfaat pak.

  44. Rudiyanto
    November 11th, 2013 at 18:41 | #44

    @daniel
    Salam Daniel,

    Boleh tahu definisi aset likuid menurut anda itu apa?

  45. daniel
    November 11th, 2013 at 20:42 | #45

    menurut saya aset likuid adalah aset yang dapat dengan mudah di uangkan.

  46. Rudiyanto
    November 12th, 2013 at 08:34 | #46

    @daniel
    Menurut kamu, emas mudah diuangkan?

  47. daniel
    November 12th, 2013 at 10:10 | #47

    seharusnya sih mudah pak, apalagi klo dlm bentuk batangan yang gramnya tidak terlalu besar (10-100gr?) tapi belum punya pengalaman jg sih pak karena saya belum pernah menjual emas…

  48. daniel
    November 12th, 2013 at 12:32 | #48

    menurut saya mudah pak… apalagi jika dalam bentuk batangan dengan berat yang tidak terlalu besar (10-100gr)… tapi memang saya belum pernah punya pengalaman menjual emas…
    apakah pemikiran saya salah pak?

  49. Rudiyanto
    November 12th, 2013 at 18:21 | #49

    @daniel
    Coba bayangkan, suatu malam ada kejadian darurat yang membutuhkan uang cash. (amit2 tapi katakanlah) Seseorang yang dekat dengan kita mengalami kecelakaan sehingga harus dirawat di UGD Rumah Sakit. Kemudian karena kondisinya agak parah, maka diharuskan menginap beberapa malam. Namanya rumah sakit di Kota Besar apalagi Jakarta, tentu tidak bisa menginap begitu saja. Anda mungkin diminta menyetor beberapa juta sebagai jaminan.

    Nah anda baru mendapatkan kabar itu jam 7.30 atau jam 8 malam ketika baru pulang dari kantor setelah macet2 selama 2 jam. Dalam kondisi tersebut, menurut anda lebih likuid mana uang di ATM bank atau emas?

  50. Rudiyanto
    November 12th, 2013 at 18:23 | #50

    @daniel
    Kemudian kamu juga bisa coba bawa emas yang punya sekarang, bayangkan ini adalah situasi darurat yang membutuhkan dana. Kemana anda akan menjual emas tersebut dan berapa harga yang anda dapat?

    Di coba saja, paling entar pas mau transaksi bisa bilang ga jadi (he he..)

    Yang namanya dana darurat itu memang harus dirasakan sendiri dulu, kalau tidak kita tidak bisa menakar seberapa daruratnya. Dan FYI, kedua pengalaman di atas adalah pengalaman saya sendiri.

    Semoga bermanfaat

  51. daniel
    November 12th, 2013 at 19:46 | #51

    oh iya saya setuju dengan itu pak… tapi sebenernya saya bertanya itu karena saya sedang menghitung Rasio Dana Darurat… karena dana darurat saya, terlanjur saya jadikan emas sebagian…

    nah karena disitu bapak menulis bahwa yang termasuk total aset likuid antara lain dana kas, tabungan, deposito, giro, dan reksa dana pasar uang.

    makanya saya berpikir bahwa emas seharusnya termasuk aset likuid jg dibandingkan dengan reksadana yg cair paling cepat h+3 (atau saya salah? karena baru belajar reksadana)

    btw pak, saya baca diatas bapak mau pake gambar profile? daftar dl disini
    https://en.gravatar.com/
    nanti otomatis setiap bapak ngepost dengan alamat email yg sama hampir disemua blog akan kluar gambar profilenya… :p

  52. daniel
    November 12th, 2013 at 20:06 | #52

    berdasarkan jumlah take home pay saya dan istri (umur kami berdua 33)…
    Rasio Hutang Konsumtif 0,00%
    Rasio Cicilan 38,75% (cicilan kpr s.d 2023 dan cicilan mobil s.d 2017)
    Rasio Dana Darurat 3 (tidak menghitung emas, klo dengan emas menjadi 5,5)
    Rasio Biaya Terhadap Pendapatan 62,50%

    rencananya saya ingin memakai 1/3 (10jt) dari dana darurat untuk berinvestasi di reksadana dengan top up 1 jt perbulan untuk 5 tahun…. klo berdasarkan test risk profile di “Kontan” saya dijinkan untuk mengambil reksadana saham… cuma saya masih bingung reksadana apa? dan jg masih bingun dengan NAB/UP, apakah tidak apa2 mengambil reksadana yang NAB nya tinggi atau harusnya yg NAB nya rendah…

    mohon bantuan pemikirannya pak… :)
    trimakasih banyak

  53. Rudiyanto
    November 13th, 2013 at 12:37 | #53

    @daniel
    Salam Daniel,

    Terima kasih atas tips gravatarnya. Nanti saya akan coba buat.

    Mengenai pertanyaan anda, emas mau anda masukkan sebagai dana darurat karena dianggap aset likuid tidak apa2. Sebenarnya Reksa Dana Pasar Uang sekalipun punya sedikit kendala karena ketika dicairkan perlu H+1 hari kerja. Jika anda melakukan pencairan di hari Jumat Sore, maka transaksi tersebut baru diproses senin dan uang baru anda bisa terima hari selasa.

    Point saya, memasukkan emas dan reksa dana pasar uang tidak masalah, tapi tidak bisa semuanya. Paling tidak ada 1-2 kali dana darurat berupa tabungan ber ATM yang bisa ditarik sewaktu2. Atau kalaupun mau porsi emas dan reksa dana pasar uangnya banyak, anda bisa menggunakan fasilitas kartu kredit. Bukan sebagai fasilitas tarik tunai, tapi sebagai alat untuk menalangi pembayaran sambil menunggu penjualan emas atau pencairan reksa dana.

    Mengenai pertanyaan anda, bisa anda coba klik arsip artikel dan cari pembahasan tentang reksa dana mahal dan reksa dana murah. Semoga bisa menjawab pertanyaan anda. Kalau masih ada yang bingung baru kita diskusikan lagi.

    Terima kasih.

  54. DaNieL
    November 13th, 2013 at 20:21 | #54

    sudah saya baca pak…. sudah mulai jelas jalannya… :)
    tinggal saya memutuskan RD jenis Campuran ato SAHAM dan RD apa yang akan saya ambil….
    btw pak, jika saya ingin mengambil RD PANIN (mgkn RD MAKSIMA atau PRIMA) di kota Medan…
    dimana saya bisa beli? karena saya lihat di- http://www.panin-am.co.id/ContactUs.aspx -tidak ada cabang di kota Medan…
    dan brapa minimal pembelian pertama untuk kedua RD tersebut?
    trimkasih

  55. Dodo
    November 14th, 2013 at 06:51 | #55

    @Rudiyanto
    Terima kasih sarannya Pak, semakin membuka pola pikir saya mengenai perencanaan keuangan. Jadi intinya memperbesar penghasilan dan dengan mempertahankan gaya hidup maka porsi investasi bisa diperbesar untuk mencapai tujuan di masa depan. Sekaligus memperbesar dana darurat dan mengumpulkan asset aktif untuk tercapainya kebebasan finansial. Ah semoga bukan sekedar impian tapi bisa terlaksana sesuai harapan..Amien..sekali lagi terima kasih Pak.

  56. Rudiyanto
    November 14th, 2013 at 12:25 | #56

    @DaNieL
    Salam Daniel,

    Cabang Panin Asset Management memang hanya di Jakarta dan Surabaya saja. Untuk di luar daerah tersebut, kami dibantu oleh Panin Sekuritas. Informasi mengenai cabang Panin Sekuritas di Medan bisa anda dapatkan di http://pans.co.id/?page=Hubungi_Kami

    Untuk detailnya anda cukup bertanya langsung ke cabang yang bersangkutan, terima kasih.

  57. Rudiyanto
    November 14th, 2013 at 12:27 | #57

    @Dodo
    Semoga tujuan anda tercapai.
    Sehat dan Sukses Selalu

  58. Fanny
    November 27th, 2013 at 10:25 | #58

    Pak, saya istri bekerja dengan 2 anak (4 tahun dan 6 bulan dalam kandungan). Saya dan suami berusia 34 tahun. Kondisi keuangan kami:

    Rasio Hutang Konsumtif = 0%
    Rasio Cicilan = 0%
    Rasio Dana Darurat = 5X
    Rasio Biaya Terhadap Pendapatan = 0.57

    Saat ini kami berinvestasi 2 properti dan logam mulia, dan tidak memiliki asuransi/reksadana apapun. Pertanyaan saya:

    1. Kami menyimpan dana pendidikan, dan pensiun dalam bentuk properti dan LM. Apakah langkah kami ini sudah benar, karena saya sering membaca tentang reksadana saham sebagai dana pendidikan dan dana pensiun?

    2. Adakah saran Bapak untuk jenis investasi buat kami supaya dalam jangka panjang kami tetap dapat hidup nyaman?

    Terima kasih.

  59. Rudiyanto
    December 1st, 2013 at 23:50 | #59

    @Fanny
    Salam Fanny,

    Kalau boleh saya kasih nilai, kondisi keuangan anda saya akan kasih nilai A.
    Kondisi ini bahkan jauh lebih baik dari punya saya sendiri, saya sungguh kagum.

    Nilai tersebut akan jadi A+, kalau perencanaan anda disiapkan dengan lebih SMART. Lebih tepatnya unsur M dalam SMART yaitu Measurable. http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/05/07/seni-menyusun-tujuan-investasi-dengan-prinsip-smart/

    Terkait pertanyaan anda:
    1. Seperti komentar saya di atas, yang kurang dari rencana anda adalah perhitungan matematikanya. Berapa yang anda butuhkan untuk dana pendidikan dan pensiun nanti? Misalnya X Rp. Nah dari properti dan emas yang anda punya, apakah perkiraannya bisa mencapai nilai X tersebut. Jika bisa maka selamat, jika belum permasalahannya bukan di properti, logam mulia atau reksa dana akan tetapi berapa jumlah yang harus dipersiapkan.
    Meski demikian, menurut saya Logam Mulia bukan instrumen investasi. Anda bisa setuju bisa tidak, tapi selengkapnya bisa anda baca di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2013/04/20/saatnya-beli-emas/

    2. Untuk perencanaan pensiun anda bisa baca beberapa artikel ini
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2013/06/08/perencanaan-pensiun-dengan-reksa-dana/
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2013/05/03/kiat-investasi-untuk-para-pensiunan/
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/04/25/pensiun-dengan-reksa-dana-anda-yakin/

    Saran saya sebaiknya anda memiliki asuransi. Jenis asuransinya seperti apa, anda bisa membaca studi kasus ini
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2013/09/12/my-experience-with-unit-link/

    Semoga menjawab pertanyaan anda, dan jaga terus rasio keuangan dan kesehatannya. Semoga sukses dan sehat selalu.

  60. Dana
    January 15th, 2014 at 14:28 | #60

    saya seorang mahasiswa tertarik ikut RD, belum ada NPWP. Apakah ikut RD wajib memiliki NPWP Pak? Pengennya sih ikutan atas nama sendiri, tanpa melalui orang tua, Pak. Trims. Mohon sarannya..

    • Rudiyanto
      January 15th, 2014 at 14:33 | #61

      Selamat Siang Dana,

      Kalau mengenai hal ini, ada perbedaan perlakuan di Manajer Investasi dan Bank Agen Penjual. Di Panin Asset Management, kewajiban NPWP ada bagi Warga Negara Indonesia yang usianya antara 25 – 60 pada saat bergabung.
      Semoga bermanfaat bagi anda. Terima kasih.

  61. Ronny
    February 19th, 2014 at 12:06 | #62

    Salam Kenal Pak Rudi

    Saya berusia 32 tahun, belum berumahtangga dan bekerja sebagai PNS disalah satu kementerian di Jakarta. Saya sudah menjadi nasabah dari reksadana panin dari 6bln yg lalu. Dan saya sudah menghitung bahwa keuangan saya bisa dikatakan sehat, dikarenakan saya tidak punya cicilan hutang. Pada awal masuk saya invest 5 juta dengan strategi investasi berkali (bukan autodebet), karena penghasilan sebagai PNS tidak tentu setiap bulannya. Nah setelah saya baca-baca tentang asuransi, bpk menyatakan bahwa sebaiknya sebelum memutuskan berinvestasi, ikut asuransi. Sedangkan saat ini hanya ikut asuransi dari kantor saja yakni ASKES. Apakah saya perlu membeli produk asuransi lainnya ? karna pernah baca2, katanya kalo blum berumahtangga maka asuransi belum terlalu diperlukan. Jika perlu, produk asuransi seperti apa ?

    terima kasih

  62. Rudiyanto
    February 20th, 2014 at 03:14 | #63

    @Ronny
    Salam Ronny,

    Terkait perlu tidaknya memiliki asuransi, logika saya begini tentang asuransi jiwa
    1. Apakah saat ini anda merupakan tulang punggung keluarga? seseorang atau lebih dari 1 orang bergantung kepada anda bahkan untuk makan sehari-harinya?
    Jika ya, maka lanjut. Jika tidak maka tidak perlu beli asuransi Jiwa
    2. Apakah jika seandainya terjadi sesuatu pada anda, aset yang anda wariskan cukup untuk menghidupi mereka 8 – 10 tahun ke depan?
    Jika ya, maka tidak perlu beli asuransi jiwa, jika tidak maka sebaiknya anda punya.

    Terkait asuransi kesehatan:
    Sebenarnya sederhana, kita harus punya. Hanya saja standar setiap orang berbeda2, ada yang harus langsung ke spesialis. Ada juga yang bisa bersabar di dokter umum. Namun jika biaya rawat inap, operasi dan rumah sakit sudah cukup tercover dalam ASKES yang kamu miliki, maka kamu tidak perlu beli asuransi kesehatan tambahan. Jika belum cukup, maka kamu bisa pertimbangkan untuk upgrade atau beli asuransi kesehatan tambahan.
    Tahunya cukup darimana, coba cari tahu riwayat keluarga yang pernah dirawat di rumah sakit, kemudian coba tanyakan ke HRD atau ke kantor, seandainya (amit2) terjadi kondisi serupa, seberapa besar coverage yang diperoleh.

    Nah, kalau sudah terlindungi Jiwa dan Kesehatannya, baru kita fokus sama investasi. Jika belum, mau 1/2 invest 1/2 asuransi gpp, tapi jangan sampai tidak ada asuransi sama sekali.

    Semoga bermanfaat.

  63. yush4
    March 18th, 2014 at 20:06 | #64

    Malam Pak Rudi,

    Saya ingin memuat ke 4 ratio diatas untuk artikel dalam blog asuransi saya.
    Apakah boleh? Saya akan mencatumkan link ke blog ini.
    Terima kasih.

  64. Rudiyanto
    March 19th, 2014 at 14:28 | #65

    @yush4
    Salam Yusha,

    Kalau boleh usul, anda bisa menulis artikel sendiri dan memasukkan 4 ratio di atas sebagai salah satu dari bagian artikel.

    Blog yang baik (atau paling tidak menurut saya baik) adalah blog yang isinya orisinal. Perihal menarik atau tidak itu soal selera dan jam terbang. Kalau sudah sering menulis, lama2 akan ada orang2 yang appreciate dan tulisan juga akan baik.

    Jadi teruslah berkarya untuk membuat blog yang orisinal. Semoga bermanfaat.

  65. Marcel
    March 26th, 2014 at 00:10 | #66

    Salam kenal pak rudi,

    Secara pribadi saya suka dengan artikel ini karena benar-benar membukakan mata saya mengenai investasi

    Umur saya 30, karyawan swasta dengan 1 anak dan istri tidak bekerja. Kondisi keuangan kami sebagai berikut
    Rasio Hutang Konsumtif = 10% namun semuanya cicilan 0% dan akan lunas dalam 3 bulan.
    Rasio Cicilan = 30%
    Rasio Dana Darurat = 5X
    Rasio Biaya Terhadap Pendapatan = 0.4

    Saat ini kami berinvestasi di 3 apartemen dan hal inilah yang menyebabkan rasio cicilan sampai menyentuh 40% di tahun lalu, namun syukurlah kami bisa menurunkan rasio ini dengan lunasnya mobil, tambahan penghasilan dan juga pelunasan sebagian.

    Karena banyak membaca mengenai financial planning, termasuk salah satunya blog pak rudi, saya sudah mereview semua asuransi saya dan bermaksud untuk menutup unit link saya yang sudah berjalan 7 tahun dan membuka asuransi jiwa term life dengan uang pertanggungan yang tinggi. Sementara asuransi kesehatan sudah dicover kantor termasuk anak dan istri untuk jumlah yang lumayan.

    Yang saya tanyakan adalah apakah investasi properti adalah langkah yang tepat saat ini, mengingat 2apartemen ini baru akan serah terima setahun lagi dan bahkan yang ketiga masih 3 tahun lagi. Melihat kenaikan harga unit dan potential pendapatan sewa rasanya pertumbuhannya akan lebih tinggi dibanding reksadana, namun saya juga paham, bahwa properti adalah aset yang tidak liquid sehingga saya harus punya keranjang lain. oleh karena itu saya sedang menimbang nimbang untuk menambah investasi di reksadana dengan menggunakan alokasi dana dari unit link yang akan saya tutup, kebetulan sekarang sedang membaca kontan edisi khusus.

    Terima kasih

  66. Rudiyanto
    March 28th, 2014 at 01:24 | #67

    @Marcel
    Salam Marcel,

    Kalau membaca profil anda, saya menduga2 bahwa penghasilan bulanan anda pasti besar sekali sehingga sanggup mencicil 3 properti + 1 mobil dan rasio cicilannya baru 40% serta istri tidak bekerja.

    Sangat Luar biasa untuk ukuran orang di usia 30 an atau bahkan 40an sekalipun.

    Tentang investasi properti, sebetulnya tidak ada istilah tepat atau tidak. Sepanjang kita paham dan potensi risiko dan return serta nyaman dengan investasi tersebut, maka investasi tersebut sudah tepat.

    Semoga sukses dan sehat selalu. Terima kasih.

  67. andrian
    April 4th, 2014 at 20:01 | #68

    1.brp rasio persentase minimal utk asuransi proteksi kesehatan dari penghasilan?
    2.rasio dana darurat bukannya 6 x pengeluaran tetap perbulan? bukan pendapatan tetap,sgt debatable kl diambil dr pendptan tetap

  68. Rudiyanto
    April 7th, 2014 at 12:04 | #69

    @andrian
    Salam Andrian,

    1. Anda bisa lihat video perencanaan keuangan di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/sikapi-uang-dengan-bijak/
    2. Mau pakai pengeluaran atau pendapatan menurut saya tidak masalah. Dan angka di atas untuk yang berkeluarga. Kalau masih lajang, saya kira 3 – 6 kali juga sudah ok

  69. April 15th, 2014 at 06:57 | #70

    Pak…senang sekali baca artikel pak rudy ini,
    Umur saya 33th(single parent) ,bekerja n punya anak 1,kondisi keuangan saya sbg berikut
    Hutang = 0%
    Cicilan =0%
    Dana darurat =12x
    Rasio biaya terhadap pendapatan = 30%
    Saat ini saya punya aset liguid bentuk deposito,emas,tanah n saya ambil
    Asuransi berbasis investasi+proteksi (bukan unitlink),utk asuransi kesehatan saya sudah ditanggung
    Tempat saya bekerja sepenuhnya,tp untuk anak blm ada
    Apakah saya harus ambil asuransi kesehatan buat anak??

    Setelah baca2 ttg reksadana saya bnr2 tertarik ingin mencoba
    Untuk hari tua n ingin ambil reksadana panin dana prima atau maksima
    Sedangkan saya type org yg suka ambil resiko moderat,bagaimana menurut pak rudy??

    Atas saran n jawaban pak rudy saya ucapkan trimakasih sebelumnya
    Salam
    Lely

  70. Rudiyanto
    April 15th, 2014 at 15:29 | #71

    @lelyta
    Luar biasa Ibu Lely,

    Kalau misalkan sudah punya rumah, menurut saya kondisi kamu sudah mendekati yang namanya financial freedom. Tinggal nanti anda punya aset yang hasilnya bisa mengcover semua kebutuhan kamu saja.

    Untuk asuransi anak, menurut saya memang perlu tapi itu harus asuransi kesehatan. Jadi fokusnya adalah kesehatan, bukan asuransi yang katanya nanti usia dia sekian tahun akan dapat sekian Rp atau kita kenal dengan nama unit link. Setahu saya, cukup sulit untuk mencari asuransi kesehatan untuk anak kecil karena kebanyakan produk bentuknya unit link, namun jika dapat ya bisa dipertimbangkan.

    Untuk tujuan keuangan kamu bisa menggunakan 1 reksa dana untuk hari tua dan 1 reksa dana lagi untuk pendidikan anak. Jika profil risiko kamu moderat, di Panin Asset Management sebenarnya juga tersedia produk campuran yaitu”
    Panin Dana Prioritas – Campuran Konservatif dengan bobot saham hanya 30%
    Panin Dana Syariah Berimbang – Campuran Moderat dengan bobot saham 50%
    Panin Dana Unggulan – Campuran Agak Agresif dengan bobot saham 60 – 70%
    Panin Dana Bersama Plus – Campuran Agresif dengan bobot saham hingga 79%

    Ada juga Panin Dana USD – Campuran Konservatif dengan bobot saham 30% dan mata uang USD. Cocok jika anda mau menggunakan untuk persiapan pendidikan ke luar negeri.

    Jika profil anda moderat, namun anda berminat pada reksa dana saham, sebetulnya menurut saya masih bisa dengan catatan kondisi keuangan anda terbatas dan tujuan anda masih panjang sehingga anda butuh produk yang lebih agresif dan potensi hasil lebih tinggi untuk mendapatkan tujuan yang anda inginkan. Namun jika kemampuan keuangan anda cukup, maka sebenarnya dengan reksa dana yang moderat sudah cukup. Namun semua itu kembali ke anda.

    Anda bisa membaca artikel ini http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/03/28/panduan-mempersiapkan-pensiun-dengan-reksa-dana/ untuk panduan pensiun. Apabila anda ingin dibuatkan perencanaan yang spesifik, bisa menghubungi Marketing atau Customer Service di Panin Asset Management.

    Terima kasih.

  1. April 25th, 2011 at 13:31 | #1
  2. April 19th, 2014 at 18:46 | #2