Proyeksi, Peluang, dan Tantangan Investasi 2019

December 11th, 2018 No comments

Proyeksi Investasi 2019

Nilai tukar rupiah, saham, obligasi, dan reksa dana bisa dikatakan sangat fluktuatif karena dipengaruhi berbagai isu domestik dan eksternal. Nah, bagaimana dengan tahun 2019 ?

Seperti apa proyeksi untuk pergerakan nilai tukar di 2019 Rp terhadap USD apakah akan ke level 15.000 atau stabil di 14.000?

Dengan proyeksi kenaikan suku bunga the Fed tahun 2019 akan kurang agresif, bagaimana dengan perkembangan obligasi? Apakah bisa naik atau turun ?

Bagaimana juga dengan IHSG di tahun politik ?

Pembahasan lebih lengkapnya silakan baca: https://rudiyanto.blog/2018/12/10/proyeksi-peluang-dan-tantangan-investasi-2019/

Sebagai informasi, untuk artikel saya di Kompas Online selanjutnya akan saya rangkum di https://rudiyanto.blog/

Boom and Bust Saham IPO 2018

December 3rd, 2018 No comments

Beberapa waktu yang lalu, salah satu headline pada berita Kontan tentang saham IPO di tahun 2018 menarik perhatian saya. Disebutkan sampai dengan bulan November 2018 sudah terdapat 51 perusahaan yang melakukan IPO dan mayoritas mengalami kenaikan harga yang signifikan pada hari pertamanya

Kenaikan tersebut berkisar antara 50 – 70% yang menyebabkan saham tersebut kena auto reject batas atas dan beberapa di antaranya bahkan terkena suspensi karena pergerakan harga yang tidak wajar (Unusual Market Activity – UMA)

Berikut ini adalah kutipan dari Harian Kontan

Sumber :  E-Paper Harian Kontan 26 November 2018 (klik untuk memperbesar)

Sebagai investor saham, tentu saja senang karena harga saham IPO mengalami kenaikan (boom) yang signifikan sehingga menawarkan peluang investasi yang menarik. Namun tidak semua pengalaman investasi saham IPO di tahun 2018 ini menyenangkan.

Ada yang tidak mendapat alokasi penjatahan saham, ada yang ikut-ikutan membeli pada harga sekunder dan mengalami penurunan (bust) yang signifikan, ada juga yang sahamnya kurang likuid sehingga mengalami kesulitan untuk dijual dalam jumlah besar. Read more…

New Blog : Rudiyanto.Blog

December 1st, 2018 No comments

Typewriter with words time for new content

Per 1 Desember 2018, saya akan memulai blog baru dengan alamat Rudiyanto.Blog. Semua post dan comment yang ada di blog Kontan ini juga terdapat disana.

Saat ini content edukasi telah berkembang dari tulisan menjadi video, sementara melalui blog ini masih ada keterbatasan terutama ketika mau melakukan upload materi video dan link ke sosial media. Tampilan pada Blog Baru juga lebih mobile friendly.

Semua content yang ada di rudiyanto.blog.kontan.co.id masih akan tetap ada dan tulisan juga akan terus di update. Namun untuk sharing dalam bentuk video atau link ke sosial media bisa dilihat pada blog baru.

Terima kasih

Typewriter with words time for new content

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:

Window Dressing dan Pergerakan IHSG Bulan Desember

November 30th, 2018 No comments

Window Dressing

Setiap akhir tahun, biasanya terdapat suatu fenomena di pasar modal yang dikenal dengan istilah aksi Window Dressing. Aksi window dressing adalah upaya mempercantik laporan keuangan oleh emiten / perusahaan dan manajer investasi pengelola dana. Karena upaya ini dilakukan secara bersamaan oleh sebagian besar pelaku, biasanya harga saham meningkat pada akhir tahun.

Di Indonesia sendiri, fenomena window dressing juga terjadi. Dimana sejak tahun 2001 hingga 2017, dalam kondisi seperti apapun apakah sedang ada tahun dilakukan pemilihan umum, krisis ekonomi di dalam ataupun luar negeri, IHSG selalu membukukan tingkat return positif pada bulan Desember.

Berikut ini adalah tingkat return IHSG pada bulan Desember mulai dari tahun 2001 sampai 2017

Statistik Return Desember 2001 - 2017

Dengan mengacu pada statistik di atas, dengan asumsi fenomena window dressing kembali terjadi pada tahun 2018, maka IHSG pada akhir Desember 2018 akan lebih tinggi dibandingkan IHSG pada akhir November 2018. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana pergerakan IHSG pada bulan Desember? Apakah naik setiap hari atau bergejolak sehingga ada kemungkinan bisa lebih rendah daripada harga penutupan di Akhir November? Read more…

Apakah Amerika Serikat Akan Mengalami Resesi di Tahun 2020 ?

November 14th, 2018 2 comments

Ilustrasi : Thinkstock – Kompas.com

Pada bulan November 2018 ini, terdapat beberapa perkembangan indikator ekonomi yang cukup menggembirakan seperti kurs nilai tukar Rp terhadap USD ke level 14.500an, harga minyak yang turun, dan kenaikan harga yang cukup signifikan terjadi pada harga saham, obligasi dan reksa dana. Apa penyebabnya?

Ada analisis yang menyatakan bahwa ini hasil dari sentimen domestik seperti kebijakan yang dilakukan oleh BI dan pemerintah seperti penyediaan sarana hedging mata uang domestik (Non Delivery Forward – NDF), kebijakan minyak sawit pada BBM yang dikenal B20, kenaikan suku bunga the Fed, pembatasan upaya spekulasi mata uang asing, data inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang baik, hingga valuasi saham dan obligasi yang sudah sangat menarik sehingga asing kembali masuk ke Indonesia.

Ada juga analisis yang menyatakan bahwa ini hasil dari sentimen eksternal seperti harga minyak yang turun cukup drastis sehingga berpotensi mengurangi beban defisit transaksi berjalan (current account deficit), hasil dari Pemilu Sela (Midterm Election) di Amerika Serikat dimana partai Demokrat menguasai kursi DPR sehingga diperkirakan kebijakan Presiden Donald Trump akan lebih mendapatkan kontrol dan pengawasan, hingga prediksi yang menyatakan Amerika Serikat akan mengalami resesi pada tahun 2020.

Pada kenyataannya sangat sulit untuk menentukan 1 faktor yang tunggal dan dominan yang menjelaskan suatu kondisi perekonomian. Yang lebih sering adalah gabungan dari beberapa faktor tersebut.

Ada satu hal yang terus terang menarik perhatian saya, yaitu perihal prediksi Amerika Serikat akan mengalami resesi pada tahun 2020. Mengapa prediksi ini bisa muncul di tengah data-data perekonomian AS yang membaik seperti tingkat inflasi rendah dan pertumbuhan ekonomi bahkan di atas target? Read more…

Categories: Pendapat Tentang Makro Ekonomi Tags:

Membandingkan Kinerja Dollar dan Reksa Dana Berbasis Dollar

October 7th, 2018 No comments

Dollar dan Reksa Dana Dollar

Dengan nilai tukar Rp terhadap USD yang menembus level psikologis Rp 15.000, ada investor yang mulai memikirkan reksa dana USD sebagai salah satu alternatif investasinya. Yang menjadi pertanyaan, apakah ketika USD menguat terhadap Rp, reksa dana dollar juga menunjukkan kinerja yang positif ?

Jumlah reksa dana USD telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Pada awal mulanya jenis reksa dana dengan denominasi USD hanya terdapat di jenis reksa dana pendapatan tetap, namun saat ini sudah bervariasi dan bisa dijumpai juga pada reksa dana pasar uang, campuran, saham, terproteksi dan Syariah Efek Global.

Meski menggunakan USD sebagai mata uang, tidak berarti reksa dana USD berinvestasi di luar Indonesia. Sebaliknya, hal yang sama berlaku juga untuk reksa dana dengan mata uang Rp, ada juga yang berinvestasi di luar negeri. Untuk itu, mari kita pahami dulu karakteristik reksa dana USD dan peraturan OJK untuk investasi di luar negeri. Read more…

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:

Mengenal Industri Pengelolaan Investasi di Indonesia

October 4th, 2018 3 comments
Ilustrasi rupiah.(THINKSTOCKS/FITRIYANTOANDI) - Kompas.com

Ilustrasi rupiah.(THINKSTOCKS/FITRIYANTOANDI) – Kompas.com

Salah satu indikator suatu industri sedang berkembang adalah adanya Asosiasi yang menaungi industri tersebut. Industri reksa dana merupakan industri yang berkembang pesat di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini. Seperti apa asosiasi yang menaungi industri ini?

Keberadaan asosiasi tentang bisnis yang umumnya dikenal oleh masyarakat sebagai contoh seperti KADIN (Kamar Dagang dan Industri), Ikatan Dokter Indonesia, Ikatan Bankir Indonesia, Hipmi (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia), HIMBARA (Himpunan Bank Milik Negara), Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia dan lain sebagainya.

Selain berfungsi sebagai wadah yang menampung para anggotanya, asosiasi juga memiliki banyak fungsi penting seperti sebagai perwakilan pada saat diskusi dengan regulator, memberikan izin sertifikasi, pendidikan dan pelatihan lanjutan, hingga menangani kode etik dan atau menyelenggarakan mediasi apabila terjadi sengketa.

Ciri-ciri asosiasi yang kredibel adalah memiliki akte pembentukan yang disahkan oleh notaris, pembentukannya memenuhi ketentuan yang dipersyaratkan dalam peraturan dan perundangan, terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM, memiliki susunan ketua dan kepengurusan, menyelenggarakan Rapat Umum Anggota secara reguler, diakui oleh regulator yang mengawasi dan memberikan nilai tambah bagi anggotanya dalam bentuk seperti penyelenggaran pelatihan.

Untuk menunjang kegiatan operasional dan melakukan pengembangan, sumber pendanaan asosiasi dapat berasal dari iuran para anggota, biaya penyelenggaraan latihan, dan sumbangan dari anggota maupun pihak luar. Untuk itu, asosiasi yang profesional biasanya diaudit dan hasilnya disampaikan kepada para anggota.

Sejak reksa dana pertama kali terbentuk pada tahun 1997, dana kelolaan industri reksa dana pada bulan September di sekitar Rp 500 Triliun, dengan 90 perusahaan manajer investasi, 37 perusahaan agen penjual, 20 perusahaan Bank Kustodian, sekitar 2000an perorangan untuk pemegang izin Wakil Manajer Investasi dan lebih dari 20.000an perorangan pemegang izin Wakil Agen Penjual Reksa Dana.

Dengan industri yang semakin berkembang dengan segala kompleksitasnya, apalagi reksa dana termasuk dalam industri keuangan yang mendapat regulasi secara ketat, keberadaan asosiasi sangatlah penting. Read more…

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:

IHSG di Tahun Politik 2004 – 2009 – 2014

September 10th, 2018 5 comments

What's Next?

Pergerakan nilai tukar Rp terhadap USD yang beberapa kali sempat menyentuh Rp 15.000 dan harga saham obligasi yang menurun di tahun 2018 (sampai dengan awal September ini) menjadi perhatian bagi investor reksa dana. Banyak pertanyaan seperti sampai di level berapa IHSG dan Rp akan melemah, apakah sebaiknya dilakukan cutloss atau malah masuk kembali, dan berapa target IHSG di akhir tahun.

Terus terang, sampai di level berapa IHSG dan Rp dan kira-kira di akhir tahun nanti IHSG bisa ada di berapa, saya tidak tahu. Faktor-faktor yang memberikan sentimen negatif seperti rencana kenaikan suku bunga, perang dagang antara US dengan China,  harga minyak yang tinggi (sehingga menyebabkan kebutuhan USD semakin besar), dan krisis mata uang yang menimpa negara berkembang lain seperti Turki, Argentina, Iran, dan terakhir Afrika Selatan kelihatannya masih belum akan berubah dalam waktu dekat.

Namun yang jelas, saya melihat adanya kehadiran dan upaya yang sangat keras dari pemerintah untuk menjaga situasi perekonomian. Mulai dari kenaikan suku bunga BI Rate, menurunnya cadangan devisa yang dipergunakan untuk intervensi nilai tukar, penggunaan biodiesel untuk bahan bakar solar, penetapan tarif impor untuk barang tertentu, dan berbagai himbauan untuk menukarkan USD dan menggunakan produk dalam negeri telah dilakukan.

Meskipun tidak serta merta dapat mengangkat nilai tukar, paling tidak bisa menahan agar nilainya tidak turun secara signifikan dibandingkan dengan negara lain. Nilai tukar mata uang yang melemah biasanya menjadi sentimen negatif bagi harga saham dan obligasi, sehingga berdampak pula terhadap kinerja reksa dana.

Bagi investor yang merasa sangat tidak nyaman dengan kondisi yang ada, sebagai pemilik dana adalah hak mutlak untuk melakukan pengalihan (switching) ke jenis reksa dana yang lebih konservatif seperti reksa dana pasar uang atau pendapatan tetap. Namun untuk investor yang masih sabar dan berorientasi jangka panjang, biasanya pada tahun politik dimana pemilihan Presiden dilakukan, kinerja IHSG selalu positif. Hal ini terlihat dari statistik IHSG di tahun 2004, 2009 dan 2014 yang masing-masing positif sebesar 44.56%, 86.98% dan 22.29%.

Yang menjadi pertanyaan, pada saat kapan kenaikan di IHSG terjadi? Apakah sebelum, pada saat atau sesudah pemilihan dilakukan? Bagaimana pula analisanya untuk tahun 2019 ini ? Berikut hasil data dan analisanya. Read more…

%d bloggers like this: