Suku Bunga Turun, Reksa Dana Saham Naik ?

July 16th, 2019 No comments

Saat ini, pasar modal meyakini bahwa tingkat suku bunga akan turun. Secara teori, jika suku bunga turun, maka obligasi dan reksa dana pendapatan tetap akan mengalami kenaikan harga dan sebaliknya. Bagaimana dengan reksa dana saham?

Sebelum membahas lebih jauh, perlu dipahami terlebih dahulu mengenai suku bunga acuan di Indonesia. Lembaga yang menerbitkan besaran suku bunga acuan adalah Bank Indonesia, sehingga disebut juga dengan BI Rate.

Dalam prosesnya, BI Rate mengalami perubahan dan sekarang dikenal dengan istilah 7 Day Reverse Repo Rate. Apa bedanya? Sebenarnya kedua istilah tersebut sama-sama merupakan suku bunga acuan atau BI Rate.

Perbedaannya secara sederhana terletak pada suku bunga yang dulu menggunakan rata-rata periode deposito 1 tahun sebagai acuan, sementara BI 7 Day Reverse Repo Rate menggunakan rata-rata 7 hari. Hal ini kemungkinan karena transaksi antar bank lebih banyak yang jangka pendek, sehingga menggunakan rata-rata 1 tahun sebagai acuan kurang tepat.

Penggunakan 7 Day Reverse Repo Rate sebagai suku bunga acuan secara efektif berlaku pada tanggal 19 Agustus 2016. Secara akademis, BI Rate atau Suku Bunga Acuan ini juga bisa menjadi salah satu acuan Risk Free.

Pergerakan BI Rate dan 7 Day Reverse Repo Rate sejak tahun 2007 sampai 2019 adalah sebagai berikut

Sebagaimana yang dilihat pada grafik di atas, penurunan BI Rate dapat terjadi selama beberapa kali. Bagaimana dengan pergerakan IHSG pada saat suku bunga turun? Untuk lebih detailnya silakan klik Suku Bunga Turun, Reksa Dana Saham Naik ?

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:

Mengenal Seluk Beluk ETF

June 20th, 2019 No comments

Kalau boleh terus terang, walaupun sudah bekerja di pasar modal sejak tahun 2005, pemahaman saya tentang Reksa Dana Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif Yang Unit Penyertaannya Diperdagangkan Di Bursa (wheeww panjang sekali), atau populer dikenal dengan Exchange Traded Fund – ETF ini tidak lebih baik dari bapak ibu sekalian.

Baru setelah Panin Asset Management memutuskan untuk menerbitkan ETF yang pertama, tepatnya yang terbit pada 27 Mei 2019 lalu, saya berkesempatan untuk mempelajari lebih dalam mengenai cara kerja produk ini.

Sebagai contoh, dahulu saya selalu beranggapan bahwa ETF adalah reksa dana indeks yang diperdagangkan di bursa. Padahal ETF tidak selalu reksa dana indeks yang pengelolaan bersifat pasif karena meniru indeks tertentu, akan tetapi bisa juga pengelolaan yang sifatnya aktif.

Contoh lain, saya selalu bingung dengan ETF karena pasar sekundernya selalu tidak ada transaksi. Tapi ternyata transaksi di pasar primernya sangat aktif sekali.

ETF yang diterbitkan oleh Panin Asset Management memiliki informasi sebagai berikut :
Manajer Investasi : Panin Asset Management
Bank Kustodian : BCA
Dealer Partisipan : Sinarmas Sekuritas (dan akan bertambah Philip Sekuritas dan Panin Sekuritas)
Indeks Acuan : Indeks IDX-30
Nama Reksa Dana : Panin ETF IDX30 Dinamis
Kode : XPTD
X – Kode Untuk ETF
P – Panin Asset Management
T – Tiga puluh (IDX-30 menjadi acuan)
D – Dinamis (penyesuaian bobot setiap bulan)

Pembahasan lebih lengkap mengenai ETF bisa dibaca pada Mengenal Seluk Beluk Exchange Traded Fund

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:

Ini Alasan Untuk Mencairkan Dana Darurat

June 10th, 2019 No comments

Dalam teori pengelolaan keuangan, dana darurat adalah hal pertama yang harus disiapkan. Lebih penting dari asuransi, investasi, dana pensiun dan kebutuhan keuangan lainnya. Yang menjadi pertanyaan, kapan dan apa alasan yang tepat ketika untuk mencairkan dana darurat?

Untuk Anda yang masih awam, dana darurat adalah sejumlah uang yang bisa disimpan dalam produk keuangan minim risiko seperti tabungan, deposito, reksa dana pasar uang, atau emas yang digunakan untuk keperluan yang sifatnya sangat penting dan tidak terduga.

Idealnya dana darurat itu berkisar antara 3 – 12 bulan pengeluaran tergantung status lajang atau menikah dan jumlah anak. Semakin besar jumlah anggota keluarga, maka semakin besar pula dana darurat yang perlu disiapkan.

Misalkan pengeluaran (baca : bukan penghasilan) adalah Rp 5 juta per bulan, maka dana darurat adalah antara Rp 15 juta–Rp 60 juta. Besarnya menggunakan satuan bulan pengeluaran karena mempertimbangkan skenario terburuk di mana, pencari nafkah utama kehilangan pekerjaannya.

Waktu 3-12 bulan dapat digunakan sebagai waktu untuk mendapatkan pekerjaan kembali sebelum terpaksa harus berutang untuk kebutuhan hidup.

Meski demikian, dana darurat tidak semata-mata hanya bisa digunakan ketika pencari nafkah kehilangan pekerjaan saja. Dalam hidup ini, ada saja cobaan dan peristiwa yang dalam proses mengarunginya membutuhkan dana yang sifatnya di luar dugaan.

Berikut ini adalah “alasan” yang dapat dipertimbangkan sebagai alasan untuk menggunakan sebagian dana darurat.

Untuk lebih lengkapnya, silakan baca https://rudiyanto.blog/2019/06/10/ini-alasan-untuk-mencairkan-dana-darurat/

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:

Analisa Reksa Dana dengan Metode Risk Adjusted Return, Sharpe, Treynor dan Jensen Alpha

April 26th, 2019 No comments

Metode di atas adalah cara umum yang sering ditemui dalam berbagai literatur keuangan dan investasi tentang cara melakukan evaluasi kinerja masa lalu reksa dana. Seperti apa cara menghitung dan membaca hasil perhitungannya?

Pada dasarnya metode Sharpe, Treynor dan Jensen Alpha mengukur baik atau tidaknya kinerja reksa dana berdasarkan risk and return. Untuk itu, sebelum melakukan perhitungan, diperlukan data mentah yaitu harga reksa dana atau data setengah mentah seperti return untuk bisa melakukan analisa.

Untuk mengambil data, bisa melalui Pusat Data Kontan . Untuk cara memindahkan ke MS Excel, bisa membaca artikel Panduan Mencari Data Reksa Dana. (Baca yang bagian bawah karena untuk website OJK untuk data reksa dana sudah berubah tampilannya).

Setelah data harga reksa dana lengkap selanjutnya melakukan langkah-langkah sebagai berikut

  1. Menentukan periode evaluasi (misalkan 1 tahun, 3 tahun, 5 tahun dan periode lainnya)
  2. Menentukan data yang akan dievaluasi (contoh menggunakan data bulanan)
  3. Menghitung komponen yang dibutuhkan
    1. Rata-rata return geometric
    2. Standar deviasi
    3. Beta (dengan menggunakan IHSG sebagai pasar)
    4. Membuat asumsi untuk Risk Free

Untuk Risk Free, bisa menggunakan rata-rata daripada BI Rate atau Yield Obligasi pemerintah selama periode pengukuran, namun untuk lebih praktisnya saya gunakan asumsi 6%.

Reksa dana yang digunakan sebagai referensi adalah Panin Dana Maksima dan Panin Dana Prima periode 10 tahun terakhir dari 31 Desember 2008 – 31 Desember 2018. Yang menjadi komponen pasar adalah IHSG untuk periode yang sama. Untuk data yang digunakan adalah NAB/Up setiap akhir bulan.

Berdasarkan hasil pengolahan data, informasi komponen-komponen yang dibutuhkan untuk dasar perhitungan adalah sebagai berikut :

Untuk lebih lengkap, silakan baca Analisa Reksa Dana dengan Metode Risk Adjusted Return, Sharpe, Treynor dan Jensen Alpha

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:

AS Resesi Ekonomi? Tidak Perlu Khawatir, Ini Efek Positifnya..

April 9th, 2019 No comments

Sumber : Kompas Online dan Wikimedia

Menurut National Bureau of Economic Research (NBER) definisi resesi adalah penurunan signifikan yang terjadi pada aktivitas ekonomi selama beberapa bulan, seperti pertumbuhan PDB, pendapatan, tingkat pengangguran, tingkat produksi, dan penjualan.

Berbagai data dan indikator menunjukkan potensi terjadinya resesi ekonomi di Amerika Serikat pada tahun 2020 semakin besar. Secara teori, resesi biasanya negatif terhadap kinerja investasi baik di AS sendiri maupun terhadap investasi di Negara lain termasuk Indonesia.

Namun untuk resesi di Amerika Serikat yang berpotensi terjadi di tahun 2020 nanti, bisa saja lebih banyak positif dibandingkan negatifnya.

Poin penting yang dibahas dalam artikel ini yaitu :

  • Kapan terakhir Amerika Serikat mengalami resesi dan apa indikator ekonomi yang menyatakannya?
  • Bagaimana kinerja investasi saham, obligasi dan reksa dana ketika AS mengalami resesi?
  • Bagaimana bentuk antisipasi terhadap kondisi resesi yang dilakukan oleh Bank Sentral dan Pemerintah ?

Untuk lebih lengkapnya silakan baca AS Resesi Ekonomi? Tidak Perlu Khawatir, Ini Efek Positifnya..

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:

Sell in May and Go Away, Mitos atau Fakta?

April 5th, 2019 No comments

Dalam dunia pasar modal, ada suatu teori atau strategi investasi yang dikenal dengan nama Sell in May and Go Away. Jika hanya membaca namanya, sering sekali strategi tersebut diterjemahkan sebagai menjual kepemilikan sahamnya pada bulan Mei. Apakah benar demikian? Dan apakah strategi tersebut cukup akurat ?

Mengacu ke Wikipedia, sebenarnya Sell in May and Go Away adalah suatu strategi investasi saham berdasarkan teori bahwa pada periode November hingga April kinerja saham lebih baik dibandingkan rata-rata pertumbuhan bulan lainnya.

Dalam strategi ini, saham dijual pada awal Mei dan hasil penjualannya disimpan dalam bentuk kas atau reksa dana pasar uang. Dengan demikian, daripada melakukan strategy Buy and Hold dalam jangka panjang, sebaiknya investor melakukan perubahan alokasi setiap 6 bulan.

Strategi ini mengindikasikan bahwa periode November – April adalah periode terbaik untuk investasi saham, sementara periode Mei – Oktober adalah periode yang buruk untuk berinvestasi di saham.

Secara kebetulan, memang untuk periode November – April bertepatan dengan kejadian seperti Window Dressing pada bulan Desember, January Effect pada bulan Januari dan publikasi laporan keuangan pada bulan Maret – April. Meskipun tidak selalu, biasanya pada bulan tersebut lebih banyak berita positifnya.

Untuk mengetahui apakah strategi ini cukup akurat atau tidak, saya melakukan penelitian berdasarkan data historis dari tahun 2001 – 2018. Langkah-langkah dan hasilnya adalah sebagai berikut.

Untuk lebih lengkap, silakan baca di Sell in May and Go Away, Mitos atau Fakta?

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:

Tanggal Berapa Investasi Autodebet Yang Paling Menguntungkan?

March 29th, 2019 No comments

Dari semua strategi investasi reksa dana yang pernah diriset, terus terang yang saya praktekkan untuk diri sendiri secara konsisten dari dulu hingga sekarang adalah strategi investasi berkala setiap bulan. Ada yang menyebutnya Rupiah Cost Averaging, AutoDebet, Regular Investment dan sebagainya.

Nama tidak begitu penting, yang paling penting adalah konsistensi dalam menjalankannya. Sebab riset dan simulasi investasi dengan angka yang menguntungkan tersebut dilakukan dalam rentang belasan tahun. Sementara kalau dijalankan langsung, terkadang bisa cek saldo tiap hari terutama ketika harganya sedang naik ataupun sebaliknya ketika sedang turun.

Ketika kinerja kurang baik, besar sekali keinginan untuk berhenti investasi baik sementara ataupun permanen. Sebaliknya ketika kinerja sangat baik, keinginan untuk mencairkan hasil investasi tersebut juga tidak kalah besarnya. Ada yang ingin menikmati keuntungannya, ada juga yang takut turun lagi sehingga buru-buru diambil dulu.

Tindakan di atas tidak ada yang salah dan sepenuhnya adalah hak investor reksa dana. Yang menjadi masalah adalah ketika sudah berhenti atau mengambil untung, investor tidak melanjutkan investasi berkalanya. Dalam konteks investasi jangka panjang, berhenti di tengah jalan merupakan salah satu penyebab utama seseorang gagal mencapai tujuan investasinya.

Investasi reksa dana memang berbeda dengan asuransi yang ada lapse-nya. Jika investor tidak bayar, tidak ada sanksi apa-apa. Mau ditarik sebelum masa investasi berkalanya selesai juga diperbolehkan.

Hal ini menjadikan investor kurang disiplin. Untuk itu, bagi anda yang ingin melakukan investasi berkala di reksa dana, yang harus dilakukan adalah untuk tidak mengecek saldo setiap hari. Kalau bisa, bahkan untuk 2-3 tahun pertama tidak usah dicek.

Sebab timing ketika saldo di cek sangat menentukan mood investasi. Sementara dalam periode 2-3 tahun terkadang hasil investasi reksa dana belum memuaskan dan dalam beberapa kasus bisa juga masih negatif akibat gejolak pasar.

Jika tidak yakin reksa dana yang dipilih kinerjanya akan bagus, bisa dipilih 2-3 reksa dana sekaligus. Cara dan nilai investasi berkala saat ini sudah sangat mudah.

Sebagai contoh di Panin Asset Management, investasi berkala secara AutoDebet yaitu debet dari rekening bank dapat dilakukan melalui Bank Panin, Bank BCA, Bank Mandiri dan Bank BRI dengan nominal mulai dari Rp 250.000. Periode dapat dipilih yaitu setiap tanggal 1, 8 dan 16.

Selain itu, ada juga pilihan investasi berkala dengan AutoInvest yaitu pindah dari rekening reksa dana pasar uang (Panin Dana Likuid dan Panin Dana Likuid Syariah) secara berkala dengan nominal mulai dari Rp 250.000. Periode tanggal pindah rekening lebih fleksible bisa di semua tanggal.

Pemilihan tanggal sebenarnya lebih untuk menyesuaikan cashflow investor, namun ada juga yang menanyakan tanggal investasi yang paling baik. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya melakukan simulasi hasil strategi investasi berkala dengan Panin Dana Maksima. Langkah-langkah sebagai berikut

Untuk lebih lengkapnya silakan baca https://rudiyanto.blog/2019/03/29/tanggal-berapa-investasi-autodebet-yang-paling-menguntungkan/

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:

Tutorial Video : Laporan Reksa Dana Dalam Amnesti Pajak

March 29th, 2019 No comments

Bagi yang mengikuti Amnesti pajak, kewajiban pelaporan tidak selesai di SPT saja. Peserta Amnesti Pajak juga harus melaporkan harta tentang amnesti pajaknya selama 3 tahun. Tahun 2019 ini merupakan tahun kedua. Begini tata cara pelaporannya secara elektronik

Pelaporan dapat dilakukan secara offline dengan mendatangi kantor pajak. Dimana petugas pajak biasanya cukup sigap melayani dan dari beberapa cerita, malah dibantu dalam hal pengisiannya.

Pelaporan juga dapat dilakukan secara online melalui website DJPOnline.Pajak.Go.Id yang saya rekomendasikan karena lebih mudah.

Untuk pembahasan lebih lengkap, bisa membaca di Laporan Reksa Dana Dalam Amnesti Pajak

 

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:
%d bloggers like this: