Home > Riset Reksa Dana > Evaluasi Reksa Dana Saham 2010

Evaluasi Reksa Dana Saham 2010

Apa kabar pembaca ? Semoga selalu bahagia dan sehat selalu.

Kali ini, topik yang ingin saya sharing adalah tentang evaluasi kinerja reksa dana saham 2010. Sebetulnya artikel ini ditulis bersama rekan saya yaitu bapak Edbert A. Suryajaya. Rencananya artikel ini mau saya kirimkan di Kontan Mingguan, tapi berhubung karena kirimnya terlambat dari deadline (dan entah lolos saringan dari para redaktur kontan apa tidak), takutnya kalau artikel itu (pada akhirnya) dimunculkan datanya udah agak basi, kami posting dulu disini. Selamat menikmati..

Hingga 19 Oktober 2010, kinerja IHSG membukukan kinerja positif 41%. Berita yang sangat bagus bagi investor saham. Bagaimana dengan investor reksa dana? Apakah juga mendapatkan kinerja yang sama atau bahkan lebih baik dari IHSG.

Meski 2010 merupakan tahun yang menguntungkan bagi para investor saham, namun tampaknya bukan tahun yang terlalu baik bagi manajer investasi yang mengelola reksa dana saham. Selama 7 tahun terakhir (dari 2002 – 2009), rata-rata dalam 1 tahun terdapat sekitar 50% produk reksa dana saham yang kinerja returnnya mampu mengalahkan IHSG.

Rekor paling bagus adalah 75% pada tahun 2009 dan rekor paling jelek adalah 30% pada tahun 2003 saat reksa dana pendapatan tetap masih menjadi primadona dan bukannya reksa dana saham. Selebihnya berkisar antara 35% hingga 63%.

Dengan melihat statistik di atas, tentu sangat mengejutkan dimana ketika dilakukan penelitian untuk periode year to date 19 Oktober 2010, hanya terdapat 4 dari 64 reksa dana saham yang mampu IHSG atau hanya sekitar 6.25%. Untuk lebih lengkapnya mari kita lihat grafik berikut:

Statistik Kinerja Reksa Dana Saham (RDS) Vs IHSG Periode 2002 – 19 Oktober 2010

Selain mengejutkan, statistik di atas juga cukup membingungkan bagi kami. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Apakah memang pasar saham Indonesia semakin efisien? teori Efficient Market Hypothesis menyatakan semakin efisien penyampaian informasi dalam suatu bursa saham, maka semakin sedikit pula investor yang dapat membukukan return di atas rata-rata pasar. Tampaknya tidak, menurut kami pasar Indonesia masih jauh dari efisien.

Apakah karena strategi investasi yang salah? Hal ini menurut kami lebih mungkin, akan tetapi kurang tepat jika dikatakan salah. Kita memulai tahun 2010 dengan kenaikan bursa sebesar 86%. Hanya dalam kurun waktu 1 tahun, IHSG dari level 1,355.41 naik menjadi 2,534.36. Kemudian diikuti dengan berita-berita bernuansa negatif seperti pemulihan ekonomi global yang belum pasti, defisit AS yang mencapai titik tertinggi dalam sejarah, kenaikan bursa ditopang oleh hot money yang bisa sewaktu-waktu keluar.

Dalam kondisi seperti di atas, wajar saja kalau para Manajer Investasi mengambil kebijakan strategi investasi yang lebih konservatif untuk mengantisipasi penurunan. Tapi kenyataan bursa terus bergerak naik memecahkan rekor tertinggi. Akibatnya para Manajer Investasi yang terlanjur mengambil langkah konservatif ketinggalan dengan kenaikan bursa. Untuk alasan yang lebih pasti, akan lebih baik jika investor menanyakan langsung kepada para manajer investasi. Sebagai pengelola dana, tentu mereka punya jawaban yang lebih spesifik.

4 Reksa Dana Saham Yang Mengalahkan IHSG

Dari reksa dana saham yang ada, 4 reksa dana saham yang mengalahkan IHSG adalah sebagai berikut:

Panin Dana Maksima dan Panin Dana Prima

Reksa Dana Saham yang dikelola oleh PT. Panin Sekuritas merupakan reksa dana yang paling hot tahun ini karena return kedua reksa dana ini mengalahkan IHSG secara signifikan. Per Year to Date 19 Oktober 2010, return kedua reksa dana ini adalah 95,04% dan 64,95% jauh di atas IHSG yang 41,76%. Reksa Dana Panin dikenal dengan strategi investasi yang sedikit berbeda dengan strategi investasi para Manajer Investasi pada umumnya.

Selain memiliki saham-saham yang masuk dalam kategori LQ-45 (kumpulan 45 saham paling likuid), reksa dana ini juga senang mengoleksi saham-saham yang bagus secara fundamental dan valuasinya masih relatif murah meski saham itu tidak masuk kategori LQ-45. Kombinasi tersebut menghasilkan reksa dana dengan risiko yang sama atau lebih kecil dibandingkan IHSG namun memberikan tingkat return yang lebih besar dibandingkan IHSG. Kelemahannya adalah ketika terjadi redemption dalam jumlah yang signifikan saham yang kurang likuid tersebut berpotensi menimbulkan kesulitan bagi Manajer Investasi dalam menjual sahamnya. Kekurangan lain dari reksa dana ini adalah fee masuk yang relatif tinggi dan sulit untuk ditawar jika dana yang mau diinvestasikan tidak besar.

Syailendra Equity Opportunity Fund (SEOF)

SEOF yang dikelola oleh PT. Syailendra Capital merupakan Manajer Investasi yang masuk dalam kategori pendatang baru di dunia Manajer Investasi. Akan tetapi, pengelola reksa dana tersebut sebelumnya merupakan pengelola yang telah memiliki pengalaman puluhan tahun di bursa saham. Selain mampu mengalahkan IHSG dengan return 47.59%, reksa dana ini juga memiliki fitur unik yang sangat investor friendly.

Fitur tersebut adalah adanya ketentuan bahwa Manajer Investasi akan melakukan penyesuaian terhadap biaya pengelolaan (management fee) berdasarkan kinerja reksa dana. Apabila turun, maka biaya akan diturunkan dan sebaliknya apabila bagus akan dinaikkan hingga batas tertinggi yang ditetapkan dalam prospektus. Dengan demikian, Manajer Investasi seperti berbagi suka dan duka dengan investor. Selain itu, reksa dana ini juga mengenakan fee jika redemption (penjualan reksa dana) dilakukan tidak di akhir bulan sebagai upaya untuk menjaga arus kas. Kelemahan reksa dana ini menurut kami adalah secara historis memiliki tingkat risiko yang lebih besar dibandingkan IHSG sehingga pergerakan reksa dana ini cenderung lebih fluktuatif.

BNP Paribas Solaris

Manajer Investasi yang mengelola reksa dana ini sebelumnya dikenal sebagai Fortis Investment kini telah berganti nama menjadi BNP Paribas Investment Partners sehingga nama reksa dana juga diganti menjadi BNP Paribas. Kami menemukan masih terdapat investor yang belum menyadari perubahan ini meskipun kegiatan sosialisasi sudah dilakukan. BNP Paribas Solaris berhasil membukukan return 42.12%, sedikit di atas IHSG. Seiring dengan berjalannya waktu, ada kemungkinan juga kinerja reksa dana ini berubah.

Berdasarkan product card, Reksa Dana yang baru diterbitkan pada 31 Maret 2009 ini merupakan reksa dana yang dikhususkan bagi investor agresif dan memiliki periode investasi jangka panjang. Reksa dana ini berinvestasi pada saham perusahaan dengan berkapitalisasi pasar kecil hingga menengah. Proses investasi dilakukan dengan mengidentifikasi perusahaan yang memiliki profiloperasional dan prospek pertumbuhan terbaik. Analisa dilakukan berdasarkan riset fundamental internal dan eksternal secara intensif untuk mengidentifikasi perusahaan dengan posisi yang prospektif di pasar dan mempunyai potensi besar untuk berkembang.

Berbeda dengan produk reksa dana yang dikelola reksa dana asing yang umumnya sudah mencapai triliunan, dana kelolaan reksa dana ini “hanya” sekitar Rp 675 miliar pada bulan September 2010 karena lebih spesifik untuk investor yang karakternya agresif. Strategi investasinya menjadikan reksa dana ini memiliki risiko likuiditas yang juga dihadapi oleh reksa dana panin. Selain itu, untuk produk reksa dana yang dijual melalui bank, umumnya fee yang dikenakan juga lebih tinggi karena harus melalui perantara.

Semoga evaluasi ini bermanfaat bagi anda..

Penyebutan produk investasi di atas tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis.

“Melakukan copy & paste artikel berita ini dan atau mendistribusikan ulang melalui situs atau blog Anda tanpa izin tertulis adalah melanggar Hak Cipta / Copyright ©”

Categories: Riset Reksa Dana Tags:
  1. Amin Mas’udi
    October 25th, 2010 at 20:21 | #1

    Thanks Pak Rudiyanto atas artikel nya.. Artikel Pak Rudiyanto selalu mencerahkan. Kinerja mayoritas RDS yang dibawah IHSG pada tahun menunjukkan bahwa hampir semua RDS memiliki komposisi portfolio yang sama, sehingga tidak ada perbedaan antara RDS yang satu dengan yang lain, setiap RDS hampir pasti memiliki saham ASII dan TLKM. Akibatnya semua RDS memiliki return yang nyaris sama. Hal ini berbeda dengan Panin yang didukung oleh saham2 second liner.

    Di sisi lain, laju IHSG ditopang oleh sektor yang selama ini dihindari atau hanya sedikit dilirik oleh MI, misalnya Agriculture. Apakah demikian?

  2. F. Ferdiatmoko
    October 26th, 2010 at 07:10 | #2

    “fee masuk yang relatif tinggi untuk Reksadana Panin?” hahaha, ah yang benar? masa’ 1%&2% dibilang tinggi? Coba di-cek lagi Bung Rudi!!

    “Reksadana Panin sulit untuk ditawar jika dana yang mau diinvestasikan tidak besar?” hahaha, emang ada Reksadana yang pake acara tawar-menawar? semuanya baik Biaya masuk, Biaya pencairan, Besar kecilnya minimal investasi, dan lain sebagainya harus sesuai dengan Prospectus masing-masing Reksadana.

  3. October 27th, 2010 at 10:42 | #3

    @F. Ferdiatmoko
    Yth Pak Ferdiatmoko,

    Saya tidak keberatan kalau anda keberatan dengan saya bahwa biaya 1 – 2 % itu saya sebut mahal. Karena yang namanya faktor biaya itu tergantung jumlah dana yang diinvestasikan oleh investor. Segala pendapat diterima disini asalkan disampaikan dengan baik pula.

    Dari pengalaman saya berhubungan dengan hampir dari 100an institusi yang terdiri dari Dana Pensiun, Bank, Asuransi dan Perusahaan baik BUMN ataupun swasta serta beberapa High Net Worth Individual dimana jumlah investasi bisa mencapai puluhan bahkan ratusan milliar, kebanyakan dari mereka mendapat fasilitas bebas biaya alias 0%. Sehubungan dengan faktor kerahasiaan, saya tidak bisa menceritakan siapa institusi tersebut dan berapa nilai investasinya. Saya juga berpengalaman berinvestasi di beberapa reksa dana saham dimana Investasi tidak mengenakan sama sekali untuk biaya masuk (meskipun saya tidak tahu apakah akan seterusnya sama). Sebagai contoh, saya juga memiliki rekan yang bekerja sebagai agen penjual di suatu bank asing dimana dia bercerita bahwa untuk seluruh investasi di atas Rp 1 Milliar biasanya tidak dikenakan lagi biaya masuk untuk reksa dana tersebut.

    Ditambah lagi ketentuan dalam prospektus adalah “Maks …%” artinya bisa dikenakan hingga maksimal seperti dalam prospektus bisa juga 0 sama sekali.

    Dalam artikel, kami selalu berusaha untuk mencoba di sisi netral dengan menampilkan faktor positif dan negatifnya. Semoga penjelasan ini bisa menjawab pertanyaan anda.

    Terima kasih.

  4. October 27th, 2010 at 11:19 | #4

    @Amin Mas’udi
    Yth Pak Amin,

    Perlu diluruskan bahwa saya tidak mengatakan bahwa portofolio ditopang oleh saham second liner, tapi lebih kepada portofolio saham yang terdiri dari saham yang masuk kategori LQ-45 dan Non LQ-45.

    Apa artinya non Lq45 artinya saham tersebut tidak termasuk dalam 45 saham paling likuid di bursa saham. Apakah tidak termasuk 45 saham yang likuid berarti saham second liner, tidak juga. Lagipula apa definisi saham second liner? Saya sendiri belum punya jawabannya.

    Karena terbatasnya informasi mengenai jumlah dana kelolaan dan portofolio, saya tidak tahu kemanakah manajer investasi melakukan penempatan dana dan sektor apa yang dilirik serta tidak. Bisa saja informasi yang anda dapat merupakan informasi dari salah satu Manajer Investasi yang kebetulan tidak melirik suatu sektor atau bisa saja memang kondisi kebanyakan Manajer Investasi.

    Tapi pada dasarnya karena keterbatasan informasi, saya sendiri juga tidak tahu dengan pasti.

    Semoga penjelasannya menjawab pertanyaan anda, terima kasih ya.

  5. Hermawan
    October 27th, 2010 at 18:33 | #5

    Mas Rudi, saya sering mengikuti opini anda di majalah Investor.

    Kalau Mas Rudi tidak berkeberatan, bisa di-share disini daftar bank penjual reksadana yang menerapkan minimum investasi yang ringan (< 10 juta), dan minimum top up yang ringan (< 3 juta), serta fee yang wajar?

    Terima kasih.

  6. October 28th, 2010 at 02:28 | #6

    @Hermawan
    Yth Pak Hermawan,

    Saya mengucapkan terima kasih atas dukungan anda. Tulisan di Majalah Investor kebetulan sekarang ini ditulis oleh rekan saya bapak Edbert (dulunya memang saya).

    Berkaitan dengan minimum top up setahu saya bank menetapkan kebijakan yang berubah-ubah, dulu besar bisa 25 juta, 50 juta. Sekarang makin lama makin kecil. Untuk lebih pastinya anda bisa mendatangi bank langsung. Sepengetahuan saya, yang minimum investasi seperti yang bapak maksudkan adalah mungkin bisa di Bank Mandiri dan Commonwealth.

    Untuk fee yang wajar sebetulnya tergantung nilai investasi anda, semakin besar dana yang ingin anda investasikan anda bisa dapatkan fee yang semakin kompetitif. Jika mengikuti minimum investasi, sepertinya agak sulit. Umumnya fee masuk berkisar antara 0.5% hingga 2%.

    Semoga penjelasannya bermanfaat.

  7. Hermawan
    October 28th, 2010 at 03:50 | #7

    Dear Pak Rudi,

    Terima kasih atas balasannya. Adakah bank lain selain Bank Mandiri dan CommonWealth, yang menjual reksadana dengan minimum investasi (<= 10 juta) dan minimum top up (<= 3 juta) yang ringan? Karena saya penganut DCA dan membutuhkan minimum top up yang ringan, agar bisa memasukkan rutin penghasilan saya.

    Terima kasih.

  8. januar
    October 28th, 2010 at 04:57 | #8

    setuju dengan pak rudi, fee masuk 1-2% hitungan nya sudah mahal… blm lg fee redempt nya kisaran segitu jg…
    to mas hermawan, bukan bernaksud promosi nih, saya main lewat commbank, lumayan murah untuk initial subs nya, begitu jg untuk subs lanjutan (topup)
    yg lebih asiknya, untuk subs bisa online lwt internet banking…. klo redemt bisa titip aplikasi, jadi tinggal telpon aj ke personal banker kita di commbank. ga kaya bank mandiri yg harus dateng klo mau subs atau redempt….
    dan nilai plus lainya yg ga ad ditempat lain, transaksi subs lewat internet banking commbank, fee nya discount 50%

  9. October 28th, 2010 at 05:55 | #9

    @Hermawan
    Yth Pak Hermawan,

    Saya bisa sarankan anda untuk melakukan window shopping. Kalau anda tinggal di area jakarta, anda bisa coba ke area Mangga Dua karena di sana berkumpul segala macam bank dari lokal – asing, baik yang menjual reksa dana ataupun tidak. Mungkin dari situ anda bisa mendapatkan informasi yang update.

    Alternatif lain adalah beli langsung ke Manajer Investasi, sepengetahuan saya, beberapa reksa dana yang minimum investasinya seperti yang anda sebutkan bisa ke Manulife, Panin, Danareksa, Ciptadana dan Trimegah. Mungkin masih ada yang lainnya, tapi kebetulan saya pernah memiliki reksa dana di atas dan sepertinya dengan angka yang bapak sebutkan tadi masih diterima.

    Semoga bermanfaat.

  10. Chrispinus
    October 28th, 2010 at 17:32 | #10

    Yth Pak Rudiyanto,
    Terima kasih atas artikelnya. Memang saya sudah perhatikan Panin Dana Maksima selalu berusaha menerobos batasan. Hanya saja di Kontan kalau saya tidak salah baca, Panin Dana Maksima dikelompokan ke dalam strategi defensif? Saya ada baca-baca kemarin fundfact sheet nya. Itu hasil Sharpe IHSG nya sebagai pembanding koq bukan satu? Mungkin ada kebijakan dari MI nya ya. Cuman agak rancu baca fund fact sheetnya.

    Mengenai biaya / fee subscribe, memang tergantung ya Pak. Saya setuju dengan bapak. Kalau masuk Billions (milyar) memang fee nya kecil, bisa gratis pula. Saya termasuk yg dapat fee minim. Kecuali utk RD Saham, bank saya tetap pasang fee sesuai tarif tapi utk redemption nya free (meski di prospektus disebut fee sekian persen). Betul Pak di Mangga Dua ada seribu satu macam bank asing dan lokal, di sana price war dan facility war sekali. Imho mungkin bapak bersedia japri (email pribadi) ke saya Bank Asing / lokal yang cukup menarik kasih fasilitas minim fee?

  11. vino
    October 29th, 2010 at 01:39 | #11

    Dear Bapak Rudiyanto,
    Pak Rudi, menyangkut evaluasi Reksadana, ada hal yang ingin saya tanyakan…
    Mungkin sebagai masukan untuk dibahas Pak, saya hanya ingin tau apa yang terjadi jika reksadana saham sudah terlampau mahal? Secara psikologis mungkin mempengaruhi pembeli reksadana, namun juga saya dengar terdapat teknik splitting untuk merendahkan kembali harga reksadana. Namun teknisnya saya tidak tau bagaimana. Saya harap ada pembahasannya Pak di lain waktu, Terima kasih.

    salam
    Vino

  12. October 29th, 2010 at 03:02 | #12

    @Chrispinus
    Yth Chrispinus,

    Agresif, Moderat dan Konservatif merupakan salah satu hasil riset infovesta untuk menentukan bagaimana karakteristik risiko suatu reksa dana. Hingga saat ini. penelitian tentang itu masih dalam pengembangan.

    Sharpe Ratio IHSG (Market) itu tidak harus satu karena rumusnya adalah (Return – Risk Free) dibagi Standar Deviasi. Yang harus satu itu Beta IHSG.

    Kalau bank baiknya anda bisa window shopping, soalnya kebijakan fee bisa berubah-ubah. Rekomendasi dari Pak Januar di atas mungkin bisa anda lihat juga. Kalau saran saya, yang pertama lihat kinerja, baru lihat biaya. Buat apa punya reksa dana yang biaya masuknya gratis tapi kinerjanya ga bagus.

  13. October 29th, 2010 at 03:17 | #13

    @vino
    Yth Pak Vino,

    Di artikel Reksa Dana Mahal, Reksa Dana Murah.. (1), sudah dijelaskan bahwa dari sisi harga reksa dana tidak ada yang namanya mahal atau murah karena jumlah uang yang dibutuhkan sama.

    Jika seandainya “Mahal” yang anda maksud adalah valuasi harga saham yang terlalu mahal yang diukur dengan metode seperti PER (Price Earning Ratio) atau PBV (Price Book Ratio) atau metode2 lainnya yang bisa anda baca di harian bisnis atau kontan itu memang benar membuat investor khawatir. Ada yang masuk, kemudian cepat2 keluar (profit taking) ada juga yang menunda berinvestasi sampai kondisi benar2 jelas.

    Mengenai splitting, ada yang namanya Stock Split, misalnya harga sahamnya 20.000 karena minimum beli 1 lot (500 lembar) maka minimum uang yang harus keluar 500 x 20.000 = 10 juta. Supaya bisa terjangkau buat investor kecil, di split jadi 2.000, minimum beli menjadi 2 juta (dulu saham ANTAM kalau saya tidak salah).

    (hingga saat ini) Tapi tidak ada yang namanya Mutual Fund Split. karena pembelian reksa dana itu tidak pakai minimum lot atau lembar tapi jumlah investasi. Misalnya kalau minimumnya Rp 500rb, mau harganya Rp 2.000, Rp 20.000 atau Rp 200.000 tetap bisa anda beli dengan uang Rp 500rb. Dan karena tidak ada yang namanya mutual fund split pula, maka Manajer Investasi tidak boleh dan tidak dapat melakukan hal tersebut karena tidak tercantum dalam peraturan.

    Semoga penjelasan ini dapat menjawab pertanyaan anda terima kasih.

  14. November 1st, 2010 at 03:46 | #14

    Yth, Bapak Rudiyanto
    Sekitar 2 minggu yang lalu setelah saya membaca Window Dressing Reksadana Saham 2010 di tabloid kontan saya memutuskan membeli 3 reksadana saham yaitu BNP Paribas Ekuitas, Mandiri Investa Atraktif & Schroder Dana Prestasi Plus, mudah2an diakhir tahun saya bisa memperoleh gain lumayan. Thanks informasinya.

  15. November 1st, 2010 at 05:10 | #15

    @Bambang Februamitto
    Yth Pak Bambang,

    Semoga sukses juga dengan investasinya.

  16. November 2nd, 2010 at 08:01 | #16

    @Rudiyanto,
    Iya, memang benar … Commbank sangat murah, bahkan mengklaim sebagai supermarket Reksadana, jika dihitung2 secara kasar, bahkan untuk tukang becak yang mau menyisihkan uang rokoknya tiap hari bisa rutin ber-CommInvest tiap bulan di Reksadana ;-)
    Saya pun, yang sedang mulai belajar berinvestasi di reksadana merasakan kemudahannya di Commbank, bukan bermaksud promosi, bahkan dibandingkan dengan bank lain … pemahaman CSO-nya tentang reksadana memang cukup baik dibanding bank lain pada umumnya.

  17. Agustina
    November 5th, 2010 at 07:21 | #17

    Pak Rudiyanto Yth.,

    Setelah membaca artikel ini, saya tertarik untuk berinvestasi pada reksa dana saham, tetapi tidak tahu kapan waktunya untuk membeli. Apakah saya langsung beli saja sekarang (pada saat IHSG sedang tinggi-tingginya) atau menunggu pada saat IHSG turun (pada kisaran IHSG berapa)? Terima kasih.

    Agustina

  18. November 5th, 2010 at 17:17 | #18

    @Agustina
    Yth Ibu Agustina,

    Kebetulan di kantor kami juga ada staf bernama Ibu Agustina. Pasti ulang tahunnya juga pada Bulan Agustus.

    Prinsip pertama untuk membeli reksa dana adalah Sehat secara keuangan dulu, mau seperti apapun kondisi IHSGnya. Nah, kalau anda sudah sehat, baru kita lakukan analisis lebih jauh.

    Setelah sehat, maka langkah kedua adalah menentukan anda masuk dalam kategori investor apa, apakah Capital Accumulation atau Capital Preservation.

    Untuk orang yang masuk dalam tahapan Capital Accumulation, terkadang tidak memiliki pilihan. sebab menunda masuk (karena khawatir IHSG terlalu tinggi, etc) akan menyebabkan semakin besar kemungkinan anda tidak bisa mencapai tujuan keuangan. Oleh karena itu, sebaiknya disesuaikan dengan nilai investasinya. Misalnya (ini contoh saja karena saya tidak tahu seperti apa persisnya kondisi anda), anda setelah melakukan perencanaan keuangan, diperoleh informasi harus investasi Rp 5 juta per bulan supaya bisa pensiun dengan gaya hidup tertentu. Namun karena khawatir dengan kondisi, anda bisa coba masukkan 2 – 3 juta dulu sambil terus memantau situasi, jika kondisi IHSG lebih pasti, maka sebaiknya sisa 2 – 3 juta yang tidak dimasukkan bisa diinvestasikan sekaligus pada kondisi yang tepat (misalnya ada penurunan di IHSG atau IHSG sudah pasti akan naik tinggi lagi).

    Untuk kategori Capital Preservation, anda harus belajar membaca beberapa indikator makro ekonomi yang erat kaitannya dengan pergerakan harga saham. Salah satunya saya rencanakan akan saya publikasi dalam waktu dekat mendatang. Pada dasarnya indikator tersebut mencerminkan seperti apa kondisi bursa saham kita, dan dalam kondisi tersebut apa yang sebaiknya dilakukan oleh investor. Ditunggu saja artikelnya.

    Satu lagi yang penting, kebanyakan investor kalau saya perhatikan, setiap kali bilang reksa dana, selalu mengarah ke reksa dana saham, sebetulnya masih ada jenis reksa dana lain yang tidak kalah menarik seperti pendapatan tetap, terproteksi dan campuran. Dalam kondisi-kondisi tertentu, jenis reksa dana tersebut bisa melindungi anda dari penurunan signifikan di bursa saham. Poin saya, perluas pilihan, jangan terlalu terfokus pada 1 jenis reksa dana.

    Semoga bermanfaat bagi anda. Terima kasih

  19. Wempy
    February 10th, 2011 at 10:23 | #19

    Pak Rudiyanto Yth.,

    Bagaimana menurut Bpk, apakah saat ini merupakan saat yang tepat untuk Buy Reksa Dana ? Apabila waktunya belum tepat, kapan kira-kira waktu yang dirasakan tepat untuk buy ?
    Jenis Reksa Dana apa yang menjadi pilihan paling tempat untuk saat ini ( Saham / Tetap / Terproteksi / Campuran ) ? Saya sendiri termasuk orang yang agresif.

    Salam Sukses

  20. andreas
    February 14th, 2011 at 17:18 | #21

    pak rudi, RD saham yg kinerjanya bagus selama 3-5 tahun terakhir apakah bisa dijadikan patokan bahwa RD saham tersebut akan bagus kinerja di tahun-tahun berikutnya? kinerja bagus khan mestinya karena dikelola oleh fund manager yg bagus pula. Apakah RD tersebut layak di beli? RD saham dari perusahaan mana yang menurut bapak layak dibeli? Terimakasih sebelumnya

  21. February 16th, 2011 at 08:05 | #22

    @andreas
    Yth Pak Andreas,

    Apakah kinerja masa lalu bisa menjadi kinerja masa depan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut saya analogikan sebagai berikut: Jika anda adalah pemilik suatu perusahaan yang sedang mencari calon karyawan, apakah anda akan memilih Fresh Graduate yang nilainya Cum Laude saat kuliah atau calon yang nilainya biasa-biasa saja?

    Memang Cum Laude bukanlah jaminan calon karyawan tersebut pasti akan memberikan kontribusi yang paling baik bagi perusahaan. Selain itu, prestasi akademis juga bukanlah satu-satunya kriteria penilaian masuk tidaknya seorang karyawan. Tapi dengan prestasi akademis yang bagus, paling tidak calon karyawan sudah memiliki “track record” yang bagus pula.

    Untuk reksa dana yang layak dibeli, Infovesta mengambangkan suatu metode peratingan yang digunakan untuk menilai kinerja reksa dana. Mudah2an dalam waktu dekat, hasil rating tersebut bisa dipublikasikan di media Kontan. Setelah dipublikasikan, mudah2an pertanyaan anda bisa terjawab.

  22. December 26th, 2011 at 03:43 | #23

    Dear Pak Rudi

    kalau boleh bisakah saya minta jurnal/riset infovesta terkait penentuan karakter reksadana Agresif, Moderat dan Konservatif, sebagai dasar rujukan tugas akhir saya.?

    atau mungkin bila ada rujukan lain mengenai karakter reksadana saham tersebut yang membagi dengan kriteria yang serupa (agresif, moderat, konservatif).. apakah sama dengan kriteria aggresive – aggresive growth.?

    terima kasih

  23. December 26th, 2011 at 21:40 | #24

    @Fajar
    Salam pak Fajar,

    Sebetulnya bentuk riset kita adalah artikel yang dikemukakan pada media massa seperti Tabloid Kontan. Jadi bapak bisa mencarinya di artikel e-paper kontan, saya juga lupa tapi sepertinya kalau bukan edisi awal tahun, itu edisi tahun sebelumnya. Coba diback date saja. http://epaper.kontan.co.id/

    Karakter reksa dana saham menjadi agresif, moderat atau konservatif itu sebetulnya tidak ada patokan yang harus berapa. Anda bisa mengelompokkan berdasarkan metode statistik, kewajaran, konsistensi atau faktor lainnya yang menurut anda (dosen anda) bisa digunakan.

    Terus terang baru kali ini saya mendengar istilah Aggresive – Aggresive Growth, namun jika istilah Growth pada saham, itu dimaksudkan untuk saham perusahaan yang memiliki potensi pertumbuhan yang tinggi karena perusahaan tersebut (umumnya) berupa perusahaan kecil. Jadi lebih ke fundamental. Sementara artikel saya (seingat saya) hanya membahas risiko secara kuantitatif tanpa melihat fundamentalnya.

    Semoga bermanfaat.

  24. December 26th, 2011 at 21:47 | #25

    @Fajar
    Ngomong2 blog anda sangat bagus, mudah2an saya sempat pergi ke tempat-tempat yang anda tulis kalau nanti ada kesempatan ke yogyakarta.

  25. December 27th, 2011 at 08:06 | #26

    terima kasih pak Rudi.. :)

  1. No trackbacks yet.

 


%d bloggers like this: