Jamu Pahit, Jamu Manis…

July 6th, 2018 4 comments

Jamu

Jangan salah paham, blog ini masih fokus dengan pembahasan seputar dunia keuangan dan investasi. Saat ini saya belum berniat banting setir ke industri obat tradisional 8-) . Judul ini terinspirasi dari kutipan wawancara dengan Bank Indonesia beberapa waktu yang lalu.

Dalam penjelasan terkait pengumuman kenaikan BI Rate dan relaksasi moneter yang lalu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengibaratkan bank sentral memberi jamu pahit dan jamu manis dalam menjaga stabilitas dan meningkatkan pertumbuhan. (Referensi : Perry Warjiyo: ‘Jamu Pahit’ BI Akan Terasa 9 Bulan Lagi)

Kenaikan BI Rate diibaratkan sebagai “Jamu Pahit”. Sebab secara teori ekonomi, kenaikan suku bunga BI Rate akan diikuti dengan penyesuaian suku bunga deposito dan suku bunga kredit di perbankan walaupun tidak serta merta. Kenaikan suku bunga kredit akan menyebabkan biaya pinjaman meningkat sehingga dikhawatirkan memperlambat pertumbuhan.

Namun dari sudut pandang finansial, kenaikan BI Rate akan membuat daya tarik surat utang Indonesia menjadi semakin menarik  sehingga investor asing membeli atau minimal berhenti keluar dari Indonesia. Hal ini diharapkan akan membuat nilai tukar Rp bisa menguat terhadap USD.

Sementara relaksasi yang diibaratkan sebagai “Jamu Manis” adalah kebijakan tentang :

  1. Pemberian kewenangan kepada Bank yang memenuhi syarat untuk menentukan besaran DP untuk rumah pertama dari sebelumnya minimal 10-15%
  2. Menyesuaikan pengaturan tahapan dan besaran pencairan kredit/ pembiayaan properti inden, dimana sebelumnya rumah / hunian mesti sudah dibangun pondasi dulu baru 40% dari pinjaman dicairkan dari pihak bank ke developer menjadi sudah dicairkan 30% pada saat akad kredit

Dengan DP yang lebih rendah, tentu berpotensi meningkatkan jumlah pembeli rumah. Walaupun dalam pendapat saya pribadi, selama ini kebijakan DP rendah atau bahkan 0 sebenarnya sudah  diterapkan oleh berupa cicilan DP ke developer. Yang lebih mengena adalah percepatan pencairan ke pihak developer.

Berdasarkan aturan yang lama, apabila pembeli menggunakan pilihan KPR, maka developer baru mendapat 40% pada saat pondasi selesai. Artinya sebelum pondasi selesai, developer harus memutar otak untuk membiayai pembangunan rumah. Bagi developer yang tidak memiliki modal yang cukup atau nilai penjualannya tidak mencapai target, bisa jadi properti yang dijanjikan gagal terbangun.

Dengan adanya percepatan dimana developer sudah mendapat 30% pada saat akad kredit disetujui, maka kebutuhan akan pembiayaan akan lebih ringan sehingga proyek bisa langsung dijalankan. Tentu, kemampuan developer dalam membangun sesuai rencana, mencapai target penjualan dan mengelola keuangan juga penting.

Sektor properti merupakan sektor yang banyak turunannya. Mulai dari bahan baku seperti semen, baja, cat, dan kaca; penyerapan pekerja dan tukang serta konsumsinya selama pembangunan; mebel dan desain interior; agen properti; kredit perbankan dan sebagainya.

Sektor properti yang tumbuh secara sehat dapat mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Yang dimaksud dengan sehat adalah properti berkembang, namun harganya tidak terlalu tinggi sehingga masih terjangkau oleh masyarakat.

Bagaimana efek dari kebijakan ini terhadap investasi saham dan obligasi ? Mengapa setelah kebijakan ini dilakukan nilai tukar Rp masih bergerak “liar” ? Analisis saya adalah sebagai berikut : Read more…

Categories: Pendapat Tentang Makro Ekonomi Tags:

Ini Perbedaan Obligasi dan MTN yang Menjadi Aset Dasar Reksa Dana

June 25th, 2018 No comments

Beda Obligasi dan MTN

Obligasi dan Medium Term Notes ( MTN) adalah jenis surat berharga berbasis hutang yang diperbolehkan menjadi aset dasar reksa dana. Berikut ini adalah hal yang membedakan Obligasi dengan MTN.

Waktu Jatuh Tempo 
Sebagai surat berharga berbasis utang, baik Obligasi maupun MTN memiliki waktu jatuh tempo. Perbedaannya adalah jatuh tempo obligasi bervariasi antara 370 hari hingga 30 tahun. Sementara untuk MTN biasanya hanya berkisar antara 1 – 5 Tahun

Penerbit 
Penerbit dari Obligasi umumnya bisa berupa pemerintah dan korporasi, sementara penerbit dari MTN hanya korporasi saja. Tidak tertutup kemungkinan perusahaan menerbitkan MTN dan Obligasi sekaligus.

Jaminan 
Obligasi sesuai dengan informasi yang tercantum dalam prospektusnya, ada yang dijamin dengan aset secara spesifik, tanpa jaminan khusus (clean basis), dan tanpa jaminan sama sekali (obligasi subordinasi). Sementara untuk MTN, umumnya berbentuk clean basis.

Yang dimaksud dengan clean basis biasanya jaminannya bukan aset perusahaan yang telah dijadikan jaminan. Misalkan suatu perusahaan memiliki aset dalam bentuk gedung yang sudah dijaminkan ke bank, maka ketika terjadi gagal bayar, hasil penjualan dari gedung tersebut tidak dapat dibayarkan kepada pemegang obligasi atau MTN.

Metode Penawaran 
Obligasi ditawarkan melalui mekanisme penawaran umum. Yang dimaksud dengan penawaran umum adalah penawaran menggunakan media massa atau ditawarkan kepada lebih dari 100 pihak dan telah terjual kepada lebih dari 50 pihak. Sementara MTN ditawarkan secara terbatas dan dimiliki maksimal 49 pihak.

Skema penawaran umum pada obligasi memiliki persyaratan yang lebih ketat dan proses yang lebih panjang bagi perusahaan dibandingkan penawaran MTN yang hanya ke pihak tertentu.

Rating / Peringkat Efek 
Risiko terbesar dari surat hutang adalah risiko jika terjadi gagal bayar. Untuk memudahkan masyarakat dalam menilai risiko gagal bayar, salah satu indikator yang digunakan adalah rating atau peringkat yang diterbitkan oleh perusahaan pemeringkat efek seperti PT. PEFINDO atau PT. Fitch Rating Indonesia.

Standar rating adalah kategori Investment Grade (Layak Investasi) dari AAA, AA, A dan BBB dan Non Investment Grade (Tidak Layak Investasi) dari BB, B, CCC, dan Default.

Dalam banyak kasus, biasanya rating antara obligasi dan MTN adalah sama karena fokusnya bukan kepada berapa pihak perusahaan berhutang tetapi kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya.

Besaran Kupon
Kupon adalah tingkat imbalan yang dibayarkan kepada pemegang surat utang. Besaran kupon biasanya ditentukan oleh jangka waktu dan rating dari perusahaan.

Secara teori, semakin lama jangka waktu maka semakin besar kupon yang diberikan dan sebaliknya. Sebagai contoh, surat utang dengan jangka waktu 5 tahun biasanya akan memberikan kupon lebih besar dibandingkan surat utang dengan jangka waktu 2 tahun.

Untuk rating, biasanya semakin tinggi / baik rating perusahaan, maka semakin kecil kupon yang diberikan dan sebaliknya. Sebagai contoh, perusahaan dengan Rating AAA akan membayarkan kupon lebih kecil dibandingkan perusahaan dengan rating A.

Metode penawaran juga berpengaruh. Obligasi yang ditawarkan melalui skema penawaran umum memiliki persyaratan yang lebih ketat dan potensi jumlah pembeli yang lebih besar, untuk itu, kupon yang diberikan bisa saja lebih kecil dibandingkan MTN yang pemiliknya dibatasi hanya 49 pihak saja.

Minimum Investasi 
Besaran nominal untuk minimum investasi amat bervariasi. Untuk obligasi pemerintah tipe Ritel seperti ORI dan Sukuk Ritel, minimum investasi bisa dimulai dari Rp 5 juta. Sementara untuk obligasi pemerintah seri FR (Fixed Rate), biasanya membutuhkan minimal Rp 1 M atau bahkan lebih besar. Hal yang sama juga berlaku untuk obligasi Korporasi.

Untuk MTN, karena pihak pembeli dibatasi hanya 49 pihak, maka minimum pembelian bisa dari Rp 5 M hingga puluhan M untuk mencapai target kuota yang ingin diterbitkan perusahaan.

Transaksi di Pasar Sekunder 
Meskipun berbentuk surat hutang, baik obligasi maupun MTN dapat diperjual belikan sebelum jatuh tempo. Pada prakteknya, hanya obligasi pemerintah seri FR yang aktif diperdagangkan. Sementara untuk obligasi korporasi jarang. Untuk MTN lebih jarang lagi sehingga kebanyakan investor memegangnya hingga jatuh tempo.

Obligasi dan MTN dalam Reksa Dana  Read more…

Categories: Obligasi Tags:

Mengenal Reksa Dana Terproteksi

May 23rd, 2018 No comments

Reksa Dana Terproteksi Kompas

Reksa Dana Terproteksi atau dikenal dengan Capital Protected Fund (CPF) merupakan jenis reksa dana yang memberikan proteksi atas nilai investasi awal, apabila pemegang unit penyertaan memegang reksa dana tersebut hingga tanggal jatuh tempo melalui mekanisme pengelolaan portofolio investasi. Secara periodik reksa dana terproteksi juga melakukan pembagian hasil investasi dalam bentuk dividen.

Meski terkesan aman dan karakternya menyerupai deposito, reksa dana ini tidak sepenuhnya bebas dari risiko. Calon investor jenis reksa dana ini perlu memahami lebih lanjut sebelum memutuskan untuk berinvestasi.

Secara kebijakan, reksa dana terproteksi pada dasarnya hampir sama dengan reksa dana pendapatan tetap, yaitu menempatkan sebagian besar portofolio investasinya pada instrumen surat hutang. Perbedaannya terletak pada cara mekanisme pengelolaannya.

Investor reksa dana terproteksi membeli surat hutang dan menahannya hingga jatuh tempo (hold to maturity), sementara reksa dana pendapatan tetap mengelola secara aktif dan jika diperlukan, bisa melakukan jual beli (trading).

Karena mekanisme pengelolaan dengan cara membeli surat hutang dan memegangnya hingga jatuh tempo itulah, maka “proteksi” terhadap investasi awal dapat dilakukan. Tentu saja dengan catatan bahwa perusahaan yang menerbitkan surat hutang tersebut tidak mengalami gagal bayar.

Namun jika skenario terburuk terjadi, di mana perusahaan penerbit surat hutang mengalami gagal bayar, maka investor tetap bisa kehilangan pendapatan dividen dan atau nilai awal investasinya. Untuk itu, investor perlu lebih memahami karakteristik dan risiko daripada reksa dana terproteksi.  Read more…

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:

Berapa Price Earning Ratio Yang Wajar Untuk IHSG ?

May 15th, 2018 No comments

Value and price / Blackboard concept (Click for more)

Pada saat artikel ini ditulis, IHSG berada pada level 5947. Secara angka, tentu lebih “murah” dibandingkan rekor baru tertinggi yang pernah tercapai pada Februari 2018 ini yaitu 6690. Investor pasar modal yang berpengalaman tentu tidak hanya menggunakan angka IHSG sebagai patokan, tetapi juga valuasinya.

Salah satu indikator valuasi yang sering digunakan yaitu Price Earning Ratio (PE Ratio) yang menghitung berdasarkan pembagian antara harga dengan laba bersih. Secara sederhana, PE Ratio 10 kali berarti harga pasar saat ini setara dengan 10 tahun laba bersih perusahaan. Perusahaan dengan PE Ratio 10 kali dikatakan “lebih murah” dibandingkan perusahaan dengan PE ratio 15 kali.

Semakin tinggi PE Ratio maka semakin mahal valuasi suatu perusahaan dan sebaliknya semakin rendah PE Ratio maka semakin murah valuasi suatu perusahaan.

Yang menjadi pertanyaan adalah berapa PE Ratio yang wajar untuk IHSG di Indonesia?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, ada 2 bagian yang harus terjawab yaitu sumber data PE Ratio dan metode untuk menilai kewajarannya. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut : Read more…

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:

Fluktuasi Rupiah dan Dampaknya Terhadap Kinerja Reksa Dana

April 27th, 2018 No comments

Gambar Kompas

Penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan harga obligasi selama beberapa ini menjadi perhatian media dan masyarakat. Penurunan ini berdampak pada menurunnya Nilai Aktiva Bersih Per Unit Penyertaan (NAB per UP) kinerja reksa dana baik yang berbasis saham maupun pendapatan tetap.

Entah kebetulan atau tidak, penurunan ini berbarengan dengan menguat nilai tukar USD terhadap Rp, dimana beberapa kali sempat mendekati Rp 14.000 / USD. Apakah penguatan nilai tukar ini menjadi penyebab menurunnya kinerja reksa dana sehingga perlu diwaspadai ke depannya?

Untuk mengetahui hal tersebut, perlu dilakukan penelitian terhadap data historis untuk nilai tukar, kinerja saham dan kinerja obligasi pemerintah dari tahun 2002 hingga 25 April 2018. Hasilnya sebagai berikut : Read more…

Categories: Pendapat Tentang Makro Ekonomi Tags:

Ini 11 Hal yang Dilarang (Wakil) Agen Penjual Efek Reksa Dana

April 23rd, 2018 No comments

Gambar Kompas

Industri pasar modal, terutama reksa dana, mengalami perkembangan yang pesat selama beberapa tahun terakhir. Selain jumlah investor, jumlah Agen Penjual Efek Reksa Dana atau disingkat APERD dan tenaga pemasarnya yang disebut Wakil Agen Penjual Efek Reksa Dana (WAPERD) juga terus bertambah.

APERD adalah sebutan untuk institusi / perusahaan yang melakukan pemasaran reksa dana. Bentuknya bisa berupa perusahaan Manajer Investasi, Bank, Perusahaan Efek atau Sekuritas, dan yang belakangan ini mulai berkembang yaitu Perusahaan Finansial Teknologi atau disebut Fintech.

WAPERD adalah sebutan untuk perorangan yang telah mendapatkan sertifikasi dari OJK untuk menjalankan kegiatan pemasaran reksa dana. Izin WAPERD melekat pada perorangan dan memiliki masa berlaku 2 tahun yang dapat diperpanjang dengan mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Lanjutan (PPL) yang diselenggarakan oleh asosiasi terkait.

Di Indonesia, izin WAPERD secara perorangan tidak dapat dijadikan sebagai dasar untuk melakukan pemasaran reksa dana. Izin tersebut baru berlaku apabila perorangan yang memiliki izin WAPERD, bekerja di perusahaan yang mendapat izin sebagai APERD.

Masyarakat perlu berhati-hati apabila ada perorangan yang melakukan pemasaran reksa dana berbekal izin WAPERD perseorangan namun tidak bekerja di perusahaan APERD. Jika dianggap perlu, masyarakat juga bisa meminta surat penugasan perusahaan kepada tenaga pemasar dan melakukan pengecekan ke pihak perusahaan langsung untuk menghindari potensi investasi bodong.

Hal-hal yang dilarang bagi APERD dalam kegiatan usahanya secara spesifik juga telah diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 39/POJK.04/2014 pasal 37 Read more…

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:

Menguji Akurasi Strategy Sell in May and Go Away

April 13th, 2018 No comments

Uji Statistik

Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Mei. Dalam dunia pasar modal, ada suatu teori atau strategi investasi yang dikenal dengan nama Sell in May and Go Away. Jika hanya membaca namanya, sering sekali strategi tersebut diterjemahkan sebagai menjual kepemilikan sahamnya pada bulan Mei. Apakah benar demikian? Dan apakah strategi tersebut cukup akurat ?

Mengacu ke Wikipedia, sebenarnya Sell in May and Go Away adalah suatu strategi investasi saham berdasarkan teori bahwa pada periode November hingga April, kinerja saham lebih baik dibandingkan rata-rata pertumbuhan bulan lainnya. Dalam strategi ini, saham dijual pada awal Mei dan hasil penjualannya disimpan dalam bentuk kas atau reksa dana pasar uang.Dengan demikian, daripada melakukan strategy Buy and Hold dalam jangka panjang, sebaiknya investor melakukan perubahan alokasi setiap 6 bulan.

Saya sendiri menginterprestasikan teori ini sebagai strategi investasi dimana investor berinvestasi saham pada bulan November – April dan berinvestasi pada obligasi pada bulan Mei – Oktober. Jadi memang ada sedikit perbedaan jika anda mengacu pada teori yang ada, terutama pada investasi bulan Mei – Oktober yang menggunakan reksa dana pasar uang atau deposito.

Untuk mengetahui apakah strategi ini cukup akurat atau tidak, saya melakukan penelitian berdasarkan data historis dari tahun 2001 – 2018. Langkah-langkah dan hasilnya adalah sebagai berikut : Read more…

Categories: Riset Reksa Dana Tags:

Apa Efek Kenaikan Fed Fund Rate (FFR) Terhadap IHSG ?

March 14th, 2018 No comments

Rising interest rates

Jika tidak ada perubahan yang signifikan, seharusnya Suku Bunga Acuan Amerika Serikat atau dikenal dengan Fed Fund Rate (FFR) akan dinaikkan dari level 1.25% – 1.50% menjadi 1.50% – 1.75% pada tanggal 22 Maret 2018 nanti. Kebetulan atau tidak, menjelang kenaikan ini, Indeks Harga Saham Gabungan mengalami fluktuasi yang cukup signifikan selama bulan Februari dan Maret 2018. Bagaimana efek kenaikan FFR ini terhadap IHSG?

Efek perubahan FFR terhadap IHSG dapat dibagi dalam periode jangka panjang dan jangka pendek. Dalam jangka panjang, saya berpendapat kenaikan FFR ini positif bagi perekonomian Global dan Indonesia karena alasan untuk mengendalikan agar tingkat pertumbuhan ekonomi dan inflasi tidak terlalu tinggi. Kenapa tinggi itu tidak baik? Pertumbuhan dan inflasi yang terlalu tinggi bisa menyebabkan bubble pada ekonomi sehingga rentan dengan penurunan. Dengan menaikkan suku bunga, tingkat pertumbuhan akan relatif lebih terjaga. Dengan mempertimbangkan hal tersebut, maka seharusnya kenaikan FFR ini akan lebih banyak memberikan manfaat daripada mudarat bagi Indonesia.

Dalam jangka pendek agak berbeda. Sebab masih ada pandangan bahwa kenaikan FFR akan menyebabkan dana asing keluar dari Indonesia, harga saham dan obligasi akan terkoreksi dan sebagainya. Pandangan tersebut tidak bisa dikatakan salah, karena dalam jangka pendek memang terkadang penurunan di saham, obligasi dan nilai tukar memang terjadi. Hanya saja belum jelas apakah penyebabnya kenaikan FFR atau penyebab lainnya. Terkadang hanya dikait-kaitkan saja dan tidak konsisten. Artinya dalam kenaikan kali ini berdampak, tapi pada kondisi serupa di waktu lain belum tentu sama.

Dalam tulisan ini, saya bermaksud untuk mencari dalam jangka pendek, apakah ada efek kenaikan FFR terhadap IHSG? Jika terjadi koreksi, berapa % koreksi yang mungkin terjadi. Periode jangka pendek yang saya maksud adalah 1 bulan sebelum dan sesudah kenaikan FFR. Data, penelitian dan hasilnya sebagai berikut Read more…

Categories: Pendapat Tentang Makro Ekonomi Tags:
%d bloggers like this: