Mengenal Kinerja Value Investor Dari Berbagai Belahan Dunia

July 16th, 2014 2 comments

Ronald W Chan

Artikel kali ini merupakan ringkasan sekaligus pengembangan pemahaman saya dari buku The Value Investor yang baru saya baca sampai habis kemarin malam. Buku yang sangat baik menurut saya, namun sayangnya kualitas terjemahannya kurang. Apabila ada versi original dengan bahasa inggris, seharusnya pesan dalam buku akan lebih tersampaikan. Pengarang buku yaitu bapak Ronald W Chan, juga pernah kami undang dalam acara yang diselenggarakan oleh Internasional Seminar Panin Asset Management pada bulan April lalu. Foto-foto acaranya bisa dilihat pada website Panin AM. Satu lagi orang yang duduk disebelahnya adalah bapak Indra Mawira yang merupakan Fund Manager dari Panin Dana Syariah Saham, Panin Dana Syariah Berimbang dan Panin Dana Ultima.

Sebagai informasi, pak Ronald adalah salah satu Manajer Investasi yang menggunakan strategi Value Investing yang berbasis di Hong Kong. Bersama dengan rekan-rekannya mereka mendirikan Chartwell Capital Limited untuk melayani kebutuhan High Net Worth Individual yang berminat untuk melakukan investasi secara value investing pada saham-saham global.

Dari diskusi pribadi saya cukup impress bahwa dia benar2 sudah tatap muka langsung dengan bapak Warren Buffett, dan beliau memberikan rekomendasi kepada teman2nya agar bisa diwawancara. Sebagai informasi, referensi yang diberikan dan orang yang ditemuinya bukanlah orang sembarangan. Sebagai contoh Mark Mobius yang merupakan Executive Chairman dari Templeton Emerging Markets Group. Beliau bergabung pada tahun 1987. Pada akhir tahun 2011, jumlah dana yang dikelola sekitar USD 50 Milliar. Dengan kurs 12.000, angka ini setara dengan Rp 600 Triliun. Hampir 3 kali lipat dari gabungan jumlah dana kelolaan reksa dana dari seluruh Manajer Investasi di Indonesia.

Ada juga nama2, yang mungkin tidak begitu familiar bagi kita namun merupakan “legenda” di Industri pengelolaan dana internasional seperti Shuhei Abe dari Jepang, Francisco Parames dari Spanyol, V-Nee Yeh dari Hong Kong, Teng Ngiek Lian dari Singapore dan lainnya yang berasal dari Amerika Serikat. Total ada 12 Investor Value kelas dunia yang di wawancara dalam buku tersebut. Jadi setelah membaca buku ini, kita bisa memahami bagaimana penerapan value investing di berbagai belahan di dunia. Buku ini tidak membahas secara detail tentang bagaimana proses investasi dan rumus keuangan apa yang digunakan, tapi lebih berfokus pada filosofi dan perjalanan hidup dari masing-masing value investor tersebut.

Langsung saja. Selama ini, strategi value investing identik dengan bapak Warren Buffet. Salah satu orang terkaya di dunia yang berasal dari kegiatan investasi sahamnya. Berbagai kutipan dan filosofi yang dijalankan oleh beliau seolah-olah menjadi ciri khas dari strategi value investing seperti:

  • “Warren started investing at age 11 but he still thinks he was to late” –> Investor Value selalu mulai dari usia belia
  • “If you don’t feel comfortable owning something for 10 years, then don’t own it for 10 minutes” –> Investor Value harus jangka panjang
  • “Diversification is a protection against ignorance. It makes very little sense for those who know what they’re doing” –> Investor value cenderung lebih terkonsentrasi portofolio investasinya
  • “I will tell you how to become rich. Close the doors. Be fearful when others are greedy. Be greedy when others are fearful” –> Investor value hanya melakukan buy and hold saja
  • “The first rule is not to lose. The second rule is not to forget the first rule” –> Investor value tidak rugi karena tidak cut loss atau membeli saham yang membuat mereka harus cut loss, sehingga identik dengan buy and hold.
  • Dan quote2 lainnya yang bisa anda baca di http://www.minterest.org/best-warren-buffett-quotes-on-investing/

Kutipan-kutipan di atas tidak salah, bahkan sangat bijaksana dan memberikan manfaat bagi kita baik dalam investasi maupun dalam kehidupan sehari-hari. Namun setelah saya membaca buku tersebut, ternyata yang namanya value investor legendaris tersebut memiliki latar belakang dan gaya investasi yang berlainan. Dan tidak semuanya cocok 100% dengan kutipan2 yang biasanya dibaca di atas. Sebagai contoh : Read more…

Buy and Hold Vs Market Timing : Studi Kasus Mengejar Return No 1

June 22nd, 2014 6 comments

Chasing ReturnDalam beberapa artikel sebelumnya, penelitian tentang buy and hold vs market timing saya lakukan dengan menggunakan metode analisa teknikal seperti Simple Moving Average dan Relative Strength Index. Selain kedua cara tersebut, sebetulnya masih terdapat banyak sekali metode analisa teknikal yang lain seperti Parabolic SAR, candle stick, ichimoku dan berbagai metode lainnya. Namun dalam tulisan kali ini, saya akan mencoba cara yang lain.

Sebab penggunaan metode teknikal analisis terkadang tidak praktikal saat dilapangan. Sinyal yang dikeluarkan oleh analisis teknikal adalah cuman buy dan sell. Tidak perduli apakah akibat dari keputusan tersebut adalah anda merugi atau tidak. Akibatnya tidak semua investor benar-benar merealisasikan kerugiannya ketika disuruh melakukan sell. Akibatnya efektivitas cara tersebut tidak bisa diukur karena investor tidak “patuh” 100%. Selain itu, tidak semua investor memiliki fasilitas dan data untuk melakukan perhitungan yang dimaksud.

Cara yang saya gunakan kali ini cukup sederhana. Investor membeli reksa dana saham yang returnnya tertinggi tahun lalu dan memegangnya selama 1 tahun. Pada akhir tahun tersebut, investor kembali melihat reksa dana saham mana yang returnnya paling tinggi. Apabila sama dengan tahun sebelumnya, maka reksa dana tersebut tetap dipegang, sementara jika berbeda, maka reksa dana yang lama dijual semua dan dipindahkan ke reksa dana return nomor 1 yang baru. Dalam istilah investasi, perilaku seperti ini disebut Chasing Return.

Dalam meneliti metode ini, saya cenderung menggunakan reksa dana saham dibandingkan dengan saham. Sebab saham dengan return tertinggi umumnya tidak begitu diketahui oleh publik. Terkadang saham tersebut juga tidak bisa dibeli karena faktor likuiditas yang kurang. Untuk informasi reksa dana saham yang returnnya paling tinggi, cenderung tidak terlalu sulit diperoleh informasinya karena dipublikasikan di media massa. Investor juga dapat dengan mudah melakukan pembelian dan penjualan tanpa dipengaruhi oleh faktor likuiditas karena bisa dibeli kapan saja.

Saya yakin terdapat banyak investor yang melakukan hal ini meskipun caranya mungkin tidak sama persis seperti yang saya kemukakan. Apakah cara ini bisa mengalahkan IHSG atau metode market timing lainnya? silakan ikuti terus artikel ini. Read more…

Mana Yang Lebih Baik: Saham Blue Chip atau Second Liner?

June 16th, 2014 2 comments

Blue Chip dan Second Liner

Dalam investasi saham, terkadang investor, marketing bahkan analis dan manajer investasi sekalipun suka menyebut istilah blue chip dan second liner. Istilah blue chip mengarah kepada perusahaan yang fundamentalnya bagus dan besar sementara second liner adalah perusahaan yang fundamental dan ukurannya perusahaannya tidak sebaik dan sebesar kategori yang pertama namun memiliki potensi untuk tumbuh lebih tinggi dibandingkan perusahaan blue chip yang relatif stabil. Terkadang ada yang bertanya, mana yang lebih baik? apakah saham blue chip atau second liner?

Sayapun tertarik untuk mencari tahu sebenarnya asal mula blue chip itu darimana? Sebab kalau saham bagus disebut blue chip kenapa tidak ada istilah red, white, orange, yellow, green chip untuk saham yang tidak blue chip? Dari penelusuran di wikipedia, akhirnya saya menemukannya.

Berdasarkan New York Stock Exchange, Blue Chip adalah saham dari perusahaan dengan reputasi nasional untuk kualitas, kehandalan dan kemampuannya untuk beroperasi secara menguntungkan dalam situasi perekonomian yang baik ataupun buruk. Indeks yang merepresentasikan saham Blue Chip di AS adalah DJIA (Dow Jones Industrial Average) yang terdiri dari 30 saham yang merupakan pemimpin pada industri masing-masing.

Asal mula Blue Chip berasal dari permainan poker. Dimana pada pertaruhan poker, ada keping-keping taruhan yang warnanya putih, merah dan biru. Umumnya nilai keping yang paling besar adalah yang berwarna biru. Pertama kali istilah ini dikemukan oleh Oliver Gingold antara tahun 1923 – 1924. Pada waktu itu, dia berdiri di bursa menyaksikan perdagangan saham.

Ada beberapa transaksi yang menarik perhatian dia karena saham-saham tersebut harganya berkisar antara $200 – $250 per lembarnya. Sekembalinya ke kantor, dia berkata kepada rekannya untuk menulis tentang saham-saham keping biru tersebut (blue chip stocks). Istilah tersebut digunakan terus hingga saat ini.

Apakah saham Blue Chip dan Second Liner ada di Indonesia? Read more…

Panin Dana Maksima, Prima, Syariah Saham atau Ultima.. Pilih Mana? (Update: Tata Cara Virtual Account)

June 9th, 2014 40 comments

Reksa Dana Saham Panin AM

Apa kabar para pembaca yang terhormat? Semoga selalu berada dalam kondisi yang sehat selalu. Sebelumnya saya mohon maaf, update terhadap artikel baru agak terhambat karena ada beberapa urusan pekerjaan dan keluarga yang tidak bisa saya tinggalkan. Mudah-mudahan ke depan updatenya akan semakin cepat.

Update saya kali ini, berkaitan juga dengan rangkaian kegiatan roadshow yang saya lakukan dalam beberapa minggu terakhir. Sembari melakukan update mengenai kondisi pasar terbaru, saya juga melakukan promosi terhadap reksa dana terbaru dari Panin Asset Management yaitu Panin Dana Ultima.

Pertanyaan yang sering muncul adalah apa perbedaan atau tepatnya keunikan Panin Dana Ultima ini dibandingkan reksa dana saham yang sudah ada selama ini yaitu Panin Dana Maksima, Panin Dana Prima dan Panin Dana Syariah Saham? Apakah jika sudah memiliki reksa dana saham yang lama, reksa dana yang baru ini masih bisa dijadikan sebagai tambahan?

Saya akan mencoba menjawab semua pertanyaan tersebut dalam artikel ini, silakan terus membaca. Read more…

Market Outlook dan Launching Panin Dana Ultima Surabaya

June 3rd, 2014 No comments
Categories: Talkshow dan Seminar Tags:

Berapa Jumlah Kepemilikan Reksa Dana Saham Yang Ideal?

May 20th, 2014 7 comments

Number and Figures

Dengan produk reksa dana yang semakin beraneka ragam dan banyak jumlahnya, pilihan investor juga semakin banyak. Ada reksa dana yang mengusung strategi mengikuti indeks seperti produk ETF dan reksa dana indeks, ada juga yang menggunakan strategi investasi aktif seperti rotasi sektoral mengikuti kondisi pasar, kombinasi antara growth dan value investing, atau investasi yang terkonsentrasi dan pengelolaan secara aktif seperti Panin Dana Ultima yang akan diluncurkan dalam waktu dekat ini.

Dengan jumlah investasi minimum yang semakin kecil, tentu bukan hal sulit untuk memiliki beberapa reksa dana saham sekaligus. Pertanyaan muncul, berapa banyak reksa dana yang ideal untuk dimiliki? Dalam konteks ini, yang saya maksud adalah reksa dana saham.

Pertanyaan serupa sebenarnya juga sudah pernah ditanyakan oleh para ahli dan investor pada masa lalu. Namun pertanyaannya lebih mengarah ke saham. Dalam buku “Modern Portfolio Theory and Investment Analysis” oleh Edwin J. Elton dan Martin J. Gruber seperti yang saya kutip dari investopedia, disebutkan jumlah saham yang idealnya dimiliki adalah 20.

Hasil riset dari kedua ahli tersebut adalah sebagai berikut

Dengan memiliki beberapa saham secara sekaligus, maka investor dikatakan membentuk portofolio. Salah satu tujuan dari pembentukan portofolio adalah untuk meminimalkan tingkat risiko. Jadi dengan membeli beberapa saham sekaligus, diharapkan tingkat risiko dapat berkurang. Asumsinya ketika harga saham yang satu turun, ada saham lain yang harganya bisa naik atau turun tapi dengan tingkat penurunan yang lebih kecil.

Ukuran risiko yang dinyatakan dalam riset di atas adalah standar deviasi. Semakin besar standar deviasi maka semakin besar pula risiko investasi dan sebaliknya. Dengan memperbanyak jumlah saham, standar deviasi portofolio memang semakin menurun. Meski demikian, penurunan secara signifikan terjadi ketika jumlah saham bertambah dari angka 1 ke 20. Ketika jumlah saham sudah di atas 20 bahkan hingga ke 1000 saham sekalipun, meski tingkat risiko menurun, penurunannya sudah tidak sesignifikan sebelumnya. Dari penelitian di atas lah, kedua ahli menyimpulkan jumlah saham yang optimal adalah sekitar 20 saham.

Cara yang sama juga akan saya pergunakan untuk menjawab berapa banyak idealnya jumlah portofolio yang optimal. Hanya saja, penelitian saya lakukan 2 kali. Pertama pada portofolio saham dan yang kedua pada portofolio reksa dana saham. Ingin tahu hasilnya? Silakan ikuti terus pembahasan ini. Read more…