Home > Belajar Reksa Dana > Subscription dan Redemption Reksa Dana

Subscription dan Redemption Reksa Dana

Apa kabar pembaca yang budiman? Semoga bahagia dan sehat selalu. Sedikit out of topic, dalam kesempatan ini, saya sebagai satu dari jutaan warga Negara Indonesia yang tentunya juga tengah berkabung setelah beberapa bencana besar melanda negeri kita tercinta ini ingin mengucapkan turut berduka cita dan berbelasungkawa kepada segenap korban dan keluarga yang ditinggalkan. Semoga segala amal perbuatan para korban diterima di Sisi Tuhan yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberi kasabaran dan ketabahan.

Kembali ke topik utama, Biaya Subscription dan Redemption reksa dana. Mendengar istilah di atas, saya yakin sebagian besar dari anda pasti merasa sudah memahaminya. Subscription artinya pembelian / investasi reksa dana, sementara Redemption artinya penjualan atau pencairan investasi reksa dana. Namun pada kenyataannya istilah tersebut kurang tepat, yang benar adalah sebagai berikut:

Sesuai prospektus, istilah yang benar untuk Subscription dan Redemption yang benar adalah seperti di atas. Jadi sebetulnya yang dimaksud dengan Biaya Penjualan sebetulnya adalah Biaya Subscription. Namun karena bagi para investor lebih familiar dan tidak menimbulkan arti ganda, Biaya Subscription diinterprestasikan atau kadang disebut sebagai biaya pembelian dan Biaya Redemption disebut sebagai biaya penjualan. Padahal yang benar adalah biaya penjualan dan biaya penjualan kembali. Tidak hanya penyebutannya salah, cara hitungnya juga berbeda.

Ketika anda membaca prospektus berbahasa Indonesia dan menemukan Biaya Penjualan, maka sebetulnya yang dimaksud adalah biaya untuk membeli reksa dana. Sementara Biaya Penjualan Kembali, yang dimaksud adalah biaya untuk menjual reksa dana. Digunakan istilah Penjualan dan Penjualan Kembali, karena dalam reksa dana, ketika investor ingin berinvestasi, proses yang terjadi adalah Manajer Investasi “Menjual” reksa dana kepada investor, oleh karena itu biaya yang timbul disebut Biaya Penjualan. Ketika investor ingin mencairkan investasinya, maka Investor “Menjual Kembali” unit penyertaan reksa dana yang dimilikinya kembali kepada Manajer Investasi, oleh karena itu disebut “Biaya Penjualan Kembali”.

Jadi transaksi reksa dana berbeda dengan transaksi saham. Unit penyertaan yang dimiliki investor hanya berpindah dari Investor ke Manajer Investasi, sementara jika anda bertransaksi Saham atau Obligasi, lembar saham atau obligasi yang anda miliki bisa berpindah dari Investor ke Emiten (pihak yang menerbitkan seperti halnya Manajer Investasi), namun yang sering terjadi adalah berpindah dari Investor satu ke Investor lain, sehingga dikenal istilah Jual Beli. Oleh karena itu, istilah yang umumnya dipakai di investasi saham atau obligasi sebetulnya tidak cocok jika langsung diterapkan dalam reksa dana.

Namun, seharusnya perbedaan definisi ini tidak akan terlalu bermasalah bagi investor. Istilah yang digunakan umumnya adalah istilah seperti Subscription dan Redemption, meskipun dalam beberapa contoh kasus saya masih melihat ada yang menggunakan istilah beli dan jual, toh tidak terlalu bermasalah karena memang biaya tersebut dikenakan sesuai kegiatan transaksi yang dilakukan oleh investor. Yang sedikit berpotensi menimbulkan kebingunan adalah dalam cara perhitungan biaya tersebut.

Yang dimaksud dengan biaya Subscription dan Biaya Redemption adalah biaya yang harus dibayarkan ketika investor membeli atau menjual unit penyertaan reksa dana. Ada satu lagi yaitu Biaya Switching (biaya pengalihan) namun tidak dibahas dalam artikel ini. Biaya Subscription dan Biaya Redemption biasanya dinyatakan persentase tertentu dari nilai investasi. Umumnya berkisar antara 0% (gratis) hingga 5%. Menurut saya kisaran yang wajar adalah antara 0.5% – 1%. Meski satuannya sama, namun perhitungan biaya Subscription berbeda dengan biaya redemption.

Rumus untuk menghitung biaya Subscription dan Redemption adalah sebagai berikut

Rumus Biaya Subscription

Biaya Subscription =

Nilai Investasi

-

Nilai Investasi

(1 + %Biaya Subscription)

Rumus Biaya Redemption

Biaya Redemption =

Nilai Investasi yang dicairkan x Biaya Redemption

Sebagai lebih jelasnya silakan lihat ilustrasi sebagai berikut:

Diketahui keterangan mengenai biaya reksa dana adalah sebagai berikut

Biaya Subscription = 1%   Investasi sebesar Rp 1.000.000

Biaya Redemption = 1% Penarikan reksa dana senilai Rp 1.000.000.

Perhitungan Biaya Subscription memiliki 2 alternatif sebagai berikut:

Alternatif 1.

Investor membayar Biaya Subscription dengan uang tambahan.

Apabila nilai investasi Rp 1 juta dengan biaya 1%, maka jumlah uang yang dikeluarkan investor adalah

Rp 1 Juta + (Rp 1 Juta x 1%) = Rp 1.010.000

Alternatif 2

Investor tidak mau bayar ekstra dan meminta dipotong langsung dari nominal investasi (umumnya dilakukan investor).

Investor kebanyakan akan berpikir bahwa Uangnya akan diambil sebesar Rp 10.000, sehingga nominal investasi menjadi Rp 990.000. Yang benar adalah sebagai berikut:

Biaya Subscription = 1.000.000 - 1.000.000

(1 + 1%)

Biaya Subscription = 1.000.000 - 990.099,0099

Biaya Subscription =

9.900,9901 atau dibulatkan menjadi Rp 9.901

Demikian jika biaya Subscription dipotong langsung dari nilai investasi, maka pembeli akan mendapat unit sebanyak 990.099 / harga reksa dana

Dengan cara ini, uang investor yang dipotong sebagai Biaya Subscription adalah Rp 9.901 bukan Rp 10.000.  Ketika menerima surat konfirmasi pembelian, terkadang investor bingung karena menemukan angka yang tidak bulat (Rp 990.099 dan bukannya Rp 990.000). Namun hal inilah yang benar karena cara perhitungan biaya Subscription ini yang terdapat dalam peraturan.

Perhitungan Biaya Redemption hanya memiliki 1 cara yaitu :

Biaya Redemption = Nilai Investasi yang dicairkan x Biaya Redemption
Biaya Redemption =

Rp 1.000.000 x 1%

Biaya Redemption = Rp 10.000

Nilai dana yang akan diterima investor adalah

Rp 990.000 yang diperoleh dari Rp 1 juta – Rp 10.000

Tujuan utama dari biaya redemption bukanlah komisi yang didapatkan oleh agen penjual atau Manajer Investasi. Tujuan utama dari biaya redemption adalah agar investor tidak terlalu cepat menjual investasi reksa dananya. Reksa Dana merupakan instrumen investasi yang didesain untuk tujuan jangka panjang, meski demikian tidak tertutup kemungkinan investor melakukan penarikan meskipun baru berinvestasi beberapa bulan. Untuk mencegah investor melakukan hal tersebut, biaya Manajer Investasi memberikan “penalti” dalam bentuk biaya redemption untuk investasi yang usianya kurang dari 1 tahun. Untuk investasi yang umurnya lebih dari 1 tahun, umumnya tidak dikenakan biaya redemption lagi.

Demikian sharing dari saya, semoga artikel ini bermanfaat bagi investor sekalian.

Penyebutan produk investasi di atas (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis.

“Melakukan copy & paste artikel berita ini dan atau mendistribusikan ulang melalui situs atau blog Anda tanpa izin tertulis adalah melanggar Hak Cipta / Copyright ©”

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:
  1. januar
    November 2nd, 2010 at 04:13 | #1

    pak rudi, minta tolong dibahas pak tentang FA dan TA biar lebih paham seluk beluk RDS
    trims…

  2. Madabu
    November 2nd, 2010 at 05:27 | #2

    Berarti kalau beli Reksadana mendingan jumlah investasi termasuk dengan biaya subsnya dong pak, walaupun mungkin sparenya kecil saja.

  3. November 2nd, 2010 at 06:07 | #3

    @Madabu
    Yth Madabu,

    Kalau perhitungannya seperti di atas, mau termasuk atau tidak sebetulnya anda tidak dirugikan. Anda baru dirugikan kalau misalnya masuk Rp 1 juta dipotong 10rb.

  4. November 2nd, 2010 at 10:12 | #4

    @januar
    Yth Pak Januar,

    Mudah2an bisa saya selang selingkan dalam postingan mendatang.

  5. Jovi
    November 3rd, 2010 at 13:34 | #5

    Pak Rudi, kalau kita beli rekasadana , sebaiknya untuk jangka panjang atau pendek? minimal berapa lama ? atau langsung dijual kembali bila sudah dapat untung, walaupun dalam hitungan hari. Terimakasih

  6. November 4th, 2010 at 01:07 | #6

    @Jovi
    Yth Jovi,

    Biasanya untuk pertanyaan seperti ini, saya memiliki beberapa versi jawaban. Tergantung dengan siapa yang berhadapan. Umumnya saya membagi jadi 2 kategori berdasarkan tahapan siklus keuangan.
    1. Tahapan Capital Growth and Accumulation
    2. Tahapan Capital Preservation and Diversification

    Tahapan yang pertama adalah untuk investor yang memiliki tujuan keuangan (seperti pensiun, pendidikan anak, beli rumah, dll), namun dengan dana yang dimiliki saat ini belum cukup untuk mencapai tujuan tersebut. Biasanya dalam kondisi ini, saya 80% akan meminta mereka fokus pada tujuan investasi dan 20% melihat kondisi2 perkembangan ekonomi makro yang akan mempengaruhi naik turunnya harga reksa dana. Soalnya untuk investor dalam kategori ini, pilihan investasi terbatas dan terkadang mau tidak mau mereka harus berinvestasi dalam suatu jangka waktu tertentu (yang bisa panjang) jika ingin tujuan keuangan mereka dapat tercapai.

    Tahapan yang kedua adalah untuk investor yang pada dasarnya mau pensiun sekarang ya bisa, mau beli rumah pertanyaanya bukan bagaimana tapi berapa, mau sekolahkan anak mikirnya bukan dimana tapi nanti mau dikasih rumah, mobil dan uang saku bulanan berapa juta atau disuruh hidup “agak susah dulu”. Kelompok yang lain adalah investor institusi (dana pensiun, asuransi, perusahaan, dll). Untuk investor seperti ini, saya akan lebih berfokus pada kondisi ekonomi yang mempengaruhi harga reksa dana 80%, baru dipantau berdasarkan tujuan keuangannya. Bagi investor yang memiliki akses investasi yang luas, biasanya dalam berinvestasi yang penting adalah bagaimana caranya besok bisa lebih kaya dari hari ini, untuk itu mereka sangat konsen terhadap perkembangan kondisi ekonomi, dengan kata lain bisa beli hari ini jual besok, bisa jangka pendek bisa juga jangka panjang.

    Nah, untuk menjawab pertanyaan anda, saya harus tahu anda masuk dalam golongan apa dulu. kalau ga nanti bisa ga cocok dengan kondisi anda. Sebetulnya saya juga memiliki artikel yang mungkin agak sedikit berkaitan dengan topik di atas. mudah2an bisa diposting dalam untuk beberapa waktu ke depan.

    Semoga bisa menjawab pertanyaan anda. Terima kasih.

  7. November 4th, 2010 at 02:12 | #7

    Yth Para Pembaca,

    Mohon maaf ada kesalahan penulisan, yang benar adalah Subscription bukan Subcription seperti penulisan pertama.

    Demikian koreksinya, atas perhatiannya saya mengucapkan banyak terima kasih.

  8. januar
    November 4th, 2010 at 06:00 | #8

    ditunggu artikel nya pak, terutama TA nya….
    trims…

  9. Leo
    November 5th, 2010 at 09:35 | #9

    Pak Rudi… mohon informasi, kapan saatnya kita melakukan redemption ?

  10. November 5th, 2010 at 16:38 | #10

    @Leo
    Yth Pak Leo,

    Menurut saya seseorang harus melakukan Redemption jika :
    1. Ternyata sudah memiliki investasi reksa dana namun sebetulanya belum sehat secara keuangan.
    Contoh : Punya cicilan Kartu Kredit atau KTA (cicilan yang kena bunga ya)
    2. Sudah sehat secara keuangan dan Tujuan keuangan sudah tercapai.
    3. Untuk investor yang masuk kategori Capital Preservation, anda merasa atau sudah ada riset yang menunjukkan :
    a. Harga instrumen investasi (saham dan obligasi) sudah masuk kategori mahal dan
    b. Faktor yang menopang kenaikan harga tersebut (kalau kondisi sekarang misalnya dana asing) sudah menunjukkan tanda-tanda akan atau telah berbalik arah.
    Untuk poin nomor 3 ini, anda harus mengikuti perkembangan terbaru kondisi perekonomian terutama yang terkait dengan kondisi perkembangan harga instrumen investasi.

    Semoga penjelasan ini dapat menjawab pertanyaan anda. Terima kasih.

  11. Jovi
    November 8th, 2010 at 14:23 | #11

    Pak Rudi, sekarang ini banyak reksadana yg dikemas dalam bentuk unit link asuransi, yaitu investasi plus asuransi, dimana nasabah membayar sampai jangka waktu tertentu (5 th, 8 th ..dst). Pertanyaan saya adalah apakah setelah jk waktu pembayaran selesai, kita cairkan dana tsb atau dibiarkan sampai beberapa th kemudian. Terimakasih .

  12. November 8th, 2010 at 18:42 | #12

    @Jovi
    Yth Jovi,

    Terkait pertanyaan anda, saya rasa setiap asuransi memiliki kebijakan dan produk yang berbeda-beda. Sepengetahuan saya, untuk asuransi unit link pada umumnya, adalah sebagai berikut:
    1. Anda tidak membayar lagi sehingga tidak mendapat manfaat asuransi (jiwa, kecelakaan, kesehatan). Sejumlah uang yang anda kumpulkan selama beberapa tahun dikurangi biaya-biaya akan berubah menjadi jumlah unit penyertaan pada unit link yang menjadi pilihan (bisa saham, campuran atau pendapatan tetap). Hasil perkalian antara seluruh jumlah unit penyertaan yang anda miliki dengan harga unit link saat ini adalah Dana Tunai. Dana tunai tersebut akan berkembang naik turun sesuai dengan perkembangan kinerja investasi unit link. Pada tahapan ini sebetulnya hampir sudah tidak ada bedanya lagi dengan berinvestasi pada reksa dana karena biaya akusisi (biaya subscription) unit link semakin kecil (ada yang mencapai 0%).

    Dalam kondisi ini, ada 2 alasan kenapa anda harus cairkan, pertama anda menemukan ada reksa dana yang satu jenis dengan unit link yang anda punya tapi kinerjanya jauh lebih baik, dan kedua kinerja unit link anda sedemikian jeleknya sehingga bukannya berkembang, dana investasi anda malah semakin tergerus. (sama seperti reksa dana, tidak semua unit link kinerjanya bagus)

    2. Yang lebih sering ditawarkan dan ada adalah anda sudah selesai membayar, dan tetap mendapat manfaat asuransi hingga usia tertentu. Skema asuransi seperti ini umumnya disukai oleh investor. Bagaimana tidak, bayar x tahun (5, 8 dst), diasuransikan sampai tua, plus ada dana tunai yang “menurut asumsi” jumlahnya bisa milyaran. Sebetulnya kalau kita membaca lebih jelas, sebetulnya skenario pertama tidak berbeda dengan skenario kedua. Alasan kenapa pemegang polis tetap mendapat tanggungan asuransi meskipun sudah tidak membayar premi lagi adalah karena premi asuransi untuk tahun selanjutnya dibayar dengan cara memotong “Dana Tunai” yang telah terkumpul. Dengan semakin tuanya usia anda, maka potongan yang diambil untuk premi asuransi juga semakin besar. Jika kinerja unit link ada ternyata tidak terlalu bagus, ada kemungkinan Dana Tunai anda “Habis” dipakai untuk biaya premi asuransi dan sudah tidak terlalu banyak yang tersisa ketika akan ditarik nanti.

    Jadi jika skenario kedua ini yang terjadi, bisa saja “Nilai Tunai” tersebut “habis” atau “semakin berkurang” tanpa anda sadari karena dipakai untuk membayar premi asuransi . Jika tidak ingin hal tersebut terjadi, bisa dilakukan dengan membayar lagi premi asuransi secara terpisah atau melepaskan manfaat asuransinya dan membiarkan dana tersebut berkembang layaknya seperti investasikan di reksa dana.

    Sama seperti skenario pertama, jika ditemukan reksa dana atau unit link (bebas biaya) yang jauh lebih baik atau kinerja unit link ternyata sangat jelek, maka sebaiknya dicairkan saja.

    Ingin saya tekankan, banyak perusahaan asuransi memiliki produk dan kebijakan yang berbeda-beda. Contoh di atas adalah contoh produk yang pernah saya ditemui dan ditawarkan kepada saya. Mungkin saja sekarang produk tersebut sudah berkembang lagi dan tidak sama dengan kondisi yang saya sebutkan di atas. Untuk lebih jelasnya, akan sangat membantu jika saya bisa membaca polis asuransi yang anda sebutkan.

    Dibandingkan reksa dana, produk unit link jauh lebih bervariasi. Tidak sesederhana produk unit link yang biasa kita temui dari agen asuransi pada umumnya. Jika dana anda sudah mencapai tingkatan tertentu, produk-produk yang ditawarkan juga semakin variatif. Produk asuransi yang advance ini umumnya tidak ditawarkan oleh agen asuransi tapi oleh marketing perbankan untuk nasabah yang sudah masuk kategori Prioritas dan Private Banking (1 tingkat lagi di atas prioritas, di beberapa bank disebut Premier Banking).

    Semoga penjelasan ini bisa menjawab pertanyaan anda, mohon maaf juga jika ternyata penjelasan terlalu panjang. Atas perhatiannya, saya mengucapkan banyak terima kasih.

  13. Jovi
    November 11th, 2010 at 15:50 | #13

    Pak Rudi, jenis polis asuransi saya adalah Rupiah managed fund. Saya memulai th 2002 (8 th) dan th 2009 menurut ilustrasinya sudah off. Namun sampai sekarang masih saya lanjutkan pembayarannya. Yang menjadi masalah adalah , jika saya stop pembayarannya , apakah dananaya akan tergerus habis untuk biaya asuransi atau berkembang ? jika dilihat dari kinerjanya N A B unit link tsb naik terus. Maaf jika pertanyaan saya cukup panjang dan terimakasih atas kesediaan bapak untuk menjawabnya.

  14. November 12th, 2010 at 01:33 | #14

    @Jovi
    Yth Pak Jovi,

    Untuk lebih jelasnya apakah akan tergerus habis atau tidak, sebaiknya anda konsultasikan dengan agen asuransi yang bersangkutan. Jika perlu, bukan dengan agen tapi dengan bagian customer service yang benar2 mengerti tentang cara perhitungan tersebut. Apakah manfaat asuransi akan tetap ada, jika ada, bagaimana prosedur atau mekanisme pembayarannya, apakah benar2 gratis atau dipotong dari nilai tunai. JIKA, seandainya memang dana anda dipakai untuk membayar asuransi, BELUM tentu akan tergerus habis kalau memang kinerja unit linknya bagus (artinya keuntungan investasi di atas nilai potongan premi asuransi). Jadi penting juga untuk mengetahui berapa besarnya nilai potongan premi asuransi setiap bulan / tahunnya.

    Untuk pak Jovi yang sudah membayar 8 tahun, saya sarankan untuk membandingkan nilai total uang yang sudah anda masukkan dengan nilai tunai saat ini. Apakah sudah untung? Atau rugi, atau sudah untung tapi apakah sesuai dengan ilustrasi yang diberikan pertama kali. Jika ilustrasi tersebut hilang, mintalah agen untuk membuat ilustrasi dengan jumlah pembayaran anda saat ini. Kan biasanya selalu ada “Asumsi” pada tahun X nilai tunai sekian. Dan yang paling penting, apakah anda “PUAS” dengan nilai tunai tersebut?

    Pertanyaan selanjutnya adalah coba anda tanyakan, jika memang sudah off, dan anda masih terus “membayar”, apakah uang tersebut terus diinvestasikan? atau dana anda masih tetap sebagian asuransi dan sebagian reksa dana? Kalau menurut perkiraan saya (yang bisa salah) kemungkinan dana anda 100% dimasukkan ke investasi (setelah dipotong komisi agen jika ada).

    Akhir kata, Tidak ada instrumen investasi ataupun investasi + asuransi yang paling bagus. Dari pengalaman saya selama beberapa tahun, yang namanya reksa dana terbaik dari tahun ke tahun bisa beda bisa sama. Asuransi juga sama, perlu teman2 semua tahu bahwa selama ini kalau dikatakan peringkat asuransi terbaik versi manapun, sebetulnya yang diperingkat itu “Perusahaan” bukan “Produk”nya. Jadi perusahaan terbaik belum tentu produknya juga terbaik. Oleh karena itu, Sangat-sangat penting bagi anda yang sudah atau terlanjur menjadi investor reksa dana ataupun investor asuransi + Unit Link untuk merasa “PUAS” dengan apa yang sudah anda miliki saat ini (baik perkembangan nilai investasi ataupun manfaat asuransinya serta pelayanan2 lainnya). Jika anda sudah tidak puas dengan kinerja dan pelayanan produk anda, maka alasan yang seharusnya menjadi alasan untuk pindah.

    Semoga menjawab pertanyaan anda. Terima kasih.

  15. Jovi
    November 12th, 2010 at 13:32 | #15

    Ok, pak Rudi . Saya sudah cukup jelas dgn keterangan yg bapak berikan, saya akan coba ikuti saran bapak. Jika ada pertanyaan lagi mohon tidak bosan untuk menjawabnya, karena saya sangat tertarik dgn artikel yg bapak muat, terutama mengenai reksadana. Terimakasih dan semoga bapak sekeluarga selalu berbahagia .

  16. berty
    August 19th, 2011 at 11:12 | #16

    Pak Rudi,..untuk jenis “Reksadana Saham” apakah bisa dilakukan Penjualan kapan saja, misalnya: saya Jual kembali setelah 1 minggu sejak saya Beli……
    karena setelah saya membaca-baca dimana :

    - Reksadana pasar uang = 5 tahun (jangka panjang)

    Artinya, Reksadana Saham hanya bisa di jual kembali setelah 5 tahun?…apakah benar,,,dan tidak bisa dijual hanya dalam jangka wakti 1 minggu???…
    Thanx,,,
    Salam sukses…..

  17. August 19th, 2011 at 11:43 | #17

    @berty
    Bukan Pak Pak Berty, maksudnya 5 tahun itu, adalah untuk investasi di reksa dana saham disarankan di atas 5 tahun. Kalau jualnya di bawah itu tetap bisa dan kalau dijualnya sebelum 1 tahun umumnya dikenakan biaya penjualan. Jadi tidak ada yang ketentuan berapa lama suatu reksa dana harus dipegang sebelum bisa dijual. Intinya kalau bukan hari libur, suspensi atau ada kejadian force majeur, reksa dana bisa dijual kapan saja. Untuk penerimaan uang bisa maksimal 7 hari kerja kemudian.

  18. berty
    August 19th, 2011 at 13:32 | #18

    @Rudiyanto
    Terima kasih banyak Pak Rudi atas infonya……
    Semoga Pak Rudiyanto selalu sukses dan diberkati Tuhan, ….atas budi baik dalam hal membagi pengetahuan bagi saya…Salam…God Bless U

  19. wid1
    October 30th, 2013 at 16:13 | #19

    @rudiyanto
    Pak rudi, apakah untuk redemption RDS dan RDC kita hanya bisa menjual sebagian RD yang kita miliki dan tidak boleh dijual keseluruhannya? Contoh di BNP Paribas rata-rata harus memiliki saldo minimal 250 unit dan Shroder 100 unit. Mohon penjelasannya. Tks

  20. Rudiyanto
    October 31st, 2013 at 11:49 | #20

    @wid1
    Salam Wid1,

    Mengenai ketentuan saldo minimal, sepengetahuan saya, ketentuan umum yang berlaku adalah apabila investor setelah melakukan redemption memiliki saldo di bawah ketentuan yang disebutkan, Manajer Investasi memiliki Hak untuk meminta investor untuk melakukan redemption semua sisa unit penyertaan.

    Tapi sekali lagi, karena hak, bisa dijalankan bisa juga tidak. Pertimbangannya karena jika hanya sedikit jumlah unit, kemungkinan fee yang dihasilkan tidak optimal untuk kegiatan operasional sehingga sebaiknya investor mencairkan semuanya.

    Kalau dipikir2, kan untuk pengiriman surat dan percetakan butuh biaya. Bayangkan dengan NAB 1000, berarti 250 unit hanya Rp 250.000. Fee yang dihasilkan sekitar 1-3% per tahun atau sekitar Rp 250 – 750 saja. Untuk kirim surat antar sesama Jakarta saja sudah 6000 – 8000, itu juga harus dikirimkan setiap bulan.

    Jadi kira2 seperti itu, semoga bermanfaat.

Comment pages
1 2 3 170
  1. November 3rd, 2010 at 16:06 | #1
  2. December 27th, 2010 at 04:22 | #2

 


%d bloggers like this: