Home > Belajar Reksa Dana > Subscription dan Redemption Reksa Dana

Subscription dan Redemption Reksa Dana

Apa kabar pembaca yang budiman? Semoga bahagia dan sehat selalu. Sedikit out of topic, dalam kesempatan ini, saya sebagai satu dari jutaan warga Negara Indonesia yang tentunya juga tengah berkabung setelah beberapa bencana besar melanda negeri kita tercinta ini ingin mengucapkan turut berduka cita dan berbelasungkawa kepada segenap korban dan keluarga yang ditinggalkan. Semoga segala amal perbuatan para korban diterima di Sisi Tuhan yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberi kasabaran dan ketabahan.

Kembali ke topik utama, Biaya Subscription dan Redemption reksa dana. Mendengar istilah di atas, saya yakin sebagian besar dari anda pasti merasa sudah memahaminya. Subscription artinya pembelian / investasi reksa dana, sementara Redemption artinya penjualan atau pencairan investasi reksa dana. Namun pada kenyataannya istilah tersebut kurang tepat, yang benar adalah sebagai berikut:

Sesuai prospektus, istilah yang benar untuk Subscription dan Redemption yang benar adalah seperti di atas. Jadi sebetulnya yang dimaksud dengan Biaya Penjualan sebetulnya adalah Biaya Subscription. Namun karena bagi para investor lebih familiar dan tidak menimbulkan arti ganda, Biaya Subscription diinterprestasikan atau kadang disebut sebagai biaya pembelian dan Biaya Redemption disebut sebagai biaya penjualan. Padahal yang benar adalah biaya penjualan dan biaya penjualan kembali. Tidak hanya penyebutannya salah, cara hitungnya juga berbeda.

Ketika anda membaca prospektus berbahasa Indonesia dan menemukan Biaya Penjualan, maka sebetulnya yang dimaksud adalah biaya untuk membeli reksa dana. Sementara Biaya Penjualan Kembali, yang dimaksud adalah biaya untuk menjual reksa dana. Digunakan istilah Penjualan dan Penjualan Kembali, karena dalam reksa dana, ketika investor ingin berinvestasi, proses yang terjadi adalah Manajer Investasi “Menjual” reksa dana kepada investor, oleh karena itu biaya yang timbul disebut Biaya Penjualan. Ketika investor ingin mencairkan investasinya, maka Investor “Menjual Kembali” unit penyertaan reksa dana yang dimilikinya kembali kepada Manajer Investasi, oleh karena itu disebut “Biaya Penjualan Kembali”.

Jadi transaksi reksa dana berbeda dengan transaksi saham. Unit penyertaan yang dimiliki investor hanya berpindah dari Investor ke Manajer Investasi, sementara jika anda bertransaksi Saham atau Obligasi, lembar saham atau obligasi yang anda miliki bisa berpindah dari Investor ke Emiten (pihak yang menerbitkan seperti halnya Manajer Investasi), namun yang sering terjadi adalah berpindah dari Investor satu ke Investor lain, sehingga dikenal istilah Jual Beli. Oleh karena itu, istilah yang umumnya dipakai di investasi saham atau obligasi sebetulnya tidak cocok jika langsung diterapkan dalam reksa dana.

Namun, seharusnya perbedaan definisi ini tidak akan terlalu bermasalah bagi investor. Istilah yang digunakan umumnya adalah istilah seperti Subscription dan Redemption, meskipun dalam beberapa contoh kasus saya masih melihat ada yang menggunakan istilah beli dan jual, toh tidak terlalu bermasalah karena memang biaya tersebut dikenakan sesuai kegiatan transaksi yang dilakukan oleh investor. Yang sedikit berpotensi menimbulkan kebingunan adalah dalam cara perhitungan biaya tersebut.

Yang dimaksud dengan biaya Subscription dan Biaya Redemption adalah biaya yang harus dibayarkan ketika investor membeli atau menjual unit penyertaan reksa dana. Ada satu lagi yaitu Biaya Switching (biaya pengalihan) namun tidak dibahas dalam artikel ini. Biaya Subscription dan Biaya Redemption biasanya dinyatakan persentase tertentu dari nilai investasi. Umumnya berkisar antara 0% (gratis) hingga 5%. Menurut saya kisaran yang wajar adalah antara 0.5% – 1%. Meski satuannya sama, namun perhitungan biaya Subscription berbeda dengan biaya redemption.

Rumus untuk menghitung biaya Subscription dan Redemption adalah sebagai berikut

Rumus Biaya Subscription

Biaya Subscription =

Nilai Investasi

-

Nilai Investasi

(1 + %Biaya Subscription)

Rumus Biaya Redemption

Biaya Redemption =

Nilai Investasi yang dicairkan x Biaya Redemption

Sebagai lebih jelasnya silakan lihat ilustrasi sebagai berikut:

Diketahui keterangan mengenai biaya reksa dana adalah sebagai berikut

Biaya Subscription = 1%   Investasi sebesar Rp 1.000.000

Biaya Redemption = 1% Penarikan reksa dana senilai Rp 1.000.000.

Perhitungan Biaya Subscription memiliki 2 alternatif sebagai berikut:

Alternatif 1.

Investor membayar Biaya Subscription dengan uang tambahan.

Apabila nilai investasi Rp 1 juta dengan biaya 1%, maka jumlah uang yang dikeluarkan investor adalah

Rp 1 Juta + (Rp 1 Juta x 1%) = Rp 1.010.000

Alternatif 2

Investor tidak mau bayar ekstra dan meminta dipotong langsung dari nominal investasi (umumnya dilakukan investor).

Investor kebanyakan akan berpikir bahwa Uangnya akan diambil sebesar Rp 10.000, sehingga nominal investasi menjadi Rp 990.000. Yang benar adalah sebagai berikut:

Biaya Subscription = 1.000.000 - 1.000.000

(1 + 1%)

Biaya Subscription = 1.000.000 - 990.099,0099

Biaya Subscription =

9.900,9901 atau dibulatkan menjadi Rp 9.901

Demikian jika biaya Subscription dipotong langsung dari nilai investasi, maka pembeli akan mendapat unit sebanyak 990.099 / harga reksa dana

Dengan cara ini, uang investor yang dipotong sebagai Biaya Subscription adalah Rp 9.901 bukan Rp 10.000.  Ketika menerima surat konfirmasi pembelian, terkadang investor bingung karena menemukan angka yang tidak bulat (Rp 990.099 dan bukannya Rp 990.000). Namun hal inilah yang benar karena cara perhitungan biaya Subscription ini yang terdapat dalam peraturan.

Perhitungan Biaya Redemption hanya memiliki 1 cara yaitu :

Biaya Redemption = Nilai Investasi yang dicairkan x Biaya Redemption
Biaya Redemption =

Rp 1.000.000 x 1%

Biaya Redemption = Rp 10.000

Nilai dana yang akan diterima investor adalah

Rp 990.000 yang diperoleh dari Rp 1 juta – Rp 10.000

Tujuan utama dari biaya redemption bukanlah komisi yang didapatkan oleh agen penjual atau Manajer Investasi. Tujuan utama dari biaya redemption adalah agar investor tidak terlalu cepat menjual investasi reksa dananya. Reksa Dana merupakan instrumen investasi yang didesain untuk tujuan jangka panjang, meski demikian tidak tertutup kemungkinan investor melakukan penarikan meskipun baru berinvestasi beberapa bulan. Untuk mencegah investor melakukan hal tersebut, biaya Manajer Investasi memberikan “penalti” dalam bentuk biaya redemption untuk investasi yang usianya kurang dari 1 tahun. Untuk investasi yang umurnya lebih dari 1 tahun, umumnya tidak dikenakan biaya redemption lagi.

Demikian sharing dari saya, semoga artikel ini bermanfaat bagi investor sekalian.

Penyebutan produk investasi di atas (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis.

“Melakukan copy & paste artikel berita ini dan atau mendistribusikan ulang melalui situs atau blog Anda tanpa izin tertulis adalah melanggar Hak Cipta / Copyright ©”

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:
  1. januar
    November 2nd, 2010 at 04:13 | #1

    pak rudi, minta tolong dibahas pak tentang FA dan TA biar lebih paham seluk beluk RDS
    trims…

  2. Madabu
    November 2nd, 2010 at 05:27 | #2

    Berarti kalau beli Reksadana mendingan jumlah investasi termasuk dengan biaya subsnya dong pak, walaupun mungkin sparenya kecil saja.

  3. November 2nd, 2010 at 06:07 | #3

    @Madabu
    Yth Madabu,

    Kalau perhitungannya seperti di atas, mau termasuk atau tidak sebetulnya anda tidak dirugikan. Anda baru dirugikan kalau misalnya masuk Rp 1 juta dipotong 10rb.

  4. November 2nd, 2010 at 10:12 | #4

    @januar
    Yth Pak Januar,

    Mudah2an bisa saya selang selingkan dalam postingan mendatang.

  5. Jovi
    November 3rd, 2010 at 13:34 | #5

    Pak Rudi, kalau kita beli rekasadana , sebaiknya untuk jangka panjang atau pendek? minimal berapa lama ? atau langsung dijual kembali bila sudah dapat untung, walaupun dalam hitungan hari. Terimakasih

  6. November 4th, 2010 at 01:07 | #6

    @Jovi
    Yth Jovi,

    Biasanya untuk pertanyaan seperti ini, saya memiliki beberapa versi jawaban. Tergantung dengan siapa yang berhadapan. Umumnya saya membagi jadi 2 kategori berdasarkan tahapan siklus keuangan.
    1. Tahapan Capital Growth and Accumulation
    2. Tahapan Capital Preservation and Diversification

    Tahapan yang pertama adalah untuk investor yang memiliki tujuan keuangan (seperti pensiun, pendidikan anak, beli rumah, dll), namun dengan dana yang dimiliki saat ini belum cukup untuk mencapai tujuan tersebut. Biasanya dalam kondisi ini, saya 80% akan meminta mereka fokus pada tujuan investasi dan 20% melihat kondisi2 perkembangan ekonomi makro yang akan mempengaruhi naik turunnya harga reksa dana. Soalnya untuk investor dalam kategori ini, pilihan investasi terbatas dan terkadang mau tidak mau mereka harus berinvestasi dalam suatu jangka waktu tertentu (yang bisa panjang) jika ingin tujuan keuangan mereka dapat tercapai.

    Tahapan yang kedua adalah untuk investor yang pada dasarnya mau pensiun sekarang ya bisa, mau beli rumah pertanyaanya bukan bagaimana tapi berapa, mau sekolahkan anak mikirnya bukan dimana tapi nanti mau dikasih rumah, mobil dan uang saku bulanan berapa juta atau disuruh hidup “agak susah dulu”. Kelompok yang lain adalah investor institusi (dana pensiun, asuransi, perusahaan, dll). Untuk investor seperti ini, saya akan lebih berfokus pada kondisi ekonomi yang mempengaruhi harga reksa dana 80%, baru dipantau berdasarkan tujuan keuangannya. Bagi investor yang memiliki akses investasi yang luas, biasanya dalam berinvestasi yang penting adalah bagaimana caranya besok bisa lebih kaya dari hari ini, untuk itu mereka sangat konsen terhadap perkembangan kondisi ekonomi, dengan kata lain bisa beli hari ini jual besok, bisa jangka pendek bisa juga jangka panjang.

    Nah, untuk menjawab pertanyaan anda, saya harus tahu anda masuk dalam golongan apa dulu. kalau ga nanti bisa ga cocok dengan kondisi anda. Sebetulnya saya juga memiliki artikel yang mungkin agak sedikit berkaitan dengan topik di atas. mudah2an bisa diposting dalam untuk beberapa waktu ke depan.

    Semoga bisa menjawab pertanyaan anda. Terima kasih.

  7. November 4th, 2010 at 02:12 | #7

    Yth Para Pembaca,

    Mohon maaf ada kesalahan penulisan, yang benar adalah Subscription bukan Subcription seperti penulisan pertama.

    Demikian koreksinya, atas perhatiannya saya mengucapkan banyak terima kasih.

  8. januar
    November 4th, 2010 at 06:00 | #8

    ditunggu artikel nya pak, terutama TA nya….
    trims…

  9. Leo
    November 5th, 2010 at 09:35 | #9

    Pak Rudi… mohon informasi, kapan saatnya kita melakukan redemption ?

  10. November 5th, 2010 at 16:38 | #10

    @Leo
    Yth Pak Leo,

    Menurut saya seseorang harus melakukan Redemption jika :
    1. Ternyata sudah memiliki investasi reksa dana namun sebetulanya belum sehat secara keuangan.
    Contoh : Punya cicilan Kartu Kredit atau KTA (cicilan yang kena bunga ya)
    2. Sudah sehat secara keuangan dan Tujuan keuangan sudah tercapai.
    3. Untuk investor yang masuk kategori Capital Preservation, anda merasa atau sudah ada riset yang menunjukkan :
    a. Harga instrumen investasi (saham dan obligasi) sudah masuk kategori mahal dan
    b. Faktor yang menopang kenaikan harga tersebut (kalau kondisi sekarang misalnya dana asing) sudah menunjukkan tanda-tanda akan atau telah berbalik arah.
    Untuk poin nomor 3 ini, anda harus mengikuti perkembangan terbaru kondisi perekonomian terutama yang terkait dengan kondisi perkembangan harga instrumen investasi.

    Semoga penjelasan ini dapat menjawab pertanyaan anda. Terima kasih.

  11. Jovi
    November 8th, 2010 at 14:23 | #11

    Pak Rudi, sekarang ini banyak reksadana yg dikemas dalam bentuk unit link asuransi, yaitu investasi plus asuransi, dimana nasabah membayar sampai jangka waktu tertentu (5 th, 8 th ..dst). Pertanyaan saya adalah apakah setelah jk waktu pembayaran selesai, kita cairkan dana tsb atau dibiarkan sampai beberapa th kemudian. Terimakasih .

  12. November 8th, 2010 at 18:42 | #12

    @Jovi
    Yth Jovi,

    Terkait pertanyaan anda, saya rasa setiap asuransi memiliki kebijakan dan produk yang berbeda-beda. Sepengetahuan saya, untuk asuransi unit link pada umumnya, adalah sebagai berikut:
    1. Anda tidak membayar lagi sehingga tidak mendapat manfaat asuransi (jiwa, kecelakaan, kesehatan). Sejumlah uang yang anda kumpulkan selama beberapa tahun dikurangi biaya-biaya akan berubah menjadi jumlah unit penyertaan pada unit link yang menjadi pilihan (bisa saham, campuran atau pendapatan tetap). Hasil perkalian antara seluruh jumlah unit penyertaan yang anda miliki dengan harga unit link saat ini adalah Dana Tunai. Dana tunai tersebut akan berkembang naik turun sesuai dengan perkembangan kinerja investasi unit link. Pada tahapan ini sebetulnya hampir sudah tidak ada bedanya lagi dengan berinvestasi pada reksa dana karena biaya akusisi (biaya subscription) unit link semakin kecil (ada yang mencapai 0%).

    Dalam kondisi ini, ada 2 alasan kenapa anda harus cairkan, pertama anda menemukan ada reksa dana yang satu jenis dengan unit link yang anda punya tapi kinerjanya jauh lebih baik, dan kedua kinerja unit link anda sedemikian jeleknya sehingga bukannya berkembang, dana investasi anda malah semakin tergerus. (sama seperti reksa dana, tidak semua unit link kinerjanya bagus)

    2. Yang lebih sering ditawarkan dan ada adalah anda sudah selesai membayar, dan tetap mendapat manfaat asuransi hingga usia tertentu. Skema asuransi seperti ini umumnya disukai oleh investor. Bagaimana tidak, bayar x tahun (5, 8 dst), diasuransikan sampai tua, plus ada dana tunai yang “menurut asumsi” jumlahnya bisa milyaran. Sebetulnya kalau kita membaca lebih jelas, sebetulnya skenario pertama tidak berbeda dengan skenario kedua. Alasan kenapa pemegang polis tetap mendapat tanggungan asuransi meskipun sudah tidak membayar premi lagi adalah karena premi asuransi untuk tahun selanjutnya dibayar dengan cara memotong “Dana Tunai” yang telah terkumpul. Dengan semakin tuanya usia anda, maka potongan yang diambil untuk premi asuransi juga semakin besar. Jika kinerja unit link ada ternyata tidak terlalu bagus, ada kemungkinan Dana Tunai anda “Habis” dipakai untuk biaya premi asuransi dan sudah tidak terlalu banyak yang tersisa ketika akan ditarik nanti.

    Jadi jika skenario kedua ini yang terjadi, bisa saja “Nilai Tunai” tersebut “habis” atau “semakin berkurang” tanpa anda sadari karena dipakai untuk membayar premi asuransi . Jika tidak ingin hal tersebut terjadi, bisa dilakukan dengan membayar lagi premi asuransi secara terpisah atau melepaskan manfaat asuransinya dan membiarkan dana tersebut berkembang layaknya seperti investasikan di reksa dana.

    Sama seperti skenario pertama, jika ditemukan reksa dana atau unit link (bebas biaya) yang jauh lebih baik atau kinerja unit link ternyata sangat jelek, maka sebaiknya dicairkan saja.

    Ingin saya tekankan, banyak perusahaan asuransi memiliki produk dan kebijakan yang berbeda-beda. Contoh di atas adalah contoh produk yang pernah saya ditemui dan ditawarkan kepada saya. Mungkin saja sekarang produk tersebut sudah berkembang lagi dan tidak sama dengan kondisi yang saya sebutkan di atas. Untuk lebih jelasnya, akan sangat membantu jika saya bisa membaca polis asuransi yang anda sebutkan.

    Dibandingkan reksa dana, produk unit link jauh lebih bervariasi. Tidak sesederhana produk unit link yang biasa kita temui dari agen asuransi pada umumnya. Jika dana anda sudah mencapai tingkatan tertentu, produk-produk yang ditawarkan juga semakin variatif. Produk asuransi yang advance ini umumnya tidak ditawarkan oleh agen asuransi tapi oleh marketing perbankan untuk nasabah yang sudah masuk kategori Prioritas dan Private Banking (1 tingkat lagi di atas prioritas, di beberapa bank disebut Premier Banking).

    Semoga penjelasan ini bisa menjawab pertanyaan anda, mohon maaf juga jika ternyata penjelasan terlalu panjang. Atas perhatiannya, saya mengucapkan banyak terima kasih.

  13. Jovi
    November 11th, 2010 at 15:50 | #13

    Pak Rudi, jenis polis asuransi saya adalah Rupiah managed fund. Saya memulai th 2002 (8 th) dan th 2009 menurut ilustrasinya sudah off. Namun sampai sekarang masih saya lanjutkan pembayarannya. Yang menjadi masalah adalah , jika saya stop pembayarannya , apakah dananaya akan tergerus habis untuk biaya asuransi atau berkembang ? jika dilihat dari kinerjanya N A B unit link tsb naik terus. Maaf jika pertanyaan saya cukup panjang dan terimakasih atas kesediaan bapak untuk menjawabnya.

  14. November 12th, 2010 at 01:33 | #14

    @Jovi
    Yth Pak Jovi,

    Untuk lebih jelasnya apakah akan tergerus habis atau tidak, sebaiknya anda konsultasikan dengan agen asuransi yang bersangkutan. Jika perlu, bukan dengan agen tapi dengan bagian customer service yang benar2 mengerti tentang cara perhitungan tersebut. Apakah manfaat asuransi akan tetap ada, jika ada, bagaimana prosedur atau mekanisme pembayarannya, apakah benar2 gratis atau dipotong dari nilai tunai. JIKA, seandainya memang dana anda dipakai untuk membayar asuransi, BELUM tentu akan tergerus habis kalau memang kinerja unit linknya bagus (artinya keuntungan investasi di atas nilai potongan premi asuransi). Jadi penting juga untuk mengetahui berapa besarnya nilai potongan premi asuransi setiap bulan / tahunnya.

    Untuk pak Jovi yang sudah membayar 8 tahun, saya sarankan untuk membandingkan nilai total uang yang sudah anda masukkan dengan nilai tunai saat ini. Apakah sudah untung? Atau rugi, atau sudah untung tapi apakah sesuai dengan ilustrasi yang diberikan pertama kali. Jika ilustrasi tersebut hilang, mintalah agen untuk membuat ilustrasi dengan jumlah pembayaran anda saat ini. Kan biasanya selalu ada “Asumsi” pada tahun X nilai tunai sekian. Dan yang paling penting, apakah anda “PUAS” dengan nilai tunai tersebut?

    Pertanyaan selanjutnya adalah coba anda tanyakan, jika memang sudah off, dan anda masih terus “membayar”, apakah uang tersebut terus diinvestasikan? atau dana anda masih tetap sebagian asuransi dan sebagian reksa dana? Kalau menurut perkiraan saya (yang bisa salah) kemungkinan dana anda 100% dimasukkan ke investasi (setelah dipotong komisi agen jika ada).

    Akhir kata, Tidak ada instrumen investasi ataupun investasi + asuransi yang paling bagus. Dari pengalaman saya selama beberapa tahun, yang namanya reksa dana terbaik dari tahun ke tahun bisa beda bisa sama. Asuransi juga sama, perlu teman2 semua tahu bahwa selama ini kalau dikatakan peringkat asuransi terbaik versi manapun, sebetulnya yang diperingkat itu “Perusahaan” bukan “Produk”nya. Jadi perusahaan terbaik belum tentu produknya juga terbaik. Oleh karena itu, Sangat-sangat penting bagi anda yang sudah atau terlanjur menjadi investor reksa dana ataupun investor asuransi + Unit Link untuk merasa “PUAS” dengan apa yang sudah anda miliki saat ini (baik perkembangan nilai investasi ataupun manfaat asuransinya serta pelayanan2 lainnya). Jika anda sudah tidak puas dengan kinerja dan pelayanan produk anda, maka alasan yang seharusnya menjadi alasan untuk pindah.

    Semoga menjawab pertanyaan anda. Terima kasih.

  15. Jovi
    November 12th, 2010 at 13:32 | #15

    Ok, pak Rudi . Saya sudah cukup jelas dgn keterangan yg bapak berikan, saya akan coba ikuti saran bapak. Jika ada pertanyaan lagi mohon tidak bosan untuk menjawabnya, karena saya sangat tertarik dgn artikel yg bapak muat, terutama mengenai reksadana. Terimakasih dan semoga bapak sekeluarga selalu berbahagia .

  16. berty
    August 19th, 2011 at 11:12 | #16

    Pak Rudi,..untuk jenis “Reksadana Saham” apakah bisa dilakukan Penjualan kapan saja, misalnya: saya Jual kembali setelah 1 minggu sejak saya Beli……
    karena setelah saya membaca-baca dimana :

    - Reksadana pasar uang = 5 tahun (jangka panjang)

    Artinya, Reksadana Saham hanya bisa di jual kembali setelah 5 tahun?…apakah benar,,,dan tidak bisa dijual hanya dalam jangka wakti 1 minggu???…
    Thanx,,,
    Salam sukses…..

  17. August 19th, 2011 at 11:43 | #17

    @berty
    Bukan Pak Pak Berty, maksudnya 5 tahun itu, adalah untuk investasi di reksa dana saham disarankan di atas 5 tahun. Kalau jualnya di bawah itu tetap bisa dan kalau dijualnya sebelum 1 tahun umumnya dikenakan biaya penjualan. Jadi tidak ada yang ketentuan berapa lama suatu reksa dana harus dipegang sebelum bisa dijual. Intinya kalau bukan hari libur, suspensi atau ada kejadian force majeur, reksa dana bisa dijual kapan saja. Untuk penerimaan uang bisa maksimal 7 hari kerja kemudian.

  18. berty
    August 19th, 2011 at 13:32 | #18

    @Rudiyanto
    Terima kasih banyak Pak Rudi atas infonya……
    Semoga Pak Rudiyanto selalu sukses dan diberkati Tuhan, ….atas budi baik dalam hal membagi pengetahuan bagi saya…Salam…God Bless U

  19. wid1
    October 30th, 2013 at 16:13 | #19

    @rudiyanto
    Pak rudi, apakah untuk redemption RDS dan RDC kita hanya bisa menjual sebagian RD yang kita miliki dan tidak boleh dijual keseluruhannya? Contoh di BNP Paribas rata-rata harus memiliki saldo minimal 250 unit dan Shroder 100 unit. Mohon penjelasannya. Tks

  20. Rudiyanto
    October 31st, 2013 at 11:49 | #20

    @wid1
    Salam Wid1,

    Mengenai ketentuan saldo minimal, sepengetahuan saya, ketentuan umum yang berlaku adalah apabila investor setelah melakukan redemption memiliki saldo di bawah ketentuan yang disebutkan, Manajer Investasi memiliki Hak untuk meminta investor untuk melakukan redemption semua sisa unit penyertaan.

    Tapi sekali lagi, karena hak, bisa dijalankan bisa juga tidak. Pertimbangannya karena jika hanya sedikit jumlah unit, kemungkinan fee yang dihasilkan tidak optimal untuk kegiatan operasional sehingga sebaiknya investor mencairkan semuanya.

    Kalau dipikir2, kan untuk pengiriman surat dan percetakan butuh biaya. Bayangkan dengan NAB 1000, berarti 250 unit hanya Rp 250.000. Fee yang dihasilkan sekitar 1-3% per tahun atau sekitar Rp 250 – 750 saja. Untuk kirim surat antar sesama Jakarta saja sudah 6000 – 8000, itu juga harus dikirimkan setiap bulan.

    Jadi kira2 seperti itu, semoga bermanfaat.

  21. juwita
    February 6th, 2014 at 00:00 | #21

    Pak, mohon indormasi apakah ada rujukan nomor peraturan BI atau OJK terkait cara perhitungan biaya subscription? Terima kasih Pak.

  22. Rudiyanto
    February 6th, 2014 at 08:42 | #22

    @juwita
    Dear Juwita,

    Terkait peraturan OJK, kamu bisa membaca di website ini http://aria.bapepam.go.id/reksadana/regulasi.asp?page=peraturan-bapepamlk

    Selamat mencari semoga berhasil mencari yang anda inginkan.

  23. deni
    May 4th, 2014 at 20:21 | #23

    Salam Pak Rudi,

    Mohon informasinya, jika redeem di lakukan untuk reksadana di bawah 1 tahun itu akan kena biaya redeem sejumlah sekian %, apabila di atas 1 tahun biaya akan free.
    Yang saya ingin tanyakan adalah, jika saya subscription dengan investasi rutin bulanan Top up tiap bulan), apakah durasi 1 tahun itu di hitung dari awal pembelian reksadana atau di hitung mundur secara saya investasi bulanan Top up setiap bulan).
    Terima kasih sebelumnya pak Rudi.
    Salam.

  24. Rudiyanto
    May 5th, 2014 at 11:40 | #24

    @deni
    Salam Deni,

    Kalau untuk yang itu, kebijakannya berbeda-beda antara setiap perusahaan. Ada yang mengganggap 1 tahun dihitung dari transaksi pertama saja. Ada juga yang per transaksi.

    Sebagai contoh jika kamu transaksinya 1 Jan 2014, 1 Feb 2014 dan 1 Maret 2014, maka pada tanggal 1 Jan 2015, bagi Manajer Investasi / Agen Penjual yang menggunakan sistem per transaksi, yang bebas biaya hanya yang 1 Jan 2014 saja. Transaksi per tanggal 1 Feb dan 1 Maret tetap dikenakan biaya karena belum diangga 1 tahun.

    Bagi Manajer Investasi yang menganut per transaksi pertama saja, maka pada tanggal 1 Jan 2014, seluruh transaksi sudah dianggap bebas biaya. Panin Asset Management termasuk salah satu Manajer Investasi yang menganut sistem berdasarkan transaksi pertama. Hanya saja, transaksi pertama akan dihitung ulang apabila nasabah melakukan redemption semua.

    Demikian, semoga informasi ini bermanfaat.

  25. Syafaat
    May 22nd, 2014 at 11:59 | #25

    Yth Pak Rudi,

    Saya tertarik untuk memulai investasi di reksadana pak.
    Tapi Saya punya pertanyaan, apakah harga NAB per unit yg dimiliki setiap nasabah di suatu jenis rekdasada berebeda-beda satu sama lainnya pak?.

    Terima Kasih Pak.
    Salam.

  26. Rudiyanto
    May 22nd, 2014 at 20:35 | #26

    @Syafaat
    Salam Syafaat,

    Hampir semua jenis reksa dana, kecuali ETF dan Reksa Dana Penyertaan Terbatas diterbitkan dengan harga awal Rp 1000. Sebagai contoh, reksa dana saham yang diterbitkan oleh Manajer Investasi dengan strategi yang berbeda ataupun oleh manajer investasi lain tetap sama dimulai dari harga 1000.

    Untuk data semua NAB/Up reksa dana bisa anda lihat di http://www.infovesta.com. Semoga bermanfaat dan semoga sukses dengan tujuan investasinya.

    Terima kasih

  27. Triadi
    August 5th, 2014 at 21:46 | #27

    Yth Pak Rudi,

    Saya termasuk orang yang cukup mengikuti informasi dan seluk beluk reksadana. Namun ada pertanyaan yang mendasar yang masih belum saya mengerti. Apakah mungkin kita bisa mencairkan atau menjual seluruh NAV yang kita punya? walaupun kita ketahui hampir semua reksadana memiliki ketentuan saldo minimal setelah investor melakukan redemption.

    Terima kasih

    • Rudiyanto
      August 5th, 2014 at 22:57 | #28

      Salam Pak Triadi,
      Ada yg perlu diluruskan, ketentuan minimum saldo yg ada di reksa dana itu tidak seperti di bank. Jika pada bank adalah seperti yg anda tulis, maka pada reksa dana adalah jumlah minimum saldo yg harus dipertahankan atau jika tidak Manajer investasi berhak mencairkan seluruh investasi anda. Sebagai ilustrasi, misalkan saldo kamu 1 juta dan minimum adalah 250rb, maka ketika kamu melakukan redemption senilai 800rb maka manajer investasi berhak meminta investor utk menjual semua reksa dana daripada hanya 800rb saja. Biasanya investor diminta utk merevisi nilai redemptionnya. Jadi berbeda dgn bank yg saldonya harus disisakan.

      Semoga menjawab pertanyaan anda, terima kasih

  28. October 9th, 2014 at 05:37 | #29

    mohon dibahas juga reksadana pak

  29. October 9th, 2014 at 05:38 | #30

    maaf maksud saya saham pak

  30. October 31st, 2014 at 11:16 | #31

    pagi pak rudy

    Saya mau nanya pak, kalo untuk reksanada, semisal saya beli sekali, trus saya gak tambah2 (seperti deposito) bisa gak pak, lebih untung mana pak,

    contoh

    1. deposito 1 juta = 5 tahun,
    2. reksadana 1 juta = 5 tahun

    terimasih

  31. Rudiyanto
    October 31st, 2014 at 11:35 | #32

    @bagus prawira
    Pagi Pak Bagus,

    Untuk cara investasi yang anda lakukan di atas tidak masalah pak. Kalau lebih untung mana, tidak bisa dipastikan karena kalau harga reksa dana naik turun. Jadi saya bisa jawab lebih pasti di deposito karena keuntungannya sudah ditentukan di awal sekian %, sementara kalau reksa dana harganya bisa naik turun. Kadang2 kalau harganya naik tinggi anda bisa mendapatkan keuntungan di atas deposito, tapi kalau pas harganya lagi turun anda bisa juga mendapatkan keuntungan di bawah deposito atau bahkan rugi.

    Untuk detailnya anda bisa baca di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/08/10/3-langkah-menjadi-investor-reksa-dana-bagi-pemula/

    Semoga bermanfaat.

  32. sodik
    December 8th, 2014 at 04:20 | #33

    Pak Rudiyanto pengen nanya..

    Saya sodik 20 th
    Ada rencana saya untuk ikut reksa dana saham dalam jangka 7 tahun. per bulan Rp. 500.000 rencana untuk beli rumah sederhana (total 7 th Rp. 42.000.000)
    Kira2 RDS apa yang menguntungkan dalam 7 tahun ke depan ?
    Trus apakah return yng di dapatkan itu % per tahun atau hanya saat penjualan kembali reksa danaya?
    Misal sekarang saya saat beli Rp. 1200/unit ,kemudian 6 tahun yang akan datang harga NAB/unit ny menjadi Rp. 2100/unit kemuddian tahun depan (tahun ke 7)/ jatuh tempo harganya malah turun jadi Rp. 1500, brarti sayang dong, tidak di jual tahun kemarin yang harganya lebih tinggi. Ya meskipun saya masih untung… apakah benar perhitungan saya itu.?

    Itu saja dulu yang di tanyakan. Mohon maaf kalo bahasa nya nyeleneh. Maklum baru belajar reksadana.. Atas jawabannya saya ucapkan terima kasih :)

  33. Rudiyanto
    December 10th, 2014 at 01:09 | #34

    @sodik
    Malam Pak Sodik,

    Senang sekali ada calon investor berusia muda yang berinvestasi atas inisiatifnya sendiri.

    Jika horison investasi anda adalah 7 tahun, maka semua jenis reksa dana rasa-rasanya bisa memberikan keuntungan. Tapi yang cocok adalah reksa dana saham karena diperuntukkan untuk tujuan di atas 5 tahun.

    Keuntungan yang anda dapatkan berbentuk kenaikan harga. Misalkan anda beli harganya Rp 1000, kemudian waktu jual lihat harganya jadi Rp 1200. % kenaikan harga adalah indikator untuk melihat berapa persen kenaikannya saja.

    Tidak ada istilah jatuh tempo dalam reksa dana, yang ada investor melakukan pembelian dan penarikan. Dan itu dapat dilakukan kapan saja, misalkan tujuannya 7 tahun, penarikannya tidak harus setelah atau pas 7 tahun, sebelum atau sesudahnya juga tidak masalah. Dalam konteks demikian, berarti anda harus mengevaluasi hasil investasi anda. Misalkan dari total investasi anda Rp 42 juta, ditargetkan untuk jadi Rp 100 juta. Seandainya jika investasi tersebut sudah tercapai sebelum 7 tahun ya bisa direalisasikan tanpa harus menunggu sampai 7 tahun.

    Apakah ada kemungkinan bisa tidak tercapai? tentu ada karena reksa dana adalah produk pasar modal yang berarti mengandung risiko. Dalam bahasa awam, risiko itu berarti target anda tidak tercapai atau bahkan rugi.

    Saran saya anda bisa baca 2 artikel ini
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/08/10/3-langkah-menjadi-investor-reksa-dana-bagi-pemula/
    dan http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/02/20/berapa-asumsi-return-investasi-saham-yang-wajar/

    Semoga bermanfaat

  34. taufiq alghozali
    February 9th, 2015 at 23:02 | #35

    salam pak rudi

    pak rudi saya punya pemikiran seperti ini,

    misalkan saya memiliki rds dan setiap bulan saya setor 500 ribu rupiah, setelah 5 tahun uang yang terkumpul di rds tersebut berjumlah 30 juta rupiah ditambah potensial gain yang saya dapat.

    kemudian rds tersebut saya redem all, dan uang hasil redem tersebut semuanya saya belikan rds lain yang harganya masih murah agar bisa mendapat unit yang lebih banyak.

    menurut saya cara seperti itu lebih menguntungkan, bagaimana menurut bapak.

  35. Rudiyanto
    February 10th, 2015 at 15:53 | #36

    @taufiq alghozali
    Salam Pak Taufiq,

    Apakah sudah ada nama reksa dana yang rencananya akan kamu terapkan strategi tersebut?

  36. taufiq alghozali
    February 10th, 2015 at 17:32 | #37

    @Rudiyanto
    salam pak rudi

    saya sudah memiliki portofolio reksadana saham RHB Osk Alpha sektor rotation, dan rencananya strategi tersebut akan coba saya terapkan di reksadana tersebut.

    • Rudiyanto
      February 10th, 2015 at 17:41 | #38

      Salam pak Taufiq,

      Satunya lagi apa? Maksud saya kan dari strategi anda ada 1 yang harganya relatif lebih tinggi dan satu lagi harganya relatif lebih rendah.

  37. taufiq alghozali
    February 10th, 2015 at 17:51 | #39

    @Rudiyanto
    salam pak rudi

    reksadana simas saham unggulan pak rudi.

  38. Rudiyanto
    February 10th, 2015 at 17:53 | #40

    @taufiq alghozali
    Bukankah harga kedua reksa dana tersebut tidak berbeda jauh ?

  39. taufiq alghozali
    February 10th, 2015 at 18:06 | #41

    @Rudiyanto
    iya pak rudi memang harganya tidak berbeda jauh, tapi unit yang akan saya terima jadi lebih banyak dan setiap terjadi kenaikan nab lebih terasa hasilnya, bukan begitu pak rudi?

    • Rudiyanto
      February 10th, 2015 at 18:08 | #42

      Tapi kan strategi anda, beli reksa dana yang harganya lebih tinggi. Kemudian setelah 5 tahun dijual semua dan dibelikan lagi reksa dana yang harganya lebih rendah.
      Nah dari strategi tersebut, mana reksa dana yang anda akan beli pertama kali dan kedua ?

  40. taufiq alghozali
    February 10th, 2015 at 18:23 | #43

    @Rudiyanto
    RHB Osk alpha sektor rotation yang lebih dulu saya miliki, baru simas saham unggulan, dan apabila setelah 5 tahun muncul reksadana baru dengan harga yang lebih murah, tidak menutup kemungkinan saya switch ke reksadana tersebut.

    • Rudiyanto
      February 10th, 2015 at 18:27 | #44

      Jadi maksudnya anda akan beli RHB OSK selama 5 tahun kemudian anda jual semua dan beli Simas Saham Unggulan, atau anda beli kedua2nya sekarang dan jual 5 tahun kemudian utk beli reksa dana yg harganya lebih rendah?

      Kalau yakin harga reksa dana lebih rendah lebih baik mengapa tidak dibeli sekarang saja toh banyak reksa dana saham di Infovesta yg saya lihat harganya dibawah 1000 ?

  41. taufiq alghozali
    February 10th, 2015 at 18:57 | #45

    saya mau beli keduanya, dan saat ini yang sudah saya miliki baru rhb osk, jadi uang yang saya setor 500 rb setiap bulan setelah 5 tahun kan hasilnya 30 juta diluar dari potensial gain yang saya dapat, jadi kalau saya jual semua untuk beli reksadana yang nab nya masih murah dan tunggu reksadana tersebut naik, bukankah keuntunganya jauh lebih baik pak rudi dibandingkan top up setiap bulan yang nab nya berubah terus?

    • Rudiyanto
      February 10th, 2015 at 19:09 | #46

      Berarti yg saya tangkap anda berkeyakinan reksa dana yg harganya murah akan lebih baik krn mendapat unit lebih banyak. Jika demikian, pertanyaan saya kenapa kamu tidak mempertimbangkan Batavia Saham Dana Agro, Danareksa Mawar Komoditas 10, Treasure Fund Super Maxi dan Prospera Bijak ? Sebab harga reksa dana tsb per tanggal 9 Februari 2015 di sekitar 700an.

      Anda bisa mendapatkan unit penyertaan 2 kali lebih banyak dibandingkan kedua reksa dana yg kamu sebutkan di atas krn ada kisaran harga 1500

  42. melisa
    February 21st, 2015 at 08:52 | #47

    Yth Pak Rudi

    Boleh saya izin untuk ambil beberapa isi dari artikel ini sbg referensi skripsi saya?
    tks

  43. Rudiyanto
    February 24th, 2015 at 00:43 | #48

    @melisa
    Selamat Pagi Ibu Melisa,

    Silakan bu, semoga bermanfaat dan skripsinya cepat selesai.

  44. Ryan
    March 16th, 2015 at 14:36 | #49

    Selamat siang Pak Rudi. Apa kabar??

    Maaf saya masih sedikit bingung tentang fee beli Reksadana. Jika saya ingin rutin top up reksadana perbulan dengan nominal Rp. 1.000.000 dan fee beli 2% berarti saya mengeluarkan total fee beli setahun 24%. Dan jika pada periode tersebut produk reksadana hanya mampu menghasilkan return 20% pertahun, berarti uang saya minus 4% dalam periode tersebut. Apakah seperti itu perhitungannya? Mohon dijelaskan.

    Terima kasih. Salam

  45. Rudiyanto
    March 16th, 2015 at 15:19 | #50

    @Ryan
    Salam Ryan,

    Cara pikirnya kurang lebih seperti ini, Kalau kamu top up Rp 1 juta per bulan selama 1 tahun, berarti total uang yang anda masukkan Rp 12 juta. Fee yang anda bayarkan berarti 2% x Rp 1 juta x 12 = Rp 240.000

    Rp 240.000 dibagi dengan Rp 12 juta = ….%

    Silakan anda isi sendiri titik-titiknya.

    Kemudian jika Rp 12 juta anda berkembang 20% (secara sederhana) Rp 12 juta x 20% = Rp 2.4 juta. Sementara biaya yang anda bayarkan Rp 240.000.

    Apakah return anda masih minus 4%?

    Coba dihitung dulu. Terima kasih

  46. June 30th, 2015 at 14:59 | #51

    Slmt siang Pak Rudy,
    Saat ini investasi di reksa dana semakin mudah dg adanya fasilitas online. Fasilitas online Panin Asset Management dg menyediakan website utk nasabah sdh sangat bagus. Sehingga informasi yg berkaitan dg reksa dana jg pasar modal selalu up to date.

    Ini masukan saja Pak, mungkin diwacanakan di internal PAM utk meniadakan biaya subscription dan redemption reksa dana. Krn sekarang ini pembelian reksa dana online sdh banyak yg free biaya subscription dan redemption. Sehingga dg semua keunggulan manager investasi di PAM, pelayanan yg baik dan disertai dg bebas biaya transaksi bisa mendongkrak jumlah nasabah dan investor. Krn sbg investor pemula, apalagi dg modal yg tidak banyak, biaya2 ini bisa membatalkan niat utk investasi di PAM.

    Semoga Panin Asset Management semakin maju.

  47. Rudiyanto
    July 6th, 2015 at 02:25 | #52

    @ernita
    Selamat malam Ibu Ernita,

    Terima kasih atas masukan anda.

    Untuk biaya redemption, dapat didiskon 50% apabila anda mengikuti autodebet. Kemudian untuk redemption, dapat menjadi 0% apabila anda berinvestasi dalam jangka panjang.

    Biaya2 tersebut juga pada akhirnya dikembalikan ke nasabah dalam bentuk kegiatan edukasi, fasilitas, layanan, dan program-program unggulan seperti PAM Poin Fortuna.

    Demikian, semoga informasi ini bermanfaat. Terima kasih

  48. yuli agus
    June 7th, 2016 at 10:29 | #53

    selamat siang pak rudi.

    Saya seorang pemula dalam hal reksadana, yang saya mau tanyakan apabila kita membeli reksadana apakah harus menyisihkan dana setiap bulan selama kita belum menjual reksadana tersebut? semisal saya membeli reksadana X seharga Rp. 100rb, maka kita harus menyisihkan Rp. 100rb setiap bulannya ke bank kustodian? terima kasih sebelumnya

  49. Rudiyanto
    June 13th, 2016 at 01:24 | #54

    @yuli agus
    Salam Ibu Yuli,

    Senang sekali ada investor baru di reksa dana. Mengenai kewajiban untuk menyisihkan dana setiap bulan itu tidak ada. Jadi misalkan anda beli Rp 100.000, anda diamkan 10 tahun dan baru ditarik 10 tahun kemudian juga tidak apa-apa. Sifat dari pengelolaan reksa dana adalah berapapun dana yang masuk, akan dikelola oleh Manajer Investasi dan jika ada permintaan penarikan dana akan kita layani.

    Tidak ada ketentuan dana harus disimpan berapa lama, autodebet berapa dan sebagainya. Autodebet atau investasi berkala bulanan merupakan fasilitas agar investor melatih disiplin berinvestasi.

    Apabila anda ingin belajar lebih lengkap, bisa juga ke website http://www.reksadanauntukpemula.com

    Semoga bermanfaat.

  50. ibrahim
    August 28th, 2016 at 16:07 | #55

    Mau tanya pak
    Misal saya buka suatu reksadana tgl 01.01.2016, tiap bulan saya invest 500.000 per bln. Sekrg bln 8, jika ada time redemption 6 bln. Dana sejmlh mana yg bs di cairkan ?

  51. Rudiyanto
    August 31st, 2016 at 22:06 | #56

    @ibrahim
    Salam Pak Ibrahim,

    Sepertinya ada pemahaman yang kurang tepat tentang 6 bulan pada transaksi reksa dana.

    Sebagai contoh di Panin Dana Ultima disebutkan jika redemption dalam 6 bulan akan kena 1%, itu maksudnya jika anda beli Panin Dana Ultima tanggal 10 Januari Rp 1 juta, maka jika dicairkan sebelum 10 Juli 2016 akan dikenakan biaya pembelian. Misalkan nilai Rp 1 juta telah mencapai Rp 1,2 juta, maka ketika dicairkan akan dikenakan biaya penjualan 1% x Rp 1,2 juta atau Rp 12.000. Nilai Rp 12.000 akan mengurangi nilai pencairan yang anda terima.

    Jadi yang dimaksud dengan 6 bulan bukan berarti tidak boleh dicairkan sebelum 6 bulan, tapi jika dicairkan sebelum waktu tersebut dikenakan biaya. Semua yang diinvestasikan boleh dicairkan, nilainya sesuai harga pasar pada saat perintah pencairan dilakukan. Hal ini berlaku juga untuk kalau investasi dilakukan beberapa kali atau istilahnya investasi berkala.

    Meski demikian, hitungan 6 bulan terkadang tidak sama antar perusahaan. Kalau di Panin Asset Management, 6 bulan itu hitungannya dari transaksi reksa dana pertama kali. Sementara di tempat yang lain, ada yang pernah sharing itu dihitung per transaksi, bukan sejak pertama kali.

    Semoga bermanfaat

  52. Kasno
    May 7th, 2017 at 16:28 | #57

    Sy telah memiliki dan membaca buku reksa dana untuk pemula tulisan bapak,selanjutnya sya tertarik untuk segera investasi di reksadana ,adakah Panin Asset Management terdapat fasilitas pendaftaran online pak ,di mana alamt url nya ,trims pak rudy

  1. November 3rd, 2010 at 16:06 | #1
  2. December 27th, 2010 at 04:22 | #2

 


%d bloggers like this: