Investasi Reksa Dana di Tahun Politik

January 11th, 2019 No comments

Penyelenggaraan pesta demokrasi yaitu PEMILU dan Pilpres secara serentak tinggal menunggu hitungan bulan. Tensi politik juga terus meningkat seiiring dengan semakin banyak aktivitas kampanye menjelang pemilihan. Bagaimana dengan hasil investasi reksa dana di tahun politik?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, pembahasan akan dilakukan dari 2 aspek yaitu referensi data historis kinerja reksa dana di tahun politik dan fundamental dari aset dasar reksa dana.

Reksa dana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif pertama terbit dari tahun 1997 dan sudah berkembangan hingga ribuan produk pada tahun 2019 ini.

Mengacu kepada sejarah PEMILU di Indonesia yang terselenggara setelah tahun 1997 adalah PEMILU 1999, PEMILU dan Pilpres di 2004, 2009, dan 2014. Selain PEMILU, sebenarnya juga terdapat ratusan penyelenggaraan Pilkada, namun karena skalanya masih bersifat lokal.

Dengan mempertimbangkan perhitungan rata-rata kinerja reksa dana yang dilakukan oleh lembaga riset Infovesta baru dilakukan mulai tahun 2000, maka evaluasi terhadap referensi kinerja historis reksa dana pada tahun politik disajikan pada tahun 2004, 2009, dan 2014.

Dari sisi outlook, sebagaimana diketahui Bank Sentral Amerika Serikat mulai memberikan statement bahwa kebijakan suku bunga di 2019 akan lebih memperhatikan data ekonomi. Aliran dana asing juga kembali masuk dengan deras ke Indonesia.

Seperti apa kinerja reksa dana di tahun politik dan bagaimana outlook untuk aset dasarnya?

Untuk lebih lengkapnya silakan baca

https://rudiyanto.blog/2019/01/10/investasi-reksa-dana-di-tahun-politik/

Categories: Pendapat Tentang Makro Ekonomi Tags:

Prediksi Return Reksa Dana Pendapatan Tetap Dengan Yield Obligasi

January 2nd, 2019 No comments

Prediksi untuk return reksa dana berbasis saham biasanya lebih mudah ditemui karena menggunakan IHSG sebagai acuan. Bagaimana dengan reksa dana pendapatan tetap yang aset dasarnya obligasi?

Jika anda seorang analis, dosen, atau peneliti di universitas, tidak sulit untuk menemukan literatur atau buku yang membahas tentang prediksi harga / return saham. Ada yang menggunakan rata-rata statistik, fundamental berdasarkan rasio keuangan, dan atau data-data makro ekonomi seperti nilai tukar, GDP dan sebagainya.

Namun untuk mencari literatur yang membahas tentang prediksi return obligasi amat jarang. Mengapa? Sebab secara prinsip obligasi memiliki besaran kupon yang tetap dan tanggal jatuh tempo yang sudah pasti. Return obligasi sederhananya sudah tidak perlu diprediksikan lagi, cukup menjadikan kupon sebagai tingkat return dan sudah pasti (kecuali perusahaan gagal bayar).

Dalam kasus jika obligasi dibeli pada harga pasar yang bisa di atas atau di bawah nilai nominal (par value) ada metode Yield to Maturity (YTM) yang menghitung besaran tingkat keuntungan obligasi dari kupon dan selisih harga jika dipegang sampai jatuh tempo.

Secara matematis, jika obligasi dibeli pada nilai nominal, maka besaran YTM akan sama dengan kupon. Jika di atas nilai nominal (at premium) maka YTM lebih kecil dari kupon dan sebaliknya jika di bawah nilai nominal (at discount) maka YTM lebih besar dari kupon.

Jadi yang namanya return obligasi itu sebetulnya tidak perlu lagi diprediksikan karena sudah bisa dipastikan. Risiko paling besar adalah jika perusahaan ternyata gagal bayar meskipun secara persentase, jumlahnya jauh lebih kecil dibandingkan perusahaan yang melunasi kewajibannya.

Yang menjadi permasalahan adalah ketika instrumen obligasi tersebut dijadikan aset dasar reksa dana terutama jenisnya reksa dana pendapatan tetap.

Karakter dari reksa dana dan saham pada dasarnya sama yaitu tidak ada jatuh tempo. Investor bebas melakukan pembelian dan penjualan reksa dana.

Jika terjadi pembelian reksa dana, maka manajer investasi harus membeli obligasi baru untuk dijadikan aset dasar, sebaliknya ketika ada penjualan reksa dana, manajer investasi harus menjual isi obligasinya. Alhasil isi obligasi dalam reksa dana pendapatan tetap bisa berubah dari waktu ke waktu.

Kupon dan Yield to Maturity bisa dijadikan sebagai tingkat return, jika dan hanya jika investor memegang obligasi hingga jatuh tempo. Namun mengingat karakteristik reksa dana yang tidak memungkinkan untuk hal tersebut, maka kedua metode ini tidak dapat digunakan untuk memprediksikan kinerja reksa dana pendapatan tetap.

Secara historis, dengan kupon yang tetap sekalipun, reksa dana pendapatan tetap juga bisa membukukan kinerja return negatif. Sebagaimana pada tabel di bawah ini, kinerja negatif terjadi pada tahun 2005, 2013 dan 2018.

Tahun Rata-rata Reksa Dana Pendapatan Tetap
2005 -1.67%
2006 17.73%
2007 7.98%
2008 4.12%
2009 12.51%
2010 13.00%
2011 12.32%
2012 7.72%
2013 -4.53%
2014 7.85%
2015 3.00%
2016 8.02%
2017 10.72%
2018 -2.20%

Sumber: Infovesta.com, diolah

Dari data tabel di atas, juga menunjukkan tahun-tahun dimana return reksa dana pendapatan tetap sempat mencapai dua digit atau belasan persen. Memang pada waktu itu, kupon obligasi juga sempat dua digit, namun tidak sampai sebesar itu.

Dari data return yang positif dan negatif, hal ini menunjukkan bahwa pengaruh perubahan harga obligasi terhadap return reksa dana pendapatan tetap juga cukup dominan. Bahkan terkadang, penurunan harga bisa menghilangkan efek dari kupon obligasi.

Untuk itu, dalam memprediksi return reksa dana pendapatan tetap, sangat penting untuk bisa mencari tahu terlebih dahulu faktor yang dapat mempengaruhi perubahan harga obligasi.

Bagaimana caranya ? Untuk pembahasan lebih lengkap silakan baca dalam blog saya di https://rudiyanto.blog/2019/01/02/prediksi-return-reksa-dana-pendapatan-tetap-dengan-yield-obligasi/

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:

Bagaimana Dampak Perlambatan Ekonomi Amerika Serikat Terhadap Investasi Reksa Dana Indonesia ?

December 20th, 2018 2 comments

Belakangan ini, pembahasan tentang kemungkinan terjadinya resesi atau perlambatan ekonomi Amerika Serikat (AS) semakin banyak bisa ditemui. Bagaimana dampaknya terhadap investasi saham, obligasi dan reksa dana di Indonesia?

Referensi : https://ekonomi.kompas.com/read/2018/11/12/113800626/apakah-amerika-serikat-akan-mengalami-resesi-di-tahun-2020

Per tanggal 19 Desember 2018 indeks S&P 500 yang merupakan cerminan dari nilai saham 500 perusahaan terbesar di AS turun ke 2567. Titik tertinggi pada tahun 2018 adalah pada 2930 bulan September 2018.

Jika diukur dari titik tertingginya, Indeks saham S&P 500 sudah turun 12% dari titik tertingginya hanya dalam waktu kurang dari 3 bulan. Dibandingkan posisi pada awal tahun, juga terhitung -4.77%.

Kenyataan ini sangat bertolak belakang dengan kondisi perekonomian AS yang sangat baik pada tahun 2018 ini. Tingkat pengangguran rendah dan pertumbuhan ekonomi tinggi. Sampai pada bulan September, sebenarnya angka S&P 500 di 2930 juga merupakan yang tertinggi dalam 20 tahun terakhir.

Turunnya harga saham ini bisa disebabkan karena tensi perang dagang antara China dan AS yang terus bergejolak. Namun bisa juga karena turunnya harga saham merefleksikan kekhawatiran akan terjadinya resesi pada tahun-tahun mendatang.

Sebagaimana diketahui resesi AS yang terakhir terjadi pada periode Desember 2007 –  Juni 2009. Pada tahun 2008, penurunan harga saham yang dalam tidak hanya terjadi pada AS tapi juga pada investasi reksa dana di Indonesia.

Ada kekhawatiran efek dari resesi di AS ini juga akan berdampak pada investasi saham, obligasi dan juga reksa dana di Indonesia. Seperti apa analisanya?

Untuk pembahasan lebih lengkap silakan baca artikel saya di https://rudiyanto.blog/2018/12/20/bagaimana-dampak-perlambatan-ekonomi-amerika-serikat-terhadap-investasi-reksa-dana-indonesia

Categories: Pendapat Tentang Makro Ekonomi Tags:

Proyeksi, Peluang, dan Tantangan Investasi 2019

December 11th, 2018 No comments

Proyeksi Investasi 2019

Nilai tukar rupiah, saham, obligasi, dan reksa dana bisa dikatakan sangat fluktuatif karena dipengaruhi berbagai isu domestik dan eksternal. Nah, bagaimana dengan tahun 2019 ?

Seperti apa proyeksi untuk pergerakan nilai tukar di 2019 Rp terhadap USD apakah akan ke level 15.000 atau stabil di 14.000?

Dengan proyeksi kenaikan suku bunga the Fed tahun 2019 akan kurang agresif, bagaimana dengan perkembangan obligasi? Apakah bisa naik atau turun ?

Bagaimana juga dengan IHSG di tahun politik ?

Pembahasan lebih lengkapnya silakan baca: https://rudiyanto.blog/2018/12/10/proyeksi-peluang-dan-tantangan-investasi-2019/

Sebagai informasi, untuk artikel saya di Kompas Online selanjutnya akan saya rangkum di https://rudiyanto.blog/

Boom and Bust Saham IPO 2018

December 3rd, 2018 No comments

Beberapa waktu yang lalu, salah satu headline pada berita Kontan tentang saham IPO di tahun 2018 menarik perhatian saya. Disebutkan sampai dengan bulan November 2018 sudah terdapat 51 perusahaan yang melakukan IPO dan mayoritas mengalami kenaikan harga yang signifikan pada hari pertamanya

Kenaikan tersebut berkisar antara 50 – 70% yang menyebabkan saham tersebut kena auto reject batas atas dan beberapa di antaranya bahkan terkena suspensi karena pergerakan harga yang tidak wajar (Unusual Market Activity – UMA)

Berikut ini adalah kutipan dari Harian Kontan

Sumber :  E-Paper Harian Kontan 26 November 2018 (klik untuk memperbesar)

Sebagai investor saham, tentu saja senang karena harga saham IPO mengalami kenaikan (boom) yang signifikan sehingga menawarkan peluang investasi yang menarik. Namun tidak semua pengalaman investasi saham IPO di tahun 2018 ini menyenangkan.

Ada yang tidak mendapat alokasi penjatahan saham, ada yang ikut-ikutan membeli pada harga sekunder dan mengalami penurunan (bust) yang signifikan, ada juga yang sahamnya kurang likuid sehingga mengalami kesulitan untuk dijual dalam jumlah besar. Read more…

New Blog : Rudiyanto.Blog

December 1st, 2018 No comments

Typewriter with words time for new content

Per 1 Desember 2018, saya akan memulai blog baru dengan alamat Rudiyanto.Blog. Semua post dan comment yang ada di blog Kontan ini juga terdapat disana.

Saat ini content edukasi telah berkembang dari tulisan menjadi video, sementara melalui blog ini masih ada keterbatasan terutama ketika mau melakukan upload materi video dan link ke sosial media. Tampilan pada Blog Baru juga lebih mobile friendly.

Semua content yang ada di rudiyanto.blog.kontan.co.id masih akan tetap ada dan tulisan juga akan terus di update. Namun untuk sharing dalam bentuk video atau link ke sosial media bisa dilihat pada blog baru.

Terima kasih

Typewriter with words time for new content

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:

Window Dressing dan Pergerakan IHSG Bulan Desember

November 30th, 2018 No comments

Window Dressing

Setiap akhir tahun, biasanya terdapat suatu fenomena di pasar modal yang dikenal dengan istilah aksi Window Dressing. Aksi window dressing adalah upaya mempercantik laporan keuangan oleh emiten / perusahaan dan manajer investasi pengelola dana. Karena upaya ini dilakukan secara bersamaan oleh sebagian besar pelaku, biasanya harga saham meningkat pada akhir tahun.

Di Indonesia sendiri, fenomena window dressing juga terjadi. Dimana sejak tahun 2001 hingga 2017, dalam kondisi seperti apapun apakah sedang ada tahun dilakukan pemilihan umum, krisis ekonomi di dalam ataupun luar negeri, IHSG selalu membukukan tingkat return positif pada bulan Desember.

Berikut ini adalah tingkat return IHSG pada bulan Desember mulai dari tahun 2001 sampai 2017

Statistik Return Desember 2001 - 2017

Dengan mengacu pada statistik di atas, dengan asumsi fenomena window dressing kembali terjadi pada tahun 2018, maka IHSG pada akhir Desember 2018 akan lebih tinggi dibandingkan IHSG pada akhir November 2018. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana pergerakan IHSG pada bulan Desember? Apakah naik setiap hari atau bergejolak sehingga ada kemungkinan bisa lebih rendah daripada harga penutupan di Akhir November? Read more…

Apakah Amerika Serikat Akan Mengalami Resesi di Tahun 2020 ?

November 14th, 2018 2 comments

Ilustrasi : Thinkstock – Kompas.com

Pada bulan November 2018 ini, terdapat beberapa perkembangan indikator ekonomi yang cukup menggembirakan seperti kurs nilai tukar Rp terhadap USD ke level 14.500an, harga minyak yang turun, dan kenaikan harga yang cukup signifikan terjadi pada harga saham, obligasi dan reksa dana. Apa penyebabnya?

Ada analisis yang menyatakan bahwa ini hasil dari sentimen domestik seperti kebijakan yang dilakukan oleh BI dan pemerintah seperti penyediaan sarana hedging mata uang domestik (Non Delivery Forward – NDF), kebijakan minyak sawit pada BBM yang dikenal B20, kenaikan suku bunga the Fed, pembatasan upaya spekulasi mata uang asing, data inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang baik, hingga valuasi saham dan obligasi yang sudah sangat menarik sehingga asing kembali masuk ke Indonesia.

Ada juga analisis yang menyatakan bahwa ini hasil dari sentimen eksternal seperti harga minyak yang turun cukup drastis sehingga berpotensi mengurangi beban defisit transaksi berjalan (current account deficit), hasil dari Pemilu Sela (Midterm Election) di Amerika Serikat dimana partai Demokrat menguasai kursi DPR sehingga diperkirakan kebijakan Presiden Donald Trump akan lebih mendapatkan kontrol dan pengawasan, hingga prediksi yang menyatakan Amerika Serikat akan mengalami resesi pada tahun 2020.

Pada kenyataannya sangat sulit untuk menentukan 1 faktor yang tunggal dan dominan yang menjelaskan suatu kondisi perekonomian. Yang lebih sering adalah gabungan dari beberapa faktor tersebut.

Ada satu hal yang terus terang menarik perhatian saya, yaitu perihal prediksi Amerika Serikat akan mengalami resesi pada tahun 2020. Mengapa prediksi ini bisa muncul di tengah data-data perekonomian AS yang membaik seperti tingkat inflasi rendah dan pertumbuhan ekonomi bahkan di atas target? Read more…

Categories: Pendapat Tentang Makro Ekonomi Tags:
%d bloggers like this: