Home > Belajar Reksa Dana > Apakah NAB = Harga Reksa Dana?

Apakah NAB = Harga Reksa Dana?

Dalam berinvestasi reksa dana, dikenal dengan istilah NAB. Informasi tersebut juga dapat dilihat di koran-koran bisnis seperti Kontan, Bisnis Indonesia, Seputar Indonesia, dan atau website seperti www.infovesta.com. Ketika investor ingin membeli dan menjual reksa dana yang dimilikinya, biasanya mereka juga akan menanyakan berapa NAB suatu reksa dana untuk memperkirakan jumlah unit atau perkiraan keuntungan yang akan mereka peroleh. Apakah NAB = Harga Reksa Dana?

Kenyataannya

NAB merupakan kepanjangan dari Nilai Aktiva Bersih dan BUKAN mencerminkan harga suatu reksa dana. NAB menunjukkan berapa besar nilai aset yang dikelola dalam suatu reksa dana. Istilah yang benar untuk menyatakan harga suatu reksa dana yaitu NAB/UP (Nilai Aktiva Bersih Per Unit Penyertaan). Istilah “NAB” yang dipakai dalam praktek sehari-hari disebabkan karena penyebutannya yang lebih mudah cukup NAB tidak perlu “NAB Per UP”.

Kata NAB mengadaptasi istilah dari Amerika yaitu Net Asset Value (NAV). Istilah ini sering digunakan dalam publikasi, laporan atau riset yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai Bahasa pengantar.

Karena sering digunakan, kata NAB yang sebenarnya menunjukkan besarnya jumlah dana yang dikelola sudah “dianggap” sebagai harga reksa dana meski kurang tepat. Untuk membedakan harga dengan jumlah aset yang dikelola, kami menggunakan istilah AUM (Asset Under Management) atau Jumlah Dana Kelolaan dalam bahasa Indonesia. Jadi ketika kami menyebut suatu reksa dana mengelola dana Rp 2 triliun, kami mengatakan “AUMnya Rp 2 triliun”. Kalau menyebutkan “NABnya Rp 2 Triliun” investor bisa bahagia dan terbang ke langit tujuh karena dikira harganya tumbuh dari Rp 1.000 ke Rp 2 triliun.

Istilah yang berkaitan dengan reksa dana terkait tentang harga, jumlah dana kelolaan dan aktivitas jual beli investor yang tepat adalah sebagai berikut:

NAB = Nilai Aktiva Bersih yang menyatakan berapa jumlah dana yang dikelola oleh suatu reksa dana. Jumlah dana dikelola tersebut sudah mencakup kas, deposito, saham dan obligasi. Dalam penyebutannya, saya menggunakan AUM (Asset Under Management).

Unit Penyertaan = Adalah satuan yang digunakan dalam investasi reksa dana. Ketika investor membeli reksa dana, dikatakan investor membeli Unit Penyertaan dari Manajer Investasi, ketika investor menjual reksa dana, dikatakan investor menjual Unit Penyertaan kepada Manajer Investasi. Semakin besar Jumlah Unit Penyertaan, berarti semakin banyak pula investor yang berinvestasi pada suatu reksa dana.

NAB/UP = Nilai Aktiva Bersih per Unit Penyertaan menyatakan harga suatu reksa dana. Pada harga ini kegiatan transaksi reksa dana dilakukan. Berbeda dengan saham dan obligasi, dimana investor sudah mengetahui berapa harga pada saat transaksi dilakukan, investor reksa dana baru mengetahui harga reksa dana pada keesokan harinya (transaksi sebelum jam 12 siang per hari ini) atau bisa keesokan harinya lagi apabila transaksi dilakukan setelah jam 12 siang.

Berikut ini adalah cuplikan dari suatu fund fact sheet reksa dana yang mendeskripsikan dengan jelas NAB, Unit Penyertaan dan NAB/Up:

Klik gambar untuk melihat lebih jelas.

Pada bagian Nilai Aktiva Bersih, dapat dilihat bahwa:
NAB dari TRIM Kapital Plus pada Bulan Juni adalah 382,73 Milliar naik menjadi Rp 389,09 Milliar pada Bulan Juli. Artinya total jumlah dana kelolaan yang mencakup kas dan instrumen investasi bertambah pada bulan Juli sebesar 6.36 milliar atau 1.66%.

Nilai Aktiva bersih per Unit (NAB/UP) pada bulan Juni 1.864,66 dan naik menjadi 1.931,44 pada bulan Juli. Artinya investor yang membeli TRIM Kapital Plus pada Bulan Juni dan menjualnya pada bulan Juli sudah mengalami keuntungan sebesar selisih 66,78 atau 3.58%.

Unit Penyertaan pada bulan Juni sebanyak 205.26 juta dan turun menjadi 201.45 juta pada bulan Juli. Unit Penyertaan bertambah karena investor melakukan investasi dan berkurang karena investor menjual investasinya. Dalam kasus di atas, berarti pada bulan Juli, investor yang menjual investasi lebih banyak dibandingkan investor yang membeli investasi reksa dana, akibatnya jumlah unit penyertaan turun.

Kesimpulannya, pada saat anda menanyakan harga, tanyalah NAB/Up reksa dana. Pada saat anda membaca berita di koran NAB reksa dana Naik atau Turun, jangan panik, itu bukan berarti anda untung atau rugi akan tetapi jumlah dana kelolaannya naik atau turun dan itu tidak berkaitan dengan untung atau rugi anda. Pada saat anda ingin melihat suatu reksa dana juga banyak dimiliki oleh investor lain atau tidak, lihatlah Jumlah Unit Penyertaannya.

Penyebutan produk investasi di atas tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis.

“Melakukan copy & paste artikel berita ini dan atau mendistribusikan ulang melalui situs atau blog Anda tanpa izin tertulis adalah melanggar Hak Cipta / Copyright ©”

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:
  1. rani
    January 11th, 2016 at 15:36 | #1

    @Rudiyanto
    siap pak terima kasih

  2. Abdul halim
    January 14th, 2016 at 22:38 | #2

    Salam hormat pak..
    Mohon bantuan.
    Untuk melihat harga per-unit reksadana pada saat kita membeli bagaimana pak.?
    Misalnya hari ini saya membeli reksadana bahana dana likud sebesar 100.000, berapa unit portofolio yg saya dapatkan.?
    Terimakasih, mohon di balas email saya.

  3. Rudiyanto
    January 15th, 2016 at 13:28 | #3

    @Abdul halim
    Selamat Siang Pak Abdul Halim,

    Kalau harga per unit reksa dana, biasanya bisa dicek pada agen penjual atau website manajer investasi yang bersangkutan. Anda juga bisa melihat di website http://www.infovesta.com

    Kalau untuk transaksi pembelian bisa baca http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/11/17/071219326/Ini.Cara.Menghitung.Transaksi.Reksa.Dana

    Semoga bermanfaat

  4. diego
    March 1st, 2016 at 20:14 | #4

    faktor apa saja pa yang mempengaruhi NAB? tks

  5. Rudiyanto
  6. hidayah
    March 21st, 2016 at 05:36 | #6

    Dear Pak Rudi, saya baru belajar mengenai reksadana. setelah saya searching ada ungkapan bahwa semakin besar pertumbuhan AUM maka petumbuhan return berpotensi melambat. mengapa bisa seperti itu pak? mohon bantuannya pak.Terima kasih.

  7. Rudiyanto
    March 21st, 2016 at 13:25 | #7

    @hidayah
    Selamat Siang Pak Hidayah,

    Untuk pertanyaan tersebut, berikut referensi artikel yang bisa anda baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/05/09/apakah-besarnya-jumlah-dana-kelolaan-berpengaruh-terhadap-kinerja-reksa-dana-saham/

    Semoga bermanfaat

  8. Chory
    May 9th, 2016 at 06:52 | #8

    Salam pak Rudi, saya mahasiswi yang sedang mengambil skripsi tentang RDS. saya ingin bertanya apakah ada teori dalam buku yang menjelaskan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi Reksa Dana? Terimakasih pak.

  9. Chory
    May 9th, 2016 at 06:55 | #9

    @Chory
    karena dalam buku bapak tidak saya temukan, faktor tersebut di pertanyakan penguji dan harus menurut teori dalam buku yang ada. terimakasih pak sekali lagi

  10. Rudiyanto
    May 9th, 2016 at 23:42 | #10

    @Chory
    Selamat malam Ibu Chory,

    Kalau teori saya tidak tahu, tapi yang membuat harga reksa dana naik atau turun bisa dibaca di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/11/09/back-to-basic-memahami-mekanisme-naik-turunnya-harga-reksa-dana/

    Semoga bermanfaat

  11. Rezki
    June 1st, 2016 at 09:48 | #11

    Maaf pak saya ingin bertanya cukup banyak, karena saya cukup tertarik dengan reksadana ini
    1. Kalau dilihat dari penjelasan dan artikel bapak, dalam berinvestasi di reksadana ini keuntungan yang kita dapat, murni dari selisih nab awal kita berinvestasi dengan nab saat ingin melakukan penarikan. Pertanyaan saya ketika berinvestasi uang kita akan berubah menjadi unit penyertaan sesuai dengan jumlah investasi dibagi dengan nilai NAB, apakah setelah jangka waktu tertentu unit penyertaan kita juga bertambah sesuai pertambahan NAB atau tetap? Jika tetap apakah berarti kita harus terus mengawasi pertambahan NAB dan melakukan transaksi penjualan dan pembelian agar dana kita berkembang dengan baik.
    2. Disalah satu artikel saya membaca bahwa ketika produk reksadana pertama kali dibuka atau diluncurkan NABnya adalah 1000. Apakah berarti ketika saya melihat suatu produk reksadana NABnya bernilai dibawah 1000, produk tersebut mengalami kerugian. Apakah ada batas atas Nilai aktiva bersih dari suatu produk reksadana sehingga ketika suatu produk menyentuh batas tersebut nilainya akan diubah menjadi 1000 kembali?
    3. NAB atau NAV yang menjadi patokan nilai investasi kita, apakah mungkin dapat bertambah ataupun berkurang cukup drastis dalam satu hari, misalnya di hari senin Nab produk xyz 1234,56 kemudian dihari selasa pukul 13.00 Nab produk menjadi 1235,67?
    Terima kasih pak, mohon bantuannya

  12. Rudiyanto
    June 2nd, 2016 at 10:04 | #12

    @Rezki
    Selamat pagi Pak Rezki,

    Sehubungan dengan pertanyaan anda :
    1. Jumlah unit penyertaan tidak dapat bertambah. Dulu untuk jenis reksa dana pasar uang memang sempat bisa karena harganya dipatok 1000 dan keuntungannya dibagikan dalam bentuk kenaikan unit. Namun perhitungan tersebut dianggap sangat merepotkan sehingga untuk reksa dana pasar uang diganti menjadi sistem naik turunnya harga seperti reksa dana pada umumnya.

    Jadi menegaskan kembali, jumlah unit penyertaan tidak dapat bertambah atau berkurang apabila tidak ada transaksi pembelian dan penjualan dari para investornya. Yang harus anda perhatikan adalah persentase perubahan harga NAB/Upnya

    2. Definisi kerugian adalah relatif. Sebab anda perlu melihat perbandingan waktunya. Misalkan per 1 Juni 2016 harga reksa dana A adalah Rp 800 dan reksa dana B adalah Rp 1800. Apakah reksa dana B pasti lebih baik dari reksa dana A? Belum tentu, bisa saja 1 tahun yang lalu harga reksa dana A adalah Rp 600 sehingga naik Rp 200 sementara harga reksa dana B adalah Rp 2000 sehingga turun Rp 200.

    Reksa dana A dan B akan sebanding apabila terbit di tanggal yang bersamaan. Apabila tanggal penerbitannya berbeda, maka sebaiknya menggunakan perbandingan persentase perubahan di tanggal yang sama.

    Tapi memang benar, jika harganya di bawah Rp 1000, berarti turun dibandingkan harga penerbitannya pertama kali. Tidak ada ketentuan atau batas tertentu yang menyebabkan harganya akan kembali ke Rp 1000. Yang menentukan harganya adalah pergerakan harga saham dan obligasi serta pelaksanaan dari strategi investasinya.

    3. Bisa saja, tergantung perubahan harga saham dan obligasi. Apabila harga saham turun 20%, maka harga reksa dana atau NAB/Up juga bisa turun 20% atau bahkan lebih.

    Semoga bermanfaat

  13. Budi
    November 6th, 2016 at 10:42 | #13

    @Rudiyanto

    Salam Pak Rudi,
    Saya ingin bertanya untuk memastikan, jumlah reksa dana itu tidak sama dengan unit penyertaan bukan? Jumlah reksa dana yg dimaksud dalam situs ojk merupakan perusahaan manajer investasi spt (danreksa, panin AM, dll)?

    Apakah jika jumlah reksa dana meningkat drastis tetapi jumlah NAB menurun bisa dikatakan sebuah fenomena?

    Saya juga ingin bertanya pak, saya disuruh untuk mencari fenomena ttg variabel independen saya yaitu fund age, market timing, stock selection, dan portfolio turnover terhadap kinerja reksa dana syariah saham. Saya bingung untuk melihat dari apa (tolak ukur) serta bagaimana cara melihat tolak ukur tsb sehingga menyebabkan saya memilih variabel independen tadi untuk mengukur kinerja reksa dana syariah saham. Sedangkan jika saya mengukur masing2 variabel tsb, secara tidak langsung hal tsb sudah menjawab penelitian saya tentang signifikansi pengaruh variabel diatas terhadap kinerja reksa dana syariah saham.

    Mohon bimbingannya pak. Terima kasih

  14. Rudiyanto
    November 14th, 2016 at 18:06 | #14

    @Budi
    Salam Pak Budi,

    Benar jumlah reksa dana tidak sama dengan jumlah unit penyertaan. Judulnya juga sudah berbeda bukan.

    Kalau jumlah reksa dana meningkat tapi NAB turun itu kejadian biasa dalam pasar modal. Tidak ada yang khusus. Orang berinvestasi dan menarik keuntungannya. Maka wajar NAB bisa naik dan turun.

    Mengenai fenomena tersebut silakan berkonsultasi dengan dosen pembimbing anda.

    Terima kasih

  15. HenhenYs
    December 13th, 2017 at 13:59 | #15

    Pak Rudi apakah NAB suatu reksadana selalu diawali dg nila NAB Rp.1000,- ataukah bisa berapa Saja sesuai dg yang ditetapkan oleh Fund Manager Reksa Dana? terimakasih

  16. Maulida
    December 14th, 2017 at 22:40 | #16

    Salam pak rudi,
    Saya mau bertanya saya sedang melakukan skripsi tentang reksadana saham syariah dan konvensional menggunakan metode sharpe tapi susah mencari return reksadananya. Kalo boleh tau kira-kira dimana ya bisa mendapatkan datanya?

  17. Rudiyanto
    December 18th, 2017 at 00:32 | #17

    @HenhenYs
    Selamat malam ibu Henhenys,

    Umumnya harga reksa dana atau dimasyarakat dikenal NAB per Up, selalu dimulai dari Rp 1000. Pengecualian bisa berlaku untuk reksa dana USD yang dimulai dari 1 dan reksa dana ETF yang dimulai sesuai permintaan manajer investasi. Misalkan ETF tentang LQ-45, ada kemungkinan manajer investasi menggunakan angka yang sama dengan Indeks LQ-45 agar investor mudah melihat perbanidngan antara kinerja indeks tersebut dengan ETF.

    Terima kasih

  18. Rudiyanto
    December 18th, 2017 at 00:36 | #18

    @Maulida
    Salam ibu Maulida,

    Bisa coba cari referensinya di artikel lama ini http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/arsip-artikel/

    Semoga bermanfaat

  19. Hendry
    January 6th, 2018 at 11:38 | #19

    Salam Pak Rudiyanto,

    Saya mau bertanya, yang pertama beberapa bulan yang lalu saya membeli produk reksadana saham dengan cara lump sum, dan ketika saya jual beberapa bulan kemudian sekaligus sebagai “test”kenapa justru nilai modal awal yang tergerus yaitu sebesar yang ingin saya cairkan. Padahal besaran nominal yang saya cairkan tersebut masih lebih kecil dari selisih NAB nya, sehingga logikanya nilai modal awal saya masih tetap atau bahkan lebih sedikit. Apakah ada kaitannya karena saya hanya menjual sebagian tidak sekaligus semuanya?
    Berbeda dengan produk reksadana terproteksi yang saya beli, pembagian dividennya secara periodik namun tidak mengurangi modal awal. Mohon pencerahan dari Pak Rudi. Terima kasih.

  20. Rudiyanto
    January 14th, 2018 at 20:01 | #20

    @Hendry
    Selamat malam pak Hendry,

    Pertanyaan anda memang juga menjadi pertanyaan investor reksa dana pada umumnya. Hal ini disebabkan karena pencatatan modal investasi reksa dana menggunakan pendekatan akuntansi dengan cara harga rata-rata.

    Misalkan :
    Anda beli reksa dana saham Rp 100 juta pada harga 1000 sehingga memperoleh 100.000 unit
    Seiring dengan perkembangan, harga reksa dana naik menjadi Rp 1250 sehingga nilai investasi anda menjadi Rp 125 juta.

    Karena merasa sudah untung Rp 25 juta anda menjual sebanyak Rp 25 juta di reksa dana. Hal ini sangat umum dilakukan oleh para investor.

    Bagi yang awam soal akuntansi, tentu yang terbayang ketika melakukan cek saldo, pokoknya tetap tertulis Rp 100 juta karena yang dijual hanya keuntungannya saja.

    Namun dengan pencatatan mengikuti kaidah akuntansi, ketika yang dijual senilai Rp 25 juta, yang dilihat bukan nilai penjualan tapi berapa unit yang dijual.

    Dengan harga Rp 1250 dan penjualan sebesar Rp 25 juta, maka unit yang dijual adalah sebanyak Rp 25 juta / 1250 = 20.000 unit.

    Sebelumnya anda memiliki reksa dana sebanyak 100.000 unit dengan harga beli Rp 1000. Karena berkurang 20.000 unit, maka sisa saldo anda adalah 80.000 unit. Dikalikan dengan harga beli rata-rata yaitu Rp 1000, maka menjadi Rp 80.000.0000. Sementara nilai pasarnya 80.000 unit x Rp 1250 = Rp 100.000.000

    Itulah yang terjadi dalam perhitungan saldo dan modal investasi reksa dana.

    Berapakah keuntungan yang terjadi dalam penjualan tersebut ?
    Investor tentu berpikirnya Rp 25 juta. Namun secara akuntansi, keuntungannya dihitung dengan cara sebagai berikut :
    Unit yang dijual x (harga pasar – harga beli)
    20.000 x (1250 – 1000)
    20.000 x 250 = Rp 5 juta

    Jadi keuntungan secara akuntansi dari transaksi penjualan tersebut adalah Rp 5 juta bukan Rp 25 juta.

    Apakah salah menganggap Rp 25 juta sebagai keuntungan? Sebenarnya tidak masalah. Karena mau Rp 25 juta atau Rp 5 juta, penghasilan dari reksa dana itu adalah bukan objek pajak.

    Dalam konteks investasi di reksa dana terproteksi, mengapa ketika ada pembagian dividen pokoknya tetap Rp 100 juta. Hal ini agak berbeda karena dividen yang dibagikan dalam reksa dana terproteksi bukan didapat dengan “menjual” unit penyertaan.

    Karena unit penyertaan di reksa dana terproteksi tetap, maka semua dividen yang dibagikan bisa dianggap sebagai keuntungan dalam investasi.

    Semoga bisa menjawab pertanyaan anda.

    Terima kasih

Comment pages
1 3 4 5 6 70
  1. No trackbacks yet.

 


%d bloggers like this: